Masuk Daftar
My Getplus

Kisah "Robin Hood" dari Pantura

Muncul sebagai sosok pemimpin di masa krisis peralihan kekuasaan. Memenuhi kebutuhan rakyat dan menggulingkan kekuasaan feodal.

Oleh: Bonnie Triyana | 21 Apr 2020
Para pelaku dalam Peristiwa Tiga Daerah yang ditahan di penjara Yogyakarta pada Desember 1946. (Sachyani atau Kutil berdiri dua dari kiri). (Koleksi Anton Lucas).

Dalam penelitiannya, sejarawan Anton Lucas mewawancarai banyak saksi peristiwa Tiga Daerah, revolusi sosial di wilayah Karesidenan Pekalongan yang  meliputi wilayah Brebes, Tegal dan Pemalang, pada bulan Oktober 1945. Beberapa saksi berkisah tentang peran lenggaong atau para jago yang mencitrakan diri sebagai kaum republiken, pendukung kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan Sukarno dan Mohammad Hatta di Jakarta, 17 Agustus 1945. Anton merumuskan peranan para jago tersebut sebagai ciri-ciri dari revolusi sosial pascaproklamasi kemerdekaan.

“Pengaruh lenggaong dalam revolusi sosial Tiga Daerah memang sangat jelas. Merekalah yang memimpin aksi dombreng dan menyerang lurah-lurah semasa revolusi sosial di bulan Oktober,” tulis Anton Lucas dalam bukunya Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi. Mengapa lurah menjadi sasaran penyerangan dan apa yang dimaksud dengan “dombreng”?

Pada era penjajahan Jepang sebagian besar sumber daya dan bahan pangan dieksploitasi demi kepentingan perang Jepang. Takluknya kolonialisme Belanda di tangan Jepang tidak membuat keadaan lebih baik, justru situasi semakin buruk. Elit-elit lokal tetap berkuasa di bawah pendudukan Jepang, sementara masyarakat harus bertahan hidup dengan jatah beras pembagian Jepang yang sangat minim.

Advertising
Advertising

Baca juga: Menyambut Koleksi Aiko Kurasawa

Sejarawan Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol: Studi Tentang Perubahan Sosial di Pedesaan di Jawa 1942-1945 menulis tentang kewajiban setor padi kepada penguasa Jepang. Padi tersebut menurut Aiko, “…diserahkan kepada kantor pusat persatuan penggiling padi di setiap karesidenan. Beras yang terkumpul di setiap karesidenan dibagi menjadi dua kategori, yaitu konsumsi setempat di dalam karesidenan dan untuk konsumsi di luar karesidenan, termasuk beras untuk kepentingan militer (Jepang, red.)…”

Distribusi beras kepada rakyat seringkali tersendat pada tingkat birokrasi kecamatan dan desa. Alih-alih segera membagikan kepada rakyat, padi dibiarkan menumpuk di gudang. Kondisi tersebut tetap berlangsung setelah proklamasi kemerdekaan tiba, yang berakibat pada “…kelaparan dan kekurangan yang dialami rakyat selama masa penjajahan Jepang tidaklah menjadi lebih ringan,” tulis Anton Lucas.

Suasana jalan raya kota Tegal 1940-an. (universiteitleiden.nl/KITLV)

Keresahan akibat kelaparan banyak terjadi di wilayah Tiga Daerah. Tuntutan rakyat kepada para pamong agar membagi-bagikan beras tidak ditanggapi. Birokrat desa tak berani mengambil langkah apa-apa, seperti yang pernah terjadi di Kecamatan Moga, Pemalang Selatan, September 1945. Rakyat berkumpul menuntut pembagian beras, namun wakil camat enggan meluluskan permintaan rakyat kendati kemarahan mereka kian memuncak.

Peristiwa lain yang juga dicatat Anton Lucas dalam bukunya terjadi di desa Cerih, Tegal Selatan. Anton melukiskan kemarahan rakyat terhadap otoritas pemerintahan desa Cerih sebagai percikan awal revolusi sosial di Tiga Daerah. Pada 7 Oktober 1945 malam hari, warga desa Cerih, yang desanya miskin namun jadi pusat gerakan radikal sejak era kolonial Belanda, mengepung rumah Raden Mas Harjowiyono, lurah Cerih. Harjowiyono bertahan di dalam rumah semalamanan dan baru keluar rumah pada pagi harinya setelah warga mengancam akan membakar rumahnya.

Baca juga: Anton Lucas dan Kisah Cenderamata Lekra

Dengan berpakaian resmi, Harjowiyono menemui warganya yang marah, bertanya apa kesalahannya. Warga desa Cerih kemudian melucuti pakaian lurahnya, menggantinya dengan karung goni, sebagaimana yang banyak dikenakan rakyat pada masa Jepang. Sementara itu istri lurah dikalungi seikat padi. Pasangan suami istri ini lantas diarak keliling kampung di bawah iringan suara gamelan milik lurah yang dimainkan serampangan oleh rakyat. Di sepanjang perjalanan, mereka dihina dan diperlakukan seperti ayam, “…dipaksa minum air dalam tempurung kelapa dan makan dedak (kulit padi),” tulis Anton.

Aksi seperti ini juga terjadi di tempat lain di wilayah Tiga Daerah. Polanya sama: mengarak pamong desa dan kaum feodal yang dianggap sebagai antek penjajah. Mereka menyebut aksi ini sebagai “dombreng,” meniru suara yang tercipta dari tetabuhan kentongan kayu dan kaleng yang dimainkan rakyat saat mengarak dan mempermalukan mereka yang dianggap simbol penindas rakyat kaki tangan penjajah.

Penggerak dari aksi “dombreng” tersebut adalah para lenggaong, yang memanfaatkan kosongnya otoritas kekuasaan di tingkat lokal semasa era peralihan kekuasaan. Seperti halnya keterlibatan jawara di Banten, para lenggaong di Tiga Daerah bisa secara cepat diterima rakyat sebagai pemimpin karena kekecewaan yang terlanjur mendalam kepada pangreh praja. “…para jago..menampilkan diri sebagai “jago-jago Republik” yang ingin membalas dendam atas perlakuan para pejabat semasa penjajahan Jepang dan berusaha merebut kekuasaan sewaktu ada kekosongan,” kata Anton dalam bukunya.

Baca juga: Anton Lucas dan Cerita Kutilnya

Dalam studinya mengenai revolusi sosial ini Anton menemukan beberapa nama tokoh lenggaong yang memainkan peranan penting pada masa peralihan itu, antara lain Idris, pemimpin Barisan Cengkrong (arit) dari Comal dan satu yang paling terkenal: Sakhyani alias Kutil. Barisan Cengkrong di bawah pimpinan Idris beraksi menahan lurah desa Temuireng, memecat lurah Petarukan yang korup dan membagi-bagikan kain yang mereka temukan di rumah lurah kepada rakyat.

Sementara itu Kutil terkenal sebagai pendiri organisasi Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang bermarkas di gedung bekas Bank Rakyat Talang, Kecamatan Talang, Tegal. Kisah Kutil melegenda di kalangan masyarakat Tiga Daerah. Ayahnya berprofesi sebagai pedagang emas dari desa Taman dekat Pemalang. Kutil kecil sempat bersekolah sampai kelas dua Sekolah Rakyat. Bekerja sebagai tukang cukur sambil meneruskan pekerjaan ayahnya berdagang emas kecil-kecilan di belakang tempat pangkasnya. “Sebilah pedang panjang (gobang) tergantung di dinding di sebelah kaca,” ujar lurah Kajen yang diwawancarai Anton Lucas pada 9 Februari 1973.

Baca juga: Kisah Robin Hood dari Ciamis

Kutil kerap mengenakan peci hitam dan menurut kesaksian anaknya dia juga bergiat sebagai guru agama yang disegani. Kutil bebas pergi kemanapun tanpa takut diganggu lenggaong kendati malam tiba. Menurut Anton ini membuktikan bahwa Kutil punya hubungan dengan para lenggaong yang membuatnya tidak pernah diganggu.

“Ia selalu mengucap ‘Assalamualaikum’ bila memasuki rumah, kendatipun tidak selalu menjalankan ibadah sembahyang salat lima kali sehari. Penduduk setempat yang menyebutnya santri… yang berarti orang suci,” tulis Anton. 

Kharisma dan mitos yang berkembang tentang diri Kutil menjadikannya tokoh yang disegani serta menarik minat warga Talang untuk bergabung dengan organisasinya. Pengikut Kutil di AMRI terdiri dari para pedagang, penjual makanan, penjahit, petani miskin, tukang besi dan penjual jamu. Tak jarang kekerasan, bahkan pembunuhan, terjadi di dalam aksi-aksinya. Selain menjalankan aksi pelucutan senjata dari serdadu Jepang, Kutil juga membagi-bagikan kain kepada rakyat atas asas “sama rata sama rasa.”

Peta wilayah Tegal yang diapit daerah Brebes dan Pemalang. (Repro Peristiwa Tiga Daerah karya Anton Lucas).

Aksi membagi-bagikan barang kebutuhan masyarakat itu terlihat bak laga Robin Hood, bandit dermawan Inggris yang merampok harta benda orang kaya untuk dibagikan kepada rakyat miskin.  Atas lakonnya itu, para lenggaong yang sebelum masa perang selalu dilabel sebagai kriminal, diakui sebagai pemimpin secara legal di era revolusi. Kutil salah satu contoh tentang bagaimana seorang pelaku revolusi sosial yang merangkak naik status sosialnya: dari jago kampung menjadi ketua organisasi revolusioner dan bahkan dilantik sebagai kepala kepolisian oleh Badan Pekerja Tegal.

Seperti tertulis juga di dalam karya Robert Cribb, Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 dan disertasi sejarawan UI Suharto, Revolusi Sosial di Banten 1945-1946: Suatu Studi Awal, kelompok jago memainkan peran penting dalam peristiwa revolusi sosial. Kekosongan kekuasaan yang disertai penderitaan rakyat akibat penjajahan Jepang mendorong kemunculan jago-jago lokal untuk jadi pemimpin dan menjawab kebutuhan rakyat sementara mesin birokrasi formal mandek. 

Baca juga: Kiai dan Jagoan dalam Perang Kemerdekaan

Seperti kisah Kutil di Tegal dalam studi Anton Lucas, Haji Darip di Klender dalam studi Robert Cribb, dan Tje Mamat di Banten dalam disertasi sejarawan Suharto, kedudukan para jago memperlihatkan ciri-ciri yang sama dalam peranan mereka pascakemerdekaan 17 Agustus 1945. Kendati pada akhirnya aksi mereka dipadamkan pemerintah pusat, sebagai bagian dari konsolidasi kekuasaan secara nasional, peran para jago (lenggaong dan jawara) sempat yang berkuasa di masa peralihan yang lowong kekuasaan tak bisa dihapus begitu saja dari bingkai kisah revolusi nasional.

Para jago-jago tersebut, yang menurut sejarawan Eric Hobsbawm dalam dua bukunya, Primitive Rebels (1959) dan Bandits (1969), bisa dikategorikan sebagai bandit sosial, terlahir sebagai perwujudan gerakan kontra-elit. Keberadaan mereka menjadi bagian kultur masyarakat kelas bawah, namun dilabel sebagai kriminal ketika berhadapan dengan negara atau penguasa di daerahnya. Tidak mengherankan apabila Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menangkapi mereka begitu kekuasaan nasional berhasil mengonsolidasi diri hingga ke tingkat lokal.

Seperti terjadi pada Kutil, yang pada hari-hari pertama usai proklamasi kemerdekaan menjadi tokoh sentral revolusi sosial di Tiga Daerah, justru harus menghadapi kenyataan pahit dijatuhi vonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Pekalongan pada 21 Oktober 1946 atas apa yang dia lakukan setahun sebelumnya. Kutil menjadi orang pertama di Republik Indonesia yang dijatuhi vonis hukuman mati. Setelah sempat melarikan diri karena agresi militer Belanda pertama, Kutil “sang Robin Hood” dari Pantura itu dieksekusi mati pada 5 Mei 1951.

TAG

bandit anton lucas kotabrebes

ARTIKEL TERKAIT

Suradi Bledheg Si Bandit Gunung Ulah Orang Makassar di Pesisir Jawa Manusia Pertama di Jawa Mungkin bukan dari Afrika Bukti Sejarah Kerajaan Galuh Naga Bonar Lahir Kembali Entong Tolo, Bandit Sosial dari Pinggir Kota Cara Pemerintah Kolonial Redam Bandit Sosial Aksi Bandit Sosial di Perdesaan Asal Usul Bandit di Perdesaan Bandit-Bandit Kakap Batavia dan Sekitarnya