Masuk Daftar
My Getplus

Repotnya Menyusun Pidato Sukarno

Ketelitian Bung Karno dalam merancang naskah pidato kenegaraan mungkin tak akan tertandingi oleh presiden-presiden Indonesia sesudahnya.

Oleh: Martin Sitompul | 17 Agt 2021
Presiden Sukarno di ruangan kerjanya di Istana Merdeka, 1950. Sumber: IPPHOS.

Setiap memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia,  sudah kewajiban bagi Bung Karno untuk menyampaikan pidato kenegaraan. Menjelang 17 Agustus, kesibukan selalu terjadi di ruang tengah Istana Merdeka. Di tempat itulah Bung Karno biasa menyusun konsep pidatonya.

Ketelitian Sukarno dalam menyusun pidato kenegaraan diungkapkan oleh putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra. Bung Karno, menurut Guntur dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku, selalu mendiskusikan tema pidatonya terlebih dahulu dengan orang-orang penting seperti para menteri dan tokoh-tokoh masyarakat. Setelah itu, Sukarno mengumpulkan bahan-bahan pendukung melalui literatur, suratkabar, majalah, hingga berita dan laporan dari luar negeri.

Kebiasaan lain Sukarno dalam menyusun teks pidatonya adalah penggunaan pulpen kelas atas merk Parker dengan tinta warna biru merek Quink. Penulisan dilakukan di atas kertas kepresidenan ukuran folio. Setelah selesai ditulis tangan, naskah pidato itu kemudian diketik sebagai konsep. Sukarno kerap kali mengutip pemikiran dari tokoh-tokoh besar maupun istilah asing yang semakin menambah bobot pidatonya.  

Advertising
Advertising

Baca juga: 

Gila Baca Pendiri Bangsa

Guntur dalam memoarnya mengisahkan pengalaman keterlibatannya dirinya dalam penyusunan teks pidato kenegaraan Sukarno. Entah tahun berapa persisnya, yang jelas bulan Agustus antara tahun 1955—1959. Waktu itu Guntur yang beranjak remaja, sepulang sekolah mendapati sang ayah tengah sibuk menulis naskah pidato. Supaya tidak mengganggu, Guntur masuk mengendap-endap menuju kamarnya. Sukarno ternyata menyadari kehadiran Guntur yang melangkah. Tetiba Sukarno memerintahkan Guntur untuk mengambil tinta di sebelah tempat penyimpanan tongkat komando yang ada di kamar Sukarno.

“Ini Pak tintanya,” kata Guntur.

“Kau sudah makan,” tanya Bung Karno.

“Belum. Bapak sudah makan belum?” Guntur balik nanya.

“Sebentar lagi. Jangan makan dulu. Bantu dulu Bapak,” pinta Sukarno.

“Ya Pak,” jawab Guntur, “Belum selesai nulisnya, Pak?”

“Belum! Heh, kau jangan jauh-jauh dari Bapak. Kalau-kalau aku perlu kau ambilkan buku-buku.” Sukarno berpesan.

Baca juga: 

Bung Karno dan Buku

Di tengah perutnya yang sudah keroncongan, Guntur siaga di kursi dekat pintu keluar ke ruang tengah, tempat Bung Karno menulis. Dari situ, tidak jauh dengan beranda depan yang tidak lain ruang pribadi Sukarno yang difungsikannya sebagai perpustakaan. Di dalam perpustakaan tersebut, terdapat koleksi buku Sukarno sejak tahun 1919 meliputi beragam tema. Mulai dari politik, ekonomi, filsafat, kebudayaan, sosiologi, agama, dan sebagainya. Tidak lama kemudian, terdengar suara menggelegar memanggil Guntur yang akrab dipanggil Totok itu.

“Tok!! Bawa kemari Declaration of Independent dari Thomas Jefferson,” perintah Sukarno. Thomas Jefferson ialah presiden Amerika Serikat ketiga sekaligus penyusun Konstitusi Amerika. Buru-buru Guntur beranjak ke perpustakaan mengambil buku yang diminta. Setelah buku diserahkan Guntur duduk kembali ke tempat semula.

“Toook!! Ambilkan bukunya Abraham Lincoln,” minta Bung Karno lagi. Abraham Lincoln ialah presiden Amerika Serikat ke-16 yang menentang perbudakan di Amerika. Guntur menjalankan tugasnya.

Baca juga: 

Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Buku

“Toook!!” Bawa kemari bukunya Vivekananda,” perintah selanjutnya.  Swami Vivekananda ialah seorang ahli filsafat India yang menjiwai gerakan nasionalisme India. Tanpa banyak cakap, Guntur melangkah ke perpustakaan mengambil buku dan menyerahkannya.

