Masuk Daftar
My Getplus

Laskar Partai Rakjat Djelata Teliti Sinar Matahari

Penelitian kegunaan sinar matahari dimulai oleh partai gurem. Terhenti karena kurang dana.

Oleh: Hendaru Tri Hanggoro | 14 Apr 2020
Seseorang tengah menikmati sinar matahari pagi di kota. (123rf).

Banyak orang berjemur di bawah matahari jam 10 pagi selama 15 menit pada hari-hari belakangan ini. Sejumlah ahli kesehatan menganjurkan tindakan ini sepanjang pandemi Covid-19. Penemuan mereka menyimpulkan sinar matahari pada jam termaksud membantu tubuh memproduksi vitamin D sebagai sumber daya tahan tubuh terhadap virus.

Tak hanya berguna untuk kesehatan, sinar matahari juga berpengaruh bagi banyak lini hidup manusia. Antara lain teknologi, industri, pertahanan-keamanan, dan masak-memasak. Sekelompok orang di Indonesia pernah menyelidiki kemungkinan penggunaan energi surya untuk hal-hal termaksud. Yang unik, inisiatif ini muncul dari partai politik gurem, Partai Rakjat Djelata (PRD) pada dekade 1950-an.

PRD berdiri di Jakarta pada 1 Oktober 1945. Namanya semula Persatoean Rakjat Djelata. Pendirinya antara lain Abdulrachman (ketua), St. Dawanis, M. Karnawidjaja, dan Soerip Soprastijo. “Semuanya tanpa masa lalu yang terkenal dalam gerakan politik,” catat sejarawan Harry Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 2.

Advertising
Advertising

PRD resmi menjadi partai pada 9 Desember 1945. PRD berhaluan komunis dan berasas kejelataan atau keproletariatan. Kerja mereka menyasar ke pembinaan organisasi serikat buruh dan tani. PRD menerbitkan media bulanan Soeara Rakjat Djelata untuk memperkenalkan dirinya pada massa dan merangkul lebih banyak kaum jelata.

Baca juga: Dimusuhi PKI, PRD Ikut Murba

PRD menjadi peserta Pemilu 1955 dan hanya meraih satu kursi. Meski hasil Pemilu kurang menggembirakan, PRD memiliki kader militan dan setia. Mereka tergabung dalam Laskar PRD dan berikhtiar menyumbangkan sesuatu untuk masyarakat sesuai dengan kemampuannya. Nah, laskar inilah yang menginisiasi penelitian kegunaan sinar matahari melalui pembentukan Panitya Usaha Pemikiran Sinar Surya (PUPSS).

PUPSS selama tahun-tahun politik 1955 merancang alat penangkap sinar matahari. Memasuki 1956, pembuatan alat itu kelar. Mereka bermaksud mencobanya secara terbuka untuk masyarakat.

Sebelum mengumumkan percobaan itu, PUPSS merasa perlu membentuk badan khusus untuk penelitian kegunaan sinar matahari secara resmi. Badan itu bernama Badan Pelaksana Usaha Sinar Surya (BAPUSIS) dan berdiri di Jakarta pada 7 Agustus 1956.

Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) menyebutkan lima tujuan besar BAPUSIS. Pertama, mengumpulkan para ahli bangsa Indonesia untuk menyempurnakan pendapat terkait alat penangkap sinar matahari. Kedua, mendirikan laboratorium khusus tentang penggunaan sinar matahari. Ketiga, membuat alat-alat bahan pembakar. Keempat, menampung bekas laskar PRD. Kelima, menilik perusahaan yang menggunakan sinar matahari.

Untuk mencapai tujuan termaksud, BAPUSIS memerlukan biaya operasional. PRD tak mampu mengongkosi aktivitas mereka. Karena itu, BAPUSIS menempuh dua cara pencarian dana.

Baca juga: Palu Arit ala PKI dan PRD

“Mencari modal berupa kredit jangka panjang kepada pemerintah…Memanggil persero terbatas yang sanggup membantu modal dengan hak anggota persero sebagaimana lazimnya,” demikian catat AD/ART BAPUSIS dalam koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

AD/ART BAPUSIS cukup lengkap. Di dalamnya termaktub pula hak dan kewajiban anggota, kemungkinan pendirian cabang, susunan pengurus, kekuasaan tertinggi, jenis-jenis anggota, syarat-syarat untuk menjadi anggota, cara pengambilan keputusan, pembagian keuntungan, dan pembubaran organisasi.

Setelah urusan tetek-bengek organisasi dan administrasinya beres, BAPUSIS unjuk gigi ke khalayak. Mereka mendemonstrasikan purwarupa dan cara kerja alat penangkap sinar matahari bikinan mereka pada 27 Agustus 1956.

Alat penangkap sinar matahari itu terbuat dari ratusan kaca kecil. Dibuat sedemikian rupa dengan bentuk lingkaran dan menghadap ke matahari. Kaca-kaca itu akan menyerap sinar matahari. Kekuatan sinar matahari yang tersimpan di alat tersebut mencapai 600 derajat celcius.

Baca juga: Serba Serbi Gerhana Matahari di Padang 1901

“Dalam tempo 7 menit timah seberat 3 kg yang ditaruh di dalam kewali baja yang diseret dengan alat itu meleleh,” tulis Abdulrachman, ketua BAPUSIS, dalam arsip BAPUSIS koleksi ANRI.

Sejumlah media massa meliput percobaan pertama BAPUSIS. “Harian Merdeka, Harian Rakjat, harian Pedoman, harian Abadi, dll pada tanggal 28 Agustus 1956,” tambah Abdulrachman. Tapi dia menjelaskan bahwa percobaan itu bukanlah akhir. Alat itu juga masih butuh penyempurnaan. Dia mengundang khalayak untuk hadir lagi pada percobaan kedua.

BAPUSIS menggelar percobaan kedua di Jawatan Perindustrian pada 10 September 1956. “Dengan alat yang agak sempurna (berbentuk teknik) terdiri dari beberapa puluh kaca sudah dapat membangkitkan gaya panas lebih kurang 500 cc dan dapat membakar bahan-bahan yang ringan,” klaim Abdulrachman dalam suratnya.

Perusahaan Film Negara (PFN) turut menghadiri dan merekam percobaan kedua BAPUSIS. Mereka berencana memutar film tentang penggunaan sinar matahari secara luas. Selain sebagai produksi pengetahuan untuk masyarakat, pemutaran juga bertujuan menjaring donatur untuk menopang riset BAPUSIS.

Abdulrachman mengakui BAPUSIS terseok-seok dalam menyempurnakan alat penangkap sinar matahari. “Selalu terhambat oleh kekurangan keuangan, maka usaha kami itu masih terkatung-katung,” tulis Abdulrachman.

Di akhir suratnya, Abdulrachman mengharapkan bantuan moril dan materil dari siapa pun, terutama sekali dari pemerintah. Tapi agaknya bantuan itu tak pernah datang. BAPUSIS pelan-pelan menghilang dari peredaran berita. Terakhir, menurut catatan arsip koleksi ANRI, kiprah BAPUSIS terekam di harian Indonesia Raya, 5 Oktober 1956. Arsip-arsipnya pun tak terlacak lagi.

TAG

partai politik

ARTIKEL TERKAIT

Enam Gempa Paling Mematikan di Negeri Tirai Bambu Purnatugas Heli Puma Pesawat Multifungsi Tulang Punggung Matra Udara Jerman Bom Fosfor Putih Bukan Senjata Biasa Doa yang Terkabul Awal Mula Ponsel Pintar Polusi Membunuhmu PLTU Menyumbang Polusi, Waktunya Beralih ke PLTN? Yamato Berjibaku Oppenheimer, Proyek Manhattan dan Bhagavad Gita (Bagian II – Habis)