Masuk Daftar
My Getplus

Fotografer Bersaudara dalam Perang Lombok dan Aceh

Neeb bersaudara sama-sama dokter militer sekaligus fotografer. Keduanya mendokumentasikan perang Belanda di Lombok dan Aceh.

Oleh: Buyung Sutan Muhlis | 04 Sep 2023
Henricus Marinus (H.M.) Neeb. (collections.nlm.nih.gov).

ANDAI mereka orang Indonesia, misalnya dari etnis Batak, Minahasa, atau Ambon, Neeb pasti menjadi salah satu marga. Dari tiga generasi saja, di kurun abad 19–20, ditemukan banyak nama Neeb. Menariknya, pemilik nama ini sebagian besar berprofesi sebagai dokter. Banyak pula yang merangkap militer.

Jika menelusuri salah seorang bernama Neeb, mesti benar-benar teliti. Media-media Belanda seringkali menyingkat nama depan orang. Hanya nama belakang yang ditulis dengan jelas.

Banyak yang menganggap foto-foto di masa perang Lombok dan Aceh, berasal dari juru foto yang sama. Kebetulan sama-sama memiliki nama Neeb.

Advertising
Advertising

Situasi perang Lombok tahun 1894 didokumentasikan Cristiaan Johan (C.J.) Neeb. Sedangkan di Aceh, dalam ekspedisi yang dipimpin Letnan Kolonel G.C.E. van Daalen pada 1904, dipotret Henricus Marinus (H.M.) Neeb. “C.J. Neeb adalah saudara tiri H.M. Neeb,” kata Gael Newton dalam Garden of the East.

Baca juga: Melongok Harta Karun Lombok

Haagsche Courant edisi 30 Agustus 1894 mengumumkan nama-nama yang bertugas dalam Ekspedisi Lombok di bawah komando Mayor Jenderal J.A. Vetter. C.J. Neeb tercatat sebagai anggota tim medis.

Foto-foto C.J. Neeb tersimpan di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV). Ia sendiri bersama rekannya W.E. Asbeek Brusse menerbitkan Naar Lombok. Buku berisi foto-foto dan catatan pengalaman mereka selama 14 bulan di Lombok.

Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 13 September 1898 menyebut buku dimaksud satu karya seni terindah di Hindia Belanda. “Cetakannya dalam font descendian yang rapi, sementara setiap halamannya dibingkai halus. Kertasnya juga sangat bagus, putih dan tegas. Di setiap halaman ditemukan cetakan foto yang rapi, menggambarkan pemandangan, rumah, kuil, sosok pejabat, dan lainnya. Foto-foto dokter Neeb yang diambil selama ekspedisi Lombok, menarik minat pembaca di sini dan di Belanda.”

Baca juga: Kembalinya Berlian Lombok dari Belanda

Sedangkan hasil bidikan H.M. Neeb, sebanyak 168 foto dikirim Van Daalen ke Museum Etnologi Rotterdam. Foto-foto yang dramatis. Hingga saat ini, menurut Anneke Groeneveld dalam “H.M. Neeb: A Witness of the Aceh War”, termuat dalam Toward Independence: A Century of Indonesia Photographed suntingan Jane Levy Reed, foto-foto tersebut masih mengejutkan, terkait peristiwa di Aceh di masa silam.

Di Aceh, H.M. Neeb masuk ke setiap kampung yang telah direbut Belanda dengan kameranya. Ia mengambil gambar secara berurutan. “Dia mulai dengan menunjukkan titik-titik serangan dan benteng-benteng, diikuti dengan gambar-gambar korban pribumi yang diabaikan para penakluknya. Dia memotret mayat dari jarak dekat, dengan luka dan wajah yang terdistorsi terlihat jelas. Kadang-kadang bahkan anak kecil menangis yang sedang duduk atau merangkak di antara para korban,” tulis Anneke Groeneveld.

Baca juga: Pemburu Gambar di Era Perang

C.J. Neeb kelahiran Solok, Sumatra Barat, 19 Mei 1860. Putra pertama pasangan Pieter Gerardus (P.G.) Neeb dan Anna Francina In’tveld. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Leiden tahun 1880, dan melanjutkan pendidikan di kampus kedokteran Groningen tahun 1890. Selepas itu, ia ditempatkan sebagai petugas kesehatan kelas dua Oost Indisch Leger di Surabaya. Baru setahun menikah dengan Johanna Frederika de Witt, ia diberangkatkan ke Lombok.

