Masuk Daftar
My Getplus

Cerita di Balik Helikopter NBO-105

Alutsista taktis nan revolusioner di masanya. Sepakterjangnya di Indonesia bermula dari Operasi Seroja.

Oleh: Randy Wirayudha | 15 Feb 2022
Helikopter NBO-15 yang dioperasikan Pusat Penerbangan TNI AL (navy.mil)

SUDAH 41 tahun helikopter multifungsi nan lincah MBB Bo-105 mengabdi pada Brunei Darussalam. Lantaran usia itulah seluruh Bo 105 yang bernaung di Skadron Ke-2 Wing Operasi Tentera Diraja Udara Brunei (TUDB, Angkatan Udara Brunei) sejak 1981 itu resmi dipensiunkan.

Mengutip Asia Pacific Defense Journal, Selasa (8/2/2022), upacara pemensiunan enam heli buatan pabrikan Jerman Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) tersebut diresmikan langsung oleh Panglima TUDB Brigjen Dato Seri Pahlawan Mohammad Sharif bin Dato Haji Ibrahim di Air Movement Centre Pangkalan Udara Rimba.

Kini, di Asia Tenggara tinggal Filipina dan Indonesia yang masih mengoperasikan heli yang setengah abad lalu jadi heli revolusioner pertama di dunia tersebut. Filipina tinggal memiliki satu unit B0-105 yang dioperasikan Resimen Penerbangan Angkatan Darat “Hiraya”. Satu-satunya Bo-105 milik AD Filipina itu berasal dari hibah taipan Manuel Velez Pangilinan pada Januari 2021. Adapun AU maupun Angkatan Laut (AL) Filipina sudah memensiunkan belasan alutsista serupa sejak 1980-an.

Advertising
Advertising

Dengan begitu, Indonesia jadi operator terbesar heli jenis itu di ASEAN. Menukil World Air Forces edisi 2022, militer Indonesia masih mengoperasikan 22 Bo-105. Delapan unit berada di Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal), 12 unit di Pusat Penerbangan TNI AD (Puspenerbad), dan dua unit di TNI AU dioperasikan Badan SAR Nasional (Basarnas).

Berbeda dari Brunei dan Filipina yang membelinya langsung dari MBB di Hamburg, Jerman, Bo 105 milik Indonesia diperoleh dari merakit sendiri di Bandung. Proses tersebut dimungkinkan setelah Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN, kini PT DI/PT Dirgantara Indonesia) mendapat lisensi dari MBB.

Baca juga: Heli TNI AU Juara di Udara

Armada MBB Bo-105 yang dipensiunkan TUDB (mindef.gov.bn)

Produk Revolusioner Jerman

Heli Bo-105 merupakan salah satu mahakarya Ludwig Bölkow yang mengarahkan langsung pengembangannya bersama tim MBB mulai 1964. Heli tersebut revolusioner di masanya karena sebagai heli ringan pertama di dunia yang ditenagai dua mesin, serta penggunaan sistem rotor tanpa engsel.

“Tujuan Bölkow adalah menciptakan rotor yang lebih simpel dan kokoh dengan mengeliminasi semua peredam (getaran) dan engselnya. Penghubung rotor utama (heli) MBB hanyalah satu kepingan titanium tempa besar untuk memberikan kekuatan yang cukup, dan bilah rotor serat kompositnya memberikan fleksibilitas. Tanpa engsel, kepala rotornya dikuci dengan baut langsung ke rangka heli,” demikian Flying Magazine edisi Maret 1990 menulis.

Setelah melakukan trial and error di darat dengan purwarupa pertamanya, MBB mengeluarkan purwarupa kedua untuk melakoni maiden flight di Ottobrunn, Jerman, pada 16 Februari 1967. Publik Jerman baru diperkenalkan dengan heli anyar ini tiga bulan berselang. Bo-105 mendapat sertifikasi Luftfahrt-Bundesamt (otoritas kelaikan penerbangan Jerman) pada 1970 dan FAA (otoritas kelaikan penerbangan Amerika Serikat) dua tahun kemudian.

Bo-105, yang dapat dipergunakan untuk sipil dan militer, memiliki panjang 11,86 meter dan tinggi tiga meter. Heli berbobot kosong 1.276 kilogram itu bisa mengangkut empat orang, termasuk dua kru, dan mampu terbang dengan membawa beban 2.500 kilogram. Mesin ganda Allison 250-C20B turboshaft membuatnya bisa bermanuver dengan kecepatan maksimal 242 kilometer per jam, melonjak hingga ketinggian maksimal 17 ribu kaki, dan sanggup melayang selama 3 jam 30 menit jika bahan bakarnya terisi penuh.

Jika diperuntukkan bagi milier, Bo 105 bisa dipersenjatai beraneka jenis senjata. Sejak 1975, Bundeswehr (AD Jerman) mengoperasikannya dengan enam misil antitank Euromissile HOT, BGM-71 TOW, atau misil air-to-air Stinger.

Baca juga: Tank Jerman yang Layu Sebelum Berkembang

Heli serang MBB Bo-105 milik Bundeswehr (kiri) dan perancangnya Ludwig Bölkow (Ludwig-Bölkow-Stiftung)

Rasa Indonesia

Beragam kemampuan itu membuat BJ Habibie (kelak presiden RI ketiga) kepincut. Kala dikaryakan di Divisi Advance Technology dan Teknologi Penerbangan (ATTP) PT Pertamina pada 1974, Habibie mencanangkan penguasaan teknologi penerbangan baik untuk fixed-wing atau pesawat maupun rotary-wing atau helikopter.

“Jadi yang memulai itu Pertamina, belum IPTN. Waktu itu Pak Habibie mengajukan ke Presiden Soeharto untuk mulainya industri penerbangan. Konsep beliau mulai dari assembling, terus akhirnya produksi. Pak (Harsono Juned) Pusponegoro menangani pesawat, saya diminta Pak Habibie menangani helikopter,” kata eks-Menristek/Ketua BPPT Kabinet Pembangunan VII Rahardi Ramelan kepada Historia.

Untuk pesawat, yang mengembangkan pesawat turboprop NC-212, program itu merangkul Construcciones Aeronáuticas SA (CASA) dari Spanyol. Sementara, untuk program helinya Habibie mengincar Bo 105 yang diproduksi MBB, tempat Habibie berkarier antara tahun 1965-1973. Keduanya merupakan program produksi dan perakitan dengan lisensi CASA dan MBB.

Baca juga: Akhir Tragis Alutsista Heli Legendaris

Rahardi Ramelan mengenang program Heli NBO-105 (Randy Wirayudha/Historia)

Akan tetapi, menurut pengamat industri strategis Fajar Harry Sampurno, mulanya tiada yang sudi bekerjasama dengan Indonesia. Airbus, Boeing, maupun MBB sama semua. Berkat kegigihan Habibie yang terus mengupayakannya sejak 1974, CASA berhasil dirangkul untuk program pengembangan pesawat turboprop C-212 pada 1976.

“Mereka akhirnya mau karena bukan gratis. Maunya barter. CASA mau bantu pesawat terbang tapi kita harus pakai teknologi hydrocracking mereka yang untuk kilang minyak. Pak Harto setuju dan setelah CASA mau, kemudian MBB baru mau,” ujar Fajar Harry Sampurno kepada Historia dalam kesempatan berbeda.

Kerjasama dengan MBB mengikuti tak lama kemudian. Kerjasama tersebut bertujuan untuk produksi dan assembling heli BO-105.

Baca juga: Pesawat Sukhoi Rasa Minyak Sawit

Pengamat industri strategis cum eks-Dirut Barata Indonesia Fajar Harry Sampurno (Randy Wirayudha/Historia)

Perjanjian segitiga lantas ditandatangani pada September 1974. Mengutip Prof. Sulfikar Amir, guru besar di Nanyang University, dalam The Technologial State in Indonesia: The Co-constitution of High Technology and Authoritarian Politics, perjanjiannya ditandatangani Ibnu Sutowo yang mewakili Pertamina, Ludwig Bölkow dari MBB dan (Enrique) De Guzman (CEO CASA). Penandatanganan itu menandai komitmen kedua perusahaan Eropa itu untuk membantu pengembangan industri dirgantara di Indonesia.

“Pertama-tama, Indonesia mengimpor beberapa unit CASA C-212 dan Bo-105 yang sudah dibongkar bagian per bagiannya dari Madrid dan Hamburg. Ratusan bagian pesawat lalu dirakit di Bandung agar mereka bisa mengenalinya dengan sistem teknis yang kompleks serta struktur keseluruhannya,” tulis Sulfikar.

Baca juga: Pesawat Pemburu dari Masa Lalu

Program heli Bo-105 dipercayakan kepada Rahardi. Lantaran adanya kebutuhan mendesak untuk Operasi Seroja di Timor Timur, produksinya dikebut di Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung untuk membangun BO-105 versi militer.

“Kita hanya dikasih hanggar kecil di situ. Untuk masang engine-nya aja saya enggak bisa. Jadi saya pakai crane sewaan di luar untuk pasang engine-nya. Kita mengubah dari heli biasa menjadi heli tempur. Jadi ada orang Angkatan Darat, Kapten Simorangkir, minta mulai bagaimana helikopter sipil ini bisa dipasangin senjata,” kata Rahardi.

Presiden Soeharto mengamati perakitan NBO-105 versi militer (kiri) & assembly line NBO-105 karya IPTN dibawah lisensi MBB (Angkasa edisi September-Oktober 1976/Dari Pare-Pare Lewat Aachen)

Selain minta dipersenjatai dengan senapan otomatis kaliber 12,7 mm di pintu kiri dan kanan, TNI AD juga minta heli BO-105 itu dipasok radio PRC-77 agar bisa berkomunikasi dengan pasukan darat. Yang sedikit merepotkan adalah permintaan penambahan lapisan baja di badan pesawat.

