Masuk Daftar
My Getplus

Menguber Uber Cup

Turnamen bulutangkis beregu putri ini digagas oleh Betty Uber. Sempat ditolak IBF karena tidak ada dana.

Oleh: Randy Wirayudha | 11 Mei 2022
Betty Uber ketika menyerahkan Uber Cup kepada pemenang perdana tim bulutangkis putri Amerika Serikat diwakili kaptennya Margaret Verner. (bwfmuseum.isida.pro).

Dua dekade lebih Indonesia puasa gelar Uber Cup. Indonesia baru tiga kali menjuarai Uber Cup (1975, 1994, dan 1996) dan tujuh kali menjadi runner-up. Hingga kini, Uber Cup masih didominasi oleh China dengan 15 kali juara, disusul Jepang dengan enam kali juara. Tim bulutangkis putri Indonesia kembali gagal di Uber Cup 2022. Juaranya Korea Selatan untuk kedua kalinya.

Sebagaimana Thomas Cup lahir dari keinginan Sir Thomas, Uber Cup lahir dari mimpi pebulutangkis Inggris yang mengoleksi 13 gelar All England, Elizabeth “Betty” Uber.

“Berbekal pamor internasionalnya, Betty Uber mengajukan pembentukan turnamen beregu khusus putri pada awal tahun 1950 dengan dukungan (tokoh bulutangkis) Nancy Fleming dari Selandia Baru,” tulis Jean-Yves Guillain dalam Badminton: An Illustrated History.

Advertising
Advertising

Baca juga: Thomas Cup, Piala Dunia-nya Bulutangkis

Upaya Betty tak mulus. Saat proposalnya dibawa ke International Badminton Federation (IBF), dewan federasi itu tak memberi lampu hijau kendati tertarik pada proyek Betty. IBF beralasan tidak ada dana untuk menggelar turnamen serupa Thomas Cup untuk putri.

IBF baru membahas lagi usulan Uber itu pada 1953. Dua tahun berselang, turnamen bernama Women’s Team World Cup itu disetujui IBF dan ditetapkan sebagai turnamen tiga tahunan. Turnamen perdana digelar 1956–1957 dengan format mirip Thomas Cup –sistem kualifikasi Inter-zone– dan putaran finalnya dihelat di Lanchashire, Inggris pada 18 Maret 1957.

Menurut IBF Handbook 1958-1959, dari sebelas negara peserta, tiga negara lolos ke putaran final: Amerika Serikat (AS), India, dan Denmark. Tim terakhir ini diuntungkan dengan undian bye sehingga langsung ke final. Sementara, setelah menghajar India 7-0, Amerika Serikat digdaya di partai puncak dengan mengubur Denmark 6-1.

Betty Uber (kanan) mengucapkan selamat kepada Daphne Young, juara tunggal All England 1938. (Wikimedia Commons).

Trofi Dambaan

Sebagai pemenang perdana, Amerika Serikat mendapat kehormatan membawa pulang trofi Uber Cup. Trofi itu merupakan donasi dari Betty Uber kepada IBF pada 1955.

Dalam biografi Suharso Suhandinata, Diplomat Bulutangkis: Peranannya dalam Mempersatukan Bulutangkis Dunia Menuju Olimpiade disebutkan, trofi yang jadi lambang supremasi bulutangkis putri dunia itu dibuat oleh perusahaan perhiasan asal London, Mappin & Webb. Desain trofi berbahan perak setinggi 20 inci itu berupa globe tiga dimensi dengan topping shuttlecock dan figur pebulutangkis putri di puncak.

Baca juga: Raihan Uber Cup Seharga Kain Brokat

Awalnya, trofi itu bernama The Ladies International Badminton Championship Challenge Trophy. Beberapa waktu kemudian, untuk mengabadikan nama Betty Uber, nama trofi itu diganti menjadi Uber Cup. Sejak 1984, penyelenggaraan Uber Cup selalu bersamaan dengan Thomas Cup.

Tim bulutangkis putri Indonesia terakhir kali merebut Uber Cup pada 1996. (pbdjarum.org).

Indonesia baru ikut meramaikan Uber Cup pada 1963 di Wilmington, Amerika Serikat. Tetapi baru pada 1975 saat menjadi tuan rumah Indonesia berhasil merebut piala itu. Di final, 6 Juni 1975, tim bulutangkis putri Indonesia menang 5-2 atas tim bulutangkis putri Jepang. Hingga kini, Jepang telah enam kali menjuarai Uber Cup.

Baca juga: Minarni Soedarjanto, Nona Manis Jagoan Bulutangkis

“Pasangan Indonesia Minarni dan Regina membuat surprise di mana Piala Uber secara resmi berada di pihak Indonesia dengan perincian set pertama 15-8 dan set kedua 15-11 atas pasangan Jepang (Mika) Ikeda/(Hiroe) Yuki,” tulis Media Indonesia, 7 Juni 1975.

Namun, prestasi tim bulutangkis puri Indonesia di Uber Cup kalah jauh dibandingkan tim bulutangkis putra di Thomas Cup (14 kali juara).

TAG

bulutangkis uber cup

ARTIKEL TERKAIT

Badminton is Coming Home! Putri Bulutangkis dengan Segudang Prestasi Elizabeth Latief dan Semangat Kartini Indonesia dan Kejayaan All England Alan Budikusuma Terpuruk di Kuala Lumpur, Berjaya di Barcelona Kawin-Cerai di Ganda Campuran Pertarungan Terakhir Pahlawan Piala Uber Arek Malang Jagoan Raket Telah Berpulang Susi Susanti yang Tak Sedramatis Kisah Asli Kristalisasi Keringat dan Air Mata Susi Susanti