Tak ada yang ingin menghabiskan hidup di pengasingan. Kebebasan terenggut. Pergaulan menyempit. Itulah salah satu gambaran yang diberikan Sjahrir kepada istrinya, Maria Duchateau.
"Di mana perasaan luas yang nyaman, pengertian untuk menerima dan pasrah itu, kekuatan itu karena stabilitas, karena kepastian. Itu hilang, saat pintu-pintu penjara di belakang saya ditutupkan," tulis Sutan Sjahrir dalam suratnya.
Sejak pembukaan tahun 1935, Sjahrir menjalani kehidupannya dalam pengasingan di Boven, Digul. Pada awal tinggal di DIgul, Sjahrir masih bisa menikmati pergaulan dengan kawan lain satu pengasingan. Maklum, Boven Digul adalah lokasi khusus pembuangan orang-orang yang bermasalah dengan pemerintah kolonial Belanda. Sjahrir saat itu masih bisa main bola dan berenang di sungai Digul. Namun aktivitasnya berhenti karena ada kabar mengenai buaya yang berkeliaran di sungai. Sjahrir kemudian nampak lebih sering menyendiri.
"Saya mencoba bersikeras melepaskan diri dari semua kekhawatiran sehari-hari yang sepele, kekhawatiran keuangan dan kekhawatiran makanan, melepaskan dari lingkungan yang menegangkan. Tetapi saya tidak berhasil dengan baik," tulis Sjahrir pada suratnya yang bertitimangsa 30 Mei 1935.
Satu-satunya obat dari kegalauan hati di pengasingan adalah surat-menyurat dengan Maria Duchateau, istrinya yang berdarah Belanda.
"Suratmu, dengan sendirinya, membuat saya memikir, melamun, tarik saya dari lingkungannya, membersihkan saya dari semua hal yang sepele," tulis Sjahrir.
Kepada Duchateau, Sjahrir mampu menceritakan dan melepaskan kesepian hatinya. Ia bisa berdiskusi mulai soal politik hingga cinta.
"Apa yang saya tidak menemukan di studi, maupun filosofi, saya ketemu di dirimu, di suratmu. Kamu mengerti, kan, Mieske?," ujar Sjahrir.
Surat-menyurat dengan Maria Duchateau, bagi Sjahrir, seperti memperpanjang nafas dan kemaian hidup. Maka, setiap surat kepada Maria, selalu ditulisnya dengan panjang. Ia menumpahkan semua pikirannya didalam surat. Energi tak pernah habis ketika Sjahrir sudah menulis surat.
Terjemahan:
Tanahmerah 30-5-‘35
Mieske,
Pelan pelan aku membaca suratmu lagi beberapa kali. Di dalamnya ada begitu banyak yang aku sukai, khususnya dalam fragmen-fragmen yang pesimistis. Aku memahami semua dengan begitu baik. Aku tahu kenapa dan bagaimana Anda menuliskannya. Aku tahu semua dan itu membangkitkan banyak kenang-kenangan di dalam diriku. Baik yang pahit maupun yang manis. Itu membuatku melamun dan berpikir, semua begitu menyenangkan bagiku. Aku merasa jadi lebih baik, lebih murni, merdeka, terangkat dari semua hal manusiawi yang sepele.
Di dalam diri kita begitu banyak hal sepele, begitu banyak kebodohan dan piciknya pandangan. Aku terkejut melihat itu ada di dalam diriku sendiri. Sepertinya, aku kira, ketenangan dan kedamaian telah direbut oleh penjara untuk selamanya. Di mana perasaan lega yang nyaman, pasrah menerima, kekuatan karena keteguhan, kesejatian, semua sirna saat pintu-pintu penjara di belakangku ditutup. Anda sudah bisa mengetahui itu semua dari surat-surat yang dikirimkan melalui kapal bahwa ketenanganku hilang. Sampai sekarang saya belum menemukannya lagi. Di tengah orang-orang, keramaian, keresahan, kedangkalan dan di dalam kesendirian kesunyian dan renungan.
Sekarang di antara orang-orang yang berbicara, bertindak, membuat kesalahan, ragu-ragu, ada ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Di bulan-bulan yang lalu aku memaksakan diri untuk konsentrasi berpikir, untuk memikirkan secara terus menerus. Walaupun saat ini keadaan belum cocok untuk aku memulai untuk belajar lagi. Aku mencoba bersikeras melepaskan diri dari semua kekhawatiran atas soal sehari-hari yang sepele, mengkhawatirkan keuangan dan mengkhawatirkan makanan, melepaskan diri dari lingkungan yang menegangkan. Tetapi aku tidak berhasil dengan baik.
Studiku tidak berkembang pesat, terlalu sering merasa lesu, sangat terganggu cuaca dan terlalu sering membiarkan diri dipengaruhi lingkungan. Di mana penguasaan diri, ketenteraman jiwa yang selalu ada selama ini hilang, Mieske. Namun hari ini, malam ini, aku merasakan begitu tajam. Suratmu, dengan sendirinya, membuatku jadi berpikir, melamun, menarik aku dari keadaan sekitar, membersihkan aku dari semua hal sepele yang ada. Malam ini aku merasa tenang lagi, sayang. Seperti keadaan aku sekarang, sebagaimana juga perasaanku sekarang, aku tak bisa lagi menampik apa yang Anda sebut sebagai “inti yang paling dalam yang kita miliki”, itu dia Mieske, yang bisa berbicara dari suratmu, membersihkan serta menggerakkan aku.
Apa yang aku tak temukan di dalam studiku, apa yang tak kutemukan di dalam filsafat, aku temukan pada dirimu, pada surat-suratmu. Anda mengerti, kan, Mieske? Karena itu, yang Anda tulis tidak benar, Mieske, bahwa kau bilang “ada kegagalan di seluruh lini hidup kita”. Ini milik kita, ini akan mengarahkan dan menentukan hidup kita, dan itu bukan salah, tak bisa jadi salah selamanya, karena ini adalah hal yang memberi makna kepada diri kita dalam hidup ini. Biarpun kekecewaanmu, penderitaanmu, ucapan pahitmu, saya membaca itu semua di suratmu, karena itu saya tidak perlu membahas semua ucapan pahitmu secara tersendiri.
Istriku, pada akhirnya kita tahu bahwa kita berada dalam titik saling mengerti sepenuhnya. Dan hanya kita bisa saling memahaminya. Aku mengalami itu setiap hari. Kadang-kadang aku merasa bahwa sesama buangan, sampai sahabat yang paling dekat pun, tidak bisa menyelami perasaanku. Di sini aku merasa lebih banyak kesepian dan sendiri, melebihi kesendirian di dalam sel penjara itu sendiri. Di dalam pikiranku, aku selalu membutuhkanmu untuk menguji pikiran dan tindakanku, untuk berunding, untuk berbagi perasaan, aku membutuhkan surat-suratmu untuk bertahan dan mengangkat diri ini saat hampir tengelam dalam soal-soal yang sepele. Kau tahu semua itu toh, Mieske?
Dan apa selain esensi yang mengkristal dari semua yang kita miliki, dari semua usaha dan berpetualangnya kita, dari semua suka dan duka yang Anda sebut adalah “inti yang paling dalam yang kita miliki”. Apa yang menjadi dorongan semangat di dalam hidup sebagai buangan ini, juga tidak bisa hanya berarti penderitaan dan kemalangan dalam hidupmu, ataukah aku salah paham, Mieske?
Karena itu suratmu begitu sangat berarti buatku, aku harap Anda mampu menulisnya secara teratur kepadaku, supaya aku bisa menerima sesuatu setiap kali kapal datang berlabuh, dan itu artinya setiap sekali dalam tiga minggu sekarang. Kehidupanku di antara orang buangan keadaannya jauh lebih berat daripada di dalam sel isolasi di penjara. Di sini, sekarang aku lebih membutuhkanmu dan membutuhkan surat-suratmu jauh lebih banyak daripada di dalam penjara. Saat itulah pikirin saya dengan sendirinya bersama kalian, seandainya saya selalu sibuk pun selalu merasa dengan kalian, berada bersama kalian. Sekarang selalu ada manusia di sekitar saya yang bicara, terus berbicara, yang mengalihkan saya, tetapi tetap meninggalkan saya dalam kesepian....
Terjemahan:
Tanahmerah 10-9-35
Mieske,
Anda memintaku untuk menulis secara obyektif tentang orang-orang di sekitarku. Aku juga pasti menulis tentang itu tanpa Anda minta itu. Kesan pertamaku, seperti yang Anda sudah kenal dari surat-suratku sebelumnya, sekarang sedikit berubah. Itu terjadi karena saya “menyesuaikan” diri. Kalau pun tidak semua, akan tetapi sebagian. Aku pikir aku tahu bagaimana aku harus bergaul dengan orang-orang yang hidup bersamaku. Pada dasarnya aku mengambil jarak, menerima pikiranku sendiri bahwa aku tidak bisa berhubungan dekat dengan siapapun di seluruh Tanahmerah.
