Masuk Daftar
My Getplus

Kombatan Minahasa dalam Serangan Umum

Bukan hal aneh jika banyak orang Minahasa berjuang di Jawa, termasuk dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, dan kemudian menjadi orang penting dalam militer Indonesia.

Oleh: Petrik Matanasi | 08 Mar 2024
Joop Warouw, Adolf Lembong, dan Ventje Sumual merupakan segelintir pemuda Minahasa yang ikut dalam Serang Umum 1 Maret 1949.

Demi masa depan, Herman Nicolaas Sumual alias Ventje Sumual rela meninggalkan kenyamanan hidup dan berpisah dari keluarga serta jauh dari kampung halamannya. Kampung halamannya adalah Minahasa, dearah di utara Sulawesi yang tanahnya subur. Selain menjamin kebutuhan pangan, tanah subur membuat orang-orang Minahasa makmur.

Namun, makan bukan satu-satunya kebutuhan pemuda Minahasa. Sejak lama kebanyakan orang Minahasa sadar bahwa dunia itu luas dan bukan cuma kampung halaman mereka saja. Orang Minahasa, menurut Roger Allan Kembuan, pengajar sejarah Universitas Sam Ratulangie, ingin sekali "melihat dunia dan mencari nama." “Bolah kalah nasi tapi tidak boleh kalah aksi,” ujar Roger menyebut istilah yang umum dalam diri orang Minahasa yang berarti “Boleh lapar tapi tak boleh berdiam diri saja.”

Pandangan hidup itu mendorong mereka untuk merantau dan menyebar ke banyak tempat, bahkan hingga ke benua lain seperti Eropa dan juga Amerika. Selain bersekolah, salah satu jalan merantau adalah menjadi tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Kesempatan itulah yang terbuka bagi mereka, sama seperti terbuka kepada orang-orang Ambon, Jawa dan etnis-etnis lain.

Advertising
Advertising

Ventje, yang merupakan anak seorang guru, memilih masuk Sekolah Pelayaran di Makassar yang dikelola militer Jepang. Namun suatu ketika setelah bertugas di kapal, dia memukul seorang Jepang dan kabur dari kapal. Dia akhirnya terdampar di Jakarta. Dia sering berkumpul dengan pemuda Minahasa lain di sana dan terus menjalani hidup hingga menemukan jatidirinya.

Banyak orang Minahasa di Jakarta dan berbagai tempat merupakan keturunan serdadu KNIL. Banyak serdadu KNIL asal Minahasa dahulu yang menikahi gadis di tempat tugas kemudian beranak-pinak dan beberapa keturunannya hidup tanah rantau.

Waktu zaman berubah di tahun 1945, banyak orang Minahasa yang berdiri di belakang Republik Indonesia (RI). Meski ada orang Minahasa yang dicelakai sebagian pemuda yang mengaku pendukung RI hanya karena dicurigai berpihak kepada Belanda, tetap banyak orang Minahasa setia kepada RI. Badan perjuangan bernama Kesatuan Rakjat Indonesia Sulawesi (KRIS) salah satu buktinya. Banyak pemuda Minahasa, karena latar belakang keluarga atau pengalaman militer sendirinya sebelum 1945, kemudian menjadi militer RI yang dianggap cakap.

"Kebanyakan mereka anak-anak kolong," ujar Roger Kembuan.

Anak kolong adalah sebutan untuk anak-anak serdadu bawahan yang masa kecilnya mengalami hidup di tangsi militer dan berpindah mengikuti ayah mereka. Ada masa orang Minahasa dianggap orang Ambon juga. Bahkan anak Minahasa bersama anak Ambon boleh belajar di Ambonsche School, sebuah sekolah yang dekat dengan dunia tangsi.

Tentu saja banyak pemuda Minahasa macam Ventje namun dengan pengalaman berbeda. Ada Jacob Frederik Warouw yang pernah menjadi serdadu zeni KNIL bagian lampu sorot. Ketika Pertempuran 10 November 1945 pecah di Surabaya, dia ikut terjun dengan memimpin orang-orang Minahasa. Lalu, ada Adolf Lembong yang sempat jadi KNIL dan menjadi tawanan perang ketika Hindia Belanda kalah. Waktu jadi pembantu tentara di Filipina, Lembong kabur dari “cengkeraman” Jepang dan bersama orang Filipina dan Amerika di Pulau Luzon bergerilya melawan Jepang.

