Masuk Daftar
My Getplus

Klub Sepakbola Pertama di Medan hingga Ejaan Republik

Berikut ini sejarah klub sepakbola pertama di Medan, pembukaan studio foto, pembubaran Konstituante, pembukaan rel kereta api, dan penyusunan ejaan Republik.

Oleh: Arief Ikhsanudin | 14 Jul 2024
Pintu masuk ke lapangan sepakbola Deli Sport Vereniging (DSV). (KITLV).

1 Juni 1899 Klub Sepakbola Pertama di Medan

Berdiri sebuah klub sepakbola bernama Oostkust Sport Club Sumatera (OSCS), yang lebih dikenal dengan Sport Club atau Sok, di Medan, Sumatra Utara. Ia adalah klub sepakbola pertama di Medan. Sebelumnya, di Medan, permainan sepakbola dan juga olahraga lainnya seperti kriket, tenis, dan atletik dimainkan Gymnastiek Vereeniging atau klub atletik.

Tidak banyak catatan mengenai awal mula dan pertandingan sepakbola yang dimainkan Gymnastiek Vereeniging. Ketika Gymnastiek Vereeniging vakum, tak ada kegiatan olahraga dimainkan, termasuk sepakbola. Atas dasar itulah OSCS dibentuk. Dalam De Sumatra Post edisi 31 Mei 1904, OSCS membangun misi untuk melanjutkan kegiatan sepakbola yang pernah dilaksanakan Gymnastiek Vereeniging.

Baca juga: Mercu Buana, Klub Sepakbola Asal Medan Ditutup Karena Skandal Suap

Advertising
Advertising
Studio fotonya Woodbury & Page. (Repro Steven Wachlin, Woodbury & Page, Photographers of Java).

Baca juga: Fotografer Bersaudara dalam Perang Lombok dan Aceh

5 Juni 1857 Pembukaan Studio Foto

Dua orang Inggris bernama Walter Bentley Woodbury dan James Page membuka sebuah studio foto di Harmonie, Batavia. Mereka menamakan studio fotonya Woodbury & Page. Sejak itu fotografi di Hindia Belanda berkembang pesat. Mereka membentuk aktivitas fotografi yang penting di Batavia pada abad ke-19.

Selain Batavia, mereka memotret wilayah Hindia Belanda, terkhusus Pulau Jawa. Mereka tidak hanya menerima jasa pemotretan untuk umum, tetapi juga menjual hasil foto yang didapat saat melakukan perjalanan di Jawa.

Suwirjo, anggota Konstituante. (Syahrul Hidayat dan Kevin W. Fogg, konstituante.net).

Baca juga: Mengapa Demokrasi Harus Dipertahankan?

16 Juni 1959 Surat Suwirjo Kepada Sukarno

Ketua Umum Partai Nasional Indonesia (PNI) Suwirjo mengirim surat kepada Presiden Sukarno, yang tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang, untuk mengeluarkan dekrit kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 dan membubarkan Konstituante. Suwirjo yang juga anggota Konstituante menulis surat tersebut setelah perumusan dasar negara di Dewan Konstituante tidak menghasilkan kesepakatan.

Sepulang dari Jepang, Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang menyatakan kembali ke UUD 1945 dan membubarkan Konstituante. Dekrit ini dikeluarkan setelah mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh politik, menteri, dan pimpinan militer.

Rel kereta api di Semarang. (KITLV).

Baca juga: David Maarschalk dan Perusahaan Kereta Api Negara

17 Juni 1864 Pembangunan Rel Kereta Api di Hindia Belanda

Pembangunan jalur rel kereta api pertama dilakukan Nederlands Indische Spoorweg Maatchappij (NIS/NISM), perusahaan kereta api swasta yang dipimpin J.P. de Bordes. Rel kereta api itu menghubungkan Semarang–Tanggung (sekarang Kabupaten Grobogan) dengan panjang 25 kilometer. Proses pengerjaan membutuhkan waktu dua tahun.

Pada 10 Agustus 1866, kereta api jurusan Semarang–Tanggung resmi dioperasikan. Setelah itu perkembangan jalur kereta api semakin pesat. Pada 1873 jalur kereta api mencapai 260 kilometer. Kemudian, pada 1930, jaringan rel kereta api dan trem sudah mencapai panjang 7.425 kilometer.

Menteri Pendidikan Pengajaran, dan Kebudayaan Suwandi.

Baca juga: Menggagas Aksara Kesatuan

18 Juni 1947 Dibentuk Komisi Penyusunan Ejaan Republik

Menteri Pendidikan Pengajaran, dan Kebudayaan Suwandi membentuk sebuah komisi untuk menangani permasalahan bahasa Indonesia. Komisi itu diberi tugas menetapkan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia, tata bahasa, dan kamus baru atau menyempurnakan kamus yang telah ada untuk kebutuhan pelajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Kerja komisi menghasilkan Ejaan Republik, atau yang dikenal dengan Ejaan Suwandi, serta 5.000 istilah baru. Ejaan Republik menggantikan Ejaan Van Ophuijsen yang telah digunakan sejak 1901.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di majalah Historia No. 31 Tahun III 2016

TAG

kronika

ARTIKEL TERKAIT

Tak Ada Perjalanan Haji Saat Perang Dunia I hingga Ultimatum Belanda Pendidikan Agama Diwajibkan hingga Pertempuran Laut Jawa Pernyataan Tidak Anti-Republik hingga Penangkapan Amir Sjarifuddin Krisis Perbankan hingga Gesekan Lembaga Pemberantasan Korupsi Penangkapan Sukarno hingga Pendaratan Pasukan Mataram Revolusi Sosial, Artikel Sneevliet, dan Surat Pangeran Hendrik Potret Sejarah Indonesia Sentot Alibasah Prawirodirjo, Putera, Hansip Andi Azis, Tambora, dan Hutan 17 Februari: Hamka dan Amerika