Masuk Daftar
My Getplus

Kisah Kurir “Cilik” Sofyan Ponda

Beberapa kali ditangkap, Sofyan Ponda sebagai kurir tak pernah takut ditangkap tentara Belanda. Dia justru takut ditangkap tentara Indonesia.

Oleh: M.F. Mukthi | 31 Mei 2024
Sofyan Ponda usai gerilya, 1949. (Repro Sofyan Ponda: Kisah Pendiri Hotel-Hotel Kecil).

PIDATO Bung Karno memang memukau. Siapapun yang mendengarnya, akan terpikat. Terlebih ketika pidato itu dilkumandangkan saat Perang Kemerdekaan. Spirit di dada seolah bertambah dengan sendirinya akibat pidato si Bung.

Itulah yang dirasakan Sofyan Ponda, pemuda asal Sumatra Barat yang kelak menjadi pengusaha hotel dan hiburan nasional.

Usai Agresi Militer Belanda pada 1947, tanpa dinyana penduduk setempat Bung Karno berkunjung ke Sumatra Barat. Tentu ia berpidato di sana. Salah satunya di Lapangan Atas Ngarai Bukittinggi.

Advertising
Advertising

Rakyat pun berbondong-bondong datang ke lokasi untuk mendengarkan pidato Bung Karno. Sofyan tak terkecuali.

“Aku sudah mencari tempat di muka. Aku duduk bersila seakan-akan berhadapan dengan beliau,” ujar Sofyan dalam otobiografinya, Sofyan Ponda: Kisah Pendiri Hotel-Hotel Kecil.

Baca juga: Repotnya Menyusun Pidato Sukarno

Dalam pidato itu, Bung Karno menguraikan tentang kondisi bangsa Indonesia yang tengah berada di tubir jurang akibat kolonialisme Belanda yang datang kembali. Selain itu, Bung Karno juga menyerukan sikap yang mesti diambil bangsa Indonesia dengan semboyan terkenal “Merdeka atau mati”.

“Pidato beliau yang berkobar-kobar telah membakar semangat pada usiaku yang 17 tahun itu sebagaimana juga membakar semangat teman-teman,” kata Sofyan.

Usai pidato itu, banyak kawan Sofyan yang “mempersembahkan diri” mereka untuk negeri dengan memasuki badan perjuangan-badan perjuangan. Sofyan yang masih berdarah muda tentu tak ingin kalah.

“Akupun tak mau kalah dengan teman-teman sebaya. Aku menjadi anggota TP (Tentara Pelajar). Tentu aku ikut latihan baris berbaris, latihan merangkak, mengokang senapan dan menembak yang picik waktu itu,” sambungnya.

Baca juga: Sekolah Masa Revolusi

Sofyan kemudian resmi menjadi tentara dengan kesatuan TP. Pasukannya menginduk pada pasukan Letkol Ismael Lengah.

 

Ismael Lengah merupakan satu dari sedikit perwira Gyugun asal Minangkabau. Ia sejak awal aktif dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Maka begitu proklamasi kemerdekaan terdengar di kampung halamannya, ia tak tinggal diam. Ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR).

“Setelah Ismael Lengah meninggalkan Guguak Randah, kepadanya ditawarkan jabatan komandan resimen di Lubuak Aluang. Tugas ini diterima Ismael Lengah dengan satu syarat bahwa ia diizinkan mendirikan Sekolah Opsir, suatu hal yang sudah lama diinginkannya. Syarat itu diterima dan sejak itu ia bolak-balik antara Lubuak Aluang dan Bukittinggi di mana sekolah itu berada,” kata buku Profil 200 Tokoh Aktivis & Pemuka Masyarakat Minang.

Baca juga: Sehimpun Riwayat Giyugun

Dengan bermodalkan latihan teknik dasar kemiliteran di TP, Sofyan ikut bergerilya melawan tentara Belanda setelah Belanda menyerbu Bukittinggi dalam agresi kedua. Keluar-masuk hutan ataupun mendengar rentetan tembakan pasukan Belanda menjadi rutinitasnya.

Dalam momen itu, Sofyan mendapat pelatihan khusus. Dia tak tahu tujuan latihan itu sampai suatu hari dirinya dipanggil Ismael Lengah. Kepadanya, sang komandan memberikan tugas khusus: menjadi kurir.

