Masuk Daftar
My Getplus

Tokoh yang Menginspirasi Pendirian Boedi Oetomo

Pertemuan Wahidin Soedirohoesodo dengan siswa STOVIA mendorong lahirnya Boedi Oetomo. Kisah itu jadi fragmen dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Oleh: Amanda Rachmadita | 20 Mei 2024
Foto para pendiri organisasi Budi Utomo. (KEMDIKBUD).

“DI sana sudah ada bangsa Asia yang telah berdiri tegak dengan hormatnya, diakui oleh segala bangsa beradab di dunia sebagai sesama tinggi. Bangsa Asia mana mendapat kehormatan sebesar itu kalau tidak Jepang? Kita berada jauh, jauh sekali dari Jepang, tetapi gelombangnya dapat kita rasakan –kita, orang-orang yang mengetahui,” kata seorang pensiunan dokter Jawa saat berbicara di hadapan para siswa sekolah kedokteran pada awal abad ke-20.

Sebagaimana dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Jejak Langkah, salah satu seri dari tetralogi Pulau Buru, pensiunan dokter Jawa bertubuh kecil, kurus, dan mengenakan baju surjan berdestar Yogya itu hadir di sekolah kedokteran untuk memberikan “kuliah” umum yang mendorong lahirnya wawasan kebangsaan di kalangan orang-orang terpelajar. Sosok dokter Jawa itu berdasarkan tokoh nyata, yaitu Wahidin Soedirohoesodo.

Baca juga: Kiprah Dokter di Dunia Pergerakan

Advertising
Advertising

Wahidin Soedirohoesodo lahir di Desa Mlati, Yogyakarta pada 7 Januari 1857 (sumber lain tahun 1852) dan meninggal pada 26 Mei 1917. Ia merupakan saudara sepupu dr. Radjiman Wedyodiningrat yang menjadi ketua BPUPKI tahun 1945.

Seperti halnya Minke, tokoh protagonis dalam tetralogi Pulau Buru, Wahidin juga disiapkan untuk menjadi dokter di Hindia Belanda. Ia masuk Sekolah Dokter Jawa pada 1869. Tashadi dalam biografi Dr. Wahidin Sudirohusodo menyebut bahwa masa studi Sekolah Dokter Jawa mencapai tiga tahun dan bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Melayu. “Wahidin merupakan satu-satunya murid yang sudah lancar berbicara dalam bahasa Belanda,” tulis Tashadi.

Wahidin siswa yang pandai sehingga menyelesaikan pendidikan hanya dalam waktu 22 bulan. Bahkan, ia diangkat menjadi asistent leeraar (setara asisten dosen) di Sekolah Dokter Jawa. Selain mengajar, ia memanfaatkan kedudukannya untuk mendatangi masyarakat kecil. Ia keluar masuk desa dan kampung untuk melihat keadaan rakyat.

“Semakin rapat Dokter Wahidin bergaul dengan rakyat, semakin sadarlah ia akan penderitaan-penderitaan yang dialami oleh rakyat pada masa itu,” tulis Tashadi. Oleh karena itu, setelah beberapa tahun menjadi asisten guru, Wahidin memutuskan berhenti dan kembali ke Yogyakarta untuk membantu masyarakat.

Baca juga: Boedi Oetomo Tonggak Kebangkitan Bangsa

Di samping bekerja sebagai pegawai kesehatan pemerintah kolonial, Wahidin juga kerap membantu orang-orang bahkan tak jarang secara cuma-cuma. Ia merawat pasien kurang mampu dengan baik tanpa memungut biaya. Sering kali justru ia memberikan ongkos kepada pasiennya untuk naik delman.

Perhatian Wahidin tak hanya pada kesehatan masyarakat. Ia juga memiliki kepedulian yang besar pada pendidikan. Kesadaran memajukan pendidikan rakyat kecil sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku Sekolah Kelas Dua. Ia mengajak dan menceritakan apa yang didapatnya dari sekolah sehingga kawan-kawannya tertarik masuk sekolah.

Selain itu, pada akhir abad ke-19, Wahidin juga menerbitkan majalah Retno Dumilah yang berarti cahaya atau penerangan. Majalah ini terbit dua kali setiap minggu (Selasa dan Jumat) dalam bahasa Jawa dan Melayu. Tak hanya di kalangan bumiputra, majalah ini juga menarik pembaca Eropa. “Tidak hanya di kota-kota besar di Jawa, tetapi di kota-kota di luar Jawa juga banyak para pembaca dan langganannya. Ini terbukti bahwa di Eropa pada Januari 1896 sudah ada agen Retno Dumilah di Elsbach 6 Rue St. Quentin, Paris,” tulis Tashadi.

