Masuk Daftar
My Getplus

Ketika Hollywood Takut “Hantu” Komunis

Dalam situasi Perang Dingin, “hantu” komunis dimunculkan di Hollywood. Hampir semua insan perfilman yang dicap kiri jadi pesakitan.

Oleh: M.F. Mukthi | 29 Okt 2021
Dalton Trumbo saat menghadiri sidang (repro ""Dalton Trumbo: Blacklisted Hollywood Radical.")

Suatu sore di pengujung September 1947 yang panas di sebuah desa di Kern County, California, Amerika Serikat (AS). Christopher Trumbo dan saudara kandungnya, Nikola Trumbo, hendak "ngadem" di teras rumah-peternakan (ranch) mereka yang menghadap ke Gunung Pinos. Selagi asyik, tiba-tiba Chris diberitahu Niki –panggilan Nikola– yang tangannya mununjuk ke arah sebuah mobil di kejauhan yang tengah bergerak di jalan desa. Kedua bocah itu tak sabar untuk menunggu mobil itu lebih dekat. Maklum, saat itu mobil masih jarang terlihat di desa mereka.

Mobil yang lama “menghilang” terhalang dinding Bukit Rattlesnake itu akhirnya terlihat kembali, bahkan mendatangi rumah mereka. Dari ruang kemudi mobil kemudian turun seorang pria. Dia menanyakan kakak-beradik tadi, kemudian diantar Chirst dan Niki ke dapur rumah untuk menemui si empunya rumah, Dalton Trumbo, novelis cum penulis skenario terpopuler Hollywood.

Pria bermobil itu ternyata Wakil Marshal David E. Hayden. Dia datang ke rumah Dalton untuk mengantarkan surat panggilan pengadilan kepada Dalton. Dalton diminta memberi kesaksian dalam perkara yang dituduhkan House Un-American Activities Committee (HUAC), sebuah komite yang dibentuk badan legislatif AS, yakni penyusupan komunis ke dalam industri film AS Hollywood.

Advertising
Advertising

“Hari di mana hidup kami berubah selamanya dapat diduga adalah hal biasa. Hari itu adalah salah satu dari hari-hari akhir September yang panas, tak berujung, ketika beratnya udara dan keheningan mendalam yang mengendap pada jam 4 dan tampaknya tidak ada habisnya membuat Anda berpikir waktu berhenti,” kata Christopher Trumbo, putra Dalton, dalam bukunya yang ditulis bersama sejarawan Larry Ceplair, Dalton Trumbo: Blacklisted Hollywood Radical.

Dalton merupakan –anggota Partai Komunis AS– salah satu insan perfilman yang dituduh terlibat dalam penyusupan komunis ke Hollywood. Bersama sembilan nama lain, mereka kemudian dikenal sebagai Hollywood Ten.

“Hollywood Ten adalah penulis skenario, sutradara, dan produser. Sepuluh orang ini telah dipanggil untuk menghadap House Committee on Un-American Activities-nya Kongres,” tulis buku berjudul Hollywood Blacklist: The Arts.

Pengadilan terhadap para pekerja film yang diduga komunis atau simpatisannya itu terkait erat dengan Perang Dingin. Seusai Perang Dunia II, muncul ketakutan AS terhadap meningkatnya kekuatan Komunis yang dibuktikan dengan berdirinya negara-negara komunis di Eropa Timur. Ketakutan itu mendorong AS semakin gencar mengkampanyekan “Bahaya merah”. Di dalam negeri, sejumlah kalangan yakin keamanan negara amat tergantung pada pencegahan komunisme. Kewaspadaan yang kemudian berkembang menjadi kecurigaan terhadap komunis pun ditingkatkan. Untuk menyelidiki apakah penyusupan komunis benar adanya dan seberapa besar pengaruh serta potensi subversif yang ditimbulkannya di AS, HUAC ditunjuk menjadi investigatornya.

Dunia perfilman kemudian dijadikan sasaran utama yang harus diinvestigasi oleh HUAC setelah badan itu didirikan pada 1946. HUAC menganggap Hollywood sebagai sarang komunis.