“Dulu musuh kita yang dari Tim-Tim itu berada di bukit-bukit, di tebing begitu. Kita diminta pasang antipeluru di pinggir (badan heli), di pintu juga. Wah, saya agak jengkel juga. Kalau semuanya sudah antipeluru, helikopternya enggak bisa terbang, keberatan dia. Hahahaha…” kenangnya sembari tertawa.

Baca juga: Ngeri-Ngeri Sedap Operasi Heli di Long Bawang

Lapisan baja dan antipeluru itu akhirnya dipasang hanya di bagian bawah perut pesawat, tepatnya di bawah seat kru dan penumpang. Sementara tim teknisi menyiapkan heli, Penerbad menggeber program pelatihan pilotnya.

“Sebanyak 19 orang perwira penerbang Angkatan Darat yang baru dilantik akan dipersiapkan untuk helikpter Bo-105. Demikian Komandan Pusat Penerbangan TNI-AD Brigjen R. Widodo Sastroamidjojo. Beberapa waktu lalu Presiden Soeharto memberikan bantuan skadron heli (16 buah) kepada Penerbangan TNI-AD. Ke-19 perwira yang sebagian besar lulusan AKABRI itu baru saja menyelesaikan kursus penerbang yang berlangsung sejak awal Oktober 1975,” kata Majalah Angkasa edisi September-Oktober 1976.

Heli NBO-105 yang dioperasikan Puspenerbad (kiri) dan Basarnas (pusdikpenerbad.mil.id/basarnas.go.id)

Setelah itu, pengembangan dan perakitannya barulah dikerjakan para insinyur IPTN. Identitas heli sedikit mengalami perubahan, yakni dengan penambahan “N” (singkatan dari Nusantara) di depan, sehingga menjadi NBO-105. Semua produksi IPTN kemudian dinamai NBO-105, sebagaimana pesawat CASA C-212 menjadi CN-212.

“Transformasi teknologi dilaksanakan IPTN dengan metode program pembuatan yang progresif, telah menghasilkan bentuk produksi yang dirancang baik untuk kebutuhan sipil maupun militer. Keseluruhan sejak berproduksi tahun 1976 IPTN telah mengeluarkan produksinya untuk NC212 sebanyak 115 dan NBO 105 sebanyak 142 buah,” tulis majalah Dharmasena edisi Juni 1987.

Baca juga: Selayang Pandang Lanud Atang Sendjaja                 

NBO-105 kemudian laris di pasaran. Setelah dilengkapi varian yang di-stretched: NBO-105 CB, NBO-105 CBS, dan NBO-105S, heli-heli buatan IPTN itu diekspor ke Yordania, Kanada, dan Afrika Selatan. Di dalam negeri, selain dioperasikan Penerbad, heli tersebut juga dioperasikan Penerbal, Departemen Kehutanan, Pelita Air Service, dan Polri. Korps Bhayangkara menggunakannya sejak 1981.

“Kapolri Jenderal Polisi Moch. Sanoesi pada 8 April 1988 menerima enam helikopter baru jenis NBO 105 dari IPTN yang diserahkan oleh Direktur Utamanya Prof. Dr. Ing. BJ Habibie di Kawasan Produksi II IPTN. Kepolisian RI sejak 1981 telah mengoperasikan tujuh helikopter jenis NBO-105 dan dengan penyerahan ini Polri telah mempunyai 13 buah NBO-105 produksi IPTN,” tulis majalah Mimbar Kekaryaan ABRI edisi April 1988.

Namun, NBO-105 berangsur-angsur kalah saing setelah IPTN bekerjasama dengan pabrikan heli Prancis, Sud Aviation (kini Aérospastiale), sejak 1982. Kerjasama itu bertujuan untuk memproduksi heli keluarga “Puma” di bawah lisensi Prancis.

Seiring perjalanan waktu, NBO-105 yang digunakan Penerbad dan Penerbal sedikit demi sedikit diganti oleh Bell 412, Mil Mi-2, Mil Mi-17, EC-120 “Colibri”, hingga Eurocopter Fennec karena usia. Di sisi lain, PT DI sudah menyetop produksi NBO-105 sejak 2011.

Baca juga: Flypass Nekat Montir Pesawat Rayakan HUT RI

TAG

helikopter alutsista

ARTIKEL TERKAIT

Di Balik Garangnya Tank M1 Abrams Kisah Tank Leopard Sebelum Tank Leopard 2 Riwayat Dua Alutsista Penggempur Andalan Marinir Lika-liku Pesawat T-50 Secuil Kisah Lucu di Balik Kerusuhan Mei 1998 Nanggala dalam Armada Indonesia AMX-13 Tank Prancis Rasa Amerika Ongkos Pembebasan Irian Barat Hawk 200, Elang Mungil yang Dirundung Celaka Insiden Heli milik TNI