top of page

Ngeri-Ngeri Sedap di Long Bawang

Bolak-balik mengantar Jenderal Soemitro ke perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan hingga nyaris terkena petaka.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kolonel (Purn) Pramono Adam (tengah), satu dari sekian pilot AURI di masa Dwikora (Foto: Fernando Randy/Historia)

  • 6 Agu 2019
  • 3 menit membaca

INGATANNYA masih sangat kuat ketika mengenang pengalamannya di pedalaman Kalimantan. Di teras rumahnya, Komplek Perumahan Lanud Atang Senjaya, Semplak, Bogor, Kolonel (Purn) Pramono Adam masih menggebu kala berbagi segudang kisah penugasannya bolak-balik mengantar Pangdam IX/Mulawarman Brigjen Soemitro dari markasnya di Balikpapan hingga Long Bawang di perbatasan RI-Malaysia era konfrontasi (1963-1965).


Ia kala itu masih berpangkat letnan penerbang dari Wing Operasi 004 Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang di-BKO-kan di Kodam IX/Mulawarman. Sejak 1963, AURI menempatkan beberapa helikopter angkut dari Wing Operasi 004 yang berbasis di Lanud Atang Sendjaja (ATS), termasuk heli angkut berat Mil Mi-6 dan heli angkut medium Mil Mi-4, untuk menyokong mobile udara. Dengan heli Mi-4 itulah Pram, sapaan karib Pramono, kerap mengantar Soemitro untuk menginspeksi perbatasan medio Maret-April 1965.


“Kalau lewat jalur darat (Soemitro) enggak sampai-sampai. Pernah beliau ngomong, ‘kita bersyukur (ada heli). Saya sudah dua bulan enggak sampai-sampai, akhirnya pulang lagi.’ Kalau ada banjir dia harus menunggu, pernah menunggunya sampai sebulan sampai airnya asat,” kata Pram kepada Historia.


Suatu ketika, Soemitro memaksa Pram mengantarnya untuk inspeksi. Karena saat itu Long Bawang masih “zona merah” untuk mobile udara, mereka nyaris ditelan petaka.


“Karena setiap kali kita ke sana untuk mengantar logistik, saya pulangnya 6-7 kali di-howitzer (ditembak meriam Inggris). Tapi Pak Mitro bersikeras. ‘Kita jangan takut, saya yang tanggung jawab,’ katanya. Lalu ia telefon sana-sini sampai akhirnya diizinkan masuk ke sana,” ujar Pram menirukan perintah Soemitro.


Mengutip T. Djohan Basyar dalam Home of the Chopper: Perjalanan Sejarah Pangkalan TNI AU Atang Sendjaja, 1950-2003, Soemitro mengontak Koti (Komando Operasi Tertinggi) di Jakarta untuk bisa masuk Long Bawang. “Setelah diizinkan, digunakanlah dua helikopter dari Balikpapan untuk lebih dulu bermalam di Tarakan, keesokannya melanjutkan ke Long Bawang,” sebut Djohan.


Mulanya Soemitro meminta Pram mengantarkan sampai Tarakan saja. “Awalnya diminta boleh mengantar sampai Tarakan untuk mampir sebentar, habis itu balik. Tapi malah kemudian disuruh menginap. Haduh, menginap lagi. Untuk hari itu Howitzer-nya (Inggris) enggak meledak-ledak. Cuaca sedang tidak bagus, sore baru bisa take-off,” sambung Pram.


Kolonel (Purn) Pramono Adam turut berkisah kiprahnya sebagai Komandan Skadron 8 AURI yang membawahi belasan heli raksasa Mi-6. (Fernando Randy/Historia)
Kolonel (Purn) Pramono Adam turut berkisah kiprahnya sebagai Komandan Skadron 8 AURI yang membawahi belasan heli raksasa Mi-6. (Fernando Randy/Historia)

Inspeksi selesai keesokan paginya dan Pram langsung mengantar Soemitro kembali  menuju Tarakan. “Tapi kira-kira lima menit meninggalkan Long Bawang, peluru meriam dari arah perbatasan (Malaysia) menghujani seluruh Kecamatan Long Bawang,” tutur Djohan.


