Masuk Daftar
My Getplus

Sukarno dan Johny Indo Menemukan Tuhan di Penjara

Dengan membaca Alquran, Sukarno lebih percaya diri menghadapi hari-hari berat di penjara. Johny Indo menemukan Yesus.

Oleh: Hendaru Tri Hanggoro | 30 Jul 2018
Sukarno dan Johny Indo. (Gun Gun Gunadi/Historia).

BAGI sejumlah narapidana (napi), penjara tak bikin mereka menyadari kesalahannya. Mereka justru jadi lebih jahat dan pandai berbohong. Tapi buat segelintir orang lainnya, penjara telah memberi mereka gagasan dan pengalaman segar tentang agama. Misalnya, terjadi pada Sukarno dan Johny Indo.

Mari mulai dari Sukarno. “Saya pernah hidup di dalam penjara:  satu kali dalam penjara tahanan Banceuy di Bandung, dua kali di penjara besar Sukamiskin. Satu kali lagi di penjara Mataram, dan juga di penjara Surabaya,” tulis Sukarno dalam artikelnya “Propaganda Islam di dalam Pendjara”, termuat di Pedoman Masjarakat, 9 Maret 1938.

Berbeda dari pelaku kriminal umumnya, Sukarno masuk penjara lantaran kena tuduh pasal menghasut orang untuk melawan pemerintah kolonial pada Desember 1929. Pemerintah kolonial menjebloskannya ke sel tunggal supaya tak mempengaruhi tahanan lain. Ini berarti pemerintah kolonial menilai Sukarno masuk kategori tahanan berbahaya atau khusus.

Advertising
Advertising

“Selnya, Nomor 5 di Blok F, begitu sempit. Lebarnya hanya satu setengah meter, dan separuhya untuk tempat tidur pelbet (lipat, red.)… Gelap, lembap, dan melemaskan,” tutur Inggit Garnasih, istri Sukarno, kepada Ramadhan K.H. dalam Soekarno: Kuantar ke Gerbang.

Baca juga: Inggit Garnasih, Perempuan yang "Menghidupkan dan Menyayangi" Sukarno

Penempatan Sukarno ke dalam sel tunggal sesuai Gestichten Reglement (Peraturan Penjara) 1917. Aturan ini juga memuat klasifikasi penjara berdasarkan tingkat kejahatan dan latar belakang penghuninya (laki-laki, perempuan, dan anak-anak).

“Yang sudah diatur dalam Reglemen Pendjara sebenarnya hanya terdiri dari 3 kelas yang tertinggi yang progresif dengan kelas 3 sebagai kelas yang tertinggi dan kelas 4 merupakan kelas yang statis karena hanya untuk yang dipidana sampai dengan 3 bulan,” tulis R.A. Koesnoen dalam Politik Pendjara Nasional.

Menggagas Dakwah Islam

Banceuy hanyalah penjara sementara Sukarno. Dia mendekam di sini sampai ada vonis pengadilan. Begitu vonis pengadilan jatuh, Sukarno pindah ke penjara Sukamiskin. “Penjara untuk orang-orang Eropa dan intelektuil,” ungkap Koesnoen.

Menurut Inggit Garnasih, penjara Sukamiskin lebih mendingan daripada di Banceuy. “Sekalipun tentunya bukan kehidupan yang menyenangkan kalau segala perilaku harus menurut komando orang lain,” kata Inggit.

Sukarno banyak menghabiskan hari penahanannya dengan mempelajari kandungan Alquran. Kepada Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, dia mengatakan Alquran menjadi bacaan pertamanya ketika bangun tidur. Dia menjadi lebih percaya diri menghadapi hari-hari berat di penjara.

Tapi Sukarno tetap merasa ada yang kurang di penjara Sukamiskin. Tak ada pendakwah agama Islam di Sukamiskin. “Hanya pada hari Jumat datanglah ajengan yang bercelak mata buat memimpin sembahyang jamaah dari orang-orang hukuman Islam,” kenang Sukarno dalam Pedoman Masjarakat.

Ada sebuah masjid di Penjara Sukamiskin. Tapi tiap hari kosong melompong. “Seperti gudang belaka, zonder (tanpa, red.) roh di dalamnya,” catat Sukarno.

Buku agama Islam memang tersedia di perpustakaan penjara. Tapi jumlahnya bisa dihitung pakai jari. “Kalau tidak lupa hanyalah 14 buku Islam,” tulis Sukarno. Betapa gersangnya napi Sukamiskin dari siraman agama, pikir Sukarno.

Sukarno membandingkan dengan napi penganut Protestan dan Katolik Roma. Mereka memperoleh ceramah agama dari para pendeta dan pastor.

“Di sinilah seringkali air mata menetes dari matanya orang-orang yang tadinya menganggap menyembelih leher manusia sama dengan memotong sayur. Di sinilah banyak orang hukuman yang tadinya verrek (masa bodo, red.) kepada agama, menjadi menyala rasa Ketuhanannya,” terang Sukarno.

Bahan bacaan yang berkualitas tentang agama Protestan dan Katolik Roma pun tersua di perpustakaan. Jumlahnya ratusan. “Ada buku tentang tarikh Isa, ada buku tentang penggalan barang-barang kuno yang harus membuktikan bahwa injil-injil sekarang itu betullah injil asali, ada buku tentang jalan ke arah keselamatan,” kata Sukarno.

Sukarno berpendapat bahwa mubalig Islam terlalu malas dan pelit untuk masuk ke penjara. Padahal dengan perkenan kepala penjara, mereka boleh saja masuk. Sekadar menyapa dan menjenguk para tahanan beragama Islam.

“Orang-orang hukuman ini butuh dan perlu kepada nasehat agama…perampok dan penyamun, penipu dan pezina pemabok dan pembunuh, di dalam dunianya kejahatan dan maksiat,” tulis Sukarno.

Sukarno menyeru kepada para mubalig Islam Muhammadiyah agar mulai usaha dakwahnya di dalam penjara. “Silakan Muhammadiyah bergiat di lapangan ini,” tulis Sukarno pada bagian penutup artikelnya.

Menemukan Yesus

Dari Sukarno, mari beralih ke tokoh dan zaman lain. Johny Indo adalah nama tenar di antero Indonesia pada akhir dekade 1970-an dan awal 1980-an.

Johny Indo seorang perampok toko emas. Dia cerdik, licin, dan punya kode etik. Selalu meriset sebelum merampok, sanggup lolos dari kejaran polisi, dan pantang melukai semua korbannya.

Orang sekitar Johny tak pernah menyangka dia perampok ulung. Dia pernah jadi piguran dalam industri film dan iklan. Dia suami sekaligus bapak yang penuh perhatian pada istri dan anak-anaknya. Wajahnya juga simpatik, perawakannya resik, dan pergaulannya asyik.

Hansip, tetangga, dan rekan menaruh hormat padanya. “Apabila Johny pulang larut malam dan kebetulan melewati pos hansip yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya, dia selalu menitipkan uang. Alasannya ada saja: untuk rokok atau kopi,” catat Aktuil, Nomor 17, 14-28 Juni 1982.

Setiap orang punya karma perbuatannya sendiri. Dan untuk Johny, karma itu datang pada 26 April 1979. Di Desa Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, dia tak berkutik. Dua polisi menyergapnya tanpa perlawanan.

Sebuah sel kecil di Polda Metro Jaya, Jakarta, jadi dunia barunya. Di sini dia menunggu vonis pengadilan sembari berduel dengan tahanan lain. Dia menangkan duel itu dan jadi pemimpin para begundal tahanan.

Vonis pengadilan jatuh pada 17 Desember 1979. “Atas semua perbuatannya, Johny Indo dihukum 14 tahun,” tulis Willy A. Hangguman dalam Johny Indo: Tobat dan Harapan. Seiring keluarnya vonis, dia berganti penjara ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang.

Keluarga sering membesuk Johny. Anak-anaknya senang tiap kali bertemu. Mereka meminta pangku bapaknya. Dalam pangkuan seorang bapak, anak itu membisiki Johny agar jangan pernah sungkan mohon ampun kepada Tuhan Yesus.

Waktu besuk selesai. Keluarga itu pulang dan Johny kembali ke selnya. Tak lama kemudian, dia jatuh sakit. Tak sembuh-sembuh. Hingga pikirannya mengingat kembali bisikan anaknya. “Dalam kartu tanda penduduk agamanya Katolik. Seumur-umurnya ia tidak pernah masuk gereja kecuali tiga hari sebelum komplotannya digulung,” tulis Willy.

Akhirnya Johny menyempatkan diri berdoa. Esoknya dia sembuh dan menyatakan tekadnya mempelajari agama.

Ketika mengetahui kabar kepindahannya dari LP Cipinang ke LP Nusakambangan Cilacap, Jawa Tengah, Johny Indo sedih. Jaraknya jauh dan biaya besuk ke sana mahal. Tapi istrinya menguatkan dengan mengatakan, “Pasrah saja pada Tuhan.”

Di Nusakambangan, Johny kian rajin membaca alkitab. Seorang napi iseng bertanya tentang kegunaan kitab suci di penjara. Terutama untuk menahan hasrat seksual lelaki.

“Susah memang, Bung! Tapi ya banyak baca kitab suci. Bung sendiri bagaimana?” balas Johny.

“Onani, habis mau apa,” jawab napi

“Kok boleh begitu? Sedangkan anda sendiri guru agama?” Johny heran.

“Terpaksa, Bung Johny! Lagipula itu dosa kecil! Saya tidak percaya membaca kitab suci dapat meredam kebutuhan biologis kita,” tegas napi.

Johny abaikan ejekan napi itu. Berhari-hari Johny tetap membaca alkitab. Tapi lama-lama dia tak tahan juga dengan keadaan penjara. Dia kabur beberapa lama. Tapi polisi lekas menangkapnya. Dia meringkuk lagi di penjara. Dan di situ dia menemukan Tuhannya untuk kali kedua. Dia kembali berdoa, dia kembali bersimpuh.

Johny Indo keluar dari penjara pada 27 Februari 1988. Dan di luar penjara, dia kembali menemukan Tuhan. Tapi kali ini dia menyebutnya Allah SWT. Dia masuk agama Islam pada 1992 dan menjadi pendakwah.

Baca juga: 

Penjara Tak Bikin Tobat
Tangga Lagu tentang Penjara
Cerita dari Balik Jeruji Besi
Ketika Sipir Berserikat di Dalam Penjara

TAG

penjara sukamiskin sukarno johnyindo

ARTIKEL TERKAIT

Dolok Martimbang, Pesawat Kepresidenan Indonesia Pertama Lima Tokoh Bangsa Bibliofil Nasib Pelukis Kesayangan Sukarno Setelah 1965 Problematika Hak Veto PBB dan Kritik Bung Karno Guyonan ala Bung Karno dan Menteri Achmadi Pejuang Tanah Karo Hendak Bebaskan Bung Karno Rencana Menghabisi Sukarno di Berastagi Supersemar Supersamar Yang Tersisa dari Saksi Bisu Romusha di Bayah Kemaritiman Era Sukarno