“Mengapa sang kolonel memilih diriku? Lama-lama aku renungi, pilihan baliau agaknya tepat. Bukankah tubuhku kecil sekalipun usiaku sudah 18 tahun? Tubuhku tak beda dengan tubuh anak kecil yang masih suka bermain-main. Ini menguntungkan juga. Aku dianggap anak-anak, tak memerlukan perhatian orang di mana pun aku berada. Selain itu juga aku diremehkan siapapun, termasuk tentara Belanda. Selain itu, alasan lainnya mengapa Kolonel Ismail Lengah memilih diriku untuk dijadikan kurir, karena aku anak pasar. Karena punya pergaulan luas tanpa mengenal suku atau bangsa. Bahkan intelijen Belanda pun tidak akan segera mencurigaiku, karena pergaulanku yang luas,” ujar Sofyan.

Baca juga: Peran Kurir dalam Perjuangan Kemerdekaan

Bermodalkan sepeda Jepang yang dimilikinya, Sofyan enjoy menjalani perannya sebagai kurir. Bukan hanya Bukittinggi, daerah-daerah Padangpanjang, Singkarak, hingga Sawahlunto dijelajahinya. Surat-surat penting dari markas perjuangan di pedalaman untuk pemerintah di Bukittinggi acapkali disembunyikannya di bawah sadel. Tak ada yang mencurigainya lantaran dia seperti bocah yang sedang keranjingan bermain sepeda.

Namun, tetap saja ada kendala dalam sebuah kehidupan. Beberapa kali tentara Belanda menangkapnya. “Apakah kamu ekstremist?” selalu menjadi pertanyaan pembuka yang dilontarkan serdadu Belanda padanya.

 

Sofyan selalu punya trik untuk mengatasi hal itu. Selain tak boleh menunjukkan rasa takut, trik Sofyan untuk mengelabui tentara Belanda adalah dengan berlagak seperti anak-anak. Dengan begitu, tentara Belanda selalu terkelabui dan melepaskannya. Sakit yang diterimanya paling-paling hanya cemoohan, “Kamoe Melayoe kopi daoen.”

Namun, tidak demikian bila yang menangkap adalah tentara Indonesia sendiri. Sofyan selalu mengkhawatirkan hal itu terjadi pada dirinya. Sebab, di masa yang masih tegang dengan kondisi badan perjuangan Indonesia belum satu komando itu, kecurigaan terjadi di mana-mana dan bisa menyasar siapapun. Saling curiga sesama pejuang, bahkan saling tangkap terjadi di mana-mana.

Baca juga: Kisah Bocah Pembawa Peluru

Benar saja, kekhawatiran Sofyan akhirnya menjadi kenyataan pada suatu hari ketika dirinya sedang melintas di daerah perbatasan RI-Belanda menggunakan sepedanya. Tentara republik yang menjaga wilayah Indonesia mencurigainya hingga memerintahkannya berhenti. Setelah Sofyan tidak bisa menunjukkan surat jalan yang diminta, mereka kian curiga. “Kamu ini NICA ya?” tanya mereka.

Sofyan yang bingung tapi berusaha untuk tak menunjukkan kepanikan pun mencari cara. Dia lalu menjawab pertanyaan itu dengan meminta mereka untuk menanyakan langsung soal dirinya ke induk pasukan. Permintaan itu dituriti mereka.

Tak lama kemudian, mereka mendapat informasi tentang Sofyan yang benar seorang tentara republik. Mereka langsung meminta maaf. Sofyan pun bisa melanjutkan perjalanan.

“Aku lebih takut ditangkap oleh Tentara Republik karena jika sudah dituduh NICA serta terbukti, aku bisa di-‘dabiah’, yaitu disembelih,” aku Sofyan.*

TAG

perang kemerdekaan anak anak sukarno

ARTIKEL TERKAIT

Gambir Berdarah dan Kudatuli sebagai Tonggak Awal Reformasi Ratna Assan, Gadis Cilik Penyambut Sukarno di Amerika Guru Besar yang Disingkirkan Bung Besar Propaganda Anak di Masa Kolonial Akhir Hidup Sukarno Sesaat Setelah Bung Karno Wafat Bung Karno di Negeri Tango Bung Karno Meninjau Ibukota Brasilia Bung Karno di Rio de Janeiro Bung Karno, Presiden Asia Pertama ke Amerika Latin