Pram tak ingat pukul berapa ia berangkat dan muntahan Howitzer Inggris itu terjadi. Sepersekian menit terlambat lepas landas, mungkin ia dan Soemitro takkan selamat. “Puji syukur selamat sampai Tarakan lagi,” ucap Pram sambil menghela nafas.


Setelah pemulihan hubungan RI-Malaysia dilakukan tahun 1967, Pram kembali ke basisnya di Lanud ATS. Berpangkat mayor, ia lantas jadi Komandan Skadron 8 yang menaungi sekira 13 unit Mi-6. Heli terbesar di dunia itu mengundang rasa penasaran banyak pihak militer barat.


“Orang Barat banyak heran. Pesawat (heli) Mi-6 itu tahan banting meski tidak sophisticated. Untuk kenyamanan nomor dua. Tapi pernah suatu ketika ada Marsekal Wheeler dari Flying School Inggris ingin lihat Mi-6. Kagum dia Rusia bisa bikin yang begini,” Pram mengenang.


Helikopter Mil Mi-6, heli angkut terbesar di dunia pernah dimiliki AURI hingga 1971
Helikopter Mil Mi-6, heli angkut terbesar di dunia pernah dimiliki AURI hingga 1971

Saat berbincang, barulah diketahui bahwa Pram dan Wheeler pernah bersinggungan di Tarakan semasa konfrontasi. Pram sebagai pilot heli Mi-6, sementara Wheeler pilot jet tempur Gloster Javelin yang acap terbang untuk menggertak basis-basis TNI di perbatasan.


“Dia terus ngomong, Ternyata itu dia (yang menerbangkan). Kata dia, justru dia enggak berani ganggu karena enggak tahu senjata apa yang kita punya. Syukurlah, saya membatin. Wong kita senjatanya cuma (senapan mesin kaliber) 12,7. Hampir enggak pernah dipakai. Lha saya juga takut, biasanya lari ke bawah kendaraan, ngumpet. Ternyata sama-sama enggak berani mengusik,” kata Pram sambil tertawa lepas.  

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Saksi bisu perlawanan dari zaman ke zaman. Tempat singgah bagi aktivis.
bg-gray.jpg
Anak muda putus sekolah dan menganggur menjadi problem di banyak daerah di Indonesia. Di Jombang, sebuah kota kecil di Jawa Timur, mereka diberikan keterampilan praktis dan praktik lapangan lalu dikirim ke Lampung dalam program Transmigrasi Pramuka.
bg-gray.jpg
The United States’ hydrogen bomb tests in the Eniwetok Atoll in the Pacific alarmed a member of the Indonesian House of Representatives, who urged the government to mobilize opposition on the international stage.
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Lewat kemenangan 6-1 Spurs membuat Old Trafford jadi kuburan bagi pemiliknya. Mengulang sejarahnya.
Lewat kemenangan 6-1 Spurs membuat Old Trafford jadi kuburan bagi pemiliknya. Mengulang sejarahnya.
Untuk pertama kalinya peringatan maestro tari topeng Mimi Rasinah dengan cukup besar. Melibatkan seniman nasional dan internasional.
Untuk pertama kalinya peringatan maestro tari topeng Mimi Rasinah dengan cukup besar. Melibatkan seniman nasional dan internasional.
Pemahaman secara mendalam dan berimbang terhadap peristiwa pada kurun 1959-1969 syarat menuju rekonsiliasi.
Pemahaman secara mendalam dan berimbang terhadap peristiwa pada kurun 1959-1969 syarat menuju rekonsiliasi.
Bahu-membahu di bawah panji Unifikasi. Melebur jadi satu dengan menghayati lagu “Arirang”.
Bahu-membahu di bawah panji Unifikasi. Melebur jadi satu dengan menghayati lagu “Arirang”.
Arsenal merayakan FA Cup tanpa euforia penonton di Wembley. Berbeda jauh dari suasana final di stadion ikonik itu 97 tahun silam.
Arsenal merayakan FA Cup tanpa euforia penonton di Wembley. Berbeda jauh dari suasana final di stadion ikonik itu 97 tahun silam.
transparant.png
bottom of page