Masuk Daftar
My Getplus

Anomali Kamerun yang Menggegerkan Dunia

Tim semenjana yang diasuh pelatih tangan besi Uni Soviet. Mengukir sejarah usai bikin Maradona cs. tak berkutik.

Oleh: Randy Wirayudha | 09 Jun 2022
Momen Kamerun bikin kejutan terbesar di Piala Dunia 1990 (fifa.com)

STADION Giuseppe Meazza di Milan, Italia, pada 8 Juni 1990 jadi saksi bisu salah satu sejarah kejutan terbesar di Piala Dunia. Venue yang juga kondang disebut Stadion San Siro pada petang itu disesaki sekitar 73 ribu penonton. Sorak-sorai mereka seketika menggema begitu wasit asal Prancis Michel Vautrot meniup peluit kick off partai perdana Grup B yang juga menjadi laga pembuka Piala Dunia: Argentina versus Kamerun.

Semua penikmat bola, terutama di masa itu, tentu mengenal Argentina. Tim asuhan Carlos Bilardo itu merupakan juara bertahan yang berisi jagoan-jagoan lapangan macam Claudio Caniggia, Jorge Burruchaga, Sergio Batista, Oscar Rugeri, Abel Balbo, Néstor Sensini, dan sang megabintang Diego Armando Maradona.

“Maradona kembali untuk yang ketiga kalinya di Piala Dunia dan tengah menikmati masa kejayaannya. Di masa itu kariernya di Italia bersama (klub) Napoli sedang sukses besar. Ia membantu Napoli memenangkan titel (liga) pertamakali bagi sejarah klub pada 1984 dan titel Eropa (UEFA Cup, kini UEFA Europa League). Mereka jadi favorit juara bersama Jerman Barat, Inggris, Belanda, dan Brasil. Namun mereka gagal menunaikan ekspektasinya,” tulis jurnalis Argentina Fernando Fiore dalam The World Cup: The Ultimate Guide to the Greatest Sports Spectacle in the World.

Advertising
Advertising

Baca juga: Europa League Tempo Doeloe

Sementara, Kamerun sebagai lawannya tidak banyak dikenal orang. Roger Milla sebagai pemain andalan sekaligus paling populernya sudah mulai “uzur” dengan usia 38 tahun. Prestasi Kamerun di tingkat regional pun sedang melorot, bahkan gagal lolos dari babak grup Piala Afrika 1990.

Mentalitas tim jelang Piala Dunia juga sedang anjlok sebagai hasil kristalisasi banyak faktor. Pelatih asal Uni Soviet Valery Nepomnyashchy, yang baru dua tahun menukangi Kamerun, juga acap bentrok dengan kepentingan politis pejabat federasi dan pemerintah.

“Semua orang berasumsi Kamerun akan gagal sejak laga pertama di Piala Dunia 1990, bahwa pertandingan mereka praktis hanya akan jadi karpet penyambut malam pembuka bagi juara bertahan, Argentina, dan kapten mereka yang ternama, Diego Maradona. Oleh para bandar taruhan, peluang Kamerun sukses di turnamen itu hanya 500-1,” ungkap Andy Mitten dalam The Rough Guide to Cult Football.

Partai pembuka Piala Dunia 1990: Argentina vs Kamerun (fifa.com)

Benar saja, pertandingan berjalan tanpa gol hingga babak kedua dimainkan. Di menit ke-61, Argentina mendapat keuntungan besar setelah gelandang Kamerun André Kana-Biyik dikartu merah gegara menekel dengan kasar Caniggia.

Namun, Argentina gagal memanfaatkan keuntungan itu. Pada menit ke-65, bek Argentina Néstor Lorenzo justru membuat blunder dengan mengganjal gelandang Cyrill Makanaky yang coba membangun serangan ke sisi kanan pertahanan Argentina, tak jauh dari kotak penalti. 

Baca juga: Argentina dan Trofi yang Dirindukan

Kamerun mendapat tendangan bebas di menit ke-67. Dari tendangan bebas itu, Emmanuel Kundé menyepak umpan dengan kaki kirinya, bola mengarah ke tengah kotak penalti.

“Kundé mestinya tak menendang dengan kaki kiri. Saya tahu dia tak pernah mengumpan dengan kaki kiri, dia pemain berkaki kanan. Memang kadang dalam latihan dia pakai kaki kiri tapi sebelumnya ia tak pernah menggunakan kaki kiri dalam pertandingan,” kenang Emmanuel Kessack Maboang, gelandang Pelita Jaya yang menjadi rekan Kundé di timnas Kamerun 1990, kepada ESPN, 19 Mei 2019.

Umpan dari Kundé lantas disundul Makanaky yang membuat bola melambung lebih tinggi ke belakang, tempat François Omam-Biyik berada. Bomber berpostur 185 cm itu pun meloncat lebih tinggi lagi untuk membebaskan diri dari kawalan Sensini yang cuma 178 cm.

Gol tunggal François Omam-Biyik ke gawang Nery Alberto Pumpido (fifa.com/El Grafico)

Bola tandukan Omam-Biyik sejatinya tak mengalir deras. Hanya saja kiper Nery Pumpido sedang tidak siap.

“Saat melihat dia (Omam-Biyik) melompat seperti itu, Anda merasa bolanya pasti akan masuk. Saat itu saya menebak, kiper (Pumpido) akan melakukan blunder karena sepanjang pertandingan dia nyaris santai. Saya merasa dia akan melakukan kesalahan karena sebelumnya ia tak melakukan apa-apa,” lanjutnya.

Bola yang mengarah ke sela tangan dan lutut kanan Pumpido mengalir begitu saja ke dalam gawang. Pumpido hanya bisa menatap datar tanpa ekspresi. Stadion San Siro gempar. Skor 1-0 untuk Kamerun.

Baca juga: Diego Maradona dalam Kenangan

Hingga wasit meniup peluit pamungkas pun, Maradona cs. gagal menyelamatkan muka. Skor 1-0 untuk Kamerun, kendati dua menit jelang waktu normal berakhir (menit ke-88), Kamerun hanya bermain dengan 10 orang usai bek Benjamin Massing menerima kartu kuning kedua.

Pelatih dan ofisial Kamerun langsung berkerumun dalam kegembiraan. Mereka mengukir sejarah. Kamerun jadi tim Afrika Sub-Sahara pertama yang menang di putaran final Piala Dunia. Mereka juga jadi tim Afrika pertama yang menjungkalkan juara bertahan di partai pembuka. Di akhir turnamen, Kamerun menjadi tim Afrika pertama yang mencapai perempatfinal Piala Dunia, capaian yang belum bisa disamai oleh tim “Benua Hitam” manapun.

Mental Pemberontak hingga Pemain Titipan

Dilihat dari track-record Kamerun jelang Piala Dunia 1990, tak salah bila banyak orang meragukan tim berjuluk “Indomitable Lions” itu. Terlebih tim itu dibangun tanpa persiapan matang hasil program jangka panjang.

Dari sisi pelatih saja, misalnya, Nepomnyashchy tak pernah terdengar punya prestasi meski punya pengalaman melatih dua dekade. Sebelum menukangi timnas senior Kamerun, sosok kelahiran Slavgorod, 7 Agustus 1943 itu sekadar punya pengalaman menakhodai klub Kolhozchi Ashkabad (kini FC Köpetdag) dari Liga Turkmenistan. Kiprahnya di timnas Kamerun pun tak lain lewat program bantuan pemerintah Uni Soviet.

“Uni Soviet masa itu aktif membantu negara-negara Afrika di berbagai bidang olahraga. Contohnya, ada seorang pelatih voli Soviet di Kamerun dia membuat mereka jadi tim terkuat di Afrika. Saya sebenarnya hendak diikutkan dalam misi antara ke Tunisia, Aljazair, dan Maroko. Meski sudah meneken beberapa dokumen, atas beberapa alasan segalanya tak berjalan lancar,” kata Nepomnyashchy, dikutip Michael Yokhin dalam “The Indomitability of Lions: In 1990 Cameroon Overcame Shambolic Preparations to Shock the World” yang termaktub dalam buku The Blizzard: The Football Quarterly.

Baca juga: Sepakbola Soviet Era Stalin

Kesempatan Nepomnyashchy berkarier di Kamerun tiba pada awal November 1968. Dia ditemani asistennya, Leo Brovarsky. Rencananya Nepomnyashchy dan Brovarsky akan menangani tim-tim muda di Kamerun sesuai spesialisasi dalam resumenya sebagai salah satu peletak fondasi akademi dan timnas junior Turkmenistan.

“Tetapi nyatanya pihak Kamerun butuh pelatih kepala timnas. Saya mendarat pada 2 November dan pada 8 November turnamen Afrika Barat sudah dimulai dengan enam peserta. Kami menang dan kemudian saya mendapat tawaran melanjutkan jabatan itu dengan status permanen,” sambung Nepomnyashchy.

Valery Kuzmich Nepomnyashchy menukangi Timnas Kamerun periode 1988-1990 (ITAR-TASS/nike.com)

Uniknya, kontrak itu datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Kamerun, bukan dari Feca Foot/CAF (induk organisasi sepakbola Kamerun). Dalam kontrak ia digaji USD3 ribu per bulan. Namun karena via perantara Kedutaan Uni Soviet, Nepomnyashchy hanya menerima upah bersih USD700 dan sisanya untuk pemerintah Soviet.

Mulanya, Nepomnyashchy disambut hangat baik oleh pihak federasi maupun Menpora Joseph Fofé. Namun, guliran waktu kemudian mengubah keadaannya. Selain di samping hambatan bahasa dan fasilitas, Nepomnyashchy mesti menghela nafasnya lebih dalam gegara culture shock, terutama terhadap mentalitas pejabat-pejabat pemerintah dan federasi.

“Jujur, mulanya saya syok dengan mentalitas orang Kamerun. Sebelumnya saya mengalami alam kedisplinan Soviet yang ketat dan saya tak membayangkan ada banyak disorganisasi di sini. Terhadap satu masalah, mereka selalu bilang problemnya akan dibicarakan ‘besok.’ Besok kapan? Kapan tepatnya? Saya benar-benar tak terbiasa pada kenyataan di mana segalanya tak pernah ada rencana yang ajeg,” kata Nepomnyashchy kesal dikutip laman FIFA, 23 November 2015.

Baca juga: Kenapa Sepakbola Indonesia Kalah Melulu

Sebelum masuk ke soal program secara teknis, Nepomnyashchy sudah direpotkan persoalan bahasa antara bahasa Rusia dan Prancis. Padahal, dia sudah disediakan penerjemah dadakan oleh pemerintah Kamerun, bernama Galius.

“Masalahnya dia tak pernah benar-benar belajar bahasa Rusia. Pengalamannya dengan kata-kata (bahasa) Rusia hanya berasal dari masa-masa dia pernah berlatih bersama petinju Rusia, Stanislav Stepashkin. Bahasa Rusianya tak lebih baik dari bahasa Prancis saya! Namun ia bisa dengan cepat menyerap permainan sepakbola, duduk tenang dengan membuka mata lebih lebar. Alhasil saya tetap bisa menyampaikan instruksi kepada pemain melalui Galius,” tambahnya.

Selama dua tahun, Nepomnyashchy bertahan dengan strategi dan formasi favoritnya, 4-3-3. Hasilnya getir di Piala Afrika, Maret 1990. Karena itulah dalam persiapan di kamp latihan di Yugoslavia, lalu di kualifikasi Olimpiade dan laga-laga pemanasan Piala Dunia, Nepomnyashchy menjajal formasi ke 4-4-1-1 dengan satu bek di belakang bertindak sebagai libero.

Albert Roger Milla (jersey putih) di senjakala karier bermain untuk JS Saint-Pierroise (Wikipedia/ipreunion.com)

Tetapi yang bikin pusing Nepomnyashchy bukan tren hasil buruk di masa-masa persiapan itu, melainkan soal pemain titipan dan kambuhnya mentalitas pemain lain. Padahal pemerintah, bukan CAF, membebankan ekspektasi besar ke pundak Nepomnyashchy demi meredam gejolak politik dalam negeri. Melalui Menpora Joseph Fofé, Presiden Kamerun Paul Biya sampai memerintahkan agar Roger Milla diikutkan dalam persiapan timnas pada saat “injury time”. Padahal saat itu Milla sudah berusia 38 tahun dan sejak 1988 sudah pensiun dari timnas. Saat itu Milla juga baru dilepas klub Prancis Montpellier HSC dan turun level ke klub amatir JS Saint-Pierroise.

“Tuan (Menpora) Fofé menyambangi kamp dan bilang bahwa Presiden meminta saya mengikutsertakan Milla di skuad untuk mencegah gejolak besar di dalam negeri. Katanya, tuntutannya juga datang dari rakyat Kamerun. Saya bilang bahwa, boleh saja asalkan saya harus melihat dulu dia bermain,” lanjut Nepomnyashchy.

Baca juga: Fasisme Kontra Komunisme di Final Euro

Milla akhirnya datang ke kamp di Yugoslavia dua hari jelang tenggat waktu pengiriman daftar skuad ke FIFA. Nepomnyashchy mengaku terkesan lantaran skill Milla belum habis saat latihan. Catatannya hanya Milla mesti meningkatkan lagi kebugaran dan staminanya.

Segalanya jadi lebih lancar karena Milla juga mau menuruti Nepomnyashchy, meski beberapa rencana taktis Nepomnyashchy tak sepenuhnya melibatkan Milla sebagai pemain utama. Problem justru muncul dari soal mental tak bisa diatur yang ada pada dua dari tiga kiper yang dipilih: Thomas N’Kono dan Joseph-Antoine Bell. Masing-masing mengklaim sebagai kiper terbaik.

Joseph-Antoine Bell (kiri) & Thomas N'Kono (sanktpauli.fr/fifa.com)

N’Kono dan Bell punya gaya berbeda. Nepomnyashchy mengaku lebih cocok dengan N’Kono ketika memainkan sistem bek libero, baik di formasi 4-3-3 maupun 4-4-1-1. Namun, ada tekanan dari luar tim pelatih untuk tetap memprioritaskan Bell.

Dari 11 pemain yang diambil dari klub Eropa, hanya Bell yang tampil di klub utama (Girondins Bordeaux). Sisanya dari klub-klub liga kasta bawah. Akibatnya, jelang berangkat ke Italia N’Kono ngambek dan mengancam balik ke klubnya, Espanyol, ketimbang bertahan di pelatnas.

“Saya mendapat telepon dari tim dan mengadakan rapat, di mana mereka menginginkan saya jadi kiper kedua, bukan kiper utama. Jelas saya mempertanyakan. Karena pelatih bilang ingin mengubah sistem dan saya bisa bermain dengan sistem libero. Espanyol memang saat itu masih di divisi kedua tapi saya kaptennya. Saya bilang pada pelatih, lebih baik saya balik ke (kota) Barcelona. Pada akhirnya mereka bisa meyakinkan saya bertahan di (kamp) di Yugoslavia,” kata N’Kono dikutip Yokhin.

Baca juga: Lima Kiper dengan Rekor Gol Paling Subur

Toh, N’Kono tetap jadi kiper utama saat Piala Dunia dimulai. Pemilihan itu gara-gara Bell berulah seenaknya saat diwawancara media Prancis, France Football, usai latihan beberapa hari jelang partai pembuka kontra Argentina. Tanpa menyaring kata-kata, Bell menyatakan bahwa timnas tak punya persiapan matang. Ia juga menginformasikan kondisi kamp latihan yang buruk.

Nepomnyashchy pun meradang. Dia segera mengerahkan tim pelatih untuk membeli semua majalah hasil wawancara itu di sekitar kamp agar pemain-pemain lain tak membacanya. Ia lantas menegur Bell.

Mendapat “perlawanan” dari Bell yang mengancam tak mau bermain, Nepomnyashchy lantas mengadu pada federasi. Hasilnya, Bell didemosi dari kiper utama jadi kiper ketiga. N’Kono otomatis jadi kiper utama dan Jacques Songo’o sebagai kiper ketiga langsung promosi jadi kiper kedua.

“Untuk mencegah konflik di ranah publik, kami mengarang cerita bahwa perlengkapan kami diponsori Adidas, sementara Bell punya kontrak pribadi dengan Reusch. Kami mengatakan bahwa Bell menolak bermain dengan sarung tangan Adidas, oleh karenanya dia tak bisa bermain. Itu versi yang dipercaya semua pemain sepanjang Piala Dunia,” terang Nepomnyashchy.

Baca juga: Pionir Sarung Tangan Kiper

Skuad Kamerun di Piala Dunia 1990 (africatopsports.com)

Menjawab Penghinaan dengan Sejarah

N’Kono berhasil menjawab kepercayaan itu dengan menjaga keperawanan gawangnya dari dibombardir Maradona dkk. sepanjang 90 menit laga. Berbeda dari Pumpido di bidang pertahanan lawan, N’Kono pontang-panting menggagalkan bola-bola berbahaya dari Maradona dan kawan-kawannya.

Terlepas dari taktik kasar dan sistem bertahan klasik racikan Nepomnyashchy, Kamerun memenangkan laga itu dengan memanfaatkan kejumawaan lawan.

“Karena pada latihan terakhir pra-pertandingan (kontra Argentina), kami memiliki video latihan Argentina berdurasi 15 menit. Para pemain kami melihat bahwa Maradona dan para pemain bintang lainnya sangat santai dan sering bercanda. Para pemain kami menganggap hal itu sebagai penghinaan, bahwa Argentina tak menghormati mereka, jadi kami memutuskan untuk bermain memaksimalkan kondisi fisik sebaik mungkin,” tambahnya.

Selebrasi Timnas Kamerun usai memecundangi Argentina (fifa.com)

Kemenangan atas Argentina menaikkan mental para pemain Kamerun. Itu berlanjut di laga-laga berikutnya sehingga membuktikan bahwa kemenangan di laga pembuka bukan kebetulan apalagi hoki.

Kendati sempat dibantai Uni Soviet 4-0, Kamerun berhasil menjuarai Grup B sehingga lolos ke babak 16 besar dan berhadapan dengan Kolombia. Kendati laga mesti dilalui lewat perpanjangan waktu lantaran skor tetap 0-0, Kamerun berhasil memanfaatkan Milla yang awalnya duduk di bangku cadangan. Milla memang memecah kebuntuan pada menit ke-106 tapi gol keduanyalah (menit ke-108) yang meninggalkan rasa pahit buat Kolombia, terutama buat kiper nyentriknya yang hobi “keluyuran”, René Higuita.

“Anda boleh saja tak percaya tapi sebelum laga itu, Roger bilang pada saya: ‘Saya akan menghukum orang ini.’ Dia tahu gaya bermain Higuita dan menunggu kesempatan itu datang. Itu membuktikan kejeniusan Roger,” kata Nepomnyashchy.

Baca juga: Kiper Keblinger Blunder

Gol kedua Milla berawal dari blunder Higuita. Pada menit ke-108, Higuita menerima backpass dari rekannya lalu menggocek bola dengan maksud mengerjai Milla. Sial, Milla mampu mencuri bola sehingga bisa berlari cepat ke gawang Kolombia yang sudah melompong.

Sekuat tenaga Higuita menguber Milla sampai berupaya menekelnya dari belakang   sebagai upaya terakhir, namun gagal. Milla sudah keburu mendorong bola ke gawang. Kamerun akhirnya mengatasi Kolombia, 2-1, dan berhak main di perempatfinal kontra Inggris.

Roger Milla (kiri) kala mencuri bola dari kaki José René Higuita Zapata (fifa.com)

Di perempat final, Kamerun berhasil membuat Inggris mengeluarkan tenaga ekstra untuk menjaga diri agar tidak pulang lebih awal. Pertandingan berlangsung seru dan alot hingga menghasilkan skor 2-2 ketika waktu normal habis.

Namun, Kamerun sial pada menit ke-105. Upaya N’kono menghalau laju Gary Lineker di kotak penalti justru menjatuhkan Lineker. Inggris dihadiahi penalti dan sukses dikonversi menjadi gol dengan apik oleh Lineker.

Baca juga: Klenik di Balik Final Italia vs Brasil

Kendati Kamerun kalah 2-3, mereka pulang dengan kepala tegak. Sejarah baru telah mereka ukir, terlepas dari Nepomnyashchy mengaku sebagai penanggung jawab kekalahan itu.

“Kekalahan itu seperti pisau yang menghujam jantung saya. Itu kesalahan saya secara profesional karena saya tak bisa mengatur re-group pemain di saat dibutuhkan untuk bermain bertahan. Mestinya kami bisa bermain lebih disiplin. Terlepas dari itu, saya harus bilang para pemain kami sangat berbakat. Saya hanya membawa 11 pemain profesional, sisanya amatir. Sejak saat itu level pemain Afrika berkembang sangat pesat dan lihat saja mereka kini bermain di mana-mana,” tandas Nepomnyashchy.

"Dongeng" Kamerun yang berakhir di tangan Inggris pada perempatfinal (fifa.com/thefa.com)

TAG

afrika piala dunia piala-dunia argentina

ARTIKEL TERKAIT

Mula Finalissima, Adu Kuat Jawara Copa América dan Piala Eropa Lebih Dekat Menengok Katedral Sepakbola di Dortmund Bung Karno di Negeri Tango Bung Karno, Presiden Asia Pertama ke Amerika Latin Petualangan Tim Kanguru Mandela dan Palestina Sisi Lain Der Kaiser Franz Beckenbauer Ketika Pangeran Inggris Jadi Korban Pencurian Ketika Indonesia jadi Pelampiasan Maradona Empat Tuan Rumah Piala Dunia U-20 yang Dianulir FIFA