Masuk Daftar
My Getplus

"Kepoin" Muspusal, Paham Sejarah Maritim dengan Teknologi Mutakhir

Museum pintar yang memadukan narasi sejarah TNI AL dan perangkat AI berteknologi 4.0. Amat manusiawi. Serunya enggak ada obat.

Oleh: Randy Wirayudha | 28 Nov 2023
Museum Pusat TNI AL Jalesveva Jayamahe yang menghadirkan narasi maritim masa lampau dengan teknologi canggih (Randy Wirayudha/Historia)

MUSEUM tak melulu outdated atau ketinggalan zaman, garing, membosankan, lebih-lebih angker. Kesan-kesan itulah yang ingin ditinggalkan oleh Museum Pusat TNI Angkatan Laut Jalesveva Jayamahe (Muspusal) di Surabaya. Dengan menggunakan teknologi kekinian, Muspusal menyajikan serba-serbi sejarah maritim lewat beragam cara yang vibe-nya asyik dan seru.

Hal itu tampak nyata kala Historia beranjangsana ke Muspusal Kamis (23/11/2023) siang. Berada tak jauh Pangkalan Utama TNI AL V (Lantamal V), Muspusal yang berada di sudut Jalan Sarjawala dan Jalan Pati Unus, Ujung, kota Surabaya itu bernaung di bawah Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarhal).

Saat mendampingi Historia, Kepala Muspusal Letkol Laut (KH) Drs. I Putu Sara Partama, M.A.P. berkisah bahwa beberapa bangunan tahap pertamanya baru didirikan di atas lahan 1,6 hektare dari total lahan 3,2 hektare. Kelak, sesuai rencana, Muspusal jadi museum militer terbesar di Asia Tenggara.

Advertising
Advertising

“Pembangunan Muspusal dilaksanakan mulai bulan Juli 2022, di atas tanah yang sebelumnya merupakan kantor Dinas Angkutan Lantamal V. Diawali peletakan batu pertama pada 17 Juni 2022 oleh Laksamana TNI Yudo Margono, ketika beliau menjabat KSAL (kepala staf TNI AL),” terang Letkol Putu.

Baca juga: Dinas Sejarah Angkatan Laut Dulu dan Kini

Kepala Muspusal Letkol Laut (KH) Drs. I Putu Sara Partama, M.A.P. (Randy Wirayudha/Historia)

Tujuan dibangunnya Muspusal, lanjut Letkol Putu, agar menjadi sarana edukatif dan warisan berharga bagi generasi penerus guna membentuk mindset dan karakter maritim menuju Jalesveva Jayamahe.

“Dibangunnya di Surabaya karena di Surabaya mempunyai rekam perjalanan sejarah angkatan laut yang luar biasa, sehingga di Surabaya di samping sebagai Kota Pahlawan juga sebagai Kota Angkatan Laut,” imbuhnya.

Muspusal sudah diresmikan oleh KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali pada 11 September 2023. Kendati begitu, Muspusal direncanakan baru dibuka untuk publik pada 15 Desember 2023 karena masih ada beberapa bagian di salah satu bangunan yang butuh perbaikan dan penyempurnaan.

“Ada perbaikan plafon. Maksudnya diharapkan (saat dibuka untuk umum) masyarakat itu nyaman. Rencana dibuka untuk umum pada 15 Desember,” ujarnya.

Muspusal terdiri dari tiga bangunan utama: gedung Heritage dan Hangar Alutsista, gedung Teater, dan bangunan replika KRI Raden Eddy Martadinata (331) yang merupakan kapal perang jenis fregat pertama di kelas Martadinata. Selain menyimpan 520 benda koleksi, di ketiga bangunan itu begitu sarat tata pamer multimedia yang menggunakan artificial intelligence (AI) pada teknologi 4.0.

Baca juga: Alutsista Pemburu dari Masa Lalu

Searah jarum jam: prasasti peresmian Muspusal, gedung Heritage, Teater, dan bangunan replika KRI RE Martadinata (Randy Wirayudha/Historia)

Sarat Teknologi 4.0

Bangunan kaku nan gagah bergaya nieuwe zakelijkheid dengan cat putih itu memberi kesan suasana era akhir 1920-an. Sejumlah bentuk jendelanya pun masih asli. Namun ketika kaki sudah melangkah masuk ke bangunan dua lantai itu, kesan yang hadir begitu frontal karena sarat suguhan alur tata pamer canggih.

