Masuk Daftar
My Getplus

Balada Patung Buruh Tani Pertama

Untuk menyambut Ulang Tahun PKI ke-45, CS PKI Salatiga membangun patung buruh tani pertama di Indonesia. Hancur pasca-G30S.

Oleh: Andri Setiawan | 16 Feb 2021
Patung Buruh Tani di depan kantor CS PKI Salatiga. (Harian Rakjat, 27 Juni 1965).

Sebidang tanah di Jalan Jenderal Sudirman Salatiga itu ditumbuhi semak belukar yang mulai meninggi. Sulur-sulur tanaman liar juga mulai merambati pagar seng tebal yang tergembok rapat. Inilah lokasi bekas kantor Comite Seksi PKI Salatiga, tempat patung buruh tani pertama di Indonesia pernah berdiri.

Menjelang ulang tahun ke-45 PKI pada 23 Mei 1965, sejumlah monumen kebesaran komunis dibangun di berbagai kota. Tugu palu arit menjadi yang paling menonjol. Di Cililitan, Jakarta, tugu putih setinggi kira-kira 12 meter berdiri dihiasi palu arit berwarna keemasan. Sementara di Palembang, tugu palu arit menghiasi Jl. Jenderal Sudirman dan Monumen Banting Stir dibangun dekat Jembatan Ampera.

Tugu palu arit raksasa dengan tinggi sekitar lima meter juga dibangun di Surabaya, sekaligus menjadi podium rapat umum ulang tahun ke-45 partai merah itu. Tugu serupa juga didirikan di Medan melengkapi rapat raksasa PKI yang dihadiri 15.000 massa.

Advertising
Advertising

Baca juga: Tugu-Tugu Palu Arit di Indonesia

Simbol palu arit juga menghiasi kota-kota lain yang menjadi jalur estafet panji-panji PKI untuk memperingati ulang tahun paling meriah sekaligus yang terakhir partai ini. Namun, dari sekian banyak monumen, baru ada satu tugu yang berwujud patung buruh dan tani. Patung yang diklaim sebagai patung buruh tani pertama di Indonesia ini dibangun di Salatiga.

Dalam suratnya yang diterbitkan Harian Rakjat, 28 Maret 1965, A. Manap dari Comite Seksi PKI Salatiga menyebut bahwa monumen itu telah rampung dibangun di halaman kantor CS PKI Salatiga dan akan menjadi menjadi yang pertama di Indonesia.

“Ibukota sendiri sampai sekarang belum mempunyai monumen dengan tema Buruh-Tani. Tapi nanti, apabila bung melewati kota Salatiga, bung akan melihat dengan megahnya suatu monumen Buruh-Tani,” tulis Manap.

Patung Buruh Tani di depan kantor CS PKI Salatiga. (Harian Rakjat, 27 Juni 1965).

Jakarta memang belum memiliki patung buruh tani kala itu. Tugu Tani di Menteng, yang sebenarnya bernama Tugu Pahlawan, sering disalahartikan sebagai patung buruh tani yang merepresentasikan komunisme.

Patung buruh tani di Salatiga dikerjakan secara kolektif oleh Lembaga Senirupa dan Pelukis Rakyat Salatiga di bawah pimpinan Djoni Trisno dan Djatmoko. Djoni Trisno merupakan anggota Sanggar Pelukis Rakyat yang didirikan oleh Hendra Gunawan dan Affandi. Djoni disebut turut membuat relief di gedung Sarinah yang kini tengah dipugar.

Baca juga: Tugu Pak Sakerah dan Wali Kota Surabaya dari PKI

Patung yang dibuat dari semen itu membentuk sosok buruh dan tani yang masing-masing tingginya tiga meter. Tokoh laki-laki yang menggambarkan buruh menyandang palu dan memegang kapas di tangan kanan. Sementara tokoh perempuan yang menggambarkan petani menyandang arit dan memegang padi di tangan kirinya.

“Monumen ini sekarang sudah berdiri. Kelihatannya tokoh-tokoh yang tingginya 3 meter itu masih kecil jika dibandingkan dalam ukuran nasional. Monumen inipun kelihatannya biasa saja tapi bagiku ia berkesan sekali. Ia dibangun secara kolektif oleh massa revolusioner dan para seniman Rakyat. Ia bukan milik orang-perorang, tapi milik Rakyat yang berjuang,” tulis Manap.

Foto patung itu kemudian dipublikasikan Harian Rakjat pada 27 Juni 1965. Namun, patung yang dibanggakan Manap itu ternyata tak bisa berlama-lama berdiri. Peristiwa G30S mengubah cerita. Pasca-peristiwa berdarah itu, PKI Salatiga tak luput dari pembasmian. Anggota dan simpatisan PKI di seluruh kota diburu. Walikota Salatiga Bakri Wahab, yang diduga merupakan simpatisan PKI, juga kena ciduk. Menurut Suara Merdeka, 3 November 1965, Bakri Wahab ditangkap pada 1 November 1965. “Penangkapan tersebut dilakukan untuk mengadakan pengusutan,” tulis Suara Merdeka.

Baca juga: Terganggu Tugu Tani

Nasib Bakri Wahab setelah itu tak ada yang tahu. Sementara, menurut Singgih Nugroho dalam Menyintas dan Menyeberang: Perpindahan Massal Keagamaan Pasca 1965 di Pedesaan Jawa, kantor CS PKI Salatiga digeruduk massa setelah Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) tiba di Salatiga pada minggu keempat Oktober 1965. Kedatangan RPKAD ini memberi dukungan kuat kepada kelompok anti-PKI untuk telibat dalam penumpasan PKI.

Lokasi bekas kantor CS PKI Salatiga, Februari 2021. (Andri Setiawan/Historia).

“Sebelum aksi dimulai, massa yang diorganisir oleh sejumlah ormas berkumpul di sejumlah sudut kota. Sekitar pukul 12 siang, bersamaan dengan bunyi lonceng Gereja Katolik St. Paulus Miki Salatiga, massa lalu bergerak ke arah kantor PKI yang berlokasi di ujung selatan Jalan Jenderal Soedirman,” tulis Singgih.

Awalnya massa berencana membakar kantor PKI yang juga menjadi kediaman Ismail, Ketua PKI Salatiga. Namun, menurut Singgih, massa hanya merusak simbol-simbol PKI yang ada di kantor itu, termasuk salah satunya adalah patung buruh tani di halaman depan.

Pada 2015, bangunan bekas kantor PKI Salatiga itu masih ada. Meski tanpa atap, dinding-dinding utamanya masih berdiri persis seperti foto yang diterbitkan Harian Rakjat pada 1965. Kini, bangunan itu telah rata dengan tanah dan diliputi gulma.

TAG

patung buruh tani komunis

ARTIKEL TERKAIT

Sayuti Melik dalam Gerakan Bawah Tanah Singapura Tiga Peristiwa yang Terjadi September 1965 Gerakan Baso di Sumatra Barat Ketika Hollywood Takut “Hantu” Komunis Fasisme Kontra Komunisme di Final Euro Dramaturgi Utuy Tatang Sontani Ketika Aidit Menyanyi Lagu Arab Henriëtte Sang Induk Ayam Belanda yang Tua Surat Paman Ho yang Diabaikan Indonesia Paul Breitner si Pemain Kiri