Baca juga: Memvisualisasikan Jejak Boedi Oetomo

Di samping menerbitkan Retno Dumilah, Wahidin juga menerbitkan majalah Guru Desa untuk membantu masyarakat mendapat informasi berbagai hal, mulai dari soal pertanian, kesehatan, dan berbagai informasi lainnya.

Seiring bertambahnya usia, Wahidin menyadari upayanya masih belum maksimal. Oleh karena itu, ia memutuskan menggunakan uang simpanannya untuk berkeliling Jawa. Tujuannya untuk menebarkan gagasan memajukan pendidikan dan kebangsaan.

Menurut sejarawan Asvi Warman Adam dalam Menguak Misteri Sejarah, peristiwa itu terjadi tahun 1907. Setelah pensiun sebagai dokter pemerintah, Wahidin yang telah berusia 50 tahun melakukan perjalanan keliling Jawa untuk mempropagandakan studiefonds bagi pemuda Jawa yang ingin melanjutkan sekolah.

Baca juga: Benarkah Boedi Oetomo Anti-Islam?

Salah satu kota yang dikunjungi Wahidin adalah Batavia. Ia bertemu dengan Soetomo, pemuda 19 tahun yang tengah menempuh pendidikan sebagai calon dokter di STOVIA (School tot Opleidiving van Inlandse Artsen).

“Pada akhir tahun 1907, Dokter Wahidin singgah di sekolahnya dulu, Sekolah Dokter Jawa. Ia ingin beristirahat sejenak dalam perjalanan kelilingnya. Sekolah itu kini sudah berganti nama menjadi STOVIA. Tidak ada tujuan khusus di sana kecuali beristirahat. Namun, kabar kedatangan Dokter Wahidin diketahui oleh Soetomo dan Soeradji yang kemudian mengundang pensiunan dokter Jawa itu hadir dalam sebuah pertemuan. Mereka ingin mendengar cerita perjalanan Dokter Wahidin, juga mengetahui pikiran-pikirannya secara langsung,” tulis Tashadi.

Momen pertemuan Wahidin dengan siswa STOVIA dikisahkan kembali oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Jejak Langkah sebagai gambaran lahirnya kesadaran wawasan kebangsaan dan nasionalisme di kalangan bumiputra terpelajar.

Baca juga: Boedi Oetomo di Bulan Puasa

“Lebih dari tiga puluh tahun ia telah berpraktek sebagai dokter Jawa... Pada umum itu orang mulai menengok-nengok ke belakang dan bertanya pada diri sendiri: apakah telah kau berikan pada kehidupan ini, hei, kau manusia terpelajar? Obat untuk si sakit saja, ataukah juga obat untuk kehidupan yang sakit?... Bagi orang inteligen, orang cerdas –bukan hanya berilmu dan berpengatahuan– tak mungkin terlepas perhatiannya dari masalah-masalah kehidupan, apalagi kehidupan yang vital seperti kebahagiaan, kesengsaraan, kesejahteraan, keberuntungan, penderitaan, cinta dan kasih sayang, pengabdian, kebenaran, keadilan, kekuatan... Menyedihkan sekiranya di antara parasiswa sebagai terpelajar di puncak pribumi, merasa tak ada sesuatu yang patut dibela pada pribumi sebangsa sendiri. Jadi dokter, jadi pelayan umum, pengabdi manusia saja, tidak cukup! Ia berseru agar dimulai mendirikan organisasi sosial, memajukan anak bangsa, mempersiapkan mereka memasuki jaman modern, jaman kemajuan, jamannya sendiri,” tulis Pram.

Pertemuan dengan Wahidin begitu membekas bagi Soetomo. Oleh karena itu, setahun kemudian, pada 20 Mei 1908 Soetomo mendirikan organisasi Boedi Oetomo di gedung STOVIA. Peristiwa bersejarah itu kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Menurut Asvi, selain menjadi wadah bagi para pemuda bumiputra dalam menyebarkan semangat kebangsaan dan nasionalisme, sejak tahun 1913 Boedi Oetomo juga berupaya merealisasikan ide Wahidin tentang beasiswa untuk para pemuda bumiputra yang dinamakan darmawara.*

TAG

boedi oetomo pramoedya ananta toer

ARTIKEL TERKAIT

Bung Karno di Rio de Janeiro Kisah Seniman Yahudi Pura-pura Mati demi Menghindari Nazi Skandal Perselingkuhan Propagandis Nazi Joseph Goebbels Bung Karno, Presiden Asia Pertama ke Amerika Latin Kisah Cinta Aktor Jerman di Bawah Cengkeraman Nazi Kisah Cinta Tragis di Masa Pendudukan Nazi Ada Jalan Sukarno di Tunisia Ketika Orang Jawa Mogok Kerja di Belanda Orang Hulu Kuasai Kota Palembang Kisah Penghadang Tank di Tiananmen dari Balik Lensa