BAGI sebagian besar masyarakat Indonesia, ketupat jadi menu ”wajib” di setiap lebaran Idul Fitri. Ketupat seolah jadi menu wajib untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Opor ayam dan beragam lauk-pauk serasa tak ‘nendang’ jika tanpa didampingi ketupat yang lazim dinikmati selepas shalat Ied sebelum keliling bermaafan atau ketika menjamu para tetangga, kerabat, atau sanak-saudara yang bersilaturrahim.
Ketupat sendiri sudah dikenal masyarakat Nusantara sejak pra-Islam. Makanan ini dianggap representasi penghormatan kepada Dewi Sri, sosok yang dipuja masyarakat di Jawa, Bali, Lombok, hingga Sulawesi. Lebaran ketupat ada sebagai upaya mengangkat tradisi dari pemujaan dewi pertanian dan kesuburan yang sudah dimuliakan sejak era Kerajaan Pajajaran (923-1597 M) dan Majapahit (1293-1527 M) itu.
Kuliner hasil akulturasi budaya itu turut dilestarikan oleh Walisongo saat syiar di masa Kesultanan Demak (1481-1554 M), kerajaan Islam pertama di Jawa. Maka kemudian muncul beberapa tradisi melestarikan ketupat, seperti Sekaten, Grebeg Mulud, atau Grebeg Syawal.
Di beberapa daerah di luar Jawa, makanan berbalut anyaman janur dan berbentuk persegi itu jadi keunikan tersendiri. Ketupat jadi medium utama tradisi bernama Perang Ketupat. Faktor historis, di mana ketupat sudah eksis sejak masa pra-Islam, membuat tradisinya pun tidak hanya dilakukan umat Islam tapi juga umat Hindu. Berikut empat “Perang Ketupat” yang populer:
Perang Ketupat di Pulau Bangka
Masyarakat di beberapa desa Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat punya tradisi perang ketupat yang sudah berakar dari masa pra-Islam. Islam sendiri mulai masuk ke Pulau Bangka sekitar abad ke-9 Masehi, yang syiarnya dilakukan para ulama dari Johor, Palembang, hingga Banten.
Menurut Resna Septiani Putri dkk. dalam artikel “Makna Tradisi Perang Ketupat dalam Tinjauan Filsafat Budaya di Desa Air Lintang Kecamatan Tempilang Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung” yang termuat di Jurnal El-Fikr, Volume 1, No.1, Juni 2020, di masa pra-Islam, tradisi perang ketupat sekadar ritual persembahan untuk penguasa lautan. Biasanya dilakukan masyarakat desa dengan mata pencaharian petani dan nelayan yang ingin terhindar dari gangguan makhluk halus dan roh-roh jahat.
“Setelah masuknya ajaran Islam secara perlahan ritual dalam tradisinya mengalami perubahan, baik dari segi tujuan maupun bentuk-bentuk ritualnya yang memadukan unsur-unsur agama Islam dan budaya lokal. Tradisi menurut unsur Islam sama seperti tahlilan, sedangkan dalam bentuk budaya lokalnya memperlihatkan prosesi perang ketupatnya,” tulis Resna dkk.
Baca juga: Mengunyah Sejarah Ketupat
Perang ketupat lazimnya dihelat masyarakat di desa-desa di Tempilang di minggu ketiga bulan Sya’ban alias menjelang bulan puasa. Dalam 100 Tradisi Unik di Indonesia, Fatiharifah mencatat bahwa upacaranya dimulai dengan ritual Penimbongan yang berarti rumah-rumahan kayu. Pada malam hari, dukun laut, dukun darat, dan dukun tua melakukan ritual memberi sesaji yang ditempatkan di penimbong. Setelah itu, dilanjutkan dengan ritual Ngancak yang berupa pembacaan mantra dan doa-doa oleh dukun laut.
