Masuk Daftar
My Getplus

Arus Sejarah Baterai Penopang Mobil Listrik

Mobil listrik murni pertama Hyundai ditenagai baterai lithium-ion polymer, sumber energi yang sejarahnya membentang sejak abad ke-18.

Oleh: Randy Wirayudha | 13 Jan 2021
Hyundai merilis Sedan Ioniq Electric sebagai bagian dari inovasi di era mobilitas masa depan dan menggoreskan sejarah baru (hyundai.com)

EMBRIO mobil listrik sudah muncul berabad-abad lalu. Bahkan pernah meraih popularitas karena tidak berisik, handal, dan kemudahan menyalakan mesin. Namun ada satu kekurangan yang membuatnya tenggelam: belum bisa digunakan jarak jauh.

Melalui Ioniq dan Kona, Hyundai ingin melibas mitos mobil listrik yang selama ini acap jadi kekhawatiran masyarakat: daya tahan baterai dan kesulitan mencari tempat pengisian daya baterai.

Hyundai Ioniq dan Kona Electric bisa tembus ratusan kilometer sekali isi penuh daya baterainya. Selain itu, mobil bisa dicas dari colokan rumah menggunakan portable charger.

Advertising
Advertising

“Hyundai juga membekali konsumen dengan portable charger di kendaraan sehingga pemilik bisa melakukan pengisian ulang baterai mobil listrik Ioniq Electric dan Kona Electric milik mereka di rumah atau di mana saja, tidak perlu antri, bahkan bisa sambil melakukan aktivitas lain dengan nyaman. Charger yang kami sediakan menggunakan steker yang umum di Indonesia sehingga pengisian daya semudah mengecas baterai smartphone,” kata Makmur, managing director PT Hyundai Motors Indonesia dalam rilis persnya.

Upaya Hyundai itu merupakan satu progres signifikan dalam perjalanan sejarah baterai listrik yang gagasannya sudah eksis sejak abad ke-18.

Baca juga: Lika-liku Mobil Listrik yang Menggelitik

Dua mobil listrik murni pertama di Indonesia, Ioniq (kiri) & Kona (kanan) yang ditenagai baterai lithium-ion polymer. (hyundai.com).

Mengiringi Perkembangan Teknologi

Battery yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi beterai istilahnya mengambil dari “Battery of Cannon” atau sekumpulan unit artileri.

Thomas P. J. Crompton mengungkapkan dalam Battery Reference Book, kata “baterai” dipinjam negarawan sekaligus polymath Benjamin Franklin pada 1748 kala menamakan alat ciptaannya yang terbuat dari kaca yang bisa menampung listrik bertegangan tinggi, Leyden Jar. Alat yang memiliki konduktor di luar maupun di dalam wadah kaca bisa berfungsi itu mengingatkan Franklin pada baterai artileri yang berfungsi bersamaan.

“Definisi baterai itu sendiri adalah alat yang memiliki satu atau lebih sel elektrokimia dengan sambungan-sambungan eksternal untuk membuat alat lain bekerja,” tulis Crompton.

Sebelum adanya generator listrik dan electrical grids, baterai jadi satu-satunya sumber energi semua teknologi berbasis listrik yang mengiringi perjalanan sejarah penemuan yang mengubah dunia. Dari telegraf, telepon, komputer, hingga telepon seluler.

Baca juga: Telefon Sepanjang Zaman

Semua itu berhulu pada inovasi ilmuwan Italia Alessandro Volta yang menciptakan baterai pertama. Menukil S. V. Gupta dalam Units of Measurement: Past, Present and Future. International System of Units, pada 1700-an listrik masih jadi fenomena yang diperdebatkan para ilmuwan. Mereka terbagi antara yang mempertanyakan apakah listrik masih berkaitan dengan fenomena alam dan terhubung dengan kehidupan manusia sebagai makhluk biologis atau listrik muncul sebagai fenomena dari reaksi-reaksi kimia.

Perdebatan itu juga dilakoni Volta. Dia berdebat dengan rekannya yang pakar biologi, Luigi Galvani.

“Faktanya, pada 1799 Volta pernah berdebat dan tidak setuju dengan teori Galvani terkait teori bahwa jaringan organ hewan mengandung sebuah wujud listrik. Hal itu mendorong Volta membuat sebuah alat, voltaic pile (tumpukan volt) untuk membuktikan bahwa listrik tak berasal dari jaringan biologis hewan, melainkan dihasilkan dari kontraksi logam-logam seperti besi dan kuningan dalam sebuah lingkungan yang lembab,” tulis Gupta.

