Kertanagara Melawan Khubilai Khan

Merasa diri kuat, Kertanagara berani melawan Khubilai Khan. Ekspedisi Mongol untuk menghukum raja Singhasari itu justru berakibat tak terduga.

1519381935000
  • BAGIKAN
Kertanagara Melawan Khubilai Khan
Arca Camundi yang di baliknya terpahat prasasti berangka tahun 1214 Saka (1292 M).

MONGOL kian mendesak. Penaklukan Dinasti Song pada 1279 oleh tentara Mongol atas perintah Khubilai Khan membuat seluruh Tiongkok tunduk di bawah Dinasti Yuan. Berikutnya giliran wilayah Asia Tenggara yang diincar. Birma, Kamboja, Champa diserbu agar mau mengakui kekuasaan Mongol.

Jawa pun tak luput dari incaran Mongol. Kertanegara, raja Singhasari yang menyadari kondisi itu, mempersiapkan diri demi membendung pengaruh Khubilai Khan.

Beberapa kali Khubilai Khan mengirim utusan ke Jawa, pada 1280, 1281, dan 1286. Dia menuntut Kertanagara mengakui kekuasaannya dengan mengirimkan anggota keluarga Singhasari ke istananya di Beijing. Namun, Kertanagara justru merusak wajah Meng Qi, utusan Mongol terakhir pada 1289, sebagai wujud pernolakan.

Mengapa Kertanagara berani melawan Khubilai Khan?

“Kertanegara merasa dirinya cukup kuat dan cukup jauh dari China untuk dapat bertahan terhadap permintaan Mongol,” tulis arkeolog George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu.

Keraguan pun muncul, bahwa Kertanagara sebenarnya tak tahu risiko perbuatannya. Dia tak sadar kekuatan Mongol waktu itu. Adalah ahli bahasa Jawa C.C. Berg dan filolog Stuart Robson pada tahun 60-an yang bertanya-tanya soal itu. Mereka bilang pendapat yang mengatakan Kertanagara tahu soal ekspedisi sang kaisar, siap dan mampu memperluas wilayahnya ke utara dan berkonflik langsung dengan Khubilai Khan adalah pendapat yang tak berbukti.

Kertanagara memang merasa dirinya kuat. Tapi dia bukannya tak menyadari kekuatan Mongol.

Menurut Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, ada hal yang tak banyak diketahui oleh para peneliti. Itu adalah watak Kertanagara yang ahangkara. Watak itu membuat dirinya bangga dengan kekuatan dirinya sendiri. Karenanya dia selalu ingin unggul dari musuh-musuhnya.

“Aku ini kuat, raja besar, selalu ingin unggul dari musuh-musuhnya,” kata Agus kepada Historia.

Hal itu diisyaratkan oleh Prasasti Camundi dari 1292 M. Di sebutkan di sana, Kertanegara telah puas dengan kemengan-kemenangannya di semua tempat dan menjadi payung pelindung seluruh dwipantara atau Nusantara.

Sebagaimana disebut dalam Negarakrtagama, Kertanegara telah menguasai seluruh Jawa, Sunda, dan Madura. Ia mengirim ekspedisi militer ke Malayu, menguasai Pahang di Semenanjung Malayu, juga menaklukkan Bali dan memboyong rajanya sebagai tawanan pada 1284. Dia juga menguasai Gurun, pulau di wilayah timur Nusantara, dan Bakulapura atau Tanjungpura di barat daya Kalimantan.

Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang mengatakan, ada kemungkinan ekspedisi Kertanegara ke Malayu pada 1275 adalah untuk menjadikannya mitra sejajar. Itu dalam mengontrol Selat Malaka, dan khususnya menghadapi serangan Mongol.

“Walaupun dalam Nagarakrtagama disebut menundukkan,” kata Dwi, “namun, menurut saya tidak ada pertempuran, kalau ada itu akan mempermudah Mongol masuk, karena energi berkurang. Menurut saya ini semacam MoU (memorandum of understanding). Jika dua kekuatan itu berkoalisi, diharapkan bisa menghadapi musuh bersama, yaitu Mongol.”

Singhasari di bawah kepemimpinannya memang menempatkan dirinya sebagai kerajaan besar. Selain di Nusantara, Kertanegara juga bersekutu dengan Champa untuk membendung serangan bangsa Tartar, sebutan Jawa untuk Mongol. Dalam Prasasti Po Sah di dekat Phanrang dari 1306 M disebutkan seorang permaisuri Raja Champa adalah putri dari Jawa bernama Tapasi, adik Kertanagara yang menikah dengan Raja Jaya Simhawarman III (1287-1307).

Keuntungan yang didapat Kertanegara dari kerjasama itu muncul ketika rombongan Mongol ditolak menurunkan jangkarnya di pelabuhan Champa pada 1292. Saat itu mereka hanya berniat menambah perbekalan di tengah perjalanannya ke Jawa.

“Memang (Kertanagara, red) sudah memperkirakan sebelumnya soal kedatangan Mongol ini. Makanya Singhasari malah kosong ketika sebagian tentaranya dikirim ke Malayu dengan alasan mengawal Arca Amogapasha. Mereka di sana untuk mengawasi kalau ada (tentara Mongol, red.) yang nyasar ke Sumatera,” kata Agus.

Namun, yang terjadi di luar ekspektasi Kertanagara. Dia justru tewas sebelum benar-benar sempat berhadapan langsung dengan Mongol. Khubilai Khan membalas penghinaan Kertanagara dengan mengirim ekspedisi militer ke Jawa pada 1292. Namun, sesampainya di Jawa, Kertanagara telah mati di tangan Jayakatwang, raja Gelang Gelang, antara tanggal 18 Mei dan 15 Juni 1292.

Raden Wijaya, menantu Kertanegara dan pendiri Majapahit, menggandeng pasukan Mongol untuk membalas dendam kepada Jayakatwang. Setelah menundukkan Jayakatwang pada 26 April 1293, Wijaya meminta izin kepada pasukan Mongol untuk kembali ke Majapahit mengambil upeti untuk Khubilai Khan. Namun, Wijaya malah menghabisi orang Mongol yang mengiringinya. Bersama pasukan Jawanya, dia kemudian menyerang pasukan Mongol di Kadiri dan memaksa mereka kembali ke kapalnya. Pada 31 Mei 1293, mereka kembali ke China dan sampai pada 8 Agustus 1293.

“Ekspedisi Mongol yang dimaksudkan untuk menghukum Kertanagara akhirnya mempunyai akibat yang tidak terduga, yaitu mengembalikan ke atas takhta pewarisnya yang sah,” tulis Coedes. Kendati Wijaya mengusir pasukan Mongol setelah dimanfaatkan melawan Jayakatwang, “hubungan dengan China agaknya pulih kembali, sebab ada disebut empat utusan Jawa selama pemerintahan Kertarajasa (nama nama penobatan atau gelar Raden Wijaya, red.).”

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK