Here is a fruit for the crows to pluck
For the rain to gather
For the sun to rot
For the tree to drop
Here is a strange and bitter crop
Kesunyian menyergap Café Society, sebuah klub di New York City, Amerika Serikat, ketika Billie Holiday selesai menyanyikan lagu Strange Fruit di akhir tahun 1930-an. “Pertama kali saya menyanyikannya, saya pikir itu adalah sebuah kesalahan. Bahkan tidak ada tepuk tangan ketika saya selesai bernyanyi. Kemudian seseorang mulai bertepuk tangan dengan gugup. Lalu tiba-tiba semua orang bertepuk tangan,” kenang Holiday dalam biografinya, Billie Holiday karya Bud Kliment.
Seperti judulnya, Strange Fruit memang bukan lagu biasa. Lagu terbaik abad ini versi majalah TIME pada 1999 itu dipandang sebagai lagu antirasisme paling berpengaruh yang pernah ada. Lirik lagu yang menceritakan tentang “buah aneh yang menggantung di sebuah pohon” sesungguhnya menggambarkan dampak mengerikan dari segregasi ras yang berujung pada diskriminasi terhadap penduduk kulit hitam di Amerika. Alih-alih buah, kata “fruit” dalam lagu itu merujuk pada mayat-mayat orang kulit hitam yang digantung di dahan-dahan pohon.
Baca juga:
Hukum Jim Crow atau Jim Crow Laws yang diberlakukan dari tahun 1877 hingga pertengahan 1960-an menjadi bagian dari sejarah kelam Amerika. Aturan-aturan pemisahan kelas berdasarkan ras tak hanya menyebabkan diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam, tetapi juga memicu gelombang persekusi yang berujung pada eksekusi mati. Jurnalis Amerika David Margolick menulis dalam Strange Fruit: Billie Holiday, Café Society And An Early Cry For Civil Rights, di masa-masa pemberlakuan Jim Crow Laws, hukuman mati –di mana orang kulit hitam dibunuh dengan kebrutalan yang tak terkatakan, sering kali dalam suasana seperti karnaval– merajalela di wilayah Selatan setelah Perang Saudara dan selama bertahun-tahun setelahnya.
“Dengan persetujuan atau bahkan keterlibatan pihak berwenang setempat, orang kulit hitam digantung di pohon agar semua orang dapat melihatnya... Pembunuhan cenderung terjadi di kota-kota kecil yang miskin... Mereka dihakimi atas berbagai tuduhan pelanggaran –bukan hanya pembunuhan, pencurian, dan pemerkosaan, tetapi juga karena menghina orang kulit putih, menyombongkan diri, mengumpat atau membeli mobil. Dalam beberapa kasus, tidak ada pelanggaran sama sekali; seakan hal itu dilakukan untuk mengingatkan orang kulit hitam yang ‘sombong’ agar tetap berada di tempatnya,” tulis Margolick.
Hal inilah yang melatari munculnya lagu Strange Fruit yang awalnya puisi karya Lewis Allen –nama pena Abel Meeropol (1903–1986), seorang penyair dan guru di New York City. Pada suatu hari di tahun 1930-an, Meeropol sangat terganggu dengan foto eksekusi mati di sebuah majalah. Berhari-hari ia merenungkan foto tersebut dan kemudian menulis puisi tentang peristiwa mengerikan itu. Kendati mendapat persetujuan dari New Masses, sebuah majalah Marxis Amerika, untuk diterbitkan pada awal 1936, namun puisi Meeropol pertama kali dicetak dengan judul Bitter Fruit dalam The New York Teacher, sebuah terbitan serikat pekerja, edisi Januari 1937.
