Masuk Daftar
My Getplus

Sejarah Prajurit

Dulu, prajurit hanya untuk milisi lokal pribumi. Istilah untuk tentara reguler adalah serdadu.

Oleh: Petrik Matanasi | 18 Apr 2024
Para prajurit Yonif 733/Raider Waiheru sedang diinspeksi Kasdam XVI/Pattimura Brigjen TNI Juwondo. (tniad.mil.id)

DI tengah kabar menggembirakan yang datang dari prajurit-prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) –seperti Prajurit Satu (Pratu) Abdurrahman yang mengharumkan nama KODAM VI/Mulawarman dengan menjuarai Festival Film Nasional Dokumenter Budi Luhur sebagai sutradara, atau Prajurit Kepala (Praka) Sedilta Pilon Nubatonis yang berhasil juara pertama dalam Singapore T100 Triathlon World Tour pada 14 April lalu, ada saja ulah prajurit yang mencoreng nama baik TNI. Ulah keji itu kali ini datang dari prajurit asal Kodim Raja Ampat berinisial N.

Prajurit Satu (Pratu) N diduga mencabuli anak yang masih berusia 8 tahun. Mirisnya, menurut Dandenpom XVIII Sorong Mayor CPM Rivan Iskandar, ulah N terjadi justru di rumah seniornya yang memberinya bantuan tumpangan tempat tinggal di Sorong, Papua Barat Daya.

“Jadi Pratu N ini datang ke Sorong mau mengurus surat-surat, nah pelaku ini dibawa oleh seniornya berpangkat Sersan. Itu adalah seniornya Pratu N sendiri karena kasihan tidak ada tempat tinggal di sini. Malah bertindak seperti itu, korban itu keponakan dari seniornya pelaku. Saat itu Pratu N dalam keadaan mabuk,” ujar Mayor CPM Rivan sebagaimana diberitakan detik.com, 17 April 2024.

Advertising
Advertising

Baca juga: Ajudan bukan Ajudan Pribadi

Kendati ada disiplin ketat yang diterapkan di TNI, pelanggaran atau bahkan ulah keji tak pernah hilang dari institusi pertahanan itu. Pelakunya bervariasi, bahkan hingga perwira, kendati kebanyakan prajurit rendahan. Lantas, siapa sebetulnya prajurit itu dan bagaimana sejarahnya?

Istilah “prajurit” adalah istilah yang cukup lawas di Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prajurit diartikan sebagai “anggota angkatan darat dan udara (tidak memandang pangkat).” Artinya, semua anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah prajurit juga. Setidaknya dalam Sapta Marga, semua poinnya dimulai dari kata “Kami prajurit” di dalamnya.

Masih dari kamus yang sama, prajurit juga diartikan pula sebagai “golongan pangkat paling rendah dalam angkatan darat dan udara, mencakupi prajurit kepala, prajurit satu, dan prajurit dua.” Pangkat Prajurit Kepala (Praka), Prajurit Satu (Pratu) dan Prajurit Dua (Prada) tergolong sebagai tamtama. Kini pangkat terendah dalam ketentaraan Indonesia (Angkatan Udara dan Angkatan Darat) adalah Prajurit Dua (Prada). Angkatan Laut memakai istilah berbeda: Kelasi Dua. Tanda pangkatnya kini berupa balok-balok.

“(Prajurit, red.) berasal dari akar kata jurit yang berarti berkelahi atau perang,” kata Ajib Rosidi dalam Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya, Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi.

Baca juga: Cerita Menarik di Balik Perumusan Pedoman Prajurit TNI

Jadi, mengacu pada tulisan Ajib, prajurit adalah orang yang bisa berperang. Definisi itu mirip dengan definisi prajurit dalam bahasa Belanda. Dalam Woordenschat, verklaring van woorden en uitdrukkingen yang disusun Taco H. de Beer dan Eliza Laurillard, prajurit disamakan pula dengan istilah “pendekar” dan “pahlawan”. Beer-Laurillard mencatat ada istilah “pradjoerit darat” yang berasal dari bahasa Jawa dan berarti prajurit berjalan kaki. Selain itu, ada pula istilah Jawa “pradjoerit djaranan” yang berarti prajurit berkuda.

“Oleh karena itu Pradjoerit adalah seorang pendekar pribumi,” catat Beer dan Laurillard.

Di masa lalu, tentara Eropa tak disebut Prajurit. Istilah “prajurit” hanya untuk orang pribumi.

“Prajurit Eropa atau prajurit dengan perlengkapan Eropa disebut sorodadoe atau Soladoe,” tulis Beer dan Laurillard.

Baca juga: Jenderal Mayor di Indonesia

Istilah “Sorodadoe” atau “Soladoe” berasal dari bahasa Portugis yang artinya dibayar. Di dalam ketentaraan Belanda pasca-Perang Dunia II, terdapat pangkat Soldaat Tweede Klas (serdadu kelas dua) dan Soldaat Eerste Klas (serdadu kelas dua).

Selain itu, Beer dan Laurillard menyebut prajurit sebagai polisi bersenjata pribumi. Mereka diberdayakan untuk tugas-tugas kepolisian seperti keamanan dan ketertiban.

Prajurit atau orang bersenjata itu bekerja di bawah seorang penguasa setempat. Tugas prajurit menegakkan kebijakan penguasa itu.

“Prajurit itu sama saja dengan milisi atau wajib militer,” catat J.B.J. van Doren dalam Reis naar Nederlands Oost-Indie of, Land- en zeetogten gedurende de twee eerste jaren mijns verblijfs op Java.

Baca juga: Sejarah Pangkat Kopral

Milisi itu berada di bawah tanggung jawab seorang pangeran atau penguasa lokal. Para pangeran dan milisi mereka diwajibkan untuk berolahraga ala tentara dua kali seminggu.

Pangeran itu membentuk korps atau barisan bersenjata yang terdiri dari milisi itu. Korps prajurit atau barisan bersenjata itu akhirnya menjadi pasukan bantuan alias Hulptroepen. Orang Belanda akhirnya menyebut Hulptroepen itu sebagai prajurit.

“Ini semacam milisi paruh waktu, yang hanya digunakan para pangeran pada saat itu pecahnya perang,” catat van Doren.

Ketika perang pecah, para prajurit itu dipersenjatai dengan pedang, tombak panjang, bahkan senapan. Milisi semacam ini setidaknya dikerahkan dalam Perang Jawa (1825-1830) oleh militer Belanda untuk mengalahkan pasukan Diponegoro.

Baca juga: KNIL dari Eropa ke Bumiputera

Istilah “prajurit” tak hanya dipakai di Jawa. Di pedalaman Sumatra Selatan, istilah “prajurit” dipakai pula untuk menamai milisi lokal yang memperkuat militer Hindia Belanda di sana. Dalam milisi bernama Pradjoerit itu terdapat anggota yang berpangkat sersan dan kopral pula.

Beberapa prajurit lokal itu mendapat penghargaan atas keterlibatannya dalam aksi militer menghadapi musuh pemerintah kolonial. Buku Verzameling van dagorders, uitgevaardigd in het leger van Nederlandsch Oost-Indië, van 1853-1860 menyebut anggota milisi Pradjoerit yakni Kopral Prajurit Rebo, Prajurit Komplang, dan Prajurit Landoet dianugrahi bintang perunggu Voor Moe den Trouw (Keberanian dan Kesetiaan) pada 1957 setelah aksi mereka di Gumai Ulu. Pada 1853, Prajurit Muara Bliti yang dipimpin oleh Mas Agus Akip, dengan anggota Ketjil, Lamang Kontel, Oentong, Dapat, dan Ganoel  juga mendapat bintang yang sama dalam ekspedisi militer Palembang dan Bengkulu.

Di zaman Hindia Belanda, tentara umumnya dianggap sebagai serdadu dan bukan prajurit. Fuselier adalah sebutan untuk prajurit infanteri pribumi terendah. Serdadu Afrika disebut Flanker.

Di zaman pendudukan Jepang, ketika Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Jawa terbentuk, istilah “Pradjoerit” mulai dipakai. Ada sebuah buletin bernama Pradjoerit. Setelah Indonesia merdeka, prajurit sebagai nama pangkat terendah di dalam TNI mulai dipakai.*

TAG

militer tni ad tni al tni au bahasa

ARTIKEL TERKAIT

Tulisan dan Media Tulis Asal-Usul Malioboro Ada Rolls-Royce di Medan Laga Rencana Menghabisi Sukarno di Berastagi Para Pejuang Bugis-Makassar dalam Serangan Umum Jenderal dari Keraton Murid Westerling Tumbang di Jogja Jenderal Orba Rasa Korea Strategi Napoleon di Balik Kabut Austerlitz Soeyono Apes Setelah Kudatuli