“Ini gedung Heritage yang merupakan ruang pamer utama. Kita jaga keaslian (eksterior) bangunan kuno yang mengingatkan suasana ke masa lalu,” jelas Letkol Putu.

Baca juga: Gatotkaca Terbang, Mendarat di Museum

Gedung Heritage itu menyajikan sejumlah pengetahuan akan ciri khas atau tradisi TNI AL yang berakar dari tradisi maritim etnis-etnis di Nusantara yang mewarisi kekayaan sejarah kejayaan maritim. Mulai dari era Kerajaan Sriwijaya (abad VII-XI) hingga Kerajaan Majapahit (XIII-XVI).

“Juga (konten) sejarah perjuangan bangsa Indonesia, sejarah perjuangan TNI AL (1945-1949), operasi-operasi dan misi-misi yang pernah dilaksanakan TNI AL, lalu immersive cinema,” lanjutnya.

Montase tata pamer dengan teknologi interaktif di gedung Heritage Muspusal (Randy Wirayudha/Historia)

Immersive cinema adalah perpaduan antara teknologi imersif 4D atau empat dimensi berbentuk video dengan wahana beserta koleksi replika perahu dan sepasang senapan otomatis asli era perjuangan. Wahana perahu yang dimaksud adalah replika perahu yang digunakan pasukan M pimpinan Kapten Markadi dalam Pertempuran Selat Bali, 4 April 1946.

Dengan replika perahu itu pengunjung jadi bisa merasakan atmosfer pertempuran di Selat Bali itu lengkap dengan tata suara menggelegar di sekelilingnya. Sementara untuk rangkaian sejarah perjuangan TNI AL lainnya, juga disuguhkan lewat beberapa perangkat layar sentuh dan e-book yang dibekali sensor interaktif.

Baca juga: Satu Episode Pertempuran Laut

Setelah melewati Hangar Alutsista yang menyimpan tank amfibi PT-76 dan beberapa pesawat TNI AL, Letkol Putu menggiring tur ke ruang Immersive Cinema 5D Pertempuran Laut Arafuru atau Pertempuran Laut Aru yang lebih canggih lagi. Tidak hanya dilengkapi perangkat AI dengan layar virtual, tata suara menggelegar dan wahana statis, di ruang imersif 5D itu turut dilengkapi wahana berbentuk perahu motor yang bisa bergerak menyesuaikan alur cerita di layar virtualnya.

“Jadi seolah-olah pengunjung lebih merasakan apa yang terjadi dalam Pertempuran Laut Arafuru (15 Januari 1962). Kapasitasnya (wahana) 12 orang. Jadi kalau ramai, pengunjung lain untuk menunggu giliran bisa menunggu di Ruang Introduksi, di mana ada beberapa (piagam) rekor MURI yang pernah diperoleh TNI AL yang memang sekaligus kita fungsikan sebagai ruang tunggu,” kata Letkol Putu sambil menunjuk ruangan di sebelah ruangan Immersive Cinema 5D Pertempuran Laut Arafuru.

Narasi sejarah perjuangan TNI AL dan ruang imersif 5D 'Pertempuran Laut Arafuru" beserta wahananya (Randy Wirayudha/Historia)

Di ruangan terpisah yang masih dalam gedung Heritage, disajikan pula rangkaian sejarah organisasi Jalasenastri –beserta tokoh-tokoh perintisnya– yang berdiri sejak 23 Agustus 1957. Organisasi istri personel TNI AL ini berembrio dari Persatuan Putri Keluarga Angkatan Laut (PPKAL), Ikatan Keluarga Angkatan Laut (IKAL), Ikatan Wanita Angkatan Laut (IWAL), dan Persatuan Isteri Angkatan Laut (PERIAL).

Beringsut ke gedung Teater, begitu baru masuk, pengunjung sudah disambut sesosok anggota Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL) dalam bentuk hologram di ruangan muka. Di gedung berkapasitas 60 kursi ini, pengunjung bisa menyaksikan film-film sejarah dan kekayaan tradisi TNI AL.