“Paginya, ritual dimulai dengan membakar kemenyan diiringi lagu ‘Timang Burong’. Dukun laut meminta izin pada leluhur untuk memulai Perang Ketupat. Ketupat diletakkan di tengah arena, sementara para pendekar yang akan ikut berperang dibagi menjadi dua kubu. Perang ketupat pun dimulai,” ungkap Fatiharifah.
Ketupat yang digunakan adalah ketupat yang sudah dirapal doa-doa para dukun dan sudah terkena percikan air doanya. Tujuannya agar memberikan kekuatan bagi kedua kubu agar tidak mengalami rasa sakit ketika terkena ketupatnya. Lazimnya para pendekar itu akan saling melempar ketupat satu sama lain selama 5-10 menit.
“Kemudian setelah selesai perang tersebut, para dukun melepaskan perahu ke laut yang berisi sesajen sebagai bentuk persembahan kepada roh-roh laut atau Ngayot Perae. Terakhir ritual Taber Kampong, menabur kampung dengan air tabur dan bunga pinang dengan harapan seluruh rumah di desa terhindar dari bencana,” tukas Resna.
Sejak 2014, tradisi perang ketupat di Pulau Bangka sudah diakui pemerintah sebagai warisan budaya masyarakat lokal. Melalui SK 270/P/2014, Kemendikbud RI menetapkan Perang Ketupat sebagai warisan budaya tak benda yang berasal dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Perang Ketupat di Badung
Tak hanya kalangan muslim, masyarakat Hindu di Desa Kapal, Badung, Bali juga punya tradisi perang ketupat yang oleh masyarakat setempat disebut “Aci Rah Pengangon”. Tradisi yang termasuk dalam Upacara Dewa Yadnya itu sudah dilakukan sejak tahun 1337 M walau sumber lain ada yang menyebutkan dimulainya sejak 1339 M.
Menurut Made Dwiana Mustawan dalam artikel “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Tradisi Perang Ketupat Desa Kapal Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung Provinsi Bali” yang termuat dalam Jurnal Widya Aksara, Vol. 26, No. 1, Maret 2021, tradisi dan ritualnya dihelat setahun sekali, tepatnya sasih yang ditentukan para pemuka adat dalam kalender Bali. Biasanya antara sasih kapat sampai sasih kalima yang kira-kira jatuh sekitar bulan September atau Oktober.
“Tradisi perang ketupat pada Upacara Dewa Yadnya memiliki nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya sebagai Tattwa, Susila, Upacara, kebersamaan dan sosial budaya. Perang ketupat jadi salah satu media untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan bagi masyarakat Desa Kapal. Aci Rah Pengangon atau perang ketupat itu sendiri memiliki arti memohon kekuatan dan benih baru ke hadapan prabawa tuhan dalam bentuk (dewa) Siwa,” ungkap Made Dwiana.
Baca juga: Riwayat Islam di Bali
Prosesinya biasa dilakukan saat petang setelah kegiatan ibadah di masing-masing pura atau merajan (tempat suci pemujaan). Warga yang menjadi peserta lantas dikumpulkan di pura desa dengan masing-masing membawa “amunisi” tipat bantal alias ketupat.
Menurut Yusuf dan Toet dalam Indonesia Punya Cerita: Kebudayaan dan Kebiasaan Unik di Indonesia, para peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Lalu pemangku adat akan memercikkan air suci untuk memohon keselamatan para pesertanya. Setelah jarak antara dua kelompok ditentukan, perang ketupat dimulai dengan masing-masing peserta baku lempar ketupat dengan diiringi canda dan tawa.
“Perang Ketupat ini biasanya berlangsung selama 30 menit. Pada perang ini tidak ada seorang pun yang marah dan ketika perang berakhir, semua orang berjabat tangan dengan penuh suka cita setelah menimpuk lawan satu sama lain. Perang Ketupat jadi bentuk rasa terima kasih warga kepada Sang Hyang Widhi atas panen dan sebagai doa agar terhindar dari kekeringan,” tukas Yusuf dan Toet.