top of page

Kegagalan Slamet Riyadi di Bulan Ramadan

Slamet Riyadi menyerang asrama militer Belanda di bulan puasa. Gagal dan mengakibatkan banyak korban karena pasukan Soenitioso dan Soeharto tidak muncul.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 16 Apr 2021
  • 3 menit membaca

Pada Maret 1946, Mayor Slamet Riyadi, komandan Batalion II Resimen 26 Divisi X, mendapat tugas di front selatan Semarang, yaitu di Srondol. Kekuatannya hampir satu batalion (Kompi I, III, dan IV), sedangkan Kompi II bertugas di Padalarang, Jawa Barat. Tiga batalion dikerahkan untuk menahan gerakan pasukan Belanda dengan garis pertahanan membentang dari Srondol ke arah timur sampai di Mranggen.


Laporan intelijen menyebutkan dalam mempertahankan Semarang sebagian besar pasukan Belanda tinggal di asrama Jatingaleh. Asrama militer bekas pasukan Jepang ini dijadikan pusat pertahanan Belanda di Jawa Tengah, sehingga dihuni oleh pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri, lengkap dengan kendaraan lapis baja.


“Posisi strategis Jatingaleh agaknya menggoda Mayor Slamet Riyadi untuk mencoba menghancurkan asrama militer tersebut,” tulis Julius Pour dalam biografi Slamet Riyadi, Dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS.


Slamet Riyadi mengajak rekannya sesama anggota Resimen 26, yaitu Batalion Soenitioso dan Batalion Soeharto Goegoet. Mereka sepakat membagi tugas penyerangan. Pasukan Soenitioso dan Soeharto menyerang dari arah selatan sebagai serangan pancingan (afleidings actie). Sedangkan pasukan Slamet Riyadi dengan kekuatan Kompi Suradji dan Kompi Sadono menyerang dari arah timur masuk ke asrama Jatingaleh.


Serangan pancingan tidak perlu besar, tapi cukup untuk menyibukkan musuh agar sulit konsentrasi menghadapi serangan Slamet Riyadi.


“Peristiwa penyerangan ke tangsi Jatingaleh terjadi pada 8 Agustus 1946 atau bertepatan dengan tanggal 9 bulan puasa. Ini merupakan gagasan Mayor Slamet Riyadi untuk memperingati ulang tahun pertama Republik Indonesia. Tanggal 17 Agustus 1946 sebagai ulang tahun pertama Republik Indonesia harus diperingati secara militer, bukan dengan penaikan bendera dan berbaris, tetapi dengan menggempur Belanda,” tulis Keluarga Besar SA/CSA dalam Mengenang Ignatius Slamet Riyadi, Brigadir Jenderal (anumerta).


Tiba saatnya melakukan serangan pada dini hari tanggal 8 Agustus 1946. Slamet Riyadi dan pasukannya bergerak dari arah timur mendekati pagar asrama. Dengan tiga buah tang, mereka membuat dua lubang pada pagar kawat yang hanya dapat dilewati satu orang.


Slamet Riyadi menunggu serangan pancingan, namun pasukan Soenitioso dan Soeharto belum juga muncul. Setelah ditunggu beberapa waktu tetap tidak ada tanda-tanda serangan pancingan datang dari arah selatan.


Afleidings acties (serangan pancingan) yang telah disepakati bersama ternyata gagal muncul justru pada saat kritis,” tulis Keluarga Besar SA/CSA.


Letnan Kolonel Slamet Riyadi menandatangani serah terima kekuasaan militer daerah Solo dari Belanda yang diwakili Kolonel J.H.M.U.L.E. van Ohl pada 12 November 1949. (Wikimedia Commons/Arsip Nasional Belanda).
Letnan Kolonel Slamet Riyadi menandatangani serah terima kekuasaan militer daerah Solo dari Belanda yang diwakili Kolonel J.H.M.U.L.E. van Ohl pada 12 November 1949. (Wikimedia Commons/Arsip Nasional Belanda).

Slamet Riyadi pun memutuskan tetap menyerang asrama meskipun tanpa serangan pancingan. “Ketika sebagian anak buah Slamet Riyadi sudah berhasil masuk ke halaman asrama, tiba-tiba menyala lampu sorot. Sinarnya terang benderang, membikin suasana di sekitar pagar yang sudah bobol bagaikan tengah hari,” tulis Julius Pour.


Sorotan lampu itu diikuti rentetan tembakan senjata otomatis dan mortir ke arah pasukan Slamet Riyadi, baik yang telah masuk ke halaman asrama maupun yang masih bergerombol untuk melewati lubang-lubang pagar kawat.


Pasukan yang berhasil masuk lewat pagar kawat dan berada di halaman asrama sebanyak 52 orang. Yang masih berada di luar pagar jumlahnya kurang lebih sama.


Pasukan yang sudah berada di halaman asramasegera mengalihkan penyerangannya, tidak lagi kepada para penghuni gedung, tetapi ke arah lampu-lampu sorot.


Dua buah lampu besar yang bersifat stasioner dapat dilumpuhkan dan satu unit senapan mesin dapat dibungkam. Kesempatan ini dipergunakan untuk meloloskan diri serta untuk mengungsikan korban-korban ke tempat-tempat yang lebih aman,” tulis Keluarga Besar SA/CSA.


Slamet Riyadi menyadari berada dalam keadaan gawat. Rencana serangannya telah gagal. Bila terlambat menarik pasukan akan terjebak di dalam asrama. Dia pun segera memerintahkan pasukannya mundur.


Slamet Riyadikehilangan 57 orang atau sekitar separuh pasukannya: 27 orang gugur di dalam asrama, 10 orang gugur di luar asrama termasuk Komandan Kompi Kapten Sadono, 9 orang ditawan,dan 1 orang luka-luka.


Setelah penyerahan kedaulatan pada Desember 1949, tentara Belanda menyerahkan 8 orang tawanan: 3 orang dalam keadaan sehat dan tidak invalid (cacat),2 orang kehilangan kedua kakinya, 1 orang kehilangan satu kakinya, 2 orang kehilangan kedua lengannya, dan 1 orang tidak diketahui atau missing in action (hilang dalam pertempuran).


Menurut Julius Pour, kegagalan dalam aksi penyusupan ke asrama Jatingaleh sangat memukul Slamet Riyadi. Meskipun demikian, dia tidak pernah mempersoalkan mengapa dua batalion rekannya, yang seharusnya mengawali serangan pancingan tidak muncul.


“Peristiwa Jatingaleh merupakan tragedi besar bagi Slamet Riyadi dan Batalion II. Namun, dari pengalaman itu pahlawan kita menjadi lebih bijak di samping lebih pandai berperang. Sayang, kenekatannya pantang reda. Rupanya dia memang ditakdirkan untuk mati dalam pertempuran, atau menurut orang Jepang ‘pecah sebagai ratna’,” tulis Keluarga Besar SA/CSA.


Letnan Kolonel Slamet Riyadi gugur pada 4 November 1950 ketika memimpin operasi menumpas Republik Maluku Selatan oleh tembakan sniper di depan Fort Victoria, Ambon, Maluku.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
transparant.png
bottom of page