Masuk Daftar
My Getplus

Serba-serbi di Serambi

Serambi rumah menjadi tempat favorit penduduk Batavia untuk bercengkerama. Di tempat ini pula keributan hingga perkelahian kerap terjadi di antara tetangga dan pasangan suami istri.

Oleh: Amanda Rachmadita | 25 Jul 2023
Sebuah keluarga Belanda bercengkerama dengan teman dan anak-anak di serambi belakang rumah, 26 Desember 1930. (Tropenmuseum).

BERCENGKERAMA di serambi rumah menjadi kegiatan rutin penduduk Batavia pada zaman kolonial Belanda. Kebiasaan ini dilakukan karena kebanyakan rumah penduduk, khususnya orang-orang Eropa, memiliki teras atau serambi.

Di masa-masa awal Batavia berdiri pada abad ke-17, orang-orang Belanda membangun dan menata kota baru tersebut berdasarkan ingatan mereka akan negara asalnya. Tak heran bila sejumlah kanal dibangun di wilayah itu.

Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun menyebut seperti di Belanda, para imigran itu juga ingin tinggal di tepi kanal karena lebih nyaman dan lebih bergengsi. “Perumahannya sangat menyerupai Belanda, bangunannya berlantai satu atau dua dengan dinding samping yang menempel dengan bangunan sebelahnya,” tulis Blackburn.

Advertising
Advertising

Baca juga: Rumah-Rumah Bikinan VOC

Selain itu, orang Eropa juga menyukai area terbuka di depan rumah. Namun, karena tidak ada halaman depan, rumah-rumah orang Eropa memiliki serambi di depannya yang dipisahkan dari trotoar dengan pagar. Menurut Cor Passchier dalam “Arsitektur Kolonial di Indonesia” yang termuat dalam Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia, di sepanjang bagian depan rumah tersebut terdapat semacam panggung kecil untuk keluarga sendiri yang disebut stoep dan memiliki lebar kira-kira satu setengah meter.

Stoep adalah sesuatu yang lazim di negeri Belanda, yang sering dipisahkan dari daerah publik menggunakan pilar-pilar dari batu biru kemudian dihubung-hubungkan dengan rantai dari besi yang dicat,” tulis Passchier.

Stoep yang juga dapat disebut serambi terkadang ditutup dengan atap kedua atau dengan memanjangkan ujung atap utama. Keduanya disangga dengan pilar-pilar kayu. Serambi semacam ini secara arsitektur dipandang sebagai cikal bakal beranda depan yang belakangan khas dijumpai di berbagai rumah Indis pada abad ke-19.

Baca juga: Pamer Kekayaan di Rumah Indische Woonhuis

Di serambi inilah, penduduk Batavia mulai dari orang Eropa, mardijker, hingga penduduk asli, melewatkan waktu senggangnya untuk sekadar duduk-duduk maupun bercengkerama membicarakan berbagai peristiwa hingga menggunjingkan kelakuan orang-orang di sekitarnya. Posisinya yang strategis membuat serambi diibaratkan semacam pos pengawasan kehidupan sosial. Hal ini umumnya terjadi di sepanjang jalan sempit di mana rumah-rumah berhimpitan satu dengan yang lain.

“Emperan yang satu menyambung dengan emperan di sebelahnya sehingga apa yang terjadi di sebuah rumah juga jelas didengar dan diketahui di sepanjang jalan. Apabila di depan sebuah rumah terdengar suara yang tidak lazim, serta merta jendela depan rumah-rumah lain langsung dibuka dan sederatan kepala melongok ke luar, saling bertanya gerangan apa yang terjadi,” tulis Hendrik E. Niemeijer dalam Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII.

Meski serambi dipandang sebagai pusat kehidupan sosial, tempat ini juga merupakan bagian kehidupan pribadi pemilik rumah yang tak boleh diterobos begitu saja. Apabila seorang tetangga melontarkan gurauan atau pernyataan yang menghina, tak jarang yang merasa tersinggung berteriak dari serambinya dan menantang lawan bicaranya itu untuk berkelahi di jalan. Pada masa itu berkelahi di serambi dianggap pelanggaran daripada berkelahi di jalan.

Baca juga: Pernikahan dengan Sarung Tangan

Umpatan dan caci maki pun sering kali terlontar akibat hal-hal sepele, seperti meludah sirih melewati pagar tetangga atau budak dipukul tetangga akibat lupa membersihkan got di depan emperan. “Udara di serambi zaman itu memang sering kental dengan awan emosi yang setiap saat dapat tumpah ruah sebagai badai percekcokan soal pembantu, ulah para budak atau lontaran penghinaan spontan kepada yang kebetulan lewat,” sebut Niemeijer.

