Masuk Daftar
My Getplus

KNIL Pakai Pendeta dan Ulama

Prajurit juga manusia yang butuh agama. Maka ada pendeta dan ulama di KNIL.

Oleh: Petrik Matanasi | 24 Jan 2024
Pasukan KNIL di Cirebon. Mayoritas dari mereka merupakan orang pribumi yang beragama Islam dan Kristen/Katolik. Mendapat bimbingan mental. (Geheugendelpher)

Bila sekarang di Tentara Nasional Indonesia (TNI) terdapat unit Pusat Pembinaan Mental Tentara Nasional Indonesia (Pusbintal TNI), dulu di zaman Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) ada Pusat Pemeliharaan Rohani ABRI (Pusroh ABRI). Ini pertanda militer sadar bahwa prajurit butuh siraman rohani untuk menjaga mental mereka melalui jalur agama.

Namun sejatinya bukan hanya TNI/ABRI saja yang punya perangkat yang mengurusi masalah rohani atau tentara. Tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang sedari dulu memerangi anak bangsa pun juga punya. Sebab, KNIL berisi banyak tentara dari bermacam kepercayaan. Jangankan yang beragama Kristen seperti orang Belanda, yang beragama Islam pun banyak.

Itu terlihat antara lain dari sebagian nisan serdadu KNIL di Permakaman Menteng Pulo. Lalu, di Benteng Willem I di Ambarawa juga terdapat mushalla.

Advertising
Advertising

Prajurit KNIL yang beragama Kristen Protestan kebanyakan berasal dari Keresidenan Ambon, Keresidenan Manado, Kepulauan Sangir dan Keresidenan Timor. Mereka yang berasal dari Jawa, Sunda dan lain-lain umumnya beragama Islam. Namun, sebelum Perang Dunia II barangkali petinggi tentara KNIL kurang peduli pada masalah spiritual prajurit bawahannya. Para prajurit yang bukan Katolik, biasanya mereka mengandalkan guru agama lokal di luar ketentaraan.

“Sangat mengejutkan bahwa, sejauh penelitian ini menunjukkan, tidak ada konselor spiritual pribumi yang bersifat holistik dan diklasifikasikan. Bagi tentara Katolik Roma, kerohanian dilakukan oleh pendeta di paroki,” catat Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit. De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950.

Setelah Perang Dunia II, usai KNIL bersembunyi di Australia, masalah keagamaan prajurit mulai diberi tempat. Pada 30 November 1946, aturan agar para penasihat spiritual pribumi dapat ditugaskan di ketentaraan dibuat. Sejurus kemudian, puluhan pendeta dari Manado dan Ambon direkrut menjadi pendeta tentara. Ajudan Jenderal KNIL ikut mengurusi masalah tersebut.

Tiap tahunnya, pada 1946, 1948, dan 1949 setidaknya ada 30 pendeta sipil yang dimiliterisasikan Mereka umumnya lulusan School Tot Opleiding van Inlands Leraars (STOVIL), yang terdapat di Minahasa dan Ambon. Setelah dimiliterisasikan, mereka diberi pangkat letnan kelas dua yang dengan cepat naik menjadi letnan kelas satu. Lebih banyak mereka yang bertahan hingga tahun 1950 dibanding sedikit yang mundur sebelum tahun tersebut.

Soal tugas, ada kalanya pendeta tentara ditugasi memberi upacara eksekusi mati terpidana yang diurusi militer. Inilah yang dialami Letnan Pendeta kelas satu Justus Dirk Purukan. Pada dinihari 5 September 1949, Letnan Pendeta Purukan memimpin ibadah sebelum eksekusi seorang tahanan yang divonis mati di kawasan Negara Indonesia TImur (NIT) di Makassar. Si terpidana ternyata tetangga kampungnya di Malalayang, pinggiran kota Manado. Si terpidana itu adalah Robert Wolter Mongisidi.

Letnan Pendeta Purukan tetap pada tugasnya. Dia menjadi saksi kematian Wolter Mongisidi yang jadi pahlawan Indonesia itu. Beberapa hari kemudian, Pendeta Purukan dipindahkan ke Manado. Menurut Robby Mongisidi, adik kandung Wolter, ini dilakukan agar Pendeta Purukan tidak menjadi sasaran amuk dari pendukung Rerepublik Indonesia di Makassar.

Namun soal masalah kerohanian ini, nasib yang berbeda dialami mereka yang mengurusi kerohanian Islam, yang barangkali banyak dianut serdadu KNIL Jawa. Rupanya mereka agak kurang terperhatikan seperti serdadu Kristen. Padahal banyak guru agama Islam di daerah Jawa. Sebagian di antaranya tentu bisa didekati oleh militer Belanda.

“Ulama tentara juga tidak tersebar secara padat. Hanya satu ulama tentara cadangan yang bisa diidentifikasi, yaitu Haji Djalaloedin Thaib, yang disamakan dengan pangkat sementara mayor,” catat Benjamin Bouman.

Sang haji sejatinya adalah orang pergerakan nasional juga. Dia kemungkinan direkrut menjadi ulama tentara KNIL sejak berada di Australia ketika Perang Dunia II. Saat perang hampir selesai, dirinya pernah dilibatkan dalam Operasi Kentang. Dia diangkat sejak 20 Agustus 1945 dan diberhentikan pada 24 Februari 1948.

Setelah KNIL bubar, beberapa pendeta tentara itu ada yang bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) yang belakangan menjadi TNI. Ini yang dilakukan Amos Souisa. Dia masuk TNI sebagai kapten. Belakangan, dia bertugas di KODAM Jaya. Selain Amos, ada pula Pendeta Hendrik Frederik Mamesah. Dia masuk TNI dan kemudian menjadi kepala pendeta tentara dan mendapat pangkat kolonel tituler.

TAG

knil tni wolter monginsidi

ARTIKEL TERKAIT

Thomas Nussy versus Anak Cik Di Tiro Hukuman Penculik Anak Gadis Dulu Para Sersan Berserikat Pengawal Raja Charles Dilumpuhkan Orang Bali Pengawal Raja Charles Masuk KNIL Setelah Gerard van Daatselaar Ditawan Kombatan Minahasa dalam Serangan Umum Persahabatan Sersan KNIL Boenjamin dan dr. Soemarno Sejumput Kisah Sersan Baidin Pensiunan KNIL Menipu di Salatiga