Terjajahnya Kerajaan Letta

Kisah tentang kerajaan kecil di Sulawesi, Letta, yang pantang menyerah pada Belanda.

Oleh: Petrik Matanasi | 22 Feb 2025
Terjajahnya Kerajaan Letta
Marsose yang beken di Aceh juga dikerahkan ke Sulawesi Selatan. Merekalah yang mengalahkan perlawanan Kerajaan Letta. (Tropenmuseum)

KAMIS (20/2/2025) lalu, HA Irwan Hamid dan Sudirman Bungi resmi dilantik menjadi bupati dan wakil bupati Kabupaten Pinrang periode 2025-2030. Pelantikannya –dan juga pelantikan 480 kepala daerah lain– dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta.

Pinrang sendiri merupakan kabupaten di Sulawesi Selatan yang terletak di selatan Kabupaten Tana Toraja. Dahulu, Pinrang memiliki kerajaan kecil pantang menyerah di bagian utaranya, yakni Kerajaan Letta. Rajanya disebut Arung Letta.

“Meskipun hanya kerajaan kecil dan letaknya terpencil namun sejak awal masyarakat Letta mewarisi semangat keberanian leluhurnya. Yakni mereka tidak pernah tunduk pada kekuasaan asing, apalagi kekuasaan Belanda,” catat Julius Pour dalam Baramuli Menggugat Politik Zaman. “Letta baru bisa ditundukan Belanda sekitar 1906.”

Advertising
Advertising

Meski begitu, realitasnya berbeda. Sebab, pada 1907 masih terjadi perang antara orang-orang Letta dengan tentara kolonial Hindia Belanda, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Ketika KNIL dikerahkan dalam jumlah besar ke Sulawesi Selatan untuk memerangi raja-raja di sana yang ramai-ramai membangkang kepada Belanda, Letta juga menjadi sasaran.

Di masa itu, Arung Letta adalah Daeng Parawak. Menurut Haji Daeng Mangemba dalam Takutlah pada Orang Jujur, dia ikut memimpin pertahanan di Benteng Katapi dan Letta.

Terdapat beberapa kelompok kecil kombatan yang dipimpin oleh panglima bernama Daeng Mengasa. Mereka bertahan di hutan Letta, dekat Kampung Banga. Mereka bertahan di sana setelah Benteng Alla di utara direbut KNIL.

Pertahanan itulah yang dijadikan sasaran pasukan KNIL. Koran De Locomotief tanggal 21 Juni 1938 memberitakan, pada malam tanggal 6 hingga 7 April 1907, sepasukan Marsose di bawah Sersan Habel Salawono bergerak menuju sana. Mereka berhasil mendekati pertahanan pasukan Daeng Mengasa pada dinihari.

Sekira pukul 05.20, para pejuang Letta melepaskan tembakan. Mereka lalu bergerak mendekat ke arah lawan.

Begitu para pejuang Letta mendekat, Pembantu Letnan Schouten memberi tanda penyerangan. Mengetahui tanda sudah dikeluarkan, Sersan Salawono langsung bergerak cepat.

Anak buah Daeng Mengasa pun kemudian mundur ke arah Kampung Banga. Namun, Daeng Mengasa sendiri terpaksa menyerah setelah terjepit.

Schouten bersama Sersan Salawono dan Sersan Najoan lalu berusaha memburu orang-orang Lette yang masih ada di sekitar sana. Pada 26 April, posisi orang-orang Lette berhasil ditemukan setelah Schouten cs. menjelajahi banyak daerah. Orang-orang Lette yang bertahan bersama Andi Noni itu pun langsung diserang Marsose. Andi Noni terbunuh dalam penyergapan KNIL itu. Beberapa anak buahnya kemudian menyerah.

Sebagai pemimpin penyergapan yang berjasa besar, Salwono dan Najoan kemudian mendapat bintang penghargaan setahun kemudian. Salwono mendapat bintang Militaire Willemsorde kelas tiga pada 1908. Kedua sersan veteran Perang Aceh itu pensiun pada 1924 dengan tunjangan yang cukup besar.

Letta sendiri kemudian menjadi daerah pendudukan Belanda setelah 1907. Namun, Letta tetap dipimpin oleh seorang Arung.

“Raja Letta pantang menyerah, apalagi mundur terhadap Pemerintah Belanda. Karena itu, Pemerintah Belanda memberi kedudukan swapraja kepada kerajaan di daerah Sawitto,” kata buku 70 Tahun Baramuli: Pantang Menyerah.

Kini, Letta hanyalah sebuah desa—yang telah dimekarkan menjadi tiga desa, salah satunya menyandang nama Letta. Desa Letta dan dua desa hasil pemekarannya menjadi bagian dari Kecamatan Lembag, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

TAG

kerajaanindonesia sulawesi selatan knil marsose

ARTIKEL TERKAIT

Gaji Letnan Pribumi Setengah Letnan Belanda Bandara Manggar yang Hilang Bupati Jombang Veteran Perang Aceh Kopral Cohen Dua Kali dapat Bintang Penghargaan Militer Kisah Kapten Konig Senior I Gusti Ngurah Rai Perwira TNI Dinaturalisasi ke Belanda Raden Mattaher dan Durian di Muaro Jambi Kapten KNIL Jadi Tuan Tanah Citeureup Belanda Tuan Tanah Cisarua Jenderal Belanda Tewas di Lombok