Hukuman bagi Jenderal Mongol

Para jenderal Mongol datang ke Jawa untuk menghukum raja Jawa. Kembali ke Tiongkok malah dihukum Khubilai Khan.

1518231294000
  • BAGIKAN
Hukuman bagi Jenderal Mongol
Armada pasukan Mongol di Samudera Hindia. Sumber: Sir Henry Yule, "Archipelago in the Travels of Marco Polo" (1921).

EKSPEDISI Mongol ke Jawa membuat tiga jenderalnya, Shi Bi, Gao Xing, dan Ike Mese, dihukum begitu kembali ke Tiongkok. Namun, petualangan mereka di Jawa tak benar-benar gagal.

“Dihukum juga akhirnya sementara saja, lalu dilepas kembali, karena nyatanya (ekspedisinya, red) juga berhasil,” jelas Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, ketika ditemui di Fakultas Ilmu Budaya UI.

Sejarah Dinasti Yuan memberitakan pasukan Tiongkok kembali dari Jawa pada 24 bulan ke-4 1293. Mereka membawa barang jarahan berupa peta negara, catatan populasi, dan surat dengan huruf emas yang ditulis sang raja.

Sedangkan Shi Bi dalam catatatannya merinci harta jarahan yang dibawa pulang, yaitu dupa, wewangian, tekstil, benda-benda emas dan perak, cula badak, gading, dan benda-benda lainnya. Semua benda itu ditaksir 500.000 tahil perak.

Ketika dipukul mundur, Shi Bi mencatat, tentara Mongol harus bertempur sepanjang jalan sejauh 300 li sebelum akhirnya tiba di kapal. Dalam usahanya itu, 3.000 orang mati. Mereka juga harus menempuh 68 hari perjalanan untuk sampai ke Quanzhou.

Kendati pulang membawa barang jarahan, tapi itu belum cukup bagi Khubilai Khan. Sebab, menurut sejarawan Morris Rossabi dalam Khubilai Khan: His Life and Times, biaya yang dikeluarkan dalam ekspedisi Jawa memang tak sebesar ekspedisi angkatan laut melawan Jepang. Namun, kerugian sama besarnya, baik materi maupun reputasi.

“Nilai barang-barang ini (jarahan, red) tidak memberi kompensasi atas perencanaan dan pengeluaran, baik dalam persediaan maupun tenaga ekspedisi itu,” tulis Morris.

Khubilai Khan pun menghukum para jenderalnya: Shi Bi dicambuk 17 kali dan sepertiga hartanya disita; Ike Mese kena tegur dan sepertiga hartanya disita. Berdasarkan catatan Ike Mese, dia bersama Shi Bi dianggap telah membiarkan Raden Wijaya melarikan diri.

Sementara Gao Xing dinilai tak terlibat memutuskan Raden Wijaya kembali ke Majapahit. Pasalnya, dia sudah memperkirakan kalau Raden Wijaya akan memberontak dan membunuh pasukan Mongol yang mengawalnya. Kaisar memberinya hadiah 50 tahil emas.

Tak lama setelahnya, pada 1295, Shi Bi kembali diangkat menjadi pejabat. Nyatanya, perjalanan ke Jawa tetaplah sebuah prestasi bagi pasukan Mongol. Untuk itu, sebuah pengingat dikirimkan kepada kaisar. Pengingat ini menunjukkan, Shi Bi dan rekan-rekannya telah berlayar menyeberangi lautan sejauh 25.000 li. Dia memimpin pasukan menuju negara-negara yang belum pernah dikunjungi oleh para pemimpin sebelumnya.

Dalam menjalankan tugasnya, Shi Bi menangkap raja dan membuat kagum serta takluk sejumlah negara kecil di sekitarnya. Atas dasar itu, dia tetap diampuni. Kaisar mengembalikan barang-barang miliknya yang telah disita. Secara bertahap kariernya meningkat. Dia wafat dalam usia 86 tahun.

Begitu pula nasibnya dengan Ike Mese. Kaisar mengembalikan harta miliknya. Setelah pensiun, dia diberi penghargaan atas misi-misi sulit yang pernah dijalani. Bahkan dia diberi gelar Pangeran Wu.

Bukan karena Wijaya

Menurut Agus Aris Munandar, kembalinya pasukan Mongol ke Tiongkok bukan karena diserang Raden Wijaya. Sebelumnya, pasukan Mongol diperintahkan untuk menghukum raja Jawa. Ketika tiba di Jawa, sang raja yang diincar, Kertanagara, ternyata telah dihabisi oleh Jayakatwang. Tugas mereka dianggap selesai ketika menaklukkan Jayakatwang, penguasa Glang Glang yang memberontak.

“Mereka memang mau pulang. Tugasnya sudah selesai menghukum raja Jawa. Mereka tidak peduli apakah raja Jawa itu Jayakatwang atau Kertanagara,” kata Agus.

Dalam konteks ini, W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa menjelaskan orang Tionghoa menyebut penguasa di Jawa Timur, yang pada masa Kertanagara berkedudukan di Tumapel itu sebagai Jawa. Di wilayah inilah mayoritas Tionghoa berdagang ketika berada di Jawa.

Ketika akhirnya diperangi tentara Majapahit, menurut Agus, itu karena Wijaya sudah merasa tak nyaman dengan kehadiran bangsa Mongol di Jawa. “Kaitannya adalah kerisauan Wijaya dan sekutunya, ini sudah kelamaan, dan buat apa urusannya. Akhirnya kalau di Pararaton diusir sajalah sudah kelamaan,” lanjut Agus.

Agus menjelaskan, dalam konsep Hinduisme Jawa, bangsa Mongol atau dalam sumber tertulis Jawa disebut Tatar, dianggap sebagai asura atau raksasa. Tartar juga dianggap oleh orang Jawa ketika itu sebagai negeri kaum biadab. Dalam pemikiran itu, jika membiarkan kaum asura terlalu lama di Jawa, dikhawatirkan akan membuat tanahnya tercemar.

“Karena ada konsep yang menganggap orang luar dan penghuni bawah tanah, yaitu asura. Jadi diusir saja. Dan memang membuat tak nyaman, orang Mongol kan berpesta-pesta setelah mengalahkan Kadiri,” terang Agus.

Pasukan Mongol memutuskan untuk segera angkat sauh demi mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Pertimbangan lain faktor angin karena pelayaran ketika itu sangat tergantung pada arah angin. Jika terlambat bersauh, mereka harus tinggal di Jawa lebih lama lagi.

“Bisa juga mengejar angin. Angin selatan yang mendorong ke utara dan angin utara yang membantu mereka datang ke Jawa,” ujar Agus.

Ini pula yang ditegaskan Ike Mese dalam catatannya. Dia mencatat, ketika Wijaya balik menyerang, para jenderal sebenarnya berencana meneruskan perang. Namun, Ike Mese meminta mereka melakukan perintah kaisar terlebih dulu. Dua orang jenderal tak menyetujui rencana perang itu. Akhirnya, pasukan ditarik mundur. Mereka kembali dengan membawa sejumlah tawanan dan utusan dari berbagai negara kecil yang telah menyatakan tunduk pada Tiongkok.

“Ya, karena sebenarnya mereka sih sudah tidak ada urusan lagi. Memang datang bukan untuk menjajah Jawa, bukan, tapi menghukum raja Jawa,” tegas Agus.

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK