Masuk Daftar
My Getplus

"Gerbang Neraka" yang Misterius

Situs misterius yang dikelilingi bara api serta lumpur mendidih di Turkmenistan. Kini tengah diupayakan untuk dipadamkan.

Oleh: Randy Wirayudha | 12 Jan 2022
Kawah Darvaza di Turkmenistan yang dijuluki "Gate of Hell" alias "Gerbang Neraka" (cam.ac.uk/Twitter @CSIRO)

KENDATI penting untuk menopang kehidupan manusia dan bisa menguntungkan secara ekonomis, pengolahan dan penanganan sumber daya alam mesti tepat dan terus terkontrol. Apabila tidak, itu akan merugikan dan bahkan bisa menjadi bencana. Kasus Lumpur Lapindo di Indonesia atau “Gerbang Neraka” di Turkmenistan contohnya.

“Gerbang Neraka” merupakan julukan dari Kawah Darvaza, sebuah kawah yang membara akibat terbakarnya bocoran gas alam di Gurun Karakum, Provinsi Ahal, sekitar 260 kilometer dari utara ibukota Ashgabat. Situs sedalam 30 meter dan lebar 69 meter itu mendapat julukan “neraka” karena penampakannya yang mengerikan dengan bara api di dinding kawah serta lumpur mendidih bersuhu 1.000 derajat celcius di dasar kawah.

Sudah sekira lima dekade “Gerbang Neraka” eksis. Ia turut mengundang 12-15 ribu pelancong lokal maupun mancanegara per tahunnya. Kendati begitu, akhir pekan lalu Presiden Gurbanguly Berdimuhamedow memerintahkan untuk memadamkannya. Pasalnya, situs itu mulai memberi efek buruk pada kondisi geologi beberapa situs gas alam lain. Padahal, sektor gas alam menyumbang pemasukan terbesar pada perekonomian Turkmenistan, di mana ladang-ladang gas alam di Gurun Karakum merupakan cadangan gas alam terbesar keenam dunia.

Advertising
Advertising

Sang presiden sudah menitahkan para menteri terkait untuk mengumpulkan para ilmuwan. Turkmenistan kemungkinan juga akan mengundang sejumlah konsultan asing untuk mencari solusi pemadaman “Gerbang Neraka”.

“Kebakaran dari gas alam itu memberi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat yang tinggal di dekatnya. Kita juga kehilangan sumber daya alam yang bernilai, di mana mestinya kita bisa mendapatkan keuntungan yang signifikan, serta bisa menggunakannya demi kesejahteraan masyarakat,