Aku menerima semua hubungan yang tidak terlalu mendalam dan omong kosong yang tidak dapat dielakkan di Tanahmerah. Dan temanku satu-satunya adalah buku-buku dan koran-koran. Masih ada banyak ketidakjelasan pada orang-orang di sekitarku. Itu alasan kenapa aku ingin lebih mendalami sejarah bangsa kita. Apa arti persisnya dari tradisi budaya kita? Apakah itu bisa memberi pengertian tentang jiwa rakyat yang paling dalam? Kadang-kadang aku merasa begitu jauh dari mereka, seperti antara dua dunia.
Anda tahu, bahwa sebelum kami, maksudnya pertama Partindisten (?) dan orang Minangkabau dari partai-partai religius, di sini hanya ada orang yang disebut orang komunis. Anda pasti sudah baca berkali-kali bahwa orang komunis ini, bukanlah orang komunis yang sebenarnya. Blankenstein sudah bilang itu dan setelah dia lebih banyak orang lagi mengatakan yang sama. Tidak ada berita baru kalau aku menyatakan bahwa aku belum ketemu dengan orang komunis di Tanahmerah, yang sesusai dengan maksud kata komunis di Eropa. Karena itu, penamaan revolusioner adalah lebih baik. Di sini mereka memakai istilah ekstremis. Sementara banyak hal menjadi jelas. sebagian besar dari orang yang pernah bergerak di bawah komando Partai Komunis Indonesia di gerakan revolusioner, melakukan itu dengan mentalitas kalau mereka seolah-olah ikut raja, nabi/wali/dukun atau orang gila. Bagian paling besar adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, orang desa. Persentase terbesar adalah buta huruf.
Yang meyakinkan, menurutku, sebagian besar dari orang yang dibuang kesini, walaupun mereka bukan orang komunis, mereka memang benar-benar ingin memberontak. Tetapi aku berpikir kalau mereka tidak sadar tentang apa yang mereka bayangkan. Mungkin untuk banyak orang tidak lebih dari gambaran keagamaan yang tidak jelas. Untuk yang lain mungkin keuntungan ekonomis instan. Di antara orang desa mungkin malah lebih banyak pikiran religius. Saat aku tiba di sini, aku langsung memperhatikan bahwa rata- rata orang yang bekerjasama denganku di gerakan, sebelum aku ditahan, lebih modern, maksudku lebih berpendidikan, daripada orang buangan disini. Itu pasti juga terjadi karena mereka sudah tidak pernah berkembang secara rohani selama 8 tahun, dan itu juga bukti bahwa ada peningkatan rohani di gerakan di Indonesia. Aku menulis hanya pada umumnya sekarang. Aku sudah berpikir lebih lengkap tentang orang-orang ini terkait bangsa dan masyarakat kita. Terutama aku mengenali lebih mendalam orang-orang buangan ini, sebagian dari rakyat kita.
Gejala-gejala yang mereka alami juga sama dengan rakyat kita. Orang di sini bukan luar biasa, walaupun mereka disebut komunis atau pemberontak. Terutama mereka orang Indonesia, maksudnya orang Jawa, orang Minangkabau, orang Banten, orang Sunda, mereka terutama itu. Dan kalau orang ingin mengerti mereka, orang harus mengerti mereka sebagai orang Jawa, orang Minangkabau, d.l.l. , baru setelah itu kita juga bisa menilai komunisme yang mereka anut. Dan karena itu, komunisme mereka adalah yang aneh, penuh mistik, diwarnai Hindu Jawa atau Islam Minangkabau atau juga Islam Banten, maksudnya di dalam tiga-tiganya terdapat elemen animisme.
Tidak banyak orang komunis Eropa akan mengenali kembali satu hal pun dari komunisme mereka. Itu semua berlaku untuk sebagian besar orang desa, tetapi berlaku juga untuk orang kota, walaupun itu tidak kelihatan seperti itu. Aku telah menyatakan bahwa sama dengan kami (di sini), tidak bisa membedakan perbandingan tajam antara desa dan kota, juga tidak bisa membandingkan mentalitas antara orang kota dengan orang desa itu. Hanya ada perbedaan bernuansa gradual. Buruh pabrik Jawa masih sering adalah orang tani sendiri, dan bahkan orang Surabaya masih memikir desa, walaupun dia jalan naik trem listrik atau bawa mobil taxi sendiri. Aku sangat kecewa saat mengalami bahwa di pembuangan ini masih berada di bawah tingkat pengetahuan ….