Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengadakan pertemuan empat mata dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Prancis, Selasa (15/3/2022). Mereka membahas kerja sama pertahanan Indonesia dan Prancis, yaitu mengenai pembelian pesawat jet Rafale dan kapal selam Scorpene yang telah disepakati pada 10 Februari 2022. Di pengujung pertemuan, Prabowo menyerahkan cendera mata berupa keris Bali kepada Macron.
Prabowo kerap memberikan keris Bali sebagai cendera mata kepada para pejabat negara lain. Sebelumnya, Prabowo memberikan keris Bali kepada Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace di London, Selasa (23/3/2021). Dia juga memberikan keris Bali kepada Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd James Austin di Bahrain, Sabtu (20/11/2021).
Baca juga: Kemungkinan yang Terjadi: Prabowo Menteri Pertahanan
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Dahnil Anzar Simanjuntak menjelaskan bahwa pada setiap kunjungan resmi dalam rangka diplomasi pertahanan, Prabowo selalu membawa suvenir berbentuk senjata tradisional, seperti keris, pedang, atau parang.
“Keris Bali, Pak Prabowo menyebutnya warrior keris, pada saat damai keris ini diletakkan di belakang dan saat peperangan keris ini akan diletakkan di depan,” kata Dahnil dikutip cnbcindonesia.com.
Baca juga: Menteri Pertahanan yang Hilang
Kebetulan Menteri Pertahanan Jenderal TNI A.H. Nasution juga pernah memberikan keris sebagai cendera mata kepada Gubernur Jenderal Australia. Namun, ada kejadian yang membuatnya malu.
Dalam kunjungan ke Australia pada 1961 itu, Nasution didampingi istri, Sunarti, bersama rombongan terdiri dari KSAL Kolonel R.E. Martadinata, perwira tinggi AURI Kolonel Udara Sumarsono, Panglima Nusa Tenggara Kolonel Supardi, Mayor Rudito dari BKS (Badan Kerja Sama) Khusus yang bertugas di bidang perjuangan Irian Barat, dan Deputi Menteri Luar Negeri Suska.
Baca juga: Nasution dan Buku Terakhirnya
Acara hari pertama adalah tukar-menukar tanda mata dengan Gubernur Jenderal Australia. Nasution tidak menyebut namanya, namun Gubernur Jenderal yang menjabat pada 1961 adalah William Morrison atau William Philip Sidney.
Nasution menyerahkan tanda mata berupa keris. Duta Besar Indonesia untuk Australia Suadi menjelaskan makna keris itu.
Gubernur Jenderal minta izin mencabut keris dari sarungnya. Rupanya ajudan Nasution, Kapten Odang kurang mengontrol keris itu. Waktu dicabut, bilah keris tertinggal dalam sarungnya dan gagangnyalah yang terlepas dan dipegang oleh Gubernur Jenderal.
“Saya malu dan minta maaf. Tapi Duta Besar Suadi cukup cekatan. Katanya, mungkin karena perubahan iklim, maka perekatnya tidak efektif lagi,” kata Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama.
“Memang ajudan ini ada saja kelupaan atau kealpaan,” kata Nasution.
Baca juga: Sebelum Keris Berfungsi Magis
Tujuan kunjungan Nasution ke Australia untuk menjelaskan masalah Irian Barat kepada pemerintah dan parlemen Australia, bahwa Indonesia berhak atas Irian Barat. Pemerintah Australia tidak membantah klaim Indonesia, tetapi secara yuridis internasional Belanda masih menguasai Irian Barat. Australia menentang penyelesaian sengketa Indonesia-Belanda dengan cara kekerasan.
“Pembicaraan dengan PM Menzies adalah blak-blakan dan saya memperoleh yang saya cari, bahwa Australia tidaklah terikat kepada Belanda untuk bantuan militer,” kata Nasution.
Selama kunjungan di Australia dan berhubungan dengan tokoh-tokoh serta masyarakat secara terbatas, Nasution mendapatkan kesan bahwa simpati terhadap Indonesia sedang tumbuh.
“Saya rasakan suasana lebih hangat daripada yang saya duga semula dalam sikap mereka terhadap kita,” kata Nasution.