Masuk Daftar
My Getplus

Riwayat Jackson Record

Dia pernah bekerja di toko kaset. Setelah ogah bikin film, dia sukses merekam lagu populer.

Oleh: Petrik Matanasi | 03 Mei 2024
Vina Panduwinata, diva pop tanah air yang melejit berkat tangan dingin Jackson Arif (Thung Hay Tung). (Instagram pribadi Vina, @vinapanduwinata_official)

SETELAH peristiwa G30S, sekolahnya terbengkalai. Dia hanya duduk sampai tahun pertama SMA. Sebelumnya, dia belajar di SD Chung San dan SMP Sin Wen. Dia lalu bekerja di sebuah toko kaset. Dari sana dia lalu mengenal bermacam-macam musik.

“Lama-lama saya jadi tertarik,” aku Thung Hay Tung yang belakangan dikenal sebagai Jackson Arief dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia.

Bermula dari pembantu di toko kaset, Jackson kemudian menjadi pedagang alat elektronik dan lampu disko.

Advertising
Advertising

Sekitar tahun 1976, Jackson sudah jadi produser film. Dia pernah bekerjasama dengan Sjamsuddin Sjafi’i dalam memproduksi film-film Rhoma Irama. Pada tahun-tahun itu, Rhoma Irama sudah mulai dikenal sebagai “Raja Dangdut” bersama band Soneta yang dipimpinnya. Rhoma dan Soneta sohor setelah rekaman di Yukawi Record yang dikelola Nomo Koeswoyo.

Baca juga: 

Rebutan Rhoma Irama

 

Setelah berjaya di musik, Rhoma menjajal film. Dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005, JB Kristanto menyebut Jackson menjadi produser dengan bendera PT Sjam Studio Film (SSF). Pada 1976, SSF ikut membuat film Rhoma Irama, Penasaran. Tahun berikutnya, SSF merilis film-film Rhoma Irama, Darah Muda dan Gitar Tua Rhoma Irama. Dalam kedua film itu Yatie Octavia bermain sebagai pemeran wanita yang menjadi kekasih Rhoma.

Pada 1977, Jackson juga ikut membuat film berjudul Siulan Rahasia. Film ini menurut Kristanto adalah garapan bersama SSF dengan PT Jackson Record & Tapes. Film ini bercerita tentang anak yatim piatu yang disukai banyak orang bernama Kadir. Dia jago bersiul dan kemudian sukses melawan perampok. Film ini tipe film keluarga yang cukup bagus. Namun, Jackson akhirnya jadi kurang berminat pada film-film cerita.

“Selera masyarakat sukar ditebak,” kata Jackson.

Baca juga: 

Tio Tek Hong, Perintis Rekaman di Hindia Belanda

 

Jackson kemudian lebih suka membuat film dokumenter. Menurutnya, risikonya lebih kecil.

Namun, Jackson akhirnya lebih senang bergelut di dunia rekaman musik. Itu yang disukainya serius sejak belasan tahun, waktu kerja di toko kaset dulu. Dia lalu terjun dalam bisnis musik dengan membangun perusahaan rekamannya.

Insting bisnisnya diuji di sini. Namun, dia berani bertaruh dalam memilih calon bintang. Jackson yang dulu berkantor di Glodok serta punya rumah dan studio di Pluit itu berani mengorbitkan Vina Panduwinata. Dia merasa suara Vina unik. Bahkan ketika album pertama Vina, Citra Biru (1981), kalah oleh popularitas Iis Sugianto, Jackson tidak kapok. Jackson lalu membombardir pasar musik dengan album kedua Vina, Citra Pesona (1982), yang punya hits “September Ceria”. Kali ini Vina terangkat. Jackson memenangkan pertaruhannya.

Baca juga: 

The Singing Commodore

 

Namun, bukan Vina semata yang berhasil diorbitkan Jackson. Jackson yang suka hal berbeda, ikut mempopulerkan Ebiet G. Ade, Utha Likumahua, Farid Bani Adam alias Farid Hardja, dan Franky & Jane. Musisi terakhir adalah kakak beradik Franky Sahilatua dan Jane Sahilatua. Kakak beradik ini mempopulerkan lagu “Kereta Malam” yang sendu dan menyayat. Tentang Ebiet, yang lagu-lagunya banyak bermuatan pesan reflektif-spiritual dan langgangan diputar stasiun televisi tiap bulan Ramadan, Jackson tak akan menerima musisi mirip Ebiet lagi.

“Boleh dibilang, Jackson Record saat itu menjadi salah satu perusahaan rekaman yang punya artis laris dan menurut saya berkualitas,” kata Jan Djuhana dalam Di Balik Bintang.

Di situlah Jan Djuhana, salah satu produser terkenal musik era 1990-an, mulai berkarier di dunia rekaman. Jan terlibat dalam produksi beberapa album di sana, termasuk milik Keenan Nasution.

Sebelum Jackson Arief tutup usia pada 3 Mei 1994, sebuah band dari Jakarta Selatan, Slank, pernah rekaman di studionya di Pluit. Band beranggota Bimo Setiawan alias Bimbim, Bongky, Pay Burman, Indra Qadarsih, dan Kaka itu pada 1991 merilis album Kampungan yang kemudian meledak hingga band mereka terkenal.*

TAG

sejarah musik rhoma irama

ARTIKEL TERKAIT

Ongkos Haji Zaman Dulu Iklan Michael Jackson Menembus Tirai Besi Uni Soviet Kisah Hewan Peliharaan Sukarno dan Hatta Heroisme di Tengah Kehancuran dalam Godzilla Minus One Kisah Kampung Jawa di Paris Lima Konser Band yang Memekakkan Telinga Tiga Kasus Tukar-Menukar Istri House of Ninjas dan Bayang-Bayang Masa Lalu Ninja Hattori Saat Mandi Perlu Wangi Aroma Pemberontakan di Balik Hidangan Pasta