Masuk Daftar
My Getplus

Ketika Orang Jawa Mogok Kerja di Belanda

Orang-orang Jawa berlayar ke Eropa sebagai anggota rombongan pertunjukan. Perlakuan sewenang-wenang dari pengusaha pertunjukan mendorong mereka mogok kerja di Belanda.

Oleh: Amanda Rachmadita | 06 Jun 2024
Pertunjukan tari Jawa yang diiringi musik gamelan ditampilkan setiap hari dalam Pameran Nasional Karya Perempuan yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda, pada tahun 1898. (Wereldkroniek 5, 19; foto: Perpustakaan Universitas Utrecht).

KESUKSESAN Kampung Jawa dalam pameran kolonial dunia di Paris, Prancis, pada 1889 membuka kesempatan bagi pengusaha M. Bernard untuk mengadakan tur keliling Eropa bersama rombongannya dari Hindia Belanda.

Kala itu “memamerkan orang-orang lokal” dari negara di luar Eropa tengah populer. Orang-orang lokal, seperti penduduk Kampung Jawa, dipandang orang Eropa sebagai sesuatu yang eksotis sehingga menjadi tontonan menarik. Sedangkan pengusaha mendapatkan keuntungan dari memamerkan orang-orang lokal.

“Dengan dalih ‘menyebarkan pengetahuan’ orang-orang lokal tersebut dibawa keliling ke berbagai pusat pameran dunia yang besar-besar, atau digabungkan dengan rombongan lain,” tulis sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950.

Advertising
Advertising

Baca juga: 

Kisah Kampung Jawa di Paris

Bernard merencanakan tur keliling Eropa sejak tahun 1897. Kali ini, ia membawa rombongan lain, bukan orang-orang Hindia yang bekerja sama dengannya di Paris. Dalam surat kabar Insulinde, 19 Juli 1898, disebutkan bahwa selama 16 bulan mengadakan perjalanan di Eropa, rombongan yang terdiri dari 37 orang Jawa, di antaranya 15 perempuan dan 22 laki-laki itu telah mengunjungi sejumlah daerah di Italia seperti Genoa, Turin, Milan, dan Venesia. Mereka juga pergi ke Wina, di mana mereka tinggal di kebun binatang, dan menuju ke Stockholm serta Christiana melalui Kopenhagen, Stettin, Magdeburg, lalu ke Berlin. Sayangnya, pertunjukan yang mereka gelar di Berlin tak memeroleh hasil yang memuaskan, bahkan dianggap sebagai kegagalan.

“Keseimbangan yang sudah rusak antara pengeluaran dan pemasukan itu tidak dapat dipulihkan dengan keberhasilan besar yang diperoleh di Koln,” tulis Insulinde. Di sisi lain, orang-orang Hindia dalam rombongan ini kesulitan beradaptasi dengan cuaca empat musim di Eropa.

Sementara itu, penobatan Ratu Wilhelmina mendorong diselenggarakannya Pameran Nasional Karya Perempuan. Seperti pameran kolonial dunia di Paris, rombongan Bernard juga ikut serta dalam pameran yang diselenggarakan di Den Haag itu. Ia kembali mendirikan Kampung Jawa. Di sana para anggota rombongan memamerkan keahlian membatik, menenun kain, menenun bambu, menjahit hingga memainkan gamelan dan menari.

“Dapur Hindia Timur” digunakan untuk mendemonstrasikan masakan Jawa. Foto karya fotografer Nona Sluiterman van Loo ini menyertai sebuah artikel di sebuah majalah mingguan. (Wereldkroniek 5, 19; foto: Perpustakaan Universitas Utrecht).

Menurut Maria Grever dan Berteke Waaldijk dalam Transforming the Public Sphere: The Dutch National Exhibition of Women’s Labor in 1898, hanya sedikit orang Jawa dalam rombongan Bernard yang diketahui namanya seperti Niti di Redjo dan Radhen Karto Soetaknja yang diidentifikasi sebagai pemimpin orkes gamelan.

“Orang-orang Jawa ini meninggalkan Surakarta pada Maret 1897. Bepergian dengan nama Java Company, mereka pertama-tama melakukan tur ke Italia dan kemudian tinggal di Wina selama beberapa bulan, di mana mereka dipamerkan bersama 150 orang Afrika dari Kongo. Mereka juga melakukan tur ke Jerman, Skandinavia, dan Inggris. Di London, anggota keluarga kerajaan bahkan dilaporkan menghadiri salah satu pertunjukan mereka,” tulis Grever dan Waaldijk.

Dalam pameran di Den Haag, orang-orang Jawa secara teratur mementaskan lakon wayang orang yang membuat pengunjung penasaran. Sebuah surat kabar melaporkan bahwa tempat pertunjukan sudah dipenuhi pengunjung sebelum pertunjukan dimulai, meskipun para penonton tidak tahu apa isi dari drama tersebut. Sebagai upaya untuk membantu penonton, kakak R.A. Kartini, Raden Mas Panji Sosrokartono, yang sejak 1896 telah berada di Belanda untuk belajar di Sekolah Politeknik di Delft, menulis buku kecil berisi 14 halaman dengan nama samaran Raden Bagong. Buku ini berisi penjelasan singkat mengenai adegan-adegan dalam lakon Penculikan Surti Kanti oleh Suryo Putro.

Baca juga: 

Raja Nusantara di Penobatan Ratu Belanda

Seperti halnya di Paris, Kampung Jawa yang dipamerkan di Den Haag juga sukses mempesona publik. Kesuksesan yang diraih Bernard membuatnya berhasil menutup sebagian kerugian di masa lalu. Namun, popularitas yang didapat rombongan juga diwarnai sengketa antara Bernard dengan orang-orang Jawa. Setelah pameran selesai, Bernard ingin rombongan segera pergi ke Dortmund dan Munich untuk melakukan pertunjukan baru. Namun, orang-orang Jawa menolak dan ingin segera pulang ke Jawa karena telah menyelesaikan kontrak yang disepakati. Sengketa ini ramai diberitakan media.

Dalam Het Vaderland, 29 September 1898, seorang pria bernama Alexander Cohen menyebut ada kemungkinan Bernard mengeksploitasi orang-orang Jawa yang bekerja padanya. Di tahun 1889, ketika Kampung Jawa berdiri di Paris, Cohen bersama sejumlah surat kabar Prancis dan Belanda mengungkap adanya perlakuan buruk yang diterima anggota rombongan itu selama mereka ikut serta dalam pameran.

“Saya mengenal impresario ini, dengan segala sepak terjangnya... Jadi begitu saya mendengar permasalahan yang melibatkannya di Den Haag, saya langsung merasa terpanggil untuk melakukan investigasi pribadi,” tulis Cohen.

Berdasarkan hasil penyelidikannya, Cohen menyebut Bernard dan anggota rombongannya memiliki pandangan yang berbeda mengenai kontrak yang dibuat di antara keduanya. Orang-orang Jawa diberi informasi secara lisan bahwa kontrak kerja mereka hanya untuk jangka waktu satu tahun yang akan dihabiskan di Belanda, bukan Eropa. Namun, setelah kontrak ditandatangani, ternyata kontrak itu menetapkan bahwa perjalanan mereka akan berlangsung selama dua tahun.

Para anggota kelompok Jawa yang terlibat dalam pertunjukan berpose di depan lumbung padi. (Wereldkroniek 5, 19; foto: Perpustakaan Universitas Utrecht).

Selain itu, Bernard berjanji untuk membayar setiap orang Jawa, laki-laki dan perempuan, sebesar 25 gulden per kepala untuk 12 bulan pertama, dan jika perjalanan berlangsung lebih dari satu tahun, mereka akan mendapatkan tambahan 5 gulden per kepala, mulai bulan ke-13 dan seterusnya, dengan pengertian bahwa upah bulanan akan menjadi 12,5 gulden untuk waktu yang dihabiskan di atas kapal, dalam perjalanan ke dan dari Jawa. Akan tetapi di Genoa, alih-alih membayar 12,5 gulden per kepala untuk satu bulan yang dihabiskan di atas kapal, Bernard hanya memberikan 21 lira atau kurang dari 10 gulden. Para anggota rombongan juga dibayar dengan sangat tidak teratur. “Ketika rombongan tiba di Den Haag, sang impresario belum membayar para pekerjanya selama empat bulan,” tulis Cohen.

Anggota rombongan juga dijanjikan akan diberi pakaian dan perawatan medis jika sakit, seluruh biaya akan ditanggung Bernard. Namun, yang terjadi mereka hanya diberi pakaian seadanya, bahkan Bernard justru memotong upah mereka untuk kebutuhan pakaian maupun selimut. Potongannya pun ditentukan sewenang-wenang. Janji menanggung biaya perawatan medis juga hanya isapan jempol. Orang-orang Jawa yang sakit menanggung sendiri biaya pengobatan dan perawatan. Bahkan, Bernard malah menahan gaji selama mereka tidak dapat bekerja karena sakit.

Baca juga: 

Soerjopranoto Si Raja Mogok

Sengketa semakin memanas ketika A.S. Lucardie-Daum, presiden dari Komite Insulinde yang bekerja sama dengan Bernard dalam pameran di Den Haag, menyebut orang-orang Jawa yang melanggar kontrak kerja. “Orang-orang Jawa menolak untuk pergi ke Jerman, dengan alasan bahwa kontrak mereka hanya untuk satu tahun dan mereka ingin kembali ke negara mereka sekarang. Mereka sudah tjape dengan kehidupan di negeri orang. Bernard, di sisi lain, bersikeras pada haknya untuk membawa rombongannya lebih jauh lagi dan mengklaim telah menandatangani kontrak selama dua tahun,” sebut Lucardie-Daum dalam Het Vaderland, 30 September 1898.

Perselisihan dengan Bernard membuat orang-orang Jawa melakukan aksi mogok kerja. Dari Den Haag, mereka pergi ke sebuah vila di Laren milik seorang perempuan yang bersimpati kepada mereka. Menurut Poeze, apa yang dilakukan oleh orang-orang Jawa ini menjadi contoh pertama pemogokan kerja resmi orang Indonesia. “Walaupun tidak ada datanya, tentu tak lama kemudian orang-orang Jawa itu pulang ke tanah airnya,” tulisnya.*

TAG

belanda pameran mogok kerja

ARTIKEL TERKAIT

Sekolah di Sabang Propaganda Anak di Masa Kolonial Kisah Kampung Jawa di Paris Perang Tiga Abad tanpa Pertumpahan Darah Rencana Menghabisi Sukarno di Berastagi Pangeran Bernhard, dari Partai Nazi hingga Panglima Belanda Pengawal Raja Charles Melawan Bajak Laut Para Pejuang Bugis-Makassar dalam Serangan Umum Jenderal dari Keraton Murid Westerling Tumbang di Jogja