“Ketika Tirai Besi menjatuhkan seluruh Eropa setelah Perang Dunia II, beberapa orang Amerika menjadi khawatir tentang melindungi negara dari ancaman komunis yang dirasakan. Di Hollywood, Roy Brewer berkata, ‘Komunis bertekad untuk mengendalikan film.’ Brewer telah menjadi kepala IATSE, serikat pekerja terbesar di industri film, sekitar akhir perang,” tulis Karl F. Cohen, dosen animasi di San Fransisco State University, dalam Forbidden Animation: Censored Cartoons and Blacklisted Animators in America.

Ketakutan terhadap penyusupan komunis mengambil “cantelan” pengalaman pada era 1930-an, ketika AS masih dihumbalang Great Depression. Saat itu banyak aktor dan pekerja film Hollywood “jatuh cinta” pada organisasi-organisasi kiri seperti Screen Writers Guild atau Communist Party of USA yang membentuk banyak serikat buruh untuk memperjuangkan keadilan.

“Selama 1930-an dan 1940-an, Partai Komunis mencalonkan orang-orang untuk suatu jabatan dan merupakan kelompok utama yang memperjuangkan hak-hak orang miskin di Amerika Serikat. Anggotanya berjuang untuk perbaikan jaminan sosial, tunjangan kesejahteraan dan tunjangan pengangguran. Mereka juga anti-Fasis,” sambung Cohen.

Apa yang diperjuangkan serikat buruh-serikat buruh itu berbenturan dengan kepentingan para pengusaha perfilman/produser Hollywood yang jelas beriorientasi laba. Akibatnya, ketegangan meningkat antara serikat buruh dengan para produser.

Para produser, umumnya konservatif, biasa menjawab pemogokan yang dilakukan serikat buruh perfilman dengan pemecatan. Para produser diuntungkan dengan kesamaan sikapnya, konservatif, dengan para politisi. Mereka senang ketika Special Committee on Un-American Activities yang diketuai Martin Dies Jr. menginvestigasi aksi pemogokan tahun 1938, 1940, dan 1945. Namun semua investigasi itu gagal membuktikan penyusupan komunis di Hollywood.

Setelah Perang Dingin dimulai dan J. Parnell Thomas terpilih menjadi anggota Kongres –dari New Jersey usai Pemilu tahun 1946– dan ketua HUAC, investigasi terhadap dugaan penyusupan komunis ke Hollywood kembali dilakukan. Bahkan, itu dilakukan lebih serius dan luas cakupannya. Pendukung upaya tersebut tetap besar, termasuk dari Motion Picture Alliance (MPA).

“MPA dibentuk pada awal 1944 oleh penulis konservatif Rupert Hughes, Fred Niblo Jr., dan James K. McGuinness (yang pernah menjadi anggota Screen Playwrights) dan oleh sutradara Sam Wood, King Vidor, dan Clarence Borwn, semuanya adalah anti-komunis kuat yang berdedikasi untuk menghilangkan ide-ide dan keyakinan 'non-Amerika' dari film-film Hollywood. Salah satu anggota organisasi paling aktif adalah ibu Ginger Rogers, Lela, yang mengklaim bahwa MPA dibentuk 'untuk mendidik Hollywood tentang bahaya Komunisme yang begitu banyak orang terlalu buta untuk melihat',” tulis Ceplair dan Christopher.

Langkah pertama HUAC dilakukan dengan memeriksa saksi-saksi “ramah”. Salah satu yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap Walt Disney.

“Disney merupakan selebriti ideal untuk dipanggil. Produknya sangat disukai masyarakat, dan dia terkenal sebagai anti-komunis,” tulic Cohen.

