Masuk Daftar
My Getplus

Teror yang Menghantui Salman Rushdie

Penulis novel Salman Rushdie diserang di New York. Novelnya, Ayat-ayat Setan (1988), telah memicu kecaman sejak pertama kali terbit.

Oleh: Andri Setiawan | 16 Agt 2022
Salman Rushdie, penulis novel kontroversial Ayat-ayat Setan (The Satanic Verses). (Wikimedia Commons).

Salman Rushdie, penulis novel kontroversial Ayat-ayat Setan (The Satanic Verses) diserang saat memberikan kuliah dalam satu acara di New York pada Jumat, 12 Agustus 2022. Mengutip The Guardian, dalam acara festival seni musim panas Chautauqua itu, Rushdie baru saja duduk dan tengah diperkenalkan oleh seorang panelis. Seorang lelaki tiba-tiba naik dan menyerang penulis berusia 75 tahun itu.

Rushdie ditusuk beberapa kali, termasuk satu tusukan mengenai lehernya hingga darah mengalir di lantai. Ia segera dibawa ke rumah sakit menggunakan helikopter. Ia selamat meski harus dipasangi ventilator. Pelakunya berhasil ditangkap.

“Seorang petugas polisi negara bagian di acara tersebut segera menangkap pria itu, yang kemudian diidentifikasi oleh pihak berwenang sebagai Hadi Matar, 24 tahun dari New Jersey,” tulis The Guardian.

Advertising
Advertising

Ini bukan teror pertama bagi Rushdie. Sejak pertama kali Ayat-ayat Setan terbit pada 1988, ia telah memicu kemarahan dunia Islam. Serangkaian kutukan dan ancaman diarahkan kepadanya.

Baca juga: Kitab Para Penyair

Salman Rushdie merupakan penulis Inggris kelahiran Mumbai, India, 19 Juni 1947. Novel keduanya, Midnight’s Children memenangkan Booker Prize pada 1981. Sementara novel keempatnya, Ayat-ayat Setan yang memenangkan Whitbreat Award, menjadikannya semakin terkenal sekaligus kontroversial.

Ayat-ayat Setan adalah novel imajinatif yang terinspirasi kisah “ayat-ayat setan” di mana Nabi Muhammad disebut telah keliru mengira bisikan setan sebagai wahyu. Tak butuh waktu lama novel ini mendapat banyak kecaman.

The Satanic Verse terbit pertama kali pada 1988. (Wikimedia Commons).

Kantor penerbit novelnya, Viking Penguin di New York menerima serangkaian ancaman bom dan teror. Ribuan umat Islam di Inggris berdemonstrasi dan membakar novel Rushdie. Sejumlah toko buku bahkan dibom karena menjual Ayat-ayat Setan.

“Ada banyak ketakutan akan bom, untungnya, tidak pernah ada bom di kantor penerbitnya, meskipun toko buku Cody di Berkeley, California, terkena bom pipa,” tulis Salman Rushdie dalam otobiografinya Joseph Anton: A Memoir.

Sembilan hari sejak terbit di Inggris, Ayat-ayat Setan dilarang di India. Negara-negara lain yang melarangnya seperti Pakistan, Bangladesh, Sudan, Afrika Selatan, Sri Lanka, Kenya, Thailand, Tanzania, Indonesia, Singapura, dan Venezuela.

Baca juga: Sastra yang Dicap Anti-Islam

Pada 1989, Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini mengeluarkan fatwa bahwa novel Ayat-ayat Setan adalah penistaan terhadap Islam. Melalui siaran di Radio Tehran, Khomeini menyerukan bahwa Rushdie layak dibunuh.

“Saya memberi tahu orang-orang muslim yang membanggakan di dunia bahwa penulis buku Ayat-ayat Setan, yang menentang Islam, Nabi dan Al-Qur’an, dan semua orang yang terlibat dalam penerbitannya yang sadar akan isinya dihukum kematian,” pesan Khomeini seperti di kutip dari BBC, 14 Februari 1989.

Rushdie menolak tuduhan penistaan terhadap Islam. Ia menjelaskan bahwa Ayat-ayat Setan mencoba menyelidiki konflik antara sudut pandang agama dan sekuler.

“Saya sangat meragukan Khomeini atau siapa pun di Iran telah membaca buku ini atau apa pun selain kutipan tertentu yang diambil di luar konteks,” kata Rushdie.

Baca juga: Penistaan Agama Pada Masa Lalu

Ancaman tak hanya mengarah pada Rushdie. Penerjemah novelnya juga kena batunya. Ettore Capriolo, penerjemah dalam bahasa Italia terluka parah setelah ditikam di rumahnya di Milan pada Juli 1991. Hitoshi Igarashi, penerjemah dalam bahasa Jepang tewas oleh tikaman pada bulan yang sama.

Penerjemahan dalam bahasa Turki oleh Aziz Nesin telah memicu pembakaran Hotel Madimak yang menewaskan 37 orang pada 1993. Masih di tahun yang sama, Willian Nygard yang menerbitkan Ayat-ayat Setan di Norwegia terluka parah setelah ditembak tiga kali pada Oktober.

Rushdie bersembunyi hingga satu dekade. Rumahnya dilindungi dan membutuhkan penjagaan ketat jika bepergian. Sejak 2000, ia pindah ke Amerika Serikat. Ancaman terhadapnya bukan berarti telah tiada. Sebelum serangan yang terjadi di New York, pada 2012 sebuah yayasan keagamaan di Iran menjanjikan hadiah US$3,3 juta bagi mereka yang bisa membunuh Rushdie.

TAG

salman rushdie sastra

ARTIKEL TERKAIT

Menelusuri Jejak Chairil Anwar di Ibukota Ki Padmasusastra, Sang Penyelamat Sastra Jawa Melihat Kolonialisme Bekerja lewat Teropong Sastra Kegagalan Cinta dalam Kisah Zaman Kuno Bogem Mentah untuk Chairil Anwar John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Ketika Sartre Mengirim Mesin Tik untuk Pram Abdul Muis Wabah Rabies Munculkan Vampir Pram Minta Karyanya Dikembalikan