Masuk Daftar
My Getplus

Slamet Rijadi Masa Pendudukan Jepang

Slamet Rijadi melarikan diri setelah gagal melakukan pemberontakan. Muncul kembali ketika menyerbu markas polisi militer Jepang.

Oleh: Petrik Matanasi | 02 Sep 2022
Letnan Kolonel Slamet Rijadi dan Mayor Jenderal F. Mollinger dalam acara serah terima kota Solo pada 12 November 1949. (Th. van de Burgt/Arsip Nasional Belanda).

Setelah lulus Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Ardjoeno, Slamet Rijadi belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Broederan di belakang Gereja Purbayan Solo. Dia tidak tamat sekolah menengah pertama itu karena tentara Jepang keburu mengalahkan dan menduduki Hindia Belanda. Jepang membuka sekolah pelaut di beberapa kota, salah satunya di Cilacap.

Slamet Rijadi mendaftar ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Cilacap. Dia diterima dan berkawan dengan Soejoto dan Wardiman yang belajar navigasi dek. Selain belajar tentang pelayaran, para siswa SPT dibekali pula dengan sedikit teknik militer.

Setelah lulus SPT, Slamet Rijadi akan menjadi bintara kapal angkut Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Dia bersama para siswa SPT Cilacap, SPT Tegal, dan SPT Jakarta kemudian dilatih menggunakan senapan mesin Watermantel di Jakarta.

Advertising
Advertising

Mereka tinggal di asrama Kwini. Jika tidak sedang latihan, mereka berpesiar di kota Jakarta.  Di Jakarta, jaringan perkawanan para siswa bertambah. Di masa-masa itu timbul kebosanan di kalangan mereka. Sebab, menurut Julius Pour dalam Ign Slamet Riyadi dari Mengusir Kempetai sampai Menumpas RMS, keberangkatan mereka untuk penempatan di kapal-kapal militer kerap diundur-undur militer Jepang.

Baca juga: Kegagalan Slamet Riyadi di Bulan Ramadan

Di masa-masa itu, seperti diakui Wardiman, mereka mulai tidak menyukai militer fasis Jepang. Wardiman dan Slamet Rijadi pun terlibat dalam suatu komplotan antifasis Jepang. Wardiman menjadi saksi kepemimpinan Slamet Rijadi.

“Beberapa kawan yang dipimpin oleh Slamet Rijadi mengunjungi Wongsonegoro yang pada waktu itu menjabat sebagai koordinator daidancho (komandan batalion PETA). Dari beliaulah kita telah ikut mempersiapkan pemberontakan terhadap penjajah Jepang,” kata Wardiman dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid IV. PETA (Pembela Tanah Air) adalah tentara sukarela bentukan Jepang.

Komplotan Slamet Rijadi juga sempat menghubungi komandan batalion PETA Jakata, daidancho Mr. Kasman Singodimedjo. Mulanya ahli hukum yang dikenal sebagai pemimpin kelompok Islam itu memberi isyarat positif kepada para bekas siswa SPT yang hendak melawan Jepang.

“Tetapi, entah karena apa tiba-tiba dibatalkan,” kata Soejoto seperti dicatat Julius Pour. Pemberontakan yang hendak dilakukan Slamet Rijadi, Wardiman, dan Sanjoto pun tak pernah terjadi. Mereka kemudian melarikan diri dari sekolah. Selama berhari-hari mereka berkelana di sekitar Keresidenan Banyumas sebelum akhirnya masing-masing memutuskan pulang kampung.

Baca juga: Nasihat Menjelang Pemberontakan PETA di Blitar

Pemberontakan yang ditunggu-tunggu, seperti yang dilakukan Suprijadi dkk. di Blitar, tak pernah terjadi. Slamet Rijadi dan kawan-kawan merasa dalam bahaya sehingga memilih membubarkan diri dan berpencar ke beberapa daerah.

Wardiman bersama seorang kawan bernama Ambyah sempat melarikan diri ke Majenang, di mana mereka ditangkap. Mereka diperiksa oleh Kempeitai (polisi militer Jepang) Purwokerto. Wardiman lolos dari maut karena ada kawannya yang menjadi pembantu Kempeitai.

Slamet Rijadi sendiri pulang ke Solo. Dia tidak menampakan diri sepanjang Jepang masih kuat. Sampai ketika orang-orang Solo menyerbu markas Kempeitai, barulah Slamet Rijadi muncul.

“Serbuan dimulai setelah Slamet Rijadi berhasil masuk ke dalam markas dengan meloncati tembok serta membongkar genteng,” catat Julius Pour.

Anggota Kempeitai terkejut oleh serbuan yang terjadi pada 13 Oktober 1945 itu. Setelahnya Slamet Rijadi menjadi populer. Dia memimpin pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pangkat Mayor di usia 18 tahun.

Slamet Rijadi gugur di Ambon pada 4 November 1950 dalam penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan). Dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2007. Sementara itu, Wardiman masuk Angkatan Laut dan terakhir menjadi Laksamana TNI AL.*

TAG

slamet rijadi pendudukan jepang

ARTIKEL TERKAIT

Ajudan Bertaruh Nyawa Ibnu Hadjar, Pejuang yang Kecewa Mencari Kakak yang Ternyata Ikut Belanda Kapten Matheus Sihombing, Jago Revolusi dari Tapanuli Romusa Jadi Serdadu KNIL Cerita Gerilya dari Sanggabuana, Tempat Ditemukannya Ular Naga Liku-liku Otto Abdulrachman Batalyon Jawa yang Merepotkan Tuan Tanah di Toraja Belanda Membantai TNI dalam Pertempuran Titi Bambu Suradi Bledheg Si Bandit Gunung