Masuk Daftar
My Getplus

Alamudi Mata-mata Belanda

Belanda berupaya menggagalkan misi diplomasi Indonesia di Timur Tengah dengan mengirim mata-mata yang dipimpin oleh Abdullah Alamudi, seorang keturunan Arab.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 19 Agt 2023
Haji Agus Salim dan Nokrashi Pasha menandatangani perjanjian persahabatan Indonesia-Mesir pada 10 Juni 1947.

MESIR tercatat dalam sejarah sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Pemerintah Mesir mengutus Konsul Jenderal Mesir di Bombay, India, Muhammad Abdul Mun’im datang ke Yogyakarta. Pada 15 Maret 1947 bertepatan dengan ulang tahun ke-23 kemerdekaan Mesir, Mun’im menghadap Presiden Sukarno untuk menyampaikan dukungan pemerintah Mesir dan Liga Arab kepada kemerdekaan Indonesia.

Indonesia kemudian mengirim delegasi yang dipimpin Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim untuk mengadakan kunjungan balasan ke Mesir. Anggota delegasi adalah Rasjidi, Mr. Nazir Pamoentjak, dan A.R. Baswedan, pemimpin Persatuan Arab Indonesia, yang kemudian menjabat wakil menteri penerangan, anggota BP KNIP, anggota parlemen dan konstituante, serta pahlawan nasional.

Pada 10 Juni 1947, Haji Agus Salim dan Menteri Luar Negeri Mesir Nokrashi Pasha menandatangani perjanjian persahabatan, politik, dan perdagangan Indonesia-Mesir dalam bahasa Arab dan Prancis.

Advertising
Advertising

Baca juga: AR Baswedan Merajut Keindonesiaan

Mengetahui Indonesia mengirim delegasi ke Mesir dan negara-negara Arab, Belanda berusaha menghalanginya dengan menggunakan orang-orang keturunan Arab.

Menurut Suranta Abd. Rahman, dosen Program Studi Arab FIB Universitas Indonesia, dalam “Diplomasi RI di Mesir dan Negara-negara Arab pada Tahun 1947,” jurnal Wacana, Vol. 9 No. 2, Oktober 2007, ketika pengakuan kemerdekaan de facto diberikan oleh pemerintah Mesir, pihak Kedutaan Besar Belanda berusaha keras menggagalkan pengakuan tersebut dengan menempatkan orang-orang Indonesia yang bekerja sebagai kaki tangannya untuk mengintrodusir sentimen anti-Islam dan anti-Arab.

“Untuk menyebarluaskan berita tersebut, Belanda menempatkan Salim Al-Atas sebagai atase pada Kedutaan Besar Belanda di Kairo. Akan tetapi, atas usaha Panitia Kairo [yang mendukung Indonesia], Salim Al-Atas dapat diusir dari Mesir sebagai persona non grata,” tulis Suranta. Persona non grata artinya orang yang tidak disukai.

Baca juga: Ali Bakatsir, Sastrawan Nasionalis Peranakan Arab

Selain itu, Suranta menambahkan, “kaki tangan Belanda yang dikirim dalam sebuah misi diplomatik ke negara-negara Arab di bawah pimpinan Sultan Pontianak, Abdul Hamid juga dapat digagalkan. Misi haji Belanda ke Makkah juga dikirim ke Mesir untuk menghalangi pengakuan tersebut, tetapi mereka dapat diusir dari Mesir.”

Sebuah misi mata-mata Belanda dari Indonesia menjadi berita besar dalam surat kabar Arab. Suranta menyebut misi mata-mata ini dipimpin oleh Abdullah Alamudi dengan anggota Ali bin Sungkar, Abdul Kadir Audah, Ahmad Martak, dan Zein Bajeber untuk menggagalkan usaha diplomasi Indonesia di Timur Tengah. “Mereka dikirim secara rahasia untuk mengunjungi negara-negara Arab demi kepentingan Belanda dan menentang RI,” tulis Suranta.

Baca juga: Mesir dan Kemerdekaan Indonesia

Sebelum menjalankan misi mata-mata, Alamudi pernah disebut pengkhianat oleh warga keturunan Arab karena dia membantu Sekutu dan Belanda di Surabaya. Komite Warga Negara Indonesia Turunan Arab Jawa Timur yang berpusat di Malang mengeluarkan seruan kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya kepada golongan Arab.

Seruan yang disiarkan dalam majalah Pantja Raja, 1 Agustus 1946, dan dimuat dalam Kronik Revolusi Indonesia II 1946 karya Pramoedya Ananta Toer, dkk., antara lain berbunyi sebagai berikut:

“Perbuatan Alamudi yang telah membentuk Badan Kepolisian Militer dalam kota Surabaya untuk membantu usaha serdadu Inggris dan NICA dalam mencari dan menangkap pemuda-pemuda Indonesia dan Arab yang sedang berjuang di kota tersebut adalah pengkhianat bangsa Indonesia. Bangsa Arab yang mencintai kemerdekaan harus mempergunakan semangat [Amir] Abdulkarim [Al-Khattabi] pahlawan Maroko dan mempersatukan dengan semangat Dipo Negoro, Imam Bonjol, dll.”

Dalam menjalankan misi mata-mata di Timur Tengah, Alamudi menggunakan masalah Palestina sebagai jembatan untuk mendekati para pembesar Arab. Berita kedatangan misi mata-mata Belanda tersebar di surat kabar Arab berkat The Arabian Press Board (APB). Kantor berita ini didirikan oleh dua bersaudara keturunan Arab, Mohammad Dzya Shahab dan Mohammad Asad Shahab untuk mendukung Republik Indonesia dengan menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan ke Timur Tengah.

Baca juga: Pers Berbahasa Arab Penyebar Kemerdekaan Indonesia

Dengan tersebarnya berita kedatangan mata-mata Belanda, pihak keamanan negara-negara Arab yang akan dikunjungi telah mengantisipasi kedatangan mereka. Ketika tiba di Kairo, sebut Suranta, mereka tercengang dan terperanjat melihat sikap masyarakat di sana yang berlainan karena mengetahui mereka sebagai mata-mata Belanda.

“Dalam kesempatan itu, empat orang dari mata-mata Belanda, selain Alamudi, mencari perlindungan sambil menyatakan bahwa mereka bersih dari segala tuduhan yang telah disiarkan surat kabar Mesir. Mereka mengakui bahwa Alamudi memang seorang propagandis Belanda.” Di Saudi Arabia, tulis Suranta, “misi haji dan cita-cita Palestina Alamudi dan kawan-kawan” dapat digagalkan dan diusir atas perintah raja.

Muhammad Dimyati dalam Sedjarah Perdjuangan Indonesia menyebut bahwa kedatangan misi NICA ke Arabia dan Mesir yang dikepalai oleh Alamudi dan Almassawa tidak diterima baik, malah dimaki-maki dan dilempari batu. Bendera Belanda tiga warna diturunkan. Orang-orang Indonesia di sana tetap mempertahankan bendera merah putih.

“Kekalahan moril Belanda NICA di Mesir dan Arabia itu sangat merugikan perjuangan Nederland di luar negeri, sebaliknya menguntungkan Republik Indonesia,” tulis Dimyati.*

TAG

mesir arab

ARTIKEL TERKAIT

Petugas Imigrasi Mesir Menahan Rombongan Agus Salim Mimpi Raja Faisal Memerdekakan Palestina dan Masjid Al-Aqsa Peradaban Islam dalam Sehimpun Arsip Raja Mesir dari Firaun sampai Farouk Si Kulit Bundar di Saudi Kala Napoléon Dianggap Putra Nabi Rivalitas Sadat-Qadafi Akibatkan Mesir-Libya Perang Empat Hari Para Firaun Perempuan Mesir Kuno Merias Wajah Seperti Orang Mesir Kuno Petikan Gambus Entakkan Gendang