Gustaaf Kamagi lain lagi ceritanya. Dia pernah belajar di sekolah yang sama dengan Soeharto di Gombong. Kamagi adalah anggota KNIL yang berperang melawan tentara Jepang di Timor. Dia sempat dilatih sebagai pasukan komando di Australia sebelum dikirim pada misi-misi di Papua. Setelah Perang Dunia II selesai, Kamagi memimpin pemberontakan serdadu KNIL di Australia. Juga ada pemuda bekas calon perwira AL Belanda bernama Hein Wurangian di Surabaya. Sambil menanti ayahnya pulang, dia ikut berjuang di pihak RI.

Banyak pemuda Minahasa pada 1948 berada di Yogyakarta. Di antaranya tentara dari Brigade XII, yang kebanyakan mantan KRIS. Warouw dan Lembong pernah menjadi komandannya, serta Ventje Sumual pernah menjadi kepala stafnya. Setelah Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948, brigade tersebut tersebar. Ada yang di Jawa Timur di bawah Letnan Kolonel Warouw dan di sekitar Yogyakarta ada Mayor Vintje Sumual. Bahkan ada sebuah sektor TNI di sisi barat Yogyakarta yang disebut Sektor Ventje Sumual, meski dirinya bukan satu-satunya mayor yang memimpin di sana.

Soeharto, yang menjadi komandan Brigade Mataram, pernah mengunjungi sektor tersebut sekitar akhir Februari 1948.

“Malam itu saya bergerak ke barat, menyusun sektor di daerah itu. Yang ada di sana waktu itu Mayor Ventje Sumual. Maka saya tunjuk dia menjadi pimpinan di sektor barat dengan tugas menghimpun, mengkonsolidasi semua pasukan yang bersenjata di daerahnya,” kenang Soeharto dalam Soeharto, Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya.

Persiapan dilakukan anak buah Sumual dengan melakukan pengintaian dan mempersiapkan diri dalam rangka melakukan penghadangan tentara Belanda di sana. Ventje ditugasi memimpin serangan dari sektor barat, atau dari arah Godean. Sektor yang dipimpin Ventje itu kemudian ketambahan kekuatan dari anak buah Soeharto yang lain, yakni Kompi 100 yang dipimpin Kapten Abdul Latief. Pasukan ini sebelumnya berada di sisi selatan lalu bersusah payah pindah ke sisi barat.

“Dari tempat itulah Serangan Umum 1 Maret 1949 saya mulai dan tinggal melewati Sungai Kalinongo dalam waktu 25 menit sudah sampai di Malioboro,” aku Abdul Latief dalam manuskripnya yang tak diterbitkan, “Riwayat Hidup Singkat dalam Usaha Merebut Kemerdekaan dari Tangan Penjajah serta Pengabdian terhadap Negara, Bangsa dan Tanah Air Indonesia.

Selama di sektor itu, pasukan Latief bersama pasukan Kapten Fritz Rondonuwu. Selain pasukan dari orang-orang Minahasa, ada pula pasukan yang perwiranya berasal dari Sulawesi Selatan, yakni Mayor Andi Mattalata.

Serangan 1 Maret 1949 yang melibatkan pejuang dari luar Jawa itu sukses menguasai kota Yogyarta selama 6 jam dan secara diplomasi, sukses membuktikan eksistensi republik. Kehadiran para kombatan asal Minahasa menegaskan bahwa perjuangan merebut Yogyakarta bukan perjuangan orang Jawa tengah semata, tapi juga orang-orang dari daerah lain.

TAG

serangan umum ventje sumual knil perang kemerdekaan perang pasifik perang dunia ii

ARTIKEL TERKAIT

Korps Nyonya Belanda Gugurnya Arung Rajang Ibu dan Kakek Jenifer Jill Siapa Penembak Sisingamangaraja XII? Thomas Nussy versus Anak Cik Di Tiro Hukuman Penculik Anak Gadis Dulu Para Sersan Berserikat Pengawal Raja Charles Dilumpuhkan Orang Bali Pengawal Raja Charles Masuk KNIL Setelah Gerard van Daatselaar Ditawan