top of page

Perang Banten-Cirebon di Akhir Ramadan

Cirebon membujuk Banten untuk tunduk pada Mataram. Banten bantai Cirebon.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi perang di laut. (alternathistory.com).

  • 11 Jun 2019
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 11 Jul

BANTEN dan Mataram, sama-sama kerajaan Islam, namun bermusuhan. Banten menolak tunduk kepada Mataram. Untuk mendesak Banten, Mataram menggunakan kaki tangannya: Cirebon. Cirebon pun sampai berperang dengan Banten.


Dua utusan dari Cirebon, Jiwasraya dan Nalawangsa, datang ke Banten. Mereka gagal membujuk Sultan Banten untuk mengakui kekuasaan Mataram. Utusan berikutnya adalah seorang sentana (keluarga raja), yaitu Pangeran Martasari, dan putranya, berserta Tumenggung Wiratantaha.


Martasari dijamu dengan meriah oleh Pangeran Adipati, putra Sultan Abulmaali. Namun, dia gagal membujuk Sultan Banten, Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1651), untuk pergi bersamanya menghadap Sultan Mataram.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo menjadi menteri luar negeri pertama tetapi tidak berlangsung lama. Setelah berganti pemerintahan, Subardjo hidup dari penjara ke penjara semasa revolusi.
bg-gray.jpg
Dari mimpi didatangi roh raja Klungklung hingga “janjian” dengan Bung Hatta enggan dimakamkan di TMP Kalibata. The untold story Ahmad Subardjo.
transparant.png
bottom of page