Masuk Daftar
My Getplus

Fosil-fosil Raden Saleh

Bukan hanya fenomenal sebagai pelukis, Raden Saleh juga dianggap sebagai pionir arkeolog di tanah air lewat riset-risetnya di bidang arkeologi dan paleoantropologi.

Oleh: Sulistiani | 06 Okt 2022
Lukisan Raden Saleh di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Fernando Randy/Historia.ID).

Nama Raden Saleh sempat menjadi trending di Twitter belum lama ini. Hal ini dikarenakan tayangnya film Mencuri Raden Saleh karya Angga Dwimas Sasongko. Film yang ditonton hingga 2,2 juta orang ini menceritakan tentang pencurian lukisan fenomenal karya Raden Saleh berjudul Penangkapan Pangeran Diponogoro.

Lukisan tersebut hanya satu dari banyak karya Raden Saleh yang memiliki cerita menarik. Namun, sejatinya Raden Saleh bukan hanya berjasa dalam seni lukis, tapi juga punya jasa di bidang arkeologi. Oleh karena itulah Museum Manusia Purba Sangiran menampilkan sosok Raden Saleh dalam sebuah lukisan.

Baca juga: Raden Saleh Melawan dengan Lukisan

Advertising
Advertising

“Lukisan tokoh Raden Saleh ada di ruang pamer kita, karena beliau ini (dalam kiprah soal, red.) masalah fosil di kita mungkin pionir dari bangsa kita beliau ini, meskipun beliau bukan arkeolog,” ujar Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Iskandar Mulia Siregar kepada Historia melalui Zoom.

“Kita juga belum ada nih data-data atau informasinya seperti apa penggalian yang beliau lakukan saat itu. Tentu kalau penggalian ada prosedurnya ya ada SOP-nya, penggalian arkeologi eksavasi itu ada. Kita belum jelas nih metode apa yang dia lakukan saat itu,” tambah Iskandar.

Di lokasi sekitar tempat penggalian pertama Raden Saleh sempat ditemukan lagi fosil dari hewan yang hampir sama tepatnya tahun 2021.

“Di wilayah yang pernah dilakukan penggalian Raden Saleh tahun lalu juga pernah kita temukan fosil itu berupa tulang belakang mamalia. Dulu yang ditemukan Raden Saleh gigi, nah hasil dari penelitian teman-teman kita di Sangiran itu mamalia laut berarti paus ya,” kata Iskandar.

Perjalanan Raden Saleh dan Fosil

Sebagai seniman, Raden Saleh merupakan pembelajar ulung. Ia memiliki keingintahuan kuat mengenai sejarah peradaban manusia. Ketika tinggal di Jerman, ia dianggap anak oleh pasangan suami istri Fredrich Anton dan Friedericke Serre. Mereka adalah seorang ahli ilmu pengetahuan dan pengusaha.

Serre memiliki salon yang menjadi tempat para seniman dan ahli ilmu pengetahuan alam berkumpul. Salah satu dari ahli-ahli tersebut adalah Profesor Bernhard von Cotta, pakar geologi dan geognosie sekaligus pakar paleontologi. Dari diskusi dengan Bernhard, minat Raden Saleh terhadap paleontologi muncul.

Minat itu diasah Raden Saleh setelah 20 tahun kepulangannya dari Eropa. Sebagai petugas Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang bertugas mencari naskah-naskah dan barang antik, ia terus menggali ilmu paleontologi di Jawa. Ia melakukan banyak riset ke berbagai tempat yang disebutnya sebagai perjalanan seni dan menikmatinya.

Baca juga: Raden Saleh Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia

Penggalian fosil pertama yang dilakukan Raden Saleh dilakukan pada Desember 1865 di dekat Desa Bayunganti, bagian Sentolo. Tempat itu dipilihnya lantaran ada informasi dari sumber setempat yang mengatakan saat proses pengerjaan sawah, sering ditemukan objek-objek yang mirip tulang. Dari sini kecurigaannya akan peninggalan masa purba muncul. Raden Saleh kemudian membayar 60 kuli untuk melakukan penggalian secara masif.

“Dalam sebuah surat kepada Ketua Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Alexander Loudon, tertanggal 17 Desember 1865, Raden Saleh menulis bahwa dirinya telah menggali dan menemukan tulang yang membatu,” tulis Werner Kraus dalam Raden Saleh Awal Seni Lukis Modern Indonesia.

Tidak semua hasil temuan Raden Saleh dan timnya dapat dibawa dengan utuh. Sebuah fosil yang disinyalir sebagai ikan hiu purba berhasil ditemukan namun bagian kepalanya jatuh hingga tak berbentuk. Oleh sebab itu ia harus menggunakan kemampuan menggambarnya sebagai laporan ke Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. “Saleh membuat gambar-gambar temuannya sesuai dengan ukuran sebenarnya dan membiarkan semuanya dikirim oleh residen Yogyakarta ke Batavia,” kata Werner Kraus.

Museum van het Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen in Batavia tahun 1900. (digitalcollections.universiteitleiden.nl).

Minat Raden Saleh mengenai Paleontologi menginspirasi seorang elit Jawa, Raden Toemenggoeng Gondo Atmojo. Putra kedua patih Yogyakarta itu dibimbing Raden Saleh dalam pencarian fosil. Lokasi yang mereka tentukan adalah Gunung Plawangan. Riset di Plawangan ini kemudian diteruskan Raden Toemenggoeng Gondo Atmojo tanpa Raden salah karena sang guru meneruskan pencariannya ke Gunung Pandan pada Februari 1866.

Pemilihan Gunung Pandan disinyalir bertolak dari buku karya Raden Mas Arya Candranegara V berjudul Lampah-lampahipun Raden Mas Arya Purwalelana. Di sana, Raden Saleh menemukan tulang-tulang binatang purba, sederet gigi graham, dan sebuah gigi.

Baca juga: Skandal Pernikahan Raden Saleh

Hasil-hasil temuan Raden Saleh dibawa ke Leiden dan dianalisis lebih lanjut oleh professor geologi di Universitas Leiden KC Martin pada 1884. Disimpulkannya bahwa fosil gigi-gigi geraham tersebut digolongkan sebagai pendahulu gajah-gajah India. Dari situ terlihat bahwa Fauna Sivalik India juga tersebar di Jawa. 

Meskipun tidak ada korelasi langsung antara pemburuan fosil dengan melukis, Raden Saleh tetap melakukan kegiatan lukisnya.

“Dari hasil-hasil lukisannya, saya rasa tidak ada hubungannya (dengan perburuan fosil), kecuali kalau mau ditafsirkan lebih jauh. Lukisan-lukisannya tentang letusan Gunung Merapi, itu ia ciptakan sebagai bagian dari jalan-jalan arkeologisnya, meski itu boleh jadi tidak secara langsung,” kata Aminudin Siregar, kurator seni rupa sekaligus kandidat doktor sejarah di Leiden Universiteit, kepada Historia melalui surel.

Kegiatan pemburuan fosil Raden Saleh, Aminudin melanjutkan, semata karena pekerjaannya di  Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. “Fosil-fosil hasil temuannya ia setorkan ke lembaga itu –dulu kantornya di Museum Nasional sekarang– sebagai koleksi lembaga untuk riset. Beberapa hasil temuan Raden Saleh kini masih tersimpan di Naturalis Biodiversity Center, Leiden. Misalnya gigi, tulang ikan, dan fosil kerang.”

Baca juga: Cara Keluarga Kerajaan Belanda Perlakukan Karya Raden Saleh

Sebelum wafat, Raden Saleh mengadakan penggalian di daerah Kedungbrubus, Ngawi, Jawa Timur. Pemilihan tempat itu dipantik oleh mitos yang beredar di sana. Konon di wilayah tersebut pernah terjadi peperangan yang dilakukan para raksasa sehingga banyak ditemukan tulang-tulang raksasa yang disebut balung buto. Ternyata, tulang-tulang di Kedungbrubus peninggalan dari manusia purba. Penemuan ini dicatat dan didokumentasikan Raden Saleh secara detail mulai dari lokasi penemuan hingga ukuran fosil.

Hasil-hasil penemuan Raden Saleh kemudian menjadi acuan Dubois di tahun 1891.  Dubois berhasil mempublikasikan temuan Pithecanthropus erectus dari Trinil sebagai manusia Jawa. Dari penelitian Dubois muncul  Loius Jean Chretien van Es yang meneliti lapisan-lapisan purba di Jawa. Loius Jean Chretien van Es bersama dengan Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald kemudian berhasil membuat peta geologi dan menetapkan Sangiran Flakes Industry sebagai situs yang patut diperhitungkan dalam peta sejarah perkembangan bumi.

TAG

raden saleh fosil

ARTIKEL TERKAIT

Seni Pertunjukan dalam Resepsi Pernikahan Jawa Kuno Obat Batuk Tradisional ala Jawa Jual-Beli Semasa Bali Kuno Nasi dalam Centhini Teknologi Pemindai Muarajambi Menuntut Ilmu Sampai ke Negeri Jambi Kota Seribu Biksu Siapa Jaka Tingkir? Memulangkan Artefak Kuno Yunani dari Genggaman Inggris Sri Lanka Tempat Pembuangan VOC