Masuk Daftar
My Getplus

Ketika Presiden Soeharto Dijahili Pangeran Kamboja

Bagaimana Norodom Sihanouk membayangi Soeharto dengan sosok Bung Karno selama kunjungannya ke Kamboja.

Oleh: Martin Sitompul | 14 Des 2020
Presiden Soeharto dan Pangeran Norodom Sihanouk. (Wikimedia Commons).

Presiden Soeharto pernah kecele di negeri orang. Sewaktu kunjungan kenegaraan ke Kamboja, panitia penyambutan salah putar lagu. Niatnya ingin memberikan kesan seperti di rumah sendiri. Tapi siapa sangka, berkumandanglah lagu “Gendjer-Gendjer” mengiringi kedatangan rombongan Soeharto. Lagu itu terlarang karena lekat dengan citra Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibasmi oleh rezim Soeharto.

“Pak Harto, mungkin juga terkejut, minimal heran. Cepat-cepat saya bisikkan pada beliau bahwa saya yang salah, tidak meneliti lagu-lagu yang dinyanyikan. Saya bertanggung jawab,” tutur Boediardjo, duta besar Indonesia untuk Kamboja saat itu, dalam otobiografinya Siapa Sudi Saya Dongengi.

“Insiden Gendjer-Gendjer” itu terjadi pada 1 Oktober 1968. Menurut Menteri Luar Negeri Adam Malik, kesalahan bukan pada tuan rumah. Kelalaian itu sepenuhnya dipikul oleh Dubes Boediardjo. Kendati demikian, ujian di Kamboja belum selesai bagi Soeharto.

Advertising
Advertising

Baca juga: Soeharto Datang, Genjer-Genjer Berkumandang

Sekalipun disambut dengan penuh kehormatan, ada sesuatu yang mengganjal batin Soeharto. Kedatangannya ke Kamboja belum dapat dilepaskan dari bayang-bayang Sukarno. Meski Bung Karno sudah lengser, pengaruhnya masih bergema di Kamboja, setidaknya bagi sang pemimpin, Pangeran Norodom Sihanouk.  

Ketika bersua dengan Soeharto, Pangeran Norodom Sihanaouk selalu membanggakan barang-barang buatan dalam negerinya. Ditemani istri masing-masing, Ibu Tien dan Putri Monique, mereka meninjau pameran produksi buah-buahan dan melihat kesenian Istana. Soeharto bahkan berjalan sendiri mengadakan kunjungan dadakan ke pusat-pusat industri kecil. Hingga sekali waktu, sang pangeran menawarkan permen “valda” yang merupakan merek Belanda kepada Soeharto. Maka nyeletuklah Menteri Keuangan Frans Seda, “Apakah ini juga buatan Kamboja?”

“Oh, bukan. Saya hanya menawarkan ‘valda’, kalau-kalau mungkin Pak Harto memerlukan. Karena dulu Bung Karno senang sekali dengan ‘valda’, jawab Sihanouk dengan polosnya seperti diberitakan Kompas, 13 April 1968. Menteri Seda hanya bisa mesem-mesem mendengarnya.

Baca juga: Tahi Gajah Pangeran Kamboja

Meski menyinggung nama Sukarno dalam pertemuan, hubungan Soeharto dan Pangeran Sihanouk tidak lantas merenggang. Keduanya tetap akrab satu sama lain. Barangkali karena keduanya juga punya wajah yang mirip, seperti kakak beradik saja.  

Pada malam harinya, Sihanouk menjamu Soeharto dan Ibu Tien di Istana Chameas Mon. Lagu “Burung Kakak Tua” diperdengarkan untuk menghormati tamu penting dari Indonesia itu. Ibu Tien menyambutnya secara diplomatis dengan mengatakan bahwa lagu itu merupakan lagu kesayangan Bung Karno.

“Dengan bersikap demikian itu Pak Harto dan Ibu Harto sendiri memerlukan waktu yang lama untuk merebut hati tuan rumah dan rakyat Kamboja pada umumnya,” tulis Kompas. Namun, menurut Boediardjo, Sihanouk mengaggumi sikap Soeharto yang tidak membenci Sukarno dan sanggup membangun ekonomi Indonesia. Meski selama Soeharto berkuasa terjadi pula desukarnoisasi secara masif.

Hubungan pribadi antara Soeharto dan Pangeran Sihanouk tetap terjaga hingga keduanya beranjak tua. Dua dekade berselang, tepatnya pada 1988, giliran Sihanouk yang berkunjung ke Indonesia. Bedanya, Soeharto masih menjabat sebagai presiden untuk periode keempat sedangkan Sihanouk sudah kehilangan kekuasaan akibat dikudeta sejak tahun 1970.  

TAG

soeharto kamboja

ARTIKEL TERKAIT

Nisan dan Tengkorak dalam Peringatan Reformasi Tuah Guru Soeharto Guru Soeharto Modal Soeharto dari Muhammadiyah Pawang Hujan dalam Pernikahan Anak Presiden Soeharto Daripada Soeharto, Ramadhan Pilih Anak Eks Pemilih PKI Pilih Golkar Ledakan di Selatan Jakarta Supersemar Supersamar Sudharmono Bukan PKI