Masuk Daftar
My Getplus

Orba Benci Musik Cengeng

Daripada musik rock, Soeharto lebih tak suka pop cengeng. Rock dibiarkan berkembang, pop sempat dipermasalahkan.

Oleh: Petrik Matanasi | 14 Nov 2023
Deep Purple tampil di Ostseehalle dalam tur di Jerman pada 1970. (Friedrich Magnussen/Stadtarchiv Kiel/Wikimedia Commons).

PADA era akhir pemerintahan Presiden Sukarno, musik rock yang mulai berkembang di bumi belahan barat menjadi haram di Indonesia. Itu semua karena garis politk Sukarno yang anti-Barat. Koes Bersaudara pernah masuk bui gegara membawakan “I Saw Her Standing There” milik The Beatles dalam sebuah pesta di pertengahan 1965.

Ganti presiden, politik permusikan tanah air pun berubah. Musik Barat sudah tidak lagi haram. Sekitar sebulan setelah Letnan Jenderal Soeharto naik menjadi pejabat presiden RI, pada April 1967, Koes Bersaudara merilis album To the So Called the Guilties dan pada Oktober 1967 album Djadikan Aku Dombamu. Lagu-lagu dalam kedua album itu bahkan ada yang terpengaruh semangat ala Psychedelic Rock yang setelah 1966 mulai berkembang di Barat. Setelah Tonny membangun bendera baru bernama Koes Plus, dunia musik pop Indonesia marak.

Pemerintah Orde Baru tidak ambil pusing dengan maraknya budaya Barat di Indonesia. Tidak hanya ditandai dengan masuknya musik dan film impor, para musisi lokal pun begitu terpengaruh oleh budaya Barat.

Advertising
Advertising

Baca juga: Semarak Konser Musik Rock di Indonesia

Mayor Jenderal Ali Moertopo (1924-1984), orang penting Orde Baru yang amat dekat dengan Presiden Soeharto, yang cukup disegani punya beberapa kolega yang terlibat dalam bisnis media dan hiburan. Kolonel Aloysius Sugianto sang pengganda Supersemar, anak buah Ali, salah satunya. Dia pernah menjalankan majalah Peragaan Olahraga Perfilman yang dikenal sebagai majalah Pop. Di kemudian hari, majalah ini pernah membuat Soeharto marah karena memberitakan silsilah Presiden Soeharto berasal dari orang keraton.

Dalam Njoo Han Siang Pertemuan Dua Arus, Sugianto disebut bersama Suhardjo Sindhukusumo, Njoo Han Siang, dan Wim Umboh membangun PT Interstudio Cine Film. Njoo Han Siang adalah seorang pengusaha dan mantan jurnalis sedangkan Wim Umboh seorang sutradara yang pernah menjadi penerjemah. Njo Han Siang dan Wim Umboh adalah penyelenggara Summer 28, sebuah konser di ruang terbuka yang menampilkan beberapa musisi, semacam Woodstoock di Amerika.

Summer 28 merupakan kependekan dari Suasana Menjelang Kemerdekaan RI ke-28. Pentasnya diadakan dari 16 hingga 17 Agustus 1973. Menurut Anas Syahrul Alimi & Muhidin M. Dahlan dalam 100 Konser Musik Indonesia, Summer 28 mengusung semangat perdamaian. Meski sempat terjadi permasalahan, konser beruntun itu telah menampilkan banyak musisi terkenal Indonesia. Selain Koes Plus, Bimbo, ada Broery & The Pros, The Mercy’s, God Bless dan lain-lain.

Baca juga: Hari Tersedih God Bless

Buat God Bless, Summer 28 adalah debut pentingnya. God Bless adalah band rock paling penting dalam sejarah musik rock Indonesia, yang belum lama ini menghelat konser emas 50 tahunnya.

Gempita musik Barat yang hadir di masa Orde Baru tak semata disemarakkan oleh musisi ataupun band tanah air. Musisi atau band internasional pun ikut “mencicipi kue pembangunan” di Indonesia. Setidaknya Bee Gees dan Deep Purple yang mewakili era 1970-an hingga Metallica atau Sepultura dari era akhir 1980-an hingga awal 1990-an pernah pentas ke Indonesia. Meski pemerintah tak melarang musik pop dan rock Barat masuk ke Indonesia, rambut gondrong yang identik dengan musik rock masih menjadi hal haram di Indonesia. Bee Gees merasakan fenomena aneh itu saat konser di Medan.