Voltaic Pile (kiri), baterai pertama di dunia dan sempat dipamerkan Alessandro Volta kepada Kaisar Napoleon Bonaparte. (Tempio Voltiano/New York Public Library).

Voltaic Pile kemudian diakui sebagai baterai pertama di dunia. Bentuknya berupa susunan pelat tembaga, seng, dan lapisan kertas garam basah berselang-seling yang ditumpuk di sebuah wadah lonjong berbahan kayu.  

Kendati telah menciptakan Voltaic Pile, Volta belum paham betul tegangan listrik yang dihasilkan dari reaksi kimiawi alatnya. Ia bahkan sempat kecele karena mengira alat ciptaannya akan jadi sumber energi yang takkan ada habisnya. Padahal, setelah beberapa lama energi baterai pertama itu tandas juga. Selain itu, penggunaan Voltaic Volta belum praktis untuk alat lain berbasis listrik.

Baca juga: Matahari Terbit di Kereta Rel Listrik

Pada 1836, perkembangan perbateraian memasuki tahap lebih maju. Kimiawan Inggris Profesor John Frederic Daniell berhasil menciptakan dan mematenkan Daniel Cell, baterai praktis pertama.

Daniell Cell dibuat dari tabung tembaga yang di dalamnya diisi cairan senyawa CuSO4 (tembaga sulfat) dan di dalamnya lagi menampung tabung berbahan tembikar berisi cairan H2SO4 (asam sulfat) dan pelat seng. Tabung tembikar berpori itu berfungsi sebagai penyaring agar CuSO4 bisa tetap melepaskan ion-ionnya tanpa tercampur cairan lain. Alhasil, energi yang dihasilkannya lebih awet, andal, aman, dan tak cepat mengalami korosi.

Keunggulan itu membuat Daniel Cell dijadikan standar industri. Daniel Cell inilah yang mengiringi perkembangan teknologi lain, mulai telegraf hingga bel pintu, sampai 100 tahun kemudian. Daniell Cell pula yang menginspirasi kemunculan inovasi-inovasi serupa, mulai dari Bird’s Cell ciptaan Golding Birt (1837), Poros Pot Cell karya John Dancer (1838), hingga Fuel Cell buatan William Robert Grove (1839).

Baterai ‘Cas’

Betapapun, energi yang dihasilkan baterai ciptaan Daniell hingga Alfred Dun dengan Dun Cell (baterai bersel asam nitro-muriatic) bakal tandas secara permanen tanpa bisa dipulihkan kembali alias “dicas”. Padahal, zaman menuntut kemampuan lebih. Para produsen mobil, baik konvensional maupun berbasis listrik, sangat membutuhkan baterai yang bisa di-charge atau diisi ulang.

Tantangan itu berhasil dijawab ilmuwan Prancis Gaston Planté pada 1859 dengan menciptakan baterai bersel timbal-asam yang bisa diisi ulang.

“Planté bereksperimen dengan sistem gulungan baterai timbal-asam, di mana sel-sel yang digunakannya adalah dua pelat timbal tipis dan dipisahkan dengan lembar-lembar karet. Saat sirkulasi, arusnya mengaliri pelat positif menuju timbal dioksidan sehingga kapasitas listriknya meningkat. Proses ini masih jadi aspek yang signifikan dalam industri baterai timbal-asam sampai hari ini,” ungkap tim riset Gates Energy Products dalam Rechargeable Batteries Applications Handbook.

Gaston Planté dan baterai ciptaannya. (Linda Hall Library).

Baca juga: Kereta Tanpa Kuda

Penemuan Planté mendorong pengembangan lanjutan baterai isi ulang oleh banyak ilmuwan. Baterai isi ulang menggunakan zinc anode-manganese dioxide, misalnya, diciptakan Georges Leclanché pada 1866, lalu baterai sel kering pertama dari sel karbon-seng diciptakan Carl Gassner pada 1886, dan pada 1899 Waldermar Jungner menciptakan baterai dengan elektrolit alkalin pertama. Aki (accu) yang ada saat ini merupakan kelanjutan dari baterai temuan Planté.

Pada 1912, Gilbert Newton Lewis memulai eksperimen baterai lithium. Menurut Akademisi Universitas Stanford Kyle Weikert dalam artikel berjudul “Lithium Battery Dangers: Past and Present”, Lewis mencoba menggantikan baterai nikel kadmium yang banyak digunakan untuk alat listrik dengan lithium, logam paling ringan saat itu.

“Lithium bisa menyimpan potensi elektrokimia dalam jumlah besar karena kepadatan materialnya. Meski begitu, logamnya secara alamiah tidak stabil dan terbukti komponen penyimpan energinya selalu bermasalah ketika diisi ulang,” tulis Weikert.

Masalah itu baru terpecahkan pada 1970-an lewat kombinasi lithium-ion (Li-ion) yang dikembangkan sejumlah ilmuwan seperti John Goodenough, M. Stanley Whittingham, Rachid Yazami, dan Koichi Mizushima. Baterai li-ion pertama yang masuk pasar komersil lahir dari eksperimen tim periset Asahi Kasei pimpinan Yoshio Nishi pada 1991. Sejak itu, baterai, baik yang bertipe lithium atau bukan, jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Berangkat dari perkembangan baterai itulah Hyundai menciptakan sejarah baru di Indonesia lewat Ioniq dan Kona.

Sejarah Baru

Di tahun baru ini, PT Hyundai Motor Indonesia menghadirkan sejarah baru dengan meluncurkan dua mobil bertenaga listrik murni pertama di Tanah Air: Ioniq Electric dan Kona Electric. Lewat kampanye “Be Bold. Be Electric”, raksasa otomotif Korea Selatan ini menghadirkan dua tipe mobil listrik yang dipasok baterai berteknologi mutakhir lithium-ion polymer.

Sedan Ioniq Electric dipasok baterai lithium-ion polymer berkapasitas 38,3 kWh yang bisa melahirkan daya maksimal 100 kW/136 PS. Sementara SUV (sport-utility vehicle) Kona Electric ditenagai baterai dengan tipe serupa berkapasitas 39,2 kWh yang juga mampu mengeluarkan daya maksimal 100 kW.

Tak hanya bisa mengisi ulang di SPKLU, Sedan Ioniq & SUV Kona bisa "dicas" di stop kontak rumahan. (hyundai.com).

Langkah itu menjadi kunci sejarah baru. Dengan baterai lithium-ion polymer itu Hyundai menjadi game-changer pertama di Indonesia, satu langkah maju menuju era mobilitas masa depan. Selain lebih efisien, Ioniq dan Kona menjadi agen dalam mewujudkan kendaraan ramah lingkungan.

Baterai lithium-ion polymer yang jadi sumber tenaga Ioniq dan Kona tak hanya bebas emisi sehingga ramah lingkungan namun juga dijamin keamanannya. Hyundai melengkapinya dengan tiga langkah pengamanan: desain rigid cell architecture untuk menahan benturan di bagian inti baterai, vehicle cooperative control untuk mencegah korsleting, dan active protection untuk mencegah gagal sistem kala mengisi ulang daya.

Untuk lebih memudahkan pengisian ulang jika pengguna tak sempat mampir ke SPKLU (stasiun pengisian kendaraan listrik umum) atau dealer-dealer Hyundai, HMI menyediakan pengisi ulang portable ICCB (in-cable control box) pada setiap pengguna Ioniq dan Kona. Alat tersebut bisa membuat para pengguna mengisi daya listrik mobil menggunakan stop kontak standar rumah atau kantor. Klik Here

Baca juga: Cerita Pahit Mobil Rakyat

TAG

sains mobil hyundai historial

ARTIKEL TERKAIT

130 Tahun Mercedes-Benz di Arena Pacu Roket Rusia-Amerika Menembus Bintang-Bintang Rolls-Royce Punya Cerita Buick Bung Karno Masih Jalan Oppenheimer, Proyek Manhattan dan Bhagavad Gita (Bagian II – Habis) Oppenheimer, Proyek Manhattan dan Bhagavad Gita (Bagian I) Multiverse, Antara Spekulasi Filosofis dan Misteri yang Belum Terungkap Cerita Pemotongan Penis Belum Habis "Gerbang Neraka" yang Misterius Kisah Matematikawan yang Dipandang Sebelah Mata