Meeropol kemudian mengaransemen puisinya menjadi lagu yang secara teratur dibawakan oleh istrinya, Anne, di pertemuan serikat guru di New York. Lagu ini juga pernah dibawakan oleh teman-teman progresifnya pada pertemuan di kalangan sayap kiri. Lambat laun, puisi Meeropol tak hanya dipandang sebagai bentuk protes atas diskriminasi, tetapi juga menjadi alat perjuangan untuk mewujudkan persamaan hak-hak sipil di masyarakat.
Baca juga:
Kisah Penemu Terkenal yang Menjadi Korban Rasisme
“Dalam sebuah wawancara pada 1971, Abel Meeropol mengatakan, ‘Saya menulis Strange Fruit karena saya benci eksekusi mati dan saya benci ketidakadilan, begitu juga dengan orang-orang yang melanggengkannya’,” sebagaimana dikutip Christopher Pramuk dalam Hope Sings, So Beautiful: Graced Encounters Across the Color Line.
Pertemuan Meeropol dengan Billie Holiday di Café Society, beberapa waktu setelah klub dibuka pada Desember 1938, berdampak besar pada popularitas Strange Fruit. Meeropol menunjukkan puisinya kepada Holiday yang tergerak untuk membawakanya dalam pertunjukan di klub itu. Holiday sebagai penampil tetap di Café Society melakukan tiga pertunjukan dalam semalam selama sembilan bulan. Dengan bantuan Sonny White, pengiringnya, Holiday mengadaptasi puisi Meeropol menjadi lagu.
“Holiday yang pada masa-masa awal beroperasinya Café Society menjadi sensasi besar mulanya ragu-ragu membawakan Strange Fruit di depan umum. Tapi kemudian ia mengalah. Lagu itu mengingatkannya pada kematian sang ayah yang membuatnya begitu terpukul. Sebagai seorang penyanyi kulit hitam, ia juga kerap mengalami prasangka rasial saat tampil di hadapan umum. ‘Saya adalah seorang wanita kulit berwarna,’ katanya, dan Strange Fruit memungkinkannya untuk mengekspresikan sentimen ini kepada para pendengarnya,” tulis Kliment.
Ayah Billie, Clarence Holiday, seorang musisi jazz. Pada 1 Maret 1937, Clarence meninggal dunia karena pneumonia di rumah sakit Dallas. Paparan gas beracun semasa perang berdampak buruk pada paru-parunya. Ketika sedang tur dengan sebuah band di Texas, Clarence merasakan sakit di dada. Sayangnya, segregasi rasial di Selatan berdasarkan Hukum Jim Crow, yang mengharuskan fasilitas umum terpisah untuk orang kulit hitam dan kulit putih, membuat Clarance kesulitan menemukan rumah sakit untuk kulit hitam. Akhirnya, sebuah rumah sakit veteran di Dallas menerimanya karena ia pernah bertempur dalam Perang Dunia I. Namun, penyakitnya telah menjadi pneumonia dan ia meninggal tak lama kemudian.
Baca juga:
Billie Holiday pertama kali menyanyikan Strange Fruit di Café Society pada Februari 1939. Lagu yang sangat emosional itu membius para pengunjung. Selama beberapa malam, Barney Josephson, seorang penjual sepatu berusia 36 tahun dari New Jersey yang menggagas Café Society, menyaksikan efek lagu itu terhadap penonton. Ia merasa lagu itu cocok dengan suasana klubnya yang liberal dan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang progresif.
Menurut John White dalam Billie Holiday: Her Life and Times, Josephson yang sama progresifnya dengan para pengunjung klub bertekad bahwa orang-orang yang datang ke Café Society harus mendengarkan lagu “protes” yang dibawakan oleh seorang penyanyi kulit hitam. Oleh karena itu, ia bersikeras agar Billie Holiday menutup setiap pertunjukannya dengan Strange Fruit. “Bagi Josephson, Strange Fruit adalah sebuah agitprop (agitasi dan propaganda) yang harus dipentaskan secara dramatis,” tulis White.