“Aneh, bagaimana mereka dapat mengundang kami sedang mereka sendiri tidak suka rambut gondrong seperti kami?” kata Maurice Gibb, salah satu personel Bee Gees, berkomentar tentang fenomena ganjil itu, seperti dikutip Indonesia Raya edisi 26 September 1973.

Baca juga: Waktu Deep Purple Konser di Senayan

Anomali era Orde Baru dalam budaya pop itu namun terus berjalan beriringan dengan pertumbuhan industri hiburan. Dua tahun berselang dari konser Bee Gees, giliran raksasa rock asal Inggris Deep Purple yang “manggung” di Senayan. Konser band yang dimotori Ritchie Blackmore (gitaris) dan Jon Lord (kibordis) itu dibuka dengan penampilan God Bless. Konser Deep Purple begitu monumental dan tak terlupakan bagi penikmat dan pegiat musik rock di Indonesia, termasuk soal mati listriknya ibukota akibat konser tersebut.

Bukan musik rock yang “urakan” yang dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru. Melainkan, musik pop mendayu-dayu yang dinyanyikan biduanita cantik dan sopan. Pada paruh kedua 1980-an, media massa ramai memberitakan tentang pelarangan musik pop “cengeng” yang dikeluarkan Menteri Penerangan (Menpen) Harmoko.

Penyanyi pop Betaria Sonata mungkin yang paling apes. Kendati dirinya tidak ada kaitannya dengan gerakan politik apapun dan lagunya juga tidak mengandung subversif, dia justru pernah berurusan dengan penguasa gegara hitsnya “Hati Yang Luka”.

“Hati Yang Luka dilempar ke publik pada 11 Januari 1988,” catat Phillips Yampolsky dalam “Hati Yang Luka, an Indonesian Hit” yang dimuat di Jurnal Indonesia edisi April 1989.

Baca juga: Konser Bon Jovi di Ancol Rusuh

Lagu ciptaan Obbie Messakh itu bercerita tentang KDRT. Video klipnya keluar 4 hari setelah perilisan di TVRI. Di dalam video klipnya, air mata Betharia Sonata mengalir ketika menyanyi. Menpen Harmoko sampai mengomentari lagu tak berdosa itu dalam acara PWI.

“Soal lagu Hati Yang Luka yang biasa dibawakan penyanyi Betharia Sonata sambil menangis itu benar-benar mengundang perhatian,” kata Harmoko.

Perhatian yang dimaksud Harmoko bisa ditafsirkan sebagai perhatian daripada Soeharto yang tidak suka lagu tersebut. Semua orang tahu di zaman itu Harmoko bertindak atas petunjuk bapak presiden.

Soeharto sendiri merupakan figur unik. Kerapkali aturannya yang melarang sesuatu justru tak berlaku pada keluarganya. Di masa novel “tetralogi” karya Pramoedya Ananta Toer dilarang, Ibu Negara Tien Soeharto justru menjadi salah satu penggemarnya. Begitu pula dengan larangan lagu pop “cengeng”. Kendati barangkali Soeharto tak suka lagu “Hati Yang Luka”, pada 1970-an, anaknya yang bernama Bambang Trihatmodjo menjadi anggota band The Crabs yang membawakan lagu cengeng “Hilang Permataku” yang dipasarkan di bawah label Remaco.

“Karena dianggap temannya anak Presiden, produksi Remaco di pasar tidak mendapat hambatan," tulis Theodore KS dalam Rock n' Roll: Industri Musik Indonesia dari Analog ke Digital.*

TAG

musik orde baru

ARTIKEL TERKAIT

God Bless di Mata Roy Jeconiah Ray "The Doors" Prajurit Rock n’Roll Aretha Franklin dan Hegemoni Maskulinitas Musik Rock Pendiri Pink Floyd Peduli Palestina Alkisah Bing Slamet Koes Plus dan Mantan Perwira AURI Anak Presiden Main Band Otak Brass The Rollies Di Balik Lagu “Ayah” Di Balik Lagu “Maria”