Masuk Daftar
My Getplus

Thomas Cup, Piala Dunia-nya Bulutangkis

Sebagai Piala Dunia-nya bulutangkis, Thomas Cup impian banyak negara.

Oleh: Randy Wirayudha | 31 Mei 2018
Momen perdana drawing Thomas Cup 1948=1949 (Foto: bwfmuseum.isida.pro)

UNTUK kedelapan kalinya, tim Indonesia lagi-lagi gigit jari gagal memulangkan Thomas Cup ke pangkuan ibu pertiwi. Pada edisi ke-30 di Bangkok, Thailand 20-27 Mei 2018, Anthony Ginting dkk. hanya mampu memijak semifinal –lebih buruk dari capaian finalis di edisi 2016.

“Hasil ini memang tidak sesuai harapan. Karena paling tidak kami ingin mempertahankan hasil tahun lalu (finalis),” sebut Susi Susanti, manajer tim, dilansir badmintonindonesia.org, 26 Mei 2018.

Para pendekar raket kita terakhir kali merasakan merebut Thomas Cup tahun 2002. Sejak juara kali pertama tahun 1958, Indonesia masih jadi negara pengoleksi Thomas Cup terbanyak dengan 13 trofi. Rekor itu mulai dikuntit China yang mengoleksi 10 gelar.

Advertising
Advertising

Thomas Cup merupakan turnamen bulutangkis beregu putra paling prestisius. “Thomas Cup digagas Sir George Alan Thomas, pebulutangkis Inggris yang sangat sukses di awal 1900-an, di mana dia terinspirasi (turnamen) Piala Davis tenis dan Piala Dunia sepakbola yang sudah ada sejak 1930,” ungkap Anil Taneja dalam World of Sports Indoor.

Sir Thomas, Presiden International Badminton Federation (IBF) pada 11 Maret 1939, mengajukan ide itu ke komite IBF saat berlangsungnya turnamen All England di London’s Royal Horticultural Hall. Dalam Majalah Allsports edisi Mei 1984, Sir Thomas mengajukan gagasan itu karena merasa sudah waktunya ada turnamen internasional yang lebih global dari All England.

Setelah membahas ide Thomas itu, Rapat Umum Anggota IBF menyetujui pada 5 Juli 1939. Turnamen yang bernama awal The International Badminton Championship Challenge itu rencananya gelar karpet pada musim 1941-1942. Tapi, Perang Dunia II menggagalkannya.

Baru pada 1948-1949 Thomas Cup bisa digelar, di Preston, Inggris. Formatnya, para partisipan terlebih dulu mesti melewati babak kualifikasi inter-zone: Zona Amerika, Eropa, dan Pasifik. Tiga juara zona berhak ikut putaran final pada 22-26 Februari 1949.

Tiga peserta yang menjadi wakil masing-masing zona yakni Amerika Serikat mewakili Benua Amerika, Denmark mewakili zona Eropa, dan Malaya (kini Malaysia) mewakili Zona Pasifik. Wakil Asia yang dikucilkan, Malaya, justru berhasil merebut Thomas Cup pertama setelah menyingkirkan Amerika di babak pertama dan Denmark di final.

“Di masa itu, tim besarnya adalah Amerika. Inggris dan Denmark juga hebat. Mereka belum pernah mendengar tentang Malaya. Mereka bahkan tak tahu di mana letak Malaya,” kenang Teoh Seng Khoon, salah satu anggota tim Malaya 1949, sebagaimana diberitakan The Star, 8 November 2008.

Trofi dan Kompetisi di Era Modern

Trofi Thomas Cup, yang jadi impian para pendekar bulutangkis untuk diciumi dan dibawa pulang, dibuat oleh perusahaan Atkin Bros asal London. Menurut situs bwfthomasubercups.com, trofi Thomas Cup dengan tinggi 28 inci dan lebar 16 inci berdesain cangkir besar dengan figur pebulutangkis pria di atas tutup cangkirnya. Trofi terbuat dari perak-emas senilai 40 ribu dolar Amerika.

Sebagaimana nama turnamennya, trofi ini mulanya juga dinamai The International Badminton Championship Challenge Cup dan sudah dipublikasikan sejak 4 Juli 1940. Di kemudian hari, nama trofi diganti jadi Thomas Cup untuk mengabadikan nama penggagasnya.

Seiring berjalannya waktu, jumlah peserta meningkat. Zona kualifikasi ditambah inter-zona Australia dan Zona Pasifik diubah Zona Asia.

Indonesia pertama kali tampil pada 1958. Di momen debut itu Indonesia langsung keluar sebagai juara. Di final, yang dimainkan di Singapore Badminton Hall, 14-15 Juni 1958, Indonesia menggilas Malaya 6-3.

Kala itu, tulis Leo Suryadinata dalam Southeast Asian Personalities of Chinese Descent, tim Indonesia berisi pemain multi-etnis dengan tulang punggungnya pebulutangkis Tionghoa. Mereka adalah Olich Solihin, Eddy Yusuf, Lie Po Djian, Tan King Gwan, Tjan Kim Bie, Ferry Sonneville, dan Tan Joe Hok.

China sebagai rival terberat Indonesia di bulutangkis baru mencicipi Thomas Cup pada 1982. Sebagaimana Indonesia, China juga menyabet trofi juara di momen debutnya. China mengandaskan Indonesia 5-4 di final yang dihelat pada 20-21 Mei 1982 di London.

Sejak 1984, Thomas Cup dan Uber Cup “dikawinkan” sehingga selalu digelar bersamaan. Pada tahun itu juga format baru diperkenalkan, Thomas dan Uber Cup jadi turnamen dua tahunan.

Baca juga: 

Gelar Juara di Tengah Prahara
Sudirman Bukan Sembarang Piala
All England dari Masa ke Masa
Public Enemy Bernama Scheele

TAG

ThomasCup Bulutangkis

ARTIKEL TERKAIT

Badminton is Coming Home! Menguber Uber Cup Putri Bulutangkis dengan Segudang Prestasi Elizabeth Latief dan Semangat Kartini Indonesia dan Kejayaan All England Alan Budikusuma Terpuruk di Kuala Lumpur, Berjaya di Barcelona Kawin-Cerai di Ganda Campuran Pertarungan Terakhir Pahlawan Piala Uber Arek Malang Jagoan Raket Telah Berpulang Susi Susanti yang Tak Sedramatis Kisah Asli