Juara di Udara

Tak hanya menjaga kedaulatan, heli TNI AU juga digdaya dalam uji skill di udara.

07 June 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Juara di Udara
Tim Skadron 8 yang mewakili TNI AU dalam ASEAN Helicopter Championships 1994 (Randy Wirayudha/Repro Dok. Skadron 8)

TROFI-TROFI itu berjejer rapi di salah satu sudut rak Heritage Room di Skadron 8 TNI AU, Pangkalan Pangkalan Udara Atang Sendjaja (Lanud ATS), Bogor. Mereka jadi penghias bergengsi di antara sejumlah foto maupun memorabilia lawas lain yang mengiringi sejarah skadron tersebut.

Meski dimensinya kecil, trofi-trofi itu punya makna besar lantaran jadi penanda prestasi matra udara di mancanegara.

“Ini piala-piala kita waktu ikut lomba helikopter tahun 1994 dan 1997. Dua kali kita ikut dan dua kali kita dapat juara II,” sebut Kepala Dinas Personel Lanud ATS Letkol (Pnb) Sigit Gatot Prasetyo kepada Historia.

Prestasi itu dipetik pada ajang ASEAN Helicopter Championship (AHC) yang dihelat Tentera Udara Diraja Brunei, 13-19 November 1994 di Kompleks Olahraga Hassanal Bolkiah, Berakas. Perlombaan itu, sudah digelar serta diikuti sejumlah negara Asia Tenggara lainnya sejak 1988, merupakan edisi ketiga.

Trofi-Trofi Hasil Perlombaan ASEAN Helicopter Championships 1994 (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

Soal uji keterampilan, sebelumnya TNI AU masih berkutat pada ajang-ajang yang digelar internal. Eks Danlanud ATS Marsda (Purn) T. Djohan Basyar dalam Home of Chopper menuturkan, Skadron 8 acap jadi andalan dan pulang dengan prestasi tertinggi di sejumlah lomba keterampilan udara antar-satuan udara sejak 1985. 

TNI AU pun mempercayakan nama besarnya pada Skadron 8 untuk mewakili Indonesia di AHC 1994 di Brunei. Sebelas personel terbaik dipilih dengan dipimpin Letkol (Pnb) Adityawarman bertolak dari Lanud ATS pada 11 November 1994.

“Pada perlombaan itu selain Indonesia, diikuti Brunei sebagai tuan rumah, Malaysia dan Singapura. Setiap negara mengirim dua tim, kecuali Indonesia yang hanya mengirim satu tim, diwakili Skadron 8 menggunakan pesawat (heli SA-330) Puma bernomor HT-3308,” sebut Djohan Basyar.

Tim berangkat dari Lanud ATS dengan rute Bogor-Tanjung Pandan-Pontianak (transit)-Kuching-Bintulu-Brunei dan tiba sehari setelahnya. Dari sejumlah kategori, TNI AU turun di dua kategori: navigasi dan uji terbang dengan external load (cargo sling).

Dokumentasi Tim Skadron 8 di AHC 1994 (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

Kontingen TNI AU membuktikan diri dengan keluar sebagai juara II meski berstatus debutan. “Waktu itu Singapura yang jadi juara pertamanya. Dia (RSAF) pakai yang lebih kecil, heli Bell (UH-1 “Iroquois”), sambung Sigit, yang menjelaskan RSAF di lomba itu diwakili Skadron 120 yang sejak 1988 sudah jadi langganan juara.

“Lombanya navigasi, seperti lomba mobil slalom begitu, uji keterampilan meliuk-liuk. Lalu (kategori) terbang presisi bawa beban. Jadi kebanggaan juga karena itu kita pertamakalinya tampil.”

Itu bukan satu-satunya prestasi mancanegara TNI AU dengan alutsista rotary wings-nya. Tiga tahun berselang, kembali satu trofi mengisi lemari prestasi heritage room Skadron 8 dalam ajang serupa, 2nd Brunei ASEAN Helicopter Invitational Championship, 18-29 Oktober 1997.

Trofi Juara II ajang 2nd Brunei ASEAN Helicopter Invitational Championships 1997 (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

Ajang itu diikuti lima negara: Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina. TNI AU lagi-lagi mengandalkan Skadron 8 dengan heli SA-330 “Puma” bernomor ekor HT-3317. Kategorinya pun tiada beda dengan ajang sebelumnya, uji skill navigasi serta presisi terbang membawa beban. TNI AU juga pulang ke tanah air dari kompetisi itu dengan gelar juara II.

“Dua tim yang diturunkan, yaitu tim A yang terdiri dari Kapten (Pnb) Erwin Buana, Lettu (Pnb) Ferry S, Sertu Heris Sudarmadi. Sedangkan tim B Kapten (Pnb) Sugiyono, Lettu (Pnb) Arifin Sjahrir dan Serka Amang Rosadi. Indonesia memperoleh predikat juara umum II bersama dengan Malaysia, sedangkan juara I dipegang Brunei,” tandas Djohan Basyar.

TNI-AU, Sejarah-AURI
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
1 Suka
BOOKMARK