Dalam kesaksiannya, Disney membeberkan pengalaman pemogokan di studionya pada 1941. Menurutnya, pemogokan itu merupakan hasil agitasi komunis. Disney menyebut nama salah satu animatornya, David Hilberman, yang diyakininya komunis, sebagai otak pemogokan itu. Disney juga menyebut peran William Pomerance, mantan manajer bisnis Screen Cartoonist’s Guild. Tuduhan Disney yang menurut Cohen validitasnya amat dipertanyakan itu pertamakali diutarakan dalam sebuah iklan di Majalah Variety edisi 2 Juli 1941.

“Saya yakin secara positif bahwa agitasi, kepemimpinan, dan aktivitas komunis telah menyebabkan pemogokan ini,” kata Disney dalam iklan itu, dikutip Cohen.

Kesaksian Disney menambah “amunisi” bagi HUAC yang menggelar sidang pertamanya pada Maret 1947. Dalam persidangan itu, Eric Johnston, presiden Motion Picture Association of America (MPAA), menyatakan bahwa komunis telah gagal sepenuhnya merebut industri film AS dan propaganda mereka tak pernah mencapai layar. Pernyataan tersebut bukan hanya dicemooh para anggota HUAC, tapi juga mendorong HUAC menginvestigasi lebih dalam dengan mengirim tiga wakilnya ke Los Angeles untuk menyelidiki komposer Hanns Eisler pada Mei tahun itu juga.

“Untuk memulai penyelidikan ekstensif dan menyeluruh terhadap kegiatan komunis dan pengaruhnya dalam industri film,” kata Parnell Thomas, dikutip Ceplair-Christopher.

Tindakan HUAC sontak memancing aksi balasan dari kaum Kiri. Mereka mengadakan aksi di Stadion Gilmore, Los Angeles pada 19 Mei yang disponsori Progressive Citizens of America. Dalam aksi yang dihadiri hampir 30 ribu orang itu, aktris Katherine Hepburn ikut berpidato –yang teksnya diduga ditulis oleh Dalton Trumbo– mengecam tindakan HUAC.

“Seniman, sejak awal, selalu mengungkapkan aspirasi dan impian rakyat. Bungkam artis dan Anda telah membungkam suara paling jelas yang dimiliki rakyat,” ujar Katherine.

Perlawanan Kaum Kiri terus berlanjut. Pada Juli 1947, konferensi bertajuk “Thought Control in the United States” dihelat di Beverly Hills Hotel. Dua bulan berikutnya, Hollywood Arts, Sciences, and Professions Council mensponsori sebuah pertemuan untuk melawan tindakan HUAC. Dalam pertemuan itu Dalton mengecam tindakan HUAC sebagai “teror intelektual baru” yang bertujuan menanamkan rasa takut dan menggiring orang untuk menyesuaikan diri dengan kemauan HUAC. Investigasi HUAC, kata Dalton seperti dikutip Ceplair-Christopher, mencerminkan “ciri-ciri beracun dari Fasisme itu sendiri –serangan terhadap budaya, serangan terhadap pekerja, anti-Semitisme yang licik dan kejam, kebencian besar terhadap orang Negro– bahkan lebih dari itu, kebencian terhadap orang-orang itu sendiri dan semua orang yang berbicara untuk mereka.”

Namun, HUAC tetap berjalan dengan pilihannya. Pada akhir September, surat panggilan dikirimkan kepada para pekerja film yang diduga komunis atau simpatisannya. Sidang pertama dilangsungkan di Washington DC pada 27 Oktober 1947 dengan menghadirkan saksi John Howard Lawson, seorang penulis naskah drama sekaligus penulis skenario film.

“Apakah Anda sekarang atau pernah menjadi anggota Partai Komunis?” Robert Stripling, kepala investigator, bertanya kepada Lawson sebagaimana dikutip Reynold Humphries dalam Hollywood’s Blacklists: A Political and Cultural History.

Alih-alih menjawab, pertanyaan tersebut mendorong Lawson mempertanyakan balik hak Komite mengajukan pertanyaan yang menyangkut urusan pribadinya. Alhasil, perdebatan sengit terjadi antara Lawson dengan Stripling dan J. Parnell Thomas.

Persidangan Lawson itu menjadi pembuka persidangan HUAC terhadap Hollywood Ten. Dalton kebagian sidang di hari kedua. Dia mengkritik HUAC sebagai musuh buruh dan serikat buruh, dan sedang membangun iklim menguntungkan untuk pemolisian pemikiran. Dalton membawa “bekal” 20 naskah karyanya. “Tujuan utamanya yang dinyatakan adalah untuk membuktikan kepada Komite bahwa karyanya sama sekali tidak berusaha untuk mengesankan ide-ide non-Amerika ke benak penonton bioskop Amerika,” ujar sutradara Edward Dmytryk, yang juga dihadapkan ke pengadilan, dalam memoarnya, Odd Man Out: A Memoir of the Hollywood Ten.

Namun, sebagaimana diduga para "pesakitan", Parnell Thomas menolak naskah Dalton dijadikan sebagai bukti. Alasannya sederhana, terlalu tebal.

Dari sidang keseluruhan yang berlangsung sepekan lebih itu, semua anggota Hollywood Ten menolak memberi “bantuan” pada investigasi HUAC. Akibatnya, komisi itu kian keras. Perlawanan Hollywood Ten dijawab HUAC dengan pemenjaraan para anggota Hollywood Ten, termasuk Dalton, yang dianggap telah menghina Kongres.

“Tanpa hukuman penghinaan, Komite mungkin menjadi gangguan tetapi bukan raksasa penghancur nama, status, dan pekerjaan,” tulis Ceplair-Christopher.

Sementara, pada 25 November 1947 MPAA mengadakan pertemuan dengan 48 eksekutif studio-studio besar Hollywood di Hotel Waldorf Astoria, New York. Pertemuan itu menghasilkan Waldorf Statement. Isinya antara lain, Hollywood tidak akan mempekerjakan komunis; dan orang-orang yang teridentifikasi sebagai Hollywood Ten harus dipecat atau diskors tanpa bayaran sampai mereka bersumpah di depan publik bahwa mereka bukan komunis.

Waldorf Statement menjadi “amunisi” penting bagi HUAC untuk terus memperkuat investigasinya. Berbekal Waldorf Statement, HUAC lalu secara tak tertulis mengeluarkan daftar nama insan perfilman yang harus dimasukkan daftar hitam (Hollywood Blacklist). Bukan hanya Hollywood Ten, orang-orang di luar “kelompok” itu yang diduga punya kaitan dengan komunis pun dimasukkan ke dalam daftar hitam. Cakupannya tak hanya penulis naskah, sutradara, dan produser saja, tapi juga menjangkau musisi bahkan para kru di studio-studio Hollywood. Mereka semua tak boleh berkarier lagi di Hollywood.

Akibatnya, semua insan perfilman yang dicap komunis atau simpatisannya banyak yang menjadi pengangguran atau pindah ke negara lain demi bisa berkarier. Para anggota Hollywood Ten setelah keluar dari penjara juga merasakannya. Dalton terpaksa melanjutkan kariernya secara sembunyi-sembunyi menggunakan nama samaran Robert Rich. Pencekalan itu baru selesai pada 1960-an.

“Menyebut seseorang sebagai komunis sudah cukup untuk membuat orang itu dipecat dan masuk daftar hitam. Label menghancurkan karier, membuat satu rumah animasi gulung tikar dan mengakibatkan pembersihan besar-besaran karyawan di rumah produksi lain,” tulis Cohen.

TAG

perang dingin komunisme

ARTIKEL TERKAIT

Tiga Peristiwa yang Terjadi September 1965 Fasisme Kontra Komunisme di Final Euro Henriëtte Sang Induk Ayam Belanda yang Tua Dari Sekolah Liar hingga Anarkisme Sekolah Rakyat Padang Panjang Seteru Sang Guru Minang Kiri Sebelah Bofet Merah Haji Misbach, Kongres Pemuda, dan Chairil Anwar Nisan dan Tengkorak dalam Peringatan Reformasi Gumuljo Wreksoatmodjo Sang Pembela Untung Sjamsuri