Ketika momen untuk lagu itu tiba, layanan meja dihentikan dan semua lampu dipadamkan kecuali lampu yang menyorot Billie Holiday. Sembari memejamkan matanya ketika instrumen mulai mengalun, penyanyi wanita kelahiran Philadelphia, Amerika, 7 April 1915 itu bersiap membawakan lagu yang penuh emosi itu.
“Tidak ada lagu tambahan setelahnya. Instruksi saya (kepada Holiday) adalah pergi setelah menyanyikannya. Orang-orang harus mengingat Strange Fruit, membakar jiwa mereka dengan lagu itu,” kenang Josephson sebagaimana dikutip oleh Kliment.
Baca juga:
Setelah membawakan lagu tersebut secara rutin selama awal musim semi, Holiday memutuskan untuk membuat rekaman Strange Fruit. Namun, perusahaan rekamannya menganggap lagu tersebut terlalu provokatif, mengingat Hukum Jim Crow masih berlaku di berbagai wilayah Amerika, dan menolak untuk merilisnya. Meski begitu, mereka memberi izin Holiday untuk merekam lagu itu di perusahaan lain. Pada 20 April 1939, beberapa hari setelah ulang tahun ke-24, Billie Holiday merekam lagu Strange Fruit untuk label Commodore, milik Milt Gabler, pemilik Toko Musik Commodore di pusat kota Manhattan. Gabler sendiri, sebagai penggemar Holiday, kerap menghadiri pertunjukan sang penyanyi di Café Society.
“Gabler mendistribusikan piringan hitam dari tokonya, dan Strange Fruit segera menjadi rekaman Holiday yang paling terkenal... Strange Fruit, seperti yang dinyanyikan oleh Holiday, menjadi salah satu bentuk protes paling kuat terhadap hak-hak orang kulit hitam yang pernah ada,” tulis Kliment.
Kesuksesan Strange Fruit menandakan perubahan arah musik Billie Holiday. Ia membawakan lagu kontroversial ini dengan lambat dan intens yang membuatnya dicirikan sebagai penyanyi dramatis yang serius. Gaya ini berhasil menarik perhatian penggemar baru, dan ia mulai lebih sering bernyanyi dengan gaya seperti itu dalam pertunjukan dan rekaman.
Lagu yang berasal dari puisi Meeropol itu mendapat banyak pujian, salah satunya dari Samuel Grafton, kolumnis New York Post, yang dipandang sebagai koran paling liberal di kota tersebut. Ia menyebut lagu itu merupakan karya seni yang luar biasa, yang membalikkan hubungan biasa yang terjadi antara penghibur kulit hitam dan penonton kulit putihnya. Begitu besarnya dampak Strange Fruit membuat para pendukung undang-undang federal anti-eksekusi mati mendesak agar salinan lagu itu dikirim ke Kongres Amerika.
Baca juga:
Akan tetapi, tak semua orang menyukai Strange Fruit dan berubahnya gaya menyanyi Holiday. Mereka menganggap lagu tersebut membuat sang penyanyi harus menahan diri dan membatasinya dalam berekspresi. Ada pula yang memandang bahwa Holiday tak sepenuhnya memahami makna lagu yang dinyanyikannya dan hanya memanfaatkan Strange Fruit untuk meningkatkan popularitasnya. Di sisi lain, lagu tentang “buah aneh yang menggantung di pohon” itu dianggap berpotensi memicu gesekan di masyarakat sehingga beberapa klub di New York menolak Holiday menyanyikan lagu tersebut.
Terlepas dari pro dan kontra, Strange Fruit berhasil membangkitkan perhatian masyarakat Amerika terhadap kebenaran pahit tentang eksekusi mati tanpa peradilan. Musisi jazz yang juga jurnalis musik, Leonard Feather sebagaimana dikutip oleh Pramuk, menyebut lagu tersebut sebagai “aksi protes pertama yang signifikan dalam bentuk kata-kata dan musik, seruan pertama yang tak teredam terhadap rasisme.”*