Masuk Daftar
My Getplus

Minum Spirtus Bersama Perwira Rusia

Liku-liku para sukarelawan Uni Sovyet yang terlibat dalam Operasi Trikora. Tak ada vodka, spirtus pun jadi.

Oleh: Hendi Johari | 04 Jun 2021
ilustrasi: gelas berisi vodka. (pexels.com).

Orang-orang Rusia dikenal sebagai peminum sejati. Salah satu minuman yang menjadi favorit mereka adalah vodka. Itu sejenis minuman keras khas Rusia yang dibuat dari hasil fermentasi kentang dan biji-bijian dengan kadar alkohol sebanyak 40 persen.

Tentara Rusia yang ditempatkan pemerintah Uni Sovyet di Pangkalan Angkatan Laut Dermaga Ujung Surbabaya pada era Operasi Trikora (1961--1962) tak lepas dari kebiasaan tersebut. Laiknya orang-orang Rusia, mereka pun mengkonsumsi vodka dalam keseharian-nya.

“Vodka yang mereka minum, khusus dikirim langsung dari negeri mereka setiap bulannya,” ungkap Kolonel (Purn) F.X. Soeyatno yang pernah bergaul akrab dengan orang-orang Rusia itu.

Advertising
Advertising

Baca juga: 

Sukarelawan Rusia, Vodka dan Spirtus

Namun ada kalanya, kiriman vodka terlambat datang ke Surabaya. Jika itu terjadi, para sukarelawan Uni Sovyet pun akan blingsatan. Mereka akan mencari apapun yang rasa dan sensasinya sama seperti vodka. Salah satu yang kerap dianggap cocok sebagai pengganti vodka adalah cairan spirtus. Cairan kimia itu memang tersedia cukup banyak di kapal-kapal perang sebagai pencuci komponen-komponen senjata.

Tak aneh jika vodka terlambat datang, persedian spirtus di kapal-kapal perang cepat habis. Itu terjadi juga di kapal-kapal selam yang dirawat oleh para anggota Korps Hiu Kencana Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Menurut Laksamana Muda (Purn) I Nyoman Suharta, biasanya diam-diam para sukarelawan Rusia itu akan menuangkan persedian spirtus itu ke sebuah botol tipis.

“Biasanya mereka akan meminum sebagian saat bekerja di kapal. Sisanya mereka sembunyikan di balik baju untuk dinikmati di asrama,” ungkap eks anggota Korps Hiu Kencana itu.

Kalau cairan spirtus sudah banyak berkurang, para anggota Korps Hiu Kencana biasanya akan langsung melaporkan soal tersebut kepada komandan kapal selam. Selanjutnya komandan kapal selam akan meneruskan kepada komandan orang-orang Rusia itu.

“Barulah setelah dilaporkan, pemborosan spirtus tak terjadi lagi,” ungkap Suharta.

Perihal minum spirtus ini, Suharta pernah terpaksa melakukannya. Ceritanya, pada suatu hari dia diundang para perwira Rusia untuk makan malam di asrama mereka. Untuk penghormatan, Suharta pun mengiyakan ajakan tersebut dan mengajak seorang kawan untuk menyertainya.

Sebelum acara makan malam berlangsung, mereka ngobrol-ngobrol di ruang tamu yang terletak di lantai dua asrama. Tetiba tanpa dinyana, seorang perwira Rusia menyodorkan segelas spirtus ke hadapan Suharta dan kawannya.

Tavarish (artinya “teman”, panggilan akrab yang agak formil) Suharta coba tunjukan seberapa jantan perwira Indonesia. Kami ingin tahu, kalian berani minum ini atau tidak,” katanya.

Menurut Suharta, tadinya dia tak ingin melayani ajakan itu. Namun ketika orang-orang Rusia itu terus menantang dengan menyinggung rasa kebangsaannya, darah mudanya tak tahan juga. Tanpa banyak bicara, Suharta lantas mengambil salah satu gelas kecil yang sudah terisi penuh spirtus. Dengan tenang, ditenggaknya cairan kimia itu hingga tandas.

Ya predlagayu tost zanasyu druzhbu!” seru Suharta. Artinya: Mari kita minum untuk persahabatan kita.

Baca juga: 

Tentara Rusia di Angkatan Laut Indonesia

Aksi Suharta diikuti oleh semua, termasuk kawan yang dia ajak. Apakah spirtus yang dia minum itu tidak ada efeknya? Tentu saja ada. Suharta merasakan hawa panas langsung membakar kerongkongannya, meluncur turun ke lambung. Sensasi terbakar itu menjalar dengan cepat melalui sumsum tulang belakang ke ruas tulang leher, lalu ke otak. Beberapa saat, Suharta merasakan tubuhnya seperti diperas. Butiran keringat keluar, seluruh tubuh memanas.

“Namun saya menahan semua itu dan berupaya tetap tenang di depan mereka,” kenang Suharta.

Semua mata para perwira Rusia mengarah kepada Suharta dan kawannya. Setelah ikut minum spirtus juga, mereka lantas bertepuk tangan dan mengajak para perwira itu bersalaman.

Za mir wa wisyem mire! (demi perdamaian dunia)” teriak salah seorang dari mereka sambil mengangkat gelas berisi spirtus.

Kondisi panas yang menghantam tubuh terus dirasakan oleh Suharta selama mereka bercengkrama. Mata serasa berkunang-kunang. Namun setelah dia makan roti campur sup panas penuh daging yang kaya lemak, rasa panas dan pusing itu langsung lenyap. Alih-alih menjadi lesu, justru dia merasakan tubuhnya menjadi lebih segar.

“Ketika saya pulang ke asrama, saya langsung tertidur pulas…” kenang alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 itu.

Baca juga: 

Tentara Rusia di Kapal Selam Indonesia

TAG

operasi trikora alri vodka rusia

ARTIKEL TERKAIT

Strategi Napoleon di Balik Kabut Austerlitz Waktu Punya Tupolev, Angkatan Udara Indonesia Kuat Kisah Pasukan Gabungan AURI-ALRI Menahan Gempuran Belanda Getirnya Tragedi di Stadion Luzhniki Di Balik Warna Merah dan Istilah Kiri Parade Kemenangan Perang di Lapangan Merah Moskva, Kapal Kebanggaan Rusia yang Tinggal Nama Kiprah Putin di KGB Aceh, Turki, dan Rusia Standar Ganda FIFA terhadap Israel dan Rusia?