Masuk Daftar
My Getplus

Darah Minahasa di Tubuh Prabowo

Selain Jawa, darah Minahasa mengalir juga dalam diri Prabowo melalui klan ibunya. Bagaimana kisahnya?

Oleh: Martin Sitompul | 25 Mar 2019
Potret keluarga Soemitro. Prabowo berdiri di sebelah kiri berseragam tentara sedangkan ibunya, Dora Marie Sigar duduk di sebelah kiri. Sumber: Repro buku "Nilai-nilai Pendekar Pejuang".

Dengan logat Minahasa ala kadarnya, Prabowo berseru, “Torang semua basaodara”. Dalam bahasa Indonesia berarti, “Kita semua bersaudara.” Di lapangan Ternate Baru, Manado, Prabowo menyampaikan orasi politik.  Kehadiran Prabowo di  ibu kota Sulawesi Utara itu dalam rangka kampanye pemilihan presiden mendatang. Ribuan warga Manado datang menyaksikan calon presiden Republik Indonesia ini berpidato.

Prabowo merasa kembali ke kampung halamannya. Katanya, “Dalam tubuh saya ini mengalir darah Minahasa.” Yang menarik, Prabowo juga mengatakan, “Saya ini lahir dari rahim ibu Nasrani, tidak mungkin dukung Islam radikal.”

Prabowo benar jika dia menyatakan dirinya orang Minahasa. Dia juga benar ketika mengatakan dirinya lahir dari rahim wanita beragama Kristen. Trah Minahasa memang mengalir dalam darah Prabowo yang berasal dari ibunya, Dora Marie Sigar.

Advertising
Advertising

Baca juga: Kisah Bowo Anak Kebayoran

Bertemu Soemitro

Dora Sigar lahir di Manado pada 21 September 1921 dari pasangan Philip Sigar dan Cornelia Maengkom. Keluarganya berasal dari keluarga berada di zaman kolonial. Ayahnya adalah pejabat Dewan Kota Manado yang menganut agama Kristen. Wajar belaka bila Dora mampu sekolah tinggi sampai ke negeri Belanda. Sejak usia 12 tahun, Dora dan keluarganya telah menetap di Belanda.

Pada awal 1940, Dora berkuliah di Utrecht University mengambil jurusan Ilmu Perawatan Pasca Bedah.  Sewaktu berkuliah di Belanda itulah Dora bertemu dengan pemuda Banyumas bernama Soemitro Djojohadikusumo. Kala itu, Soemitro adalah mahasiswa senior yang mengambil jurusan Ilmu Ekonomi di Rotterdam University.

Soemitro dan Dora bersua di Rotterdam tahun 1945. Saat itu berlangsung pertemuan Indonesia Christen Jongeren (IJK, Mahasiswa Kristen Indonesia). Hadir pula disana Soemitro. Menurut sejarawan Belanda Harry Poeze dalam Di negeri penjajah: orang Indonesia di negeri Belanda, 1600-1950, IJK merupakan wadah kontak orang Indonesia di Belanda. Konferensi yang diselenggarakan IJK terbuka buat umum, termasuk mereka yang bukan anggota IJK ataupun yang beragama Islam.    

Soemitro Djojohadukusumo dan Dora Marie Sigar, orang tua Prabowo Subianto. Sumber: "Jejak Perlawanan Begawan Pejuang".

Jumpa pertama itu berlanjut dengan serentetan perjumpaan berikutnya. Soemitro dan Dora kian hari semakin mengenal. Keduanya baru akrab dan menjalin hubungan yang lebih khusus saat Soemitro harus menjalani operasi tumor di usus besar. Dora-lah yang merawat Soemitro di kala sakit. Dari Utrecth, Dora rela sering bersepeda menuju Rotterdam.

“Karena itulah, Dora rewel, maunya ngurus saya terus,” tutur Soemitro berkelakar kepada Aristides Katoppo dkk dalam biografi Sumitro Djojohadikusumo: Jejak Perlawanan Begawan Pejuang.

Pada 1946, Soemitro kembali ke Indonesia. Setahun berselang, Dora Sigar menyusul, dan langsung tinggal di kediaman orang tua Soemitro di Jakarta. Soemitro mantap untuk menyunting Dora Sigar sebagai istri.

Pernikahan Beda Iman

Perbincangan terjadi ketika keluarga Soemitro mempertanyakan ihwal agama Dora. Sebagaimana terkisah dalam biografi Soemitro, Soemitro mengatakan bahwa calon istrinya itu beragama Kristen. Namun, baik Soemitro dan Dora tak berniat mengubah keyakinan hanya lantaran hendak kawin. Soemitro enggan memaksa Dora beralih menjadi Islam, pun demikian sebaliknya.

Setelah berembug, pihak keluarga besar Djojohadikusumo menerima perbedaan antara Soemitro dan Dora. Khususnya Margono, ayah Soemitro membebaskan Soemitro untuk mempelajari beragam agama dan memilih yang diyakini. Pihak Dora juga mengambil sikap serupa.

“Ini sesungguhnya sangat menakjubkan, mengingat pendidikan agama di dalam keluarga Dora sangatlah kuat, bahkan tergolong Calvinis (aliran Kristen puritan-red) yang sangat kuat sekali,” tulis Aristides dkk.   

Pernikahan Soemitro dan Dora Sigar, 7 Januari 1947. Sumber: Prabowo Subianto/Instagram

Pada 7 Januari 1947, Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Sigar menikah dengan adat Jawa. Pernikahan berlangsung di kediaman Soemitro, di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Ijab nikah hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat. Beberapa hari kemudian, diselenggrakan resepsi pernikahan khusus bagi kawan-kawan kedua mempelai, salah satunya Sutan Sjahrir.

Pernikahan Soemitro-Dora menghasilkan empat orang putra dan putri. Mereka berturut-turut antara lain: Biantiningsih Miderawati, Marjani Ekowati, Prabowo Subianto, Hashim Sujono. Kini salah seorang putra mereka,Prabowo, akan mencoba kembali peruntungannya menjadi orang nomor satu di negeri ini dalam pemilihan presiden pada 17 April 2019 yang akan datang.

Baca juga: Kala Prabowo Mempersunting Putri Soeharto

 

 

TAG

Prabowo-Subianto Pemilu Pilpres

ARTIKEL TERKAIT

Ketika Komedian Mencalonkan Diri Jadi Presiden Suami-Istri Cerai Gara-gara Beda Partai Gambar Partai Dilumuri Tahi Lika-liku Quick Count yang Krusial Serba-serbi Politik Gentong Babi Empat Pilpres Kontroversial Amerika Redup Terang Bulan Bintang Pesan Bung Hatta untuk Pemilih dalam Pemilu Memilih dengan Menulis atau Mencoblos Upah Petugas Pemilu Pertama