Seperti pertikaian antara Catharina de Clerck, yang dikenal sebagai janda Coeymans, dengan Pieter de Kok, pembuat kue pastel yang juga seorang mardijker. Pertikaian berawal ketika budak laki-laki Catharina yang sedang membersihkan saluran air di depan rumah majikannya ditempeleng oleh de Kok. Pertikaian itu semakin besar karena budak-budak de Kok turut membantu dan beberapa budak Catharina ikut adu jotos untuk membela kawannya.

Sementara para budak itu berkelahi, de Kok kian mengobarkan permusuhan dengan memaki Catharina dan putrinya dalam bahasa Portugis. Dalam kasus ini, bukan hanya de Kok yang memiliki reputasi kurang baik di kawasan tersebut, kedua wanita yang menjadi sasaran sumpah serapahnya juga kerap menjadi gunjingan orang-orang di sekitarnya karena di serambi rumah mereka sering terjadi keributan dan perkelahian.

Baca juga: Ambisi Jan Pieterszoon Coen Membangun Koloni di Batavia

Menurut Niemeijer, Pieter de Kok dan Catharina saling memahami batas-batas yang harus diperhatikan. Keduanya hanya saling memaki sementara adu jotos dilakukan para budak mereka. “Mereka paham, kalau hanya mencaci maki, mereka tidak akan sampai diseret ke meja hakim,” ungkap Niemeijer.

Sementara itu, dalam kasus perselisihan antara Nyonya Francina Stil, istri kepala juru mudi di kapal VOC, dengan seorang ahli bedah, Abraham Poele, menunjukkan bahwa konflik bisa muncul dari kelompok sosial yang sama. Francina membawa dua istri kepala juru mudi lain sebagai saksi ketika mengadukan tetangganya, Abraham Poele dan induk semangnya karena dari serambi rumah mereka selama berhari-hari menghina Francina sebagai “binatang betina yang apabila jantannya tak ada di rumah selalu mengundang jantan lain masuk ke dalam rumahnya”.

Segregasi warna kulit yang melahirkan sentimen di kalangan penduduk Batavia juga tak jarang memicu konflik, khususnya di antara para wanita. Beberapa nyonya dari kalangan mardijker, yang berkat menikah dengan warga Eropa dan menjadi anggota gereja telah mencapai kedudukan sosial yang agak tinggi, selalu berusaha menunjukkan bahwa mereka berbeda dari tetangga mereka yang berkulit hitam. Sikap para nyonya itu dipandang negatif oleh wanita lain yang memiliki suami atau ayah Eropa dan tidak pernah menjadi budak.

Baca juga: Flexing Masa VOC di Batavia

Contoh sikap mantan budak naik kelas itu dapat dilihat dari perselisihan antara Messia Gerritsz, budak perempuan yang dibebaskan dan menikah dengan warga Belanda, Theunis Gerritsz, dengan Nyonya Busson dan Nyonya Bollaert yang tinggal di kawasan mardijker. Messia yang merupakan mantan budak Nyonya Bollaert datang berkunjung ke rumah wanita itu. Ia sengaja bertamu ke kalangan bekas majikannya untuk menunjukan bahwa status sosialnya sudah sama dengan mereka. Namun, mantan majikan Messia tak bersedia menerimanya sebagai tetangga sederajat meski ia sudah menikah dan menyandang nama keluarga suaminya. Para nyonya itu tetap memandang rendah Messia dan mencaci makinya, serta memerintahkan para budak mereka untuk menghina wanita itu bila ia melintas di depan rumah.

Perselisihan tak hanya terjadi di antara tetangga. Serambi juga menjadi saksi pertengkaran rumah tangga yang umumnya dipicu rasa cemburu nyonya rumah terhadap suaminya. Misalnya, seorang lelaki berdarah campuran, Hendrick Theunisz memarahi istrinya, Margareta Riebalt, dengan suara nyaring di serambi rumah karena kasus perselingkuhannya diungkit oleh sang istri.

Demikianlah, berbagai peristiwa dan konflik sosial yang terjadi di serambi rumah, seperti gunjingan, pertengkaran rumah tangga hingga fitnah yang berujung keributan, menjadi potret kehidupan masyarakat kolonial.*

TAG

rumah tangga

ARTIKEL TERKAIT

Tur di Kawasan Menteng Pyonsa dan Perlawanan Rakyat Korea Terhadap Penjajahan Jepang Benshi, Suara di Balik Film Bisu Jepang Pesta Seks Tukar Pasangan Tempo Dulu Gara-gara Iklan Pertunangan Palsu Awal Mula Biro Iklan Mencari Pasangan Lewat Koran Pengemis dan Kapten Sanjoto Insiden Menghebohkan di Stasiun Kroya Bersepeda Keliling Dunia