- 13 Apr 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 11 Jul
HARI itu, Minggu, 19 Juli 1947, memasuki awal puasa Ramadan. Wali Kota Padang Bagindo Aziz Chan dan istri, Zaura Usman, dalam perjalanan menuju Padang Panjang. Sekitar pukul enam sore, mereka disetop tentara Belanda di jembatan Ulak Karang.
Komandan tentara Belanda, Letnan Kolonel J.C.C. van Erp memberi tahu Aziz Chan bahwa ada lagi aksi ekstremis, sebutan pihak Belanda kepada pejuang Indonesia, yang melakukan kekacauan di wilayah Belanda. Dia mengajak Aziz Chan untuk melihat tempat kejadian. Aziz Chan lalu naik mobil tentara Belanda itu menuju ke Lapai, Padang Luar Kota. Itulah hari terakhir bagi Aziz Chan.
Tentara Belanda kemudian memberi tahu istrinya bahwa Aziz Chan ditembak ekstremis di Lapai. “Ketika Zaura Usman menjenguk suaminya di RST (Rumah Sakit Tentara) Ganting, ternyata dia sudah meninggal dengan kepalanya rusak,” kata Joeir Moehamad dalam Memoar Seorang Sosialis.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