“Lalu di gedung replika Kapal Perang RI (KRI Raden Eddy Martadinata) merupakan bangunan kapal perang yang perbandingan (skalanya) menyerupai aslinya. Di bangunan kapal ini menyajikan sejarah Komando Armada, sejarah masing-masing satuan kapal perang, peralatan navigasi,” tutur Letkol Putu.

Baca juga: Nanggala dalam Armada Indonesia

Koleksi periskop kasel dan ruang anjungan kapal (Randy Wirayudha/Historia)

Dilengkapi pula koleksi periskop serangan monokuler kapal selam yang meski tampak antik tapi jika pengunjung mengintip ke lensa periskopnya, akan tampak ilustrasi 3D bak sedang membidik kapal permukaan. Sementara di ruangan lain yang menyuguhkan penyerupaan anjungan kapal permukaan lengkap dengan panel-panelnya dan layar virtualnya, dipamerkan kemudi asli yang menjadi sisa kapal perang jenis penjelajah kelas-Sverdlov legendaris, KRI Irian.

“Di bagian anjungan kapal ini didesain (agar) pengunjung seolah-olah berada di tengah laut dalam posisi berlayar. Di bagian haluan (bangunan luar) kapal ada replika meriam (skala) 1:1 sesuai yang sebenarnya di KRI Raden Eddy Martadinata, di buritan kapal dilengkapi koleksi helikopter jenis Bolkow (NBO-105),” ungkapnya lagi.

Yang menjadi nilai plus, dua dari tiga bangunan utama itu ramah difabel dan ramah ibu-anak. Di beberapa bagian ruangannya terdapat akses khusus pengunjung difabel untuk menembus ruangan lain tanpa harus melewati koridor berliku dan tanpa melewati tangga. Ditambah lagi satu kids corner atau ruang bermain anak dan beberapa nursery room untuk pengunjung perempuan yang masih menyusui.

Baca juga: Cerita di Balik Helikopter NBO-105

Koleksi alutsista di Muspusal Surabaya (Randy Wirayudha/Historia)

Intinya, Muspusal dibangun tak hanya sebagai museum yang “serba ada” tapi juga museum pintar dan manusiawi. Masih sangat sedikit museum di Indonesia yang menerapkan teknologi mutakhir plus ramah pengunjung lintas kalangan.

“Perangkat AI digunakan dalam perangkat multimedia. Muspusal termasuk museum pintar karena dirancang mengadopsi teknologi 4.0 yang mana perangkat museum berupa perangkat elektronik dan multimedia. Bisa dikendalikan dari jauh juga menggunakan internet. Seandainya ada masalah, kendalanya di mana, juga bisa langsung diketahui,” jelas Letkol Putu.

Muspusal berharap bisa memberikan pengalaman baru bagi publik. Rangkaian cerita masa lampau bisa disajikan dengan cara yang seru dan menyenangkan. Jika sudah mengunjungi Muspusal, masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan bisa lebih memahami dan menghayati sejarah perjalanan maritim dan semangat serta nilai-nilai perjuangan TNI AL.

“Sehingga Ketika memahami tentang sejarah perjalanan bangsa, tidak ada keraguan bahwa NKRI itu harga mati. Dengan berdiri dan berpijak di masa sekarang, melihat dan memahami masa lalu yang telah ditorehkan oleh para pejuang, diharapkan untuk melangkah ke masa depan agar lebih baik, lebih bijak. No history, no future,” tukasnya.

Baca juga: Riwayat Dua Alutsista Penggempur Andalan Marinir

Ruang teater, koleksi NBO-105, pojok anak dan nursery room, serta akses ramah difabel (Randy Wirayudha/Historia)

TAG

museum tni al angkatan laut maritim teknologi

ARTIKEL TERKAIT

Pelaut Madura dalam Sejarah Indonesia Purnatugas Heli Puma Pesawat Multifungsi Tulang Punggung Matra Udara Jerman Ammana Gappa Mengatur Pelayaran Pinisi Tak Asli Negeri Ini Tapi Banyak Jasa Buat Indonesia* Kemaritiman Era Sukarno Museum Gajah Bakal Merestorasi 817 Koleksi yang Rusak Insiden Kebakaran di Gedung A Museum Nasional Indonesia Marcel Dassault dan Jet Tempur Kebanggaan Prancis Biola WR Supratman Punya Cerita