Tak mudah mencari kawan, apalagi di pengasingan seperti di Digul. Sjahrir pun demikian. Ia tak ingin terjebak dengan pembicaraan omong kosong dari sesama orang buangan.
"Saya pikir saya tahu bagaimana saya harus bergaul dengan orang-orang yang saya hidup bersama. Pada dasarnya saya ambil jarak, menerima pikiran bahwa saya tidak bisa berhubung dekat dengan siapapun di seluruh Tanahmerah," tulisnya kepada Maria Duchateau.
Ketika Sjahrir tiba di Boven Digul, disana sudah berdiam ribuan tahanan pemerintah. Sebagian besar penghuninya adalah mereka yang pernah terlibat pemberontakan PKI tahun 1926-1927. Akibat dari pemberontakan tersebut, seperti ditulis dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Timur, tak kurang dari 13 ribu orang ditangkap. 4500 orang dijatuhi hukuman dan 1300 orang diasingkan ke Digul.
"Kamu tahu, bahwa sebelum kami, maksudnya pertama Partindisten (?) dan orang Minangkabau dari partai-partai religius, disini hanya adalah orang yang disebutkan orang komunis. Kamu pasti sudah baca berkali-kali bahwa orang komunis ini, bukan orang komunis benarnya," curhat Sjahrir dalam suratnya yang bertitimangsa 10 September 1935. Boven Digul yang semula hanya untuk mengasingkan orang-orang komunis, kemudian diisi pula oleh kaum pergerakan lainnya.
Diantara tahun 1930-1934, pemerintah kolonial masih memasukkan aktivis atau propagandis dari PKI dan Sarekat Ra'jat. Daftar ini, tulis Takashi Shiraishi dalam Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial, masih bertambah dengan masuknya para pemimpin serikat buruh dari Sarekat Kaum Buruh Indonesia dan para aktivis Partai Republik Indonesia (PARI). Sjahrir yang tiba di Boven Digul awal tahun 1935 memandang bahwa sebagian besar orang-orang komunis yang ada di Digul adalah bukan sebenarnya komunis.
"Dan karena itu, komunisme mereka adalah yang aneh, penuh mistik, diwarnai Hindu Jawa atau Islam Minangkabau atau juga Islam Banten, maksudnya di dalam tiga-tiganya dengan elemen animisme. Tidak banyak orang komunis Eropa akan mengenali kembali sesuatupun dari komunisme mereka," tulisnya.
Memasuki tahun 1933, penghuni Digul semakin beragam, bukan hanya orang-orang komunis saja, namun juga kaum pergerakan nasionalis yang non-kooperatif. Mereka seperti dari Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru), Perhimpunan Muslimin Indonesia (PERMI), Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) dan Partai Indonesia (Partindo). Digul semakin ramai dengan bertambahnya penghuni baru.
Terjemahan:
Antwerpen, 28 Oktober ‘58
Tati, Akkie dan yang kecil tersayang,
Saya menerima surat kalian dan membaca. Besok saya pulang ke Indonesia melalui Vienna. Tidak gampang untuk menjawab surat kalian. Kalau saya jujur, semua alasan yang kalian menyampaikan kepada saya dalam obrolan kita untuk tinggal lebih lama di Eropa, tidak memberi banyak kesan kepada saya. Juga argumen-argumen kalian kurang meyakinkan saya. Kesan saya adalah bahwa terutama, selain semua hal lain, kalian segan pulang ke Indonesia. Jelas, itu bukan pikiran yang menyenangkan saya. Pada akhirnya kalian sudah berada sepuluh tahun di Eropa. Berapa tahun lagi kalian akan butuh sebelum kalian siap melakukan hal yang berguna untuk negara dan rakyat kita.
Karena menimba pengetahuan dan ilmu adalah tujuan kalian untuk pergi ke Barat, kan? Kalau bukan itu, saya tidak menunju perhatian terhadapnya. Mungkin kalian punya beda pendapat. Misalnya, bahwa kalian melihat bahwa keadaan di Eropa paling baik buat kalian untuk bisa berkembang sepenuhnya dan oleh karena itu menemukan kepuasan besar dalam hidup kalian. Hidup disini dalam segala hal kelihatan lebih baik dan kaya. Tetapi kalian pasti bisa mengerti bahwa saya tidak bisa menerima pandapat itu. Saya bukan nasionalis (dengan pikiran) sempit. (Istilah) saya cukup luas. Di Indonesia saya sering dituduh karena itu, tetapi karena kita sekarang jadi sesuatu bangsa merdeka, seharusnya semua orang Indonesia harus menyediakan diri untuk melakukan bakti untuk bangsa, menurut saya. Itu tidak berarti bahwa mereka harus menjadi pegawai negeri, tetapi itu berarti bahwa Anda tersedia untuk rakyat kita untuk mencari kepuasan dalam hidup pribadimu. Anda tidak bisa lakukan itu dengan hidup jauh dari negara dan rakyat selama mungkin.
Dari surat Tati saya dapat pesan bahwa untuk pulang ke Indonesia oleh dia, oleh kalian, bisa melihat sebagai sebagian aspek dalam hubungan kalian dengan pemerintah Indonesia atau mungkin justru dengan Mueldas (?) dan P.N.I. Itu betul tidak benar. Pulang ke Indonesia, kapan dan bagaimana, seharusnya kalian melihat lepas dari hal-hal yang tidak penting dan perselisihan kekanak-kanakan dengan pegawai atau dengan pemerintahpun. Kalau Anda bisa itu dan mengambil keputusan tentang hal-hal ini, Anda juga bisa melewati masalah ini.
Kalau kalian jelas soal ini, saya juga bisa menghilangkan perasaan tidak enak tentang kalian. Saya pasti tidak bisa bantu kalian untuk memundurkan kepulangan ke Indonesia setahun lagi. Juga tidak bantu satu tahun lagi buat Akkie untuk mengumpul materi untuk tesis dia dan lebih sedikit lagi untuk mengizinkan Tati dan anak-anak hidup yang “lebih baik” di Eropa. Tetapi pasti saya setuju untuk mencoba Tati pulang ke Indonesia atas biaya negara, sebagai bagian dari tanda kebaikan hati. Semoga saya jelas. Yang kecil kalian manis. Cium saya buat mereka bertiga. Yang terbaik buat kalian.
Om kalian Sidi
Terjemahan:
Banda-Neira, 8 Oktober 1941
Hedda dan Akkie tersayang,
Sudah berapa lama, kalian menulis kepada saya? Saya tidak balas surat-surat kalian karena saat itu saya memutuskan untuk berhenti korespondensi untuk sementara. Dan kebetulan surat ini adalah surat pribadi yang pertama yang saya menulis sejak awal tahun ini. Saya membutuhkan berdiam diri dan mengawasi diam. Dan saya juga mengalami kesusahan untuk tidak membalas surat-surat kalian. Saya juga selalu pikirkan kalian. Saya ingin tahu jika Eman bisa melanjutkan studi dia di sekolah itu (institut kesatriaan di Bandung AO) setelah D.D. (Douwes Dekker AO) diinterner. Saya tidak menulis dia, saya sia sia mencari nama dia di berita koran-koran siapa naik kelas. Nama kalian pasti saya menemukan, sehingga saya tahu bahwa kalian berdua naik kelas. Saya mengucapkan selamat kepada kalian di hatiku.
Kebetulan saya menulis kalian karena saya menerima surat-surat dari Belanda melalui Amerika. Juga dari Tjam. Sepertinya dia baik baik saja dan dia cari makanan dengan jual buku. Itu membuat saya lega, kalian pasti mengerti. Dia menulis bahwa dia terima berita dari kalian. Apakah kalian juga dapat berita dari dia melalui Palang Merah? Alamat dia sekarang adalah: Bloemendaalsestraatweg no. 10 Santpoort-Station. Lebih dari setahun yang lalu saya juga menghadap biro kontak, sampai sekarang tanpa hasil. Saya tidak tahu apakah kalian lebih berhasil. Sepertinya Tjam berpikir bahwa saya sudah kembali di Jawa. Siapa yang memberitahu dia itu? Pasti semua surat dari Belanda harus melewati sensor Jerman dan tidak ada lebih dari tanda-tanda hidup. Akan tetapi saya dapat pesan bahwa mereka optimistis disana. Dan itu betul hal yang baik. Saya juga akan membalas surat dia hari ini. Dengan pos udara ke alamat di New York dan dari sana mereka akan melanjutkan ke Belanda. Setahu saya, surat itu akan disensor 3 atau 4 kali. Disini, dua kali di Amerika dan mungkin sekali lagi di Belanda. Surat dari Tjam datang dengan lumayan cepat. Surat itu bertanggal 17 Juli tahun ini dari Santpoort-Station dan saya menerimanya beberapa hari yang lalu dengan pos kapal yang biasa, tanggal 5 September terkirim oleh kenalan saya dari Bandung, sehingga saya menduga bahwa surat ini paling lama di kantor sensor di Batavia. Ada kemungkinan bahwa dia sudah di dalam negeri awal Augustus. Sensor kita itu diberkati! Ternyata dia lebih cermat dan maka dari itu lebih curiga dari sensor Nazi Jerman. Anda harus mengalami untuk bisa percaya itu.
Apakah kalian menerima berita dari Zar dan nadik kadang-kadang? Saya sudah tidak bertahun-tahun. Apakah Anda tahu, Hedda bahwa saya barusan dengar dari Anda bahwa dia di Sukamiskin. Saya tidak terheran-heran tentang apapun lagi.
Apa kabar kalian? Sebentar lagi sudah Lebaran. Apakah kalian berlibur atau akan merayakan di Semarang? Sebelumnya sudah ucapkan selamat, juga buat Pa dan Ma dan Eman dan Idhar dan Ateng kalau dia dia tidak direncana kunjung kalian. Anda bisa menulis surat-surat panjang lagi kepada saya, Hedda dan saya janji bahwa saya akan membalas langsung. Sekarang saya mulai berkorespondensi lagi, kan. Apakah Anda sekarang bersekolah di lyceum? Dan Anda, Ak, bagaimana dengan hobi/kegemaranmu?
Apakah Anda tahu bahwa saya juga milik koleksi piringan hitam yang bagus. Saya punya (simfoni) 9 dari Beethoven komplit dan juga konser biola dan selain itu komponis modern, Strawinsky, Ravel, Schmidt dan komponis muda dan pasti juga Bach, Mozart dan banyak Wagner. Semua dapat murah sekali. Anda mungkin bertanya bagaimana saya bisa dapat semua piringan hitam disini.
Pada awalnya mereka semua dari dokter yang sangat berperasaan halus disini, seorang dokter bernama van Zanten. Orang itu memiliki koleksi musik yang sangat berharga. Saat dia berangkat – saya dengar ke Paris – dia jual semua di lelang. Yang jelas, disini tak ada orang yang bisa mengapresiasi musik gaya ini dan akhirnya, pelan-pelan saya bisa mendapat seluruh warisan dari almarhum dokter van Zanten ini – sepertinya lelaki ini meninggal dunia di Rivierra (Perancis Selatan AO) . Ceritakan kepada saya Ak, siapa penulis favoritmu dalam Bahasa Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman? Dan dari Anda Hedda?
Berapa susah sekarang untuk mencari buku. Apakah Anda bisa mencari buat saya: semua buku pelajaran sekolah Lyceum untuk Bahasa Latin dan Yunani dengan tambahan Andas-Andas dan kalau bisa terbitan murah buku-buku pedoman Yunani dan Romawi dan Andas Oxfort Dictionary yang up-to-date - terbitan yang besar – semua tangan kedua? Ak, saya sangat beterima kasih kalau Anda bisa beli buat saya. Saya akan bayar Anda kembali kalau Anda bisa membayarkan lebih dahulu. Saya sedang lupa semua Bahasa Latin saya dan juga semua pengetahuan saya tentang pedoman dan itu membuat saya takut benar, karena cinta saya terhadap mereka belum padam sama sekali. Justru terbalik. Apakah Anda akan bantu saya?
Saya baik baik saja, saya hanya terganggu oleh panas. Sudah berbulan-bulan tidak ada hujan dan di tempat ada banyak orang yang sakit dan yang meninggal juga.
Dag Hedda tersayang, cium dari saya, menjawab dengan cepat dan Anda juga Ak, jabat tangan yang erat. Salam buat semua di tempat,
Oom G. kalian