Masuk Daftar
My Getplus

Black Hawk dalam Oktober Kelabu

Kisah panglima suku Indian yang namanya diabadikan menjadi nama helikopter taktis yang pernah celaka di Mogadishu.

Oleh: Randy Wirayudha | 03 Okt 2023
Heli taktis Black Hawk di film "Black Hawk Down" yang nama alutistanya terinspirasi panglima perang suku Sauk (revolutionstudios.com)

HARI itu, 3 Oktober 1838, Ma-ka-tai-me-she-kia-kiak alias Black Hawk mengembuskan nafas terakhirnya di usia 72 tahun. Panglima perang suku Indian Sauk itu tinggal nama bukan karena peluru atau pedang melainkan malaria yang menderanya sejak tiga bulan terakhir.

Kapten James H. Jordan, veteran cum saudagar bulu hewan yang merupakan sahabat Black Hawk, membantu pemakamannya di tepi utara Sungai Des Moines, Iowa, Amerika Serikat. Black Hawk dikuburkan dengan ritual suku Sauk lengkap dengan seragam militer dan bendera Amerika dekat nisannya.

“Jenazahnya mengenakan mantel militer yang ia terima di Washington enam tahun sebelumnya, ditambah epaulette emas, sabuk, dan sebilah pedang. Di kerahnya dikalungi sejumlah medali yang ia terima dari sejumlah tokoh: salah satu (medalinya) terukir gambar Presiden Andrew Jackson, medali lainnya terukir gambar Presiden James Madison, dan medali ketiga ia terima di Kanada dari pihak Inggris,” tulis Patrick J. Jung, sejarawan dan kurator Museum Grohmann, dalam The Black Hawk War of 1832.

Advertising
Advertising

Baca juga: Wind River, Potret Kehidupan Pribumi Amerika

Oleh sebagian besar publik Amerika, terutama masyarakat pribumi, Black Hawk dianggap pahlawan. Salah satu faktornya adalah terbitnya otobiografi Life of Ma-ka-tai-me-she-kia-kiak (1833) yang didiktekan penerjemah Angkatan Darat (AD) Amerika, Antoine LeClair, dan menjadi best-seller lima tahun sebelumnya. Black Hawk satu dari sedikit penglima perang Indian yang punya otobiografi untuk mengisahkan heroismenya menentang ekspansi militer Amerika di wilayah Midwest.

“Ia memang bukan kepala suku tapi ia lebih tepat disebut panglima perang karena kekuasaan militer yang ia pegang sangat berbeda dengan kepala suku,” imbuh Jung.

Kiprah panglima perang kelahiran Seukenuk (kini Rock Island, Illinois) tahun 1767 itu bermula dari penentangannya terhadap ekspansi Gubernur Negara Bagian Indiana, William Henry Harrison, yang mencaplok wilayah suku Sauk dan suku Fox pada 1804. Perlawanannya dimulai lima tahun berselang saat ia menyerang basis AD Amerika di Fort Madison.

Potret lukisan Ma-ka-tai-me-she-kia-kiak alias Black Hawk karya George Caitlin (Smithsonian American Art Museum)

Black Hawk kemudian dengan 200 pengikutnya menyingkir ke Kanada dan beraliansi dengan Inggris di Perang 1812. Ia bahkan diberi pangkat kehormatan brigadier jenderal saat ikut sejumlah baku tembak hingga pertempuran berskala besar di sekitar Sungai Mississippi di wilayah Iowa dan Illinois.

Meski Perang 1812 berakhir pada 1815 dengan kemenangan Amerika, Inggris terus mendukung Black Hawk untuk melanggar sejumlah traktat dan merongrong wilayah-wilayah Amerika. Pada 1831, Black Hawk membentuk pasukan liar, “British Band”. Berkekuatan 1.500 personel, serdadunya terdiri dari gabungan serdadu Inggris, suku Sauk, Fox, Kickapoo, Potawatomi, Ho-Chunk, dan Ottawa.

Namun petualangannya berakhir pada 27 Agustus 1832. Black Hawk yang makin terdesak usai Pertempuran Sungai Bad Axe, menyerahkan diri ke Letnan Jefferson Davis. Delapan bulan ditahan di Barak Jeffeson di St. Louis, Black Hawk lalu dibawa menghadap ke Presiden Jackson dan Menteri Perang Lewis Cass di Washington DC pada April 1833.

Ia tak dikurung seumur hidup. Usianya yang sudah renta justru membuatnya dibebaskan untuk hidup di perkampungan Indian di tepi Sungai Des Moines hingga tutup usia. Ia tetap dianggap pahlawan oleh publik yang tak hanya membuatkannya patung tapi jauh di kemudian hari namanya juga diabadikan menjadi nama helikopter angkut taktis Sikorsky UH-60 “Black Hawk”.

