Masuk Daftar
My Getplus

Perang Koncang di Rangkasbitung

Di Sumatra Barat ada Perang Kamang, di Rangkasbitung ada Perang Koncang. Perlawanan rakyat karena menolak bayar pajak kepada pemerintah kolonial Belanda.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 07 Okt 2020
Korps Marsose tahun 1892. Pemerintah kolonial Belanda mengerahkan Marsose untuk menghadapi perlawanan jawara dan rakyat dalam Perang Koncang di Rangkasbitung (Lebak), Banten. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum).

Kampung Koncang terletak di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pada masa Hindia Belanda, dalam pembagian wilayah Karesidenan Banten tahun 1828, Onderdistrict Koncang merupakan bagian dari District Lebak Parahiang.

Pada zaman penjajahan Belanda itu pernah terjadi peristiwa penting yang tak banyak diketahui orang, yaitu Perang Koncang. Peristiwa ini terekam dalam sastra lisan sebagaimana disebut Yetty Kusmiyati Hadish, dkk., dalam Sastra Lisan Sunda: Mite, Fabel, dan Legende (Proyek Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1979).

"Di Banten terdapat tempat-tempat, gunung, sungai yang melahirkan berbagai cerita lisan, baik yang berlatar belakang perkembangan sejarah Banten maupun yang berdasarkan kepercayaan penduduk. Di antaranya … yang bertalian dengan penjajahan seperti 'Perang Koncang' di Rangkasbitung," tulis Yetty.

Advertising
Advertising

Sayangnya, buku Yetty itu tidak memuat sastra lisan Perang Koncang tersebut, yaitu perlawanan rakyat karena menolak bayar pajak. Dalam sejarah, perlawanan yang terkenal karena menolak membayar pajak adalah Perang Kamang atau Perang Belasting di Sumatra Barat pada 1908.

Baca juga: Perang Kamang: Orang Minang Menolak Bayar Pajak

Sumber Perang Koncang masih minim, sehingga perlu penelitian lebih lanjut, baik melalui sejarah lisan maupun penggalian arsip, laporan pejabat kolonial, dan berita pada masanya. Sedikit keterangan Perang Koncang diceritakan Misbach Yusa Biran dalam memoarnya, Kenang-Kenangan Orang Bandel.

Misbach lahir di Rangkasbitung pada 11 September 1933. Dia seorang penulis drama, cerpen, kolom, skenario film dan televisi, serta pelopor dokumentasi film dengan mendirikan Sinematek. Dia kemungkinan mendapat cerita Perang Koncang dari keluarganya, yaitu Uwa Ape, seorang jawara yang memiliki istri dari Koncang.

"Saya disayang oleh jawara itu (Uwa Ape, red.) karena anak beliau sudah besar-besar dan isterinya yang terakhir tidak punya anak," kata Misbach. "Saya sering main di kebunnya, bergaul dengan jawara-jawara yang kerja di kebunnya. Saya dipanggul-panggul oleh Mang Gatot, jawara dari Koncang, adik isteri Uwa Ape."

Baca juga: Inmemoriam Misbach Yusa Biran, Pelopor Sinematek

Menurut Misbach, jawara adalah jagoan. Orang yang memiliki ilmu kabedasan, tidak mempan senjata dan sebagainya, serta pemberani. Semua jawara bertindak sebatang kara saja, tidak mempunyai kelompok. Jawara yang sebetulnya tidak pernah bekerja.

"Uwa Ape di masa mudanya berkeliling saja ke mana-mana. Mungkin orang begini menunjang hidupnya dari 'uang jago' dari orang-orang yang menganggapnya sebagai godfather yang akan menjamin mereka dari gangguan siapa saja yang sok jago," kata Misbach.

Misbach mencatat bahwa Koncang sangat terkenal di Banten karena di sana lahir banyak jawara andal (kedot menurut istilah Banten), berani, dan ampuh. Pernah penduduk desa ini membangkang tidak mau bayar pajak. Tidak bisa dihadapi oleh polisi biasa, pemerintah kolonial Belanda kemudian mengirim banyak Marsose (Brimob-nya Belanda) ke Koncang.

Baca juga: Pabrik Senjata pada Masa Revolusi di Rangkasbitung

"Terjadi pertempuran antara penduduk Koncang dengan marsose. Banyak marsose yang tewas dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Koncang itu," kata Misbach. Sayangnya, Misbach tidak menyebut tahun peristiwa Perang Koncang itu.

Maka itu, lanjut Misbach, pemungut pajaknya harus lurah, atau di Banten disebut jaro, yang dipilih oleh rakyat. Yang dipilih jadi jaro adalah jawara yang paling kedot di daerah itu. Sehingga kalau rakyat membangkang, jaro berani mendesak dengan kekerasan. Kalau jaro kurang jago, dia akan segera mati terkapar.

"Maka, jaro untuk Koncang harus jawara yang betul-betul tangguh karena di situ gudangnya jawara," kata Misbach.

TAG

pajak lebak banten

ARTIKEL TERKAIT

Hitam Putih Baju Baduy Sukarno dan Baduy Pakaian pada Masa Jawa Kuno Pajak Masa Revolusi Kemerdekaan Bermacam Pajak Era Kolonial Debus dan Tarekat di Banten Pemburuan Terhadap Guru Agama Perilaku Wajib Pajak Tempo Dulu Menengok Sejarah Hakekok Petualangan Orang Makassar di Kesultanan Banten