“Kembalikan buku ini! Bawa kemari buku Nehru dan Karl Kautsky,” kata Sukarno. Pandit Jawaharlal Nehru adalah pemimpin nasionalis India sedangkan Karl Johann Kautsky filsuf beraliran Marxis dari Jerman. Guntur lagi-lagi kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku tersebut.   

Masih belum cukup, Sukarno kemudian memanggil Guntur lagi. Dimintanya buku karya Lothrop Stoddard. Stoddard adalah seorang orientalis terkemuka penulis buku The Rising Tide of Color yang dialihbahasakan menjadi Pasang Surut Kulit Berwarna. Untuk kesekian kalinya Guntur menjadi asisten ayahnya.

Baca juga: 

Repotnya Membawa Buku Bung Hatta

Sukarno melanjutkan kembali menulis teks pidatonya. Tidak berapa lama kemudian, Sukarno kembali memanggil Guntur. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Rupanya Guntur tertidur karena kecapaian bolak-balik dari perpustakaan ke ruangan tengah Istana Merdeka.  

“Toook!”

“Took!”

“Toook, Toook, Toook!”

“Ayo bangun,” ujar Sukarno.

“Haah…eh… a, a, apa Pak??” jawab Guntur yang mendadak terjaga dari tidurnya, “Bukunya Karl Marx ya Pak?” katanya lagi seraya mengusap-usap mata.

“Husy! Kau ngelindur! Ayo temani bapak makan”

Baca juga: 

Pidato Sukarno Menuju Memori Dunia

Guntur pun bergegas mengikuti ayahnya yang presiden RI itu ke ruangan makan. Perutnya sudah kelaparan dari tadi. Menurut Guntur, Sukarno selalu dibantu oleh sebuah tim yang bekerja 24 jam tanpa berhenti dalam penyusunan naskah pidatonya. Terdiri dari seorang Liaison Officer (pegawai penghubung) yang membawahkan 2 sampai 3 orang pengetik cepat dari Sekretariat Negara.

“Kalau saat penulisan dimulai maka tidak seorangpun boleh mengganggu Bapak mulai dari pagi sampai pagi lagi,” kenang Guntur.  

Kerepotan dalam menysusun pidato Sukarno juga diakui oleh Molly Bondan. Pada 1960-an, Molly yang berkewarganegaraan Australia itu bertugas sebagai penyusun pidato bahasa Inggris Presiden Sukarno. Menurut Molly cara Bung Karno berpidato bagaikan seorang dalang yang bercerita. Sukarno gemar melakukan pengulangan kata sebagai upaya untuk lebih menjelaskan, seolah-olah dirinya secara pribadi berbicara kepada hadirin. Selingan humor, kutipan kalimat dan juga sarat lukisan suasana berwarna-warni. Begitu dalam berpidato, demikian pula keadaannya kalau Bung Karno menulis.

Baca juga: 

Di Balik Pidato Presiden Sukarno

“Menyadari keadaan ini dan juga untuk menjaga agar nuansa terjemahan bahasa Inggrisnya tetap sepadan, Molly terus terang mengaku seringkali sengaja agak mengorbankan akurasi pidato Bung Karno, tanpa harus mengurangi maknanya” seperti tersua dalam Kisah Istimewa Bung Karno yang disusun Hero Triatmono.

Kendati demikian, Molly menegaskan, Bung Karno sangat terampil dalam merumuskan pemikiran serta menyampaikan gagasan. Semua pidatonya termasuk pidato tahunan setiap tanggal 17 Agustus selalu diperbincangkan dengan semua anggota kabinetnya. Ide dasarnya tentu datang dari Bung Karno sendiri. Dengan persiapan yang teliti dan seksama ditambah dengan kecakapan berorasi, pidato kenegaraan Sukarno selalu ditunggu-tunggu bahkan menjadi daya tarik bagi rakyat yang mendengarnya.

 

 

TAG

sukarno buku pidato

ARTIKEL TERKAIT

Rencana Menghabisi Sukarno di Berastagi Melawan Sumber Bermasalah Supersemar Supersamar Yang Tersisa dari Saksi Bisu Romusha di Bayah Kisah Polisi Kombatan di Balik Panggung Sejarah Kemaritiman Era Sukarno Obrolan Tak Nyambung Sukarno dengan Eisenhower D.I. Pandjaitan Dimarahi Bung Karno Anak Presiden Main Band Pengawal-pengawal Terakhir Sukarno*