Baca juga: Heli TNI AU Juara di Udara

Insiden Black Hawk dan Kekacauan Operasi Mogadishu

Pangkalan Stratford, Connecticut, 17 Oktober 1974, pilot James R. Wright ditemani kopilot John Dixson sudah bersiap di kokpit heli purwarupa YUH-60A. Satu dari tiga purwarupa yang dibuat Sikorsky, pabrik anak perusahaan Lockheed Martin itu dianggap paling siap untuk uji terbang perdana.

Hari itu, Pilot Wright dan Dixson menguji keandalan mesin, rotor utama, dan transmisinya. Uji terbang perdana itu pun berhasil. Setelah delapan bulan uji terbang secara berkala, AD Amerika memilih produk buatan Lockheed Martin itu ketimbang pesaingnya asal Boeing yang juga membuat purwarupa heli taktis Vertol YUH-61A. AD Amerika menganggap heli buatan Lockheed Martin itu paling pas untuk menggantikan Bell UH-1 Iroquois alias heli “Huey”.

Dalam Encyclopedia of Modern Warplanes Bill Gunston menulis, heli sepanjang 19,76 meter dengan diameter baling-baling utama 16,36 meter itu bisa mengangkut 15 personel, termasuk empat kru (dua pilot, dua kru penembak). Ditenagai mesin ganda General Electric T700-GE-701C turboshaft, Black Hawk sanggup mengangkut masing-masing kargo internal dan eksternal berbobot 1.400 kilogram. Dengan total kargo 2.800 kilogram itu, Black Hawk masih mampu mencapai kecepatan jelajah maksimal 282 km/jam dengan daya jangkau tempur 590 km sebelum mengisi bahan bakar.

Baca juga: Cerita di Balik Helikopter NBO-105

Sebagai heli taktis, Black Hawk dipersenjatai sepasang senapan mesin M240 kaliber 7,62 mm yang bisa dioperasikan pilot/kopilot, dan sepasang senapan mesin M134 atau senapan gatling GAU-19 kaliber 12,7 mm yang dioperasikan dua penembak di masing-masing pintu samping. Tujuh roket Hydra 70 atau 19 roket M261, empat misil berpandu laser AGM-144 Hellfire atau dua misil AIM-92 Stinger melengkapi persenjataan Black Hawk.

“(Kecanggihan) Black Hawk juga disempurnakan dengan sistem navigasi INS/GPS/Doppler, komunikasi satelit, dan sistem komunikasi anti-pelacakan. Teknologi lainnya juga termasuk sistem baling-baling anti-es, dan sistem kontrol penerbangan dan lampu NVG,” tulis majalah Air Foce and Space Digest edisi Juni 2017.

Uji terbang prototype heli Black Hawk dari pabrikan Sikorsky/Lockheed Martin (Lockheed Martin)

Heli Black Hawk jadi salah satu alusista andalan Amerika saat ikut rombongan misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Somalia, UNISOM II, 26 Maret 1993-28 Maret 1995. Dalam misi untuk menegakkan perdamaian di tengah Perang Saudara Somalia itu, Amerika menerjunkan 1.167 personel –dari total 30 ribu personel– dalam Gugus Tugas Ranger. Sejumlah heli Black Hawk dioperasikan di bawah unit SOAR atau Resimen Operasi Penerbangan Khusus ke-160, Batalyon ke-1 AD Amerika.

Dengan dibantu resimen-resimen kavaleri AD Pakistan dan Grup Gerak Khas AD Malaysia, Gugus Tugas pimpinan Mayjen William F. Garrison inilah yang melancarkan operasi penyusupan pada 3-4 Oktober 1993. Operasi tersebut untuk menangkap Mohamed Farrah Aidid dan sejumlah petinggi Aliansi Nasional Somalia (SNA) yang dianggap bertanggungjawab atas penyerangan-penyerangan terhadap pasukan PBB di ibukota Mogadishu pada Juni, Agustus, dan September sebelumnya.

“Mulai 8 Agustus, terbukti kemudian SNA memfokuskan serangan-serangannya terhadap pasukan Amerika; Aidid sukses menggunakan ranjau-ranjaunya untuk menewaskan empat prajurit Amerika. Ranjau-ranjau yang sama juga melukai empat prajurit Amerika lainnya pada 19 Agustus 1993,” tulis Mayor Roger N. Sangvic dalam Battle of Mogadishu: Anatomy of a Failure.

Baca juga: Saat Heli Trengginas Diganti Heli Bekas

Raid dengan sandi “Operasi Gothic Serpent” itu digulirkan pada pukul 1 siang waktu setempat dengan ujung tombaknya Detasemen Delta Force ke-1 dengan pengawalan Kompi B, Batalyon Ranger ke-5, Resimen Ranger ke-75. Konvoi kendaraan tempurnya juga dilindungi pengintaian udara dari delapan heli MH-60L Black Hawk dan delapan heli Little Bird.

Pasukan Delta membuka operasi dengan terjun menggunakan heli-heli Little Bird ke Olympic Hotel untuk kemudian menahan sejumlah petinggi SNA. Pasukan Kompi B kemudian diterjunkan dari heli-heli Black Hawk untuk membuat parameter perlindungan. Sementara konvoi 12 kendaraan lapis baja juga bergerak ke hotel sasaran untuk menangkal serangan milisi-milisi SNA.

