top of page

Lapo, Restorannya Orang Batak

Lebih dari sekadar tempat mengisi perut, awalnya lapo merupakan tempat melahirkan kreativitas seniman Batak.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lapo Siagian br. Tobing di Jalan Darat No. 17 Medan. (Martin Sitompul/Historia.ID).

2 Mei 2020
4 menit membaca

Diperbarui: 15 Apr

PUKUL tiga sore. Meski jam makan siang telah lewat, Lapo Siagian/br. Tobing yang berlokasi di Jalan Darat No. 17 Medan masih ramai pengunjung. Sebagian menyantap makanan, sebagian lainnya menanti pesanan. Di etalase, menu makanan seperti saksang babi, daging panggang babi, dan ikan mas arsik, daun ubi tumbuk, dan kue ombus-ombus tersaji rapi di tiap baskom. Meski terlihat sederhana, mereka sungguh menggugah selera.


“Rasanya lembut kali, Bang. Empuk macam steak di restoran Eropa. Harganya pun terjangkau,” ujar Andre Jesayas (23), pegawai radiologi sebuah rumah sakit di kota Binjai yang tengah mencicip daging babi panggang, kepada Historia.


“Dari semua penganan babi yang pernah kucoba di Medan, kayaknya di sinilah yang paling enak. Nagih awak (aku) dibuatnya, Bang.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page