Kakek P.G. Neeb, Johan (J.F.) Frederik Neeb, seorang dokter bedah di Leiden. Menurut Kevin IGV dalam “Vrouwelijke Indische In’tvelds (IX)-Het gezin van Anna Francina In’tveld en Pieter Gerardus Neeb”, di laman igv.nl, keluarga Neeb berasal dari Hessen, Jerman. Sekitar tahun 1760, Johan Balthasar Neeb pindah ke Leiden. Dialah nenek moyang keluarga Neeb yang banyak menjadi dokter.

“Pieter Gerardus juga seorang dokter. Namun demikian, dia tidak dapat mencegah kehilangan istri dan dua dari tiga anaknya karena kolera di tahun 1865. Cristiaan Johan, anak laki-lakinya, juga menjadi seorang dokter. Kemudian ia terkenal sebagai fotografer dalam ekspedisi Lombok tahun 1894,” tulis Kevin.

Lalu P.G. Neeb menikah lagi. Dari istri keduanya, Maria Louisa le Comte, ia dikarunia delapan anak. H.M. Neeb, anak kedua, dilahirkan di Pulau Bangka, Sumatra, 22 November 1870. Usianya terpaut 10 tahun dengan C.J. Neeb.

Baca juga: Juru Foto di Bawah Desingan Peluru

Setelah menyelesaikan sekolah kedokteran di Leiden, mulai tahun 1892, H.M. Neeb ditugaskan sebagai dokter tentara Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) di Surabaya. Sebelas tahun kemudian, ia ditempatkan di Kotaraja, ibu kota Kesultanan Aceh. Dari sinilah ia kemudian mendapat tugas spesial, memotret suasana akhir masa perang di daerah Serambi Mekah. Tugas yang mengantarkannya sebagai kesatria Militaire Willemsorde, anugerah kehormatan tertua dan tertinggi Kerajaan Belanda.

Dalam foto-foto H.M. Neeb, kata Anneke Groeneveld, banyak potret orang Gayo dan Alas yang telah menjadi mayat. Orang-orang yang dibunuh Belanda. Tapi wajah-wajah mereka menunjukkan sikap keras kepala dan tak mau menyerah.

Pada 1918, H.M. Neeb diangkat sebagai pelaksana tugas bidang kesehatan di Magelang dengan pangkat letnan kolonel. Setahun kemudian, ketika ditempatkan di Bandung, pangkatnya naik menjadi kolonel. Ia berangkat ke Manila pada Maret 1920 untuk menghadiri Kongres Asosiasi Obat Tropis Timur Jauh.

Sekembalinya H.M. Neeb memperoleh kenaikan pangkat menjadi mayor jenderal. Dua tahun kemudian, Dewan Kurator Technische Hoogeschool te Bandoeng menganugerahinya gelar profesor luar biasa di bidang kebersihan teknis di sekolah menengah teknik.

Baca juga: Horor Warsawa dari Mata Lensa Pewarta

C.J. Neeb dan H.M. Neeb, keduanya sama-sama dokter militer, dan sama-sama memahami fotografi. Tentu sebuah pengetahuan yang sangat istimewa di masa itu.

C.J. Neeb diberitakan wafat di usia 64 tahun. Di halaman depan koran Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 27 Desember 1924, ia disebut-sebut penentang militer yang dianggapnya terlalu mengekang. Itu sebabnya ia tidak lama dalam dinas militer.

Ketika perusahaan Perminyakan Muara Enim pindah ke Plaju, Palembang, dia memutuskan bergabung. “Sejak itu ia tinggal di Palembang, di mana ia dikenal sebagai dokter yang terampil dan, terutama, manusiawi,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad.

Jauh sebelum wafat, C.J. Neeb menulis Het Een en Ander Over Hindoe Oudheden in Het Djambische, tentang legenda terkait situs Solok Sipin di Jambi.

H.M. Neeb menyusul abangnya tujuh tahun kemudian. Ia wafat pada 15 September 1933 dan dimakamkan di Bandung.*

TAG

aceh lombok fotografer

ARTIKEL TERKAIT

Kisah Penghadang Tank di Tiananmen dari Balik Lensa Thomas Nussy versus Anak Cik Di Tiro Kopral Roeman Melawan Teungku Leman Sejumput Kisah Sersan Baidin Sersan Zon Memburu Panglima Polim Di Masa Revolusi Rakyat Aceh Menerima Pengungsi Meminta Kembali Harta Karun Lombok Jarahan Belanda Pembantaian di Puri Cakranegara Sebelum Sersan Pongoh ke Petamburan Darlang Sang "Radja Boekit" Meninggal di Meja Bedah