Masuk Daftar
My Getplus

Isu Kesehatan Soeharto dalam Pemilu Terakhir Orde Baru

Presiden Soeharto semakin tua dan renta menjelang Pemilu 1997. Kelayakannya untuk mencalonkan diri lagi sebagai presiden sepatutnya diragukan.

Oleh: Martin Sitompul | 04 Jul 2023
Presiden Soeharto ketika berkunjung ke Tunisia pada 1991. Sumber: Kemlu.go.id.

Presiden Soeharto berusia 76 tahun pada 1997. Bertepatan pada tahun yang sama, Golkar selaku pemenang pemilu kembali mengusung Soeharto untuk menjabat presiden periode 1998-2003. Padahal, jauh-jauh waktu sebelumnya, Soeharto telah mengisyaratkan kondisi dirinya yang kian sepuh.

“Saya ini sudah TOPP yang artinya sudah tua, ompong, peot, dan pikun,” ucap Soeharto suatu ketika di tahun 1991.

Menurut Jenderal (Purn.) Try Sutrisno, yang waktu itu menjabat Panglima ABRI, ucapan tersebut dinyatakan Soeharto ketika menerima kunjungan pengurus sebuah organisasi kepemudaan. Ucapan itu, bagi Try menjadi pertanda Soeharto tidak bakal mencalonkan diri lagi sebagai presiden pada periode mendatang. Kondisi fisik yang menua tentu akan menyulitkan Soeharto menjalankan tugas-tugas kepresidenan.  

Advertising
Advertising

“Seingat saya, seputar tahun 1990-an, ia sudah mengisyaratkan tidak lagi bersedia dicalonkan sebagai presiden periode 1993-1998. Pak Harto menyadari usianya yang kian lanjut dan perlunya kaderisasi kepemimpinan nasional,” ungkap Try Sutrisno dalam bunga rampai Pak Harto: Sisi-Sisi yang Terlupakan suntingan O.C. Kaligis.

Baca juga: Soeharto Capek Jadi Presiden

Namun, pada periode 1993-1998, justru Try Sutrisno yang mendampingi Soeharto sebagai wakil presiden. Benar saja, pada periode tersebut kondisi kesehatan Soeharto sudah mulai terganggu. Informasi intelijen medik menyebutkan bahwa Presiden Soeharto mengalami stroke ringan pertama ketika berada di Vancouver, Kanada, pada November 1997. Soeharto mengeluh hampir tidak bisa berpikir tatkala menghadiri pertemuan kepala negara APEC di Vancouver, terutama saat berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton.

Peristiwa strok ringan tersebut, menurut Marsma TNI (Purn.) dr. Raman Ramayana, dapat dijelaskan dengan menggunakan ilmu kedokteran penerbangan dan ilmu geriatri. Diduga kuat, strok ringan yang dialami Soeharto di Vancouver adalah akibat penyempitan pembuluh darah otak tanpa perdarahan. Kondisi ini dapat dipulihkan dengan sempurna bila diberi obat dan istirahat yang cukup.

Perihal stroke yang dialami Soeharto itu dirahasiakan ke publik dan tidak pernah diberitakan. Hanya sedikit pejabat yang mengetahuinya, termasuk Marsma TNI (Purn.) dr. Raman Ramayana Saman. Pada 1987, Raman pernah menjabat sebagai ketua Tim Kesehatan Task Force Pengamanan Presiden Soeharto. Raman meragukan kesehatan Soeharto akan sanggup bertahan hingga selesai masa baktinya tahun 2003.

Baca juga: Percobaan Pembunuhan Presiden Soeharto di KTT ASEAN

Pada 12 Januari 1998, Raman menulis surat rekomendasi kepada Wakil Ketua DPR Marsma TNI (Purn.) dr. H. Abdul Gafur untuk diteruskan ke Tim Dokter Ahli Kepresidenan (TDAK). Abdul Gafur adalah adik kelas Raman semasa kuliah di FK UI.  Menurut Raman, pada akhir 1997, TDAK seharusnya berani berinisiatif menyatakan Soeharto tak memenuhi syarat kesehatan untuk dicalonkan lagi sebagai presiden. Inti dari surat tersebut juga berbunyi kritikan terhadap petinggi Golkar yang getol mengusung Soeharto jadi presiden.

“Apakah Pimpinan Golkar (juga Pimpinan DPR/MPR RI) sudah, akan, atau tidak merasa perlu untuk, berkonsultasi dengan Tim Dokter Ahli Kepresidenan (TDAK) sehubungan dengan keputusan final Golkar yang mencalonkan Pak Harto sebagai calon tunggal untuk menjadi Presiden RI periode tahun 1998—2003,” cecar Rahman dalam suratnya sebagaimana dituturkan ulang kepada Imelda Bachtiar dalam otobiografi Pak Harto, Saya, dan Kontainer Medik Udara.

Menurut Salim Said, guru besar ilmu politik Universitas Pertahanan, Ketua Umum Golkar Harmoko secara all out mendukung Soeharto menjelang pemilu terakhir Orde Baru. Harmoko meyakinkan betapa masih besarnya dukungan rakyat kepada Soeharto untuk melanjutkan jabatan kepresidenan lewat Sidang Umum MPR 1998. Harmoko sendiri dijanjikan akan menjadi wakil presiden seperti jejak Adam Malik tiga periode sebelumnya -- menaiki kursi wapres setelah beberapa waktu memimpin DPR dan MPR.

Baca juga: Wapres Adam Malik Salah Alamat

“Terpilih kembali sebagai presiden, Soeharto melupakan janjinya kepada Harmoko, seperti dulu melupakan janjinya kepada Ali Murtopo ketika memilih Harmoko menduduki kursi Menteri Penerangan. Yang ditunjuk Soeharto menduduki kursi Wakil Presiden ternyata adalah BJ. Habibie,” terang Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto.

Pada 1999, Soeharto terserang strok untuk kali kedua. Saat itu, Soeharto sudah lenger. Dia tak sampai menyelesaikan periode kepresidenannya lantaran didesak mundur oleh kekuatan rakyat, termasuk Ketua MPR Harmoko yang sebelumnya mendukung penuh Soeharto jadi presiden. Sejak itu kondisi kesehatan Soeharto terus merosot hingga wafat pada 2008. 

TAG

soeharto pemilu

ARTIKEL TERKAIT

Lika-liku Quick Count yang Krusial Serba-serbi Politik Gentong Babi Empat Pilpres Kontroversial Amerika Redup Terang Bulan Bintang Pesan Bung Hatta untuk Pemilih dalam Pemilu Memilih dengan Menulis atau Mencoblos Upah Petugas Pemilu Pertama Ketika Nama PKI Diprotes Beragam Lambang PSI Dianggap PKI, Marsudi Dibui