“Ada sekira 25 tahanan Somalia (SNA, red.), termasuk pemimpinnya, Farah Aidid. Tetapi dari sektor barat pasukan Somalia pimpinan Kolonel Sharif Hassan Giumale bereaksi dan memberi perintah, ‘jangan biarkan pasukan bantuan (konvoi darat) mencapai kantung musuh,’” tulis laporan jurnalis Rick Atkinson, “Night of a Thousand Casualties” di kolom suratkabar The Washington Post, 31 Januari 1994.

Ranpur APC Condor kontingen Pasukan Malaysia di Somalia (Wikipedia)

Kolonel Ali Aden, komandan Somalia lainnya, memerintahkan pasukannya bersiap melakukan penyergapan terhadap pasukan bantuan PBB itu di sekitar Rumahsakit Digfer. Tak ayal, pertempuran selama 15 jam pun pecah.

Pasukan Delta memang sukses membawa Aidid dan sejumlah pemimpin SNA. Tapi beberapa anggotanya yang menjaga perimeter justru tertinggal oleh konvoi yang buru-buru berangkat untuk mencegah penyergapan. Suasana makin runyam karena satu heli Black Hawk dengan kode “Super Six One” jatuh ditembak granat berpeluncur roket (RPG)) milisi SNA.

Baca juga: Ngeri-Ngeri Sedap Misi Kru Heli di Long Bawang

Kedua pilot “Super Six One” tewas di tempat tapi dua kru penembaknya masih hidup dan terkepung milisi SNA. Sementara, Letkol Danny McKnight selaku dan-yon pasukan Rangers kesulitan melacak lokasi jatuhnya heli.

“Jalan-jalan yang seperti labirin begitu membingungkan pasukan. Delapan ranpur yang diperintahkan gagal menemukan lokasi jatuhnya heli,” imbuh Atkins.

Kru Heli Black Hawk "Super Six Four" di Somalia (USASOC)

Tak lama kemudian, heli Black Hawk lain mengalami nasib serupa. Kali ini lokasinya terlalu jauh dari posisi pasukan Rangers.

“Heli Black Hawk lainnya, ‘Super Six Four’ juga ditembak jatuh RPG. Tidak ada tim penyelamat yang bisa mencapai lokasi jatuhnya. Hanya ada dua penembak runduk Delta, Sersan Kepala Gary Gordon dan Sertu Randy Shugart yang sebatas bisa memberi perlindungan dari jauh bagi pilot Michael Durant dan kopilotnya dari pengepungan milisi SNA,” ungkap Ed Wheeler dalam Doorway to Hell: Disaster in Somalia.

Shugart dan Gordon kemudian ditembak mati milisi SNA, sementara Durant disandera. Komandan unit intai, Letkol Thomas C. Matthews, menolak permintaan pilot-pilot Black Hawk dan Little Birds lain untuk mendekat karena khawatir jadi sasaran RPG juga. Kondisi mereka tak lebih baik dari kawan-kawan asal pasukan Rangers yang terpojok di suatu komplek gedung dan mati-matian memberi perlawanan pada milisi SNA yang mengepung mereka hingga fajar menyingsing.

Baca juga: Rais Abin, Panglima Kontingen Garuda

Baru pada pagi, 4 Oktober 1993, konvoi dengan 70 ranpur bisa memberikan bantuan setelah susah-payah menerobos sejumlah barikade. Konvoi berkekuatan ratusan personil UNOSOM II dari Resimen Malaysia, Resimen Frontier Pakistan, dan Batalyon ke-2 AD Amerika itu bertugas mengawal keluarnya pasukan Rangers dari pusat kota.

“Pukul 7 pagi setelah operasi penarikan mundur yang melelahkan, semua penyintas mencapai area aman. Mereka dikawal ke barak medis di Stadion 21 October Road. Total korban tewasnya mencakup 18 personil Amerika, satu Malaysia. Sementara yang terluka termasuk 84 personil Amerika dan tujuh personil Malaysia. Pihak Somalia mengklaim kehilangan 312 milisinya tewas dan 814 terluka,” tukas Atkins.

Pasukan Rangers Amerika di Pertempuran Mogadishu (US Army Rangers)

TAG

somalia amerika-serikat amerika serikat alutsista helikopter

ARTIKEL TERKAIT

Heroisme di Tengah Kehancuran dalam Godzilla Minus One Kemelut Bismarck di Atlantik Lobi Israel Menyandera Amerika? Problematika Hak Veto PBB dan Kritik Bung Karno Ada Rolls-Royce di Medan Laga 73 Easting, Tarung Kolosal Tank di Perang Teluk Serba-serbi Politik Gentong Babi Empat Pilpres Kontroversial Amerika Harta Berdarah Indian Osage dalam Killers of the Flower Moon Waktu Punya Tupolev, Angkatan Udara Indonesia Kuat