Masuk Daftar
My Getplus

Langganan Mengiringi Benyamin

Semesta komedi Benyamin tanpa Connie Sutedja bak sayur tanpa garam. Musuhan di depan kamera, karib di belakang layar.

Oleh: Randy Wirayudha | 18 Apr 2019
Sukarni alias Connie Sutedja dalam potret lawasnya semasa jaya di perfilman nasional (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

GARA-gara sehelai selendang, kemelut terjadi dalam rumah tangga. Norma (Connie Sutedja) menuduh suaminya, Johan (A. Hamid Arif), main gila dengan wanita lain. Dalam kekacauan nan jenaka itu, sebuah lemparan kue tart melayang ke wajah sopir mereka, Pengki (Benyamin S). Sontak, Pengki pun mengerang bak cacing kepanasan dan mengancam akan lapor polisi.

Norma bersama ibunya (Wolly Sutina/Mak Wok) pun merayu Pengki untuk tak mempolisikannya. “Sekarang lebih baik kita damai aja ya. Ini saya kasih seribu (rupiah) untukmu,” bujuk Norma. Pengki menolak. Norma pun terpaksa menambahkan Rp1.500 lagi uang damainya.

Norma pun masuk perangkap Pengki. Sedari awal, uang damai itu yang diinginkan sang sopir dengan akal-akalannya untuk mengelabui tuan dan nyonyanya.

Advertising
Advertising

Adegan intrik jenaka itu hanya satu dari sekian intrik kocak dalam film legendaris garapan sutradara Nawi Ismail, Benyamin Biang Kerok (1972). Film ini jadi awal Connie mengiringi mendiang Benyamin dalam film-film komedinya.

Musuh dalam Film, Bersahabat di Balik Layar

Masih terngiang dalam ingatan Connie tentang bagaimana film Benyamin Biang Kerok jadi salah satu pemicu kebangkitan film nasional di awal 1970-an. “Film Biang Kerok pertama sukses besar. Bayangin, film Indonesia saat itu lagi sekarat banget. Begitu keluar Biang Kerok, meledak di mana-mana,” ujarnya saat berbincang dengan Historia di kediamannya di Cilandak, 11 April 2019.

Baca juga: Connie Sutedja Si Ratu Vespa

Mengutip Majalah Film volume 236 tahun 1995, Benyamin Biang Kerok juga jadi tonggak kepopuleran film-film bertema komedi Betawi. “Lalu berlanjut dengan belasan film sejenis. Rata-rata Benyamin berperan sebagai pemuda Betawi yang cerdik, rada nakal, iseng. Yang paling sering jadi korban kejahilannya Hamid Arif, Wolly Sutinah, Connie Sutedja, Farouk Afero, Ratmi B-29 dan Eddy Gombloh. Sedangkan lawan-lawannya biasa diperankan oleh Mansyur Syah atau Muni Cader. Pasangan mainnya yang paling pas jelas Ida Royani.”

Salah satu adegan kocak antara Benyamin S (kiri), Mak Wok dan Connie Sutedja dalam "Biang Kerok" (Foto: Youtube Falcon Pictures)

Buat Connie sendiri, dia tak pernah menyangka Benyamin Biang Kerok akan jadi pijakan tangga lainnya dalam kariernya, di mana namanya kian dikenal. Sebelumnya, dia jadi pemeran utama dalam Singa Betina dari Marunda (1971).

Baca juga: Connie Sutedja Si Singa Betina dari Marunda

“Sama kayak film pertama saya (Anak-Anak Revolusi produksi 1964, red.). Saya pikir satu saja main bareng Benyamin, sudah selesai. Tapi sesudah sukses besar, langsung ada lagi terlibat di Benyamin Tukang Ngibul, Benyamin Berengsek, Ratu Amplop, Benyamin Koboi Ngungsi, banyak deh,” sambung Connie.

Connie pertamakali kenal dengan Benyamin saat main bareng dalam film action-drama Banteng Betawi (1971) meski tak satu frame. Keduanya lalu kembali main bareng di Honey, Money and Djakarta Fair (1970) yang jadi debut Benyamin dalam perfilman nasional.

“Film pertama Ben (Benyamin S, red.) itu disutradarai Misbach Yusa Biran. Para pemainnya Connie Sutedja, Tan Tjeng Bok, Ratno Timoer, Nani Wijaya, Rita Zahara, Ellya Khadam dan Mansyur Syah,” tulis Wahyuni dalam Kompor Mleduk Benyamin S: Perjalanan Karya Legenda Pop Indonesia.

Namun, Connie jadi lawan main Benyamin yang satu frame baru dalam Benyamin Biang Kerok. Setelah itu, terhitung enam film sejenis yang menampilkan keduanya sebagai lawan main. Semuanya booming. Maka, Connie pun merupakan salah satu elemen terpenting dalam semesta komedi Benyamin, selain Hamid Arif, Edi Gombloh, Mak Wok, Ida Royani, atau Grace Simon.

Baca juga: Mak Wok, Figuran Sepanjang Zaman

Meski acap bermusuhan dalam film, Connie menjalin persahabatan erat dengan Benyamin. Saking karibnya, Benyamin punya julukan khusus buat Connie. “Yang paling diingat tentang Benyamin itu, karena memang banyak filmnya, sampai Benyamin itu manggil saya kuntilanak. hahaha… Biasanya kalau saya telat datang untuk dubbing, dia pasti nyeletuk ke Om Nawi (sutradara): ‘Tuh, kuntilanak baru dateng!’ hahaha…” ujar Connie seraya tertawa lepas.

Connie Sutedja kerap tertawa jika mengenang kiprahnya bersama mendiang Benyamin S (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

Namun, Benyamin di mata Connie tak hanya humoris. “Dia orangnya rajin, on time. Selain humoris, dia jiwa kemanusiaan dan sosialnya tinggi, enggak sombong, benar-benar merakyat. Kalau lagi nunggu syuting di mana gitu, dia enggak segan duduk-duduk dan ngobrol sama orang-orang kampung setempat,” ujar Connie.

Sebagaimana Benyamin yang kadang mengajak anaknya datang ke lokasi syuting, Connie pun setali tiga uang. Tidak jarang Agus Sutedja, putranya, ikut ke lokasi dan bahkan pernah ikut dilibatkan sebagai figuran di Biang Kerok Beruntung (1973). “Muncul dua kali di awal film bareng anaknya Benyamin, almarhum Beib (Habbani) Benyamin. Pas adegan nyelepet Benyamin sama lagi makan bakso,” kata Agus menimpali ibunya.

TAG

Sejarah-Film Film benyamin sueb

ARTIKEL TERKAIT

Heroisme di Tengah Kehancuran dalam Godzilla Minus One House of Ninjas dan Bayang-Bayang Masa Lalu Ninja Hattori Misteri Kematian Aktor Inggris yang Dibenci Nazi Ibu dan Kakek Jenifer Jill Pyonsa dan Perlawanan Rakyat Korea Terhadap Penjajahan Jepang Benshi, Suara di Balik Film Bisu Jepang Warrior, Prahara di Pecinan Rasa Bruce Lee Exhuma dan Sisi Lain Pendudukan Jepang di Korea Eksil, Kisah Orang-orang yang Terasing dari Negeri Sendiri Jenderal Orba Rasa Korea