Masuk Daftar
My Getplus

Perburuan Desersi Princen

Satu unit khusus dibentuk militer Belanda guna melumpuhkan prajuritnya yang membelot ke kubu TNI.

Oleh: Hendi Johari | 23 Jul 2019
Henk Ulrici (jongkok paling kiri) dan kawan-kawan KST-nya di Kalibata, Jakarta. (Repro De Eenling karya R.P.P. Westerling)

MAYOR JENDERAL E. Engles, berang luar biasa. Hingga beberapa minggu  menjelang  akan diberlakukannya gencatan senjata antara Belanda dengan Indonesia, tentaranya tak jua dapat meringkus atau membunuh Kopral Johannes Cornelius Princen, bekas anak buahnya yang membelot ke pihak musuh.

Menurut laporan NEFIS (badan intelijen militer Belanda), Princen bergabung dengan Divisi Siliwangi dan ikut long march dari Jawa Tengah menuju Jawa Barat. Sesampai di Sukabumi, ia didapuk menjadi komandan Pasukan Istimewa Bataliyon Kala Hitam pimpinan Mayor Kemal Idris dengan pangkat  letnan dua. 

“Ia berada di bawah komando kompi Kapten Saptadji Hadiprawira,”  tulis Ronald Frisart dalam sebuah laporan berjudul Speurtocht Door Vergeeld Papier Naar Poncke Princen di  koran Leidsch Dagblad, 11 September 1993.

Advertising
Advertising

Semenjak itu, Princen dan pasukannya banyak membuat kerugian di pihak militer Belanda. Diberitakan, mereka berhasil merampas banyak senjata serta membunuh anggota militer Belanda di wilayah Sukabumi dan Cianjur.  Tentu saja secara politik, soal ini cukup meruwetkan dan membuat  malu pihak Belanda: bagaimana bisa seorang Belanda totok bergabung dengan para esktrimis?

Baca juga: Aksi Princen di Hardjasari

Pihak Angkatan Darat Belanda bukannya tidak pernah bertindak. Sekitar Juni 1949, dua bataliyon prajurit dari kesatuan elit baret merah dan baret hijau nyaris meringkus Princen di wilayah Cisaat. Namun dengan lihai, Princen berhasil meloloskan diri dari kepungan dan menghindar ke markas Pasukan Istimewa di wilayah Cipakel.

“Mereka memburuku dengan memanfaatkan orang-orang lokal sebagai mata-mata,” ujar Princen.

Peristiwa itu membuat malu Engles. Dalam suratnya  tertanggal 20 Juli 1949, kepada Panglima Militer Belanda di Jawa Letnan Jenderal D.C.Buurman van Vreeden, ia berjanji: “…di atas segala-galanya akan mengusahakan untuk menyingkirkan desersi Kopral Princen…” tulis Panglima Militer Belanda di Jawa Barat itu seperti dikutip oleh Joyce van Fenema dalam buku Poncke Princen: Een Kwestie van Kiezen .

Van Vreeden merestui. Kepada Engles diberikan prioritas secara mutlak  untuk menemukan markas Pasukan Istimewa pimpinan Princen sekaligus menghancurkannya. Telik sandi pun disebar dan pasukan Belanda mulai menangkapi penduduk dan jika perlu menyiksa mereka guna mendapatkan informasi soal keberadaan markas Pasukan Istimewa.

Hasil kerja keras itu membuahkan hasil. Saat lokasi buronan Princen sudah bisa dipastikan, eksekusi akhir pun mulai dilaksanakan dengan langkah pertama membentuk tim pemburu khusus untuk melumpuhkan Princen. Mayjen. Engles lantas meminta kepada  Letnan Henk Ulrici dan Letnan T.E. Spier,  dua komandan terkemuka di KST (Kopassusnya-nya Belanda) untuk mengambil prajurit-prajurit KST pilihan masuk dalam unit pemburu tersebut.

Awal Agustus 1949, Ulrici dan Spier berhasil membentuk  sebuah tim komando buru sergap berkekuatan satuan setingkat kompi (sekitar 100 prajurit),  terdiri dari orang Ambon, Minahasa, Timor, Sunda, Jawa dan sebagian kecil orang Belanda. Unit yang diberi target  membawa Princen hidup atau mati tersebut lantas diberi nama Kompi Eric (Compagnie Eric), nama sandi Henk Ulrici  saat menjadi  partisan perlawanan terhadap pendudukan Jerman di Belanda.

“Kami harus cepat bergerak, sebelum gencatan senjata diberlakukan pada 10 Agustus 1949, Princen harus kami dapatkan,” tutur bekas ajudan Kapten R.P.P. Westerling  kepada Joeri  Boom dan Paul Rubsaam dari Majalah De Groene Amsterdammer  edisi 16 Agustus 1965 berjudul  De Princenjagers.

*

STASIUN LAMPEGAN, 7 Agustus 1949. Pagi baru saja menyeruak saat  serangkaian gerbong kereta api menurunkan anggota-anggota Kompi Eric yang didatangkan langsung dari Asrama Batujajar, Cimahi. Dengan memakai ikat kepala berwarna merah dan bersenjata lengkap, mereka berlaku seolah pasukan TNI. Usai menurunkan seluruh anggotanya, tanpa banyak acara, Letnan Ulrici memerintahkan anak buahnya untuk bergerak ke arah Cibeber.

Baca juga: Cerita dari Lampegan

“Dalam gerakannya mereka membawa  seorang asisten wedana dan jurutulis Lampegan yang bernama Idang,” ungkap Oedjang Nawawi (95), salah seorang eks anggota  pasukan Princen yang sempat diwawancara oleh saya.

Tak disangka-sangka, di perempatan dekat Cisitu, mereka bersirobok dengan sekelompok pasukan Divisi Siliwangi dari  Batalyon F.  Berusaha untuk tidak panik, salah seorang anggota Kompi Eric yang seorang bumiputera  spontan berteriak “merdeka”.

 “Tetap Merdeka! Saudara dari mana?“ tanya sang komandan TNI

“Kami tengah ditugaskan untuk menjemput seseorang …” ujar prajurit KST inlander tersebut seraya menyodorkan tangan kanan untuk bersalaman.

Belum lepas tangan mereka, tiba-tiba dari arah kerumunan unit Kompi Eric terdengar serentetan tembakan. Suasana menjadi panik. Para prajurit dari dua pasukan  yang  sebenarnya bermusuhan itu lantas berlari untuk mencari tempat perlindungan.

Menurut  Prajurit Qadim, salah seorang anggota TNI yang terlibat dalam peristiwa tersebut,  begitu rentetan tembakan berbunyi, peluru-pelurunya langsung melukai seorang kawannya bernama Prajurit Ajum. Saat itu, ia sendiri secara spontan  menembakan stengun-nya ke arah kerumunan unit Kompi Eric seraya berlindung di sebuah batu besar.

“Kami kaget sekaligus marah dan baru sadar mereka adalah musuh,” kenang lelaki yang kini berusia 95 tahun tersebut.

Karena kurang berimbangnya persenjataan, setelah sekitar 15 menit bertempur, pasukan Yon F akhirnya memutuskan mundur.  Qadim sendiri, menghindar ke semak-semak sambil menggendong Ajum yang terluka di bagian paha kanannya.

Manggeus tong mamanggul aing! Ecagkeun we uing di dieu!” teriak Ajum yang memerintahkan Qadim untuk jangan repot-repot membawanya.

Cicing! Jangan banyak omong kamu!” balas Qadim

Manggeus ecagkeun aing! Paling aing paeh di jalan…” (Sudahlah turunkan saya! Saya paling nanti mati di jalan) 

Paeh..Paeh..Sidik maneh gegerungan nyeuri, kumaha arek nyangharepan paeh?!” (Mati..Mati..Jelas-jelas kamu teriak-teriak kesakitan, bagaimana kamu mau menghadapi kematian?) 

Berkat aksi Qadim, Ajum sendiri berhasil dibawa ke Sukabumi setelah sebelumnya disembunyikan dalam tumpukan daun kering di sebuah hutan. Nyawanya berhasil diselamatkan. Sementara itu, tak jelas berapa korban yang jatuh di pihak Kompi Eric. Di kubu Yon F sendiri satu orang tewas dan satu lagi mengalami luka parah.

 *

BERITA BENTROK CISITU menyebar cepat di lingkungan unit-unit gerilya Divisi Siliwangi yang tersebar di sekitar Cibeber. Madhani (92) masih ingat,  beberapa jam setelah bentrokan itu, seorang kurir dari markas kompi di Batusirap (kira-kira 20 km dari Cilutung Girang, tempat bermarkasnya Pasukan Istimiewa) mendatangi Princen.

“Ia menyampaikan sepucuk surat dari Kapten Saptadji, berisi peringatan agar waspada terhadap gerakan satu unit tentara Belanda dari arah Lampegan," ujar kurir kepercayaan Princen tersebut. 

Tak mau kecolongan, malam hari, Princen bersama beberapa anak buahnya bergerak memindahkan markasnya ke Cibogo, sebuah  lembah kecil yang diapit Perkebunan Teh Gunung Kancana dan bukit Cadas Gantung. Usai menempatkan sebagian pasukannya dan Odah (isteri Princen yang sedang mengandung delapan bulan) di Cibogo, Princen membawa beberapa anak buahnya kembali ke Cilutung Girang. Di sana, mereka lantas menembakan peluru-peluru sinyal ke arah selatan dan sesekali menembakan peluru-peluru tajam ke udara.

“Suara tembakan pasukan Pirsen (maksudnya Princen) bahkan sampai terdengar ke Cihaur Kanoman…” kenang Endi (94), mantan tokoh  pemuda saat itu. Cihaur Kanoman adalah kampung yang bertetangga dengan Cilutung Girang

Tembakan yang dilakukan Princen ternyata tak membuat pasukan Ulrici terpancing. Akhirnya, setelah beberapa jam menunggu dan tak mendapatkan para pemburunya bergerak, Princen memerintahkan anak buahnya kembali ke markas di Cibogo. Begitu sampai, demi keamanan, Princen memerintahkan para penjaga untuk menggali lubang-lubang pertahanan dan menempatkan para penembak di dalamnya.

Usai mengomandoi pembuatan kubu pertahanan, Princen lantas masuk ke pondok dan disambut oleh seulas senyum Odah, yang tengah menyiapkan makan malam untuknya: ayam goreng, nasi putih dan sambal. Sambil menemani Princen makan, Odah bercerita tentang banyak hal dalam bahasa Sunda.

Malam semakin dingin. Suara binatang malam bersipongan, membentuk orkestra yang digerakan alam. Obrolan masih terus berlanjut begitu Princen selesai bersantap. Menjelang dini hari, mereka akhirnya menyerah dan memanjakan rasa kantuknya di sehelai tikar butut. Terlelap hingga serentetan tembakan memecah pagi.

*

SAMBIL menghamburkan peluru-peluru tajam dari Jungle Carbine-nya, Ulrici memerintahkan pasukan untuk membuat formasi setengah lingkaran mengepung pondok kecil yang dikelilingi parit tersebut. Dari atas Cadas Gantung, beberapa anak buahnya lantas melempar beberapa granat ke arah para penembak jitu TNI yang tengah bertahan di lubang. Glaaarrr! Asap putih dan kobaran api kemudian muncul. Lima prajurit Siliwangi nampak terkapar bersimbah darah.

Sementara anak buahnya menghabisi sisa-sisa pasukan Princen dengan sangkur dan klewang, Ulrici berlari menembus asap putih dan kobaran api untuk mendapatkan Princen di dalam pondok. Usai mendobrak pintu, ia lantas menghambur ke dalam pondok. Namun tanpas dinyana satu tembakan melukai tangan kanannya. Sambil menahan nyeri, sekilas sudut matanya yang terlatih menangkap gerak sesosok tubuh di dalam pondok. Tratatatatat! Tanpa menunggu lagi, Ulrici menghantam sosok itu .

Dalam gerak hati-hati, Letnan Ulrici mendekati sosok yang sudah terkapar tersebut. Hatinya tercekat, begitu mengetahui tembakan yang ia lakukan sudah membobol kepala seorang perempuan muda  yang tengah memegang sebuah Tommygun. Darah dan isi kepalanya berhamburan.

Baca juga: Dirgahayu, Poncke!

Selain perempuan muda itu (yang tak lain adalah Odah), ia hanya menemukan  sebuah buku catatan harian milik Princen. Sadar operasinya telah gagal dan waktu gencatan senjata sudah berlaku (10 Agustus 1949), ia lantas memerintahkan pasukannya untuk  membakar  pondok dan mundur sembari membawa dua serdadu yang tewas di tempat itu. Pondok kecil dan sekitarnya pun kembali sunyi.

Sementara itu, di balik bukit  seberang pondok tersebut,beberapa anak buah Princen berusaha menahan komandannya yang nekat akan menyerang sendirian ke pondok yang beberapa saat mereka tinggalkan. Oedjang Nawawi menjadi saksi betapa terpukulnya sang komandan. Rupanya Princen merasa bersalah karena harus meninggalkan Odah di dalam pondok sendirian. 

Setelah berusaha menenangkan diri, Princen lalu memimpin anak buahnya untuk memotong pergerakan Kompi Eric. Namun terlambat, mereka sudah keluar wilayah Cilutung Girang. Princen akhirnya memutuskan untuk kembali ke pondok. Sesampai di sana, ia harus menerima kenyataan Odah telah tewas.

“Ia menangis dan terlihat sedih saat memeluk tubuh istrinya yang sudah menjadi setengah arang,”ungkap Oedjang, yang saat pensiun berpangkat Sersan Mayor tersebut

Akibat serangan menjelang gencatan senjata tersebut, selain Odah, 11 anggota Pasukan Istimewa gugur (termasuk seorang perwira bernama Letnan Darmadji). Beberapa senjata dan perlengkapan pribadi hilang. Moril pasukan bergerak jatuh ke titik nadir  karena tragedi itu.

“Bagiku serasa ada sesuatu yang retak di dalam saat itu. Seperti ada sesuatu yang patah dalam keseluruhan hidup. Tiba-tiba, semuanya menjadi lain…Kami menjadi tenang tapi semakin keras…” kenang Princen.

Baca juga: Poncke Princen Mengungkap Skandal Pertama Orde Baru

Kedua belas orang yang gugur itu lantas dikebumikan di  pinggir hutan dekat kampung Cilutung Girang. Karena situasi yang masih diliputi kewaspadaan, alih-alih dimakamkan secara layak, keduabelas jasad itu terpaksa dikuburkan dalam satu lobang.

Sejak itu, dikenallah nama kawasan tersebut sebagai Astana 12 (artinya: makam yang berisi 12 orang). Tahun 1951, oleh pihak Divisi Siliwangi, keduabelas kerangka itu lantas dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cianjur. Kendati demikian, nama Astana 12 kadung tertabalkan hingga sekarang di Cilutung Girang.

Lalu bagaimana kisah tentang Kompi Eric? Sampai saat ini, saya sendiri belum berhasil “menggali” data-data mutakhir sekitar kelanjutan unit khusus tersebut. Dari Princen, saya hanya mendapatkan informasi bahwa pimpinan mereka yakni Letnan Henk Ulrici  beberapa waktu kemudian diganjar medali Militaire Willems-Ordedar (sejenis penghargaan perang bergengsi) oleh Kerajaan Belanda. Usai keluar dari dinas tentara sebagai kapten, ia lantas berkecimpung dalam dunia bisnis dan terakhir tinggal di Mallorca, Spanyol, hingga meninggal pada 29 Januari 2005.

Namun yang pasti dengan selamatnya nyawa Princen (ia hidup sampai tahun 2002 dalam usia 77 tahun), misi unit pasukan khusus ini jelas gagal. Inilah salah satu operasi senyap yang menambah catatan sejarah ketidaksuksesan Komando Speciale Troepen di palagan Hindia.

TAG

poncke princen revolusi indonesia

ARTIKEL TERKAIT

Suka Duka Pasukan Perdamaian Indonesia di Gaza Orang Wana Melawan Belanda Pratu Misdi, Pasukan Perdamaian Indonesia yang Gugur di Gaza Pasukan Perdamaian Indonesia di Gaza Perdamaian Maludin Simbolon dan Djamin Gintings Menjaring Soumokil Cerita Orang Biasa dalam Perang Kemerdekaan Anak Buah Westerling Bikin Kudeta di Suriname Cerita Mayor Selamat Ginting Cari Senjata ke Singapura Kecakapan Elie Ripon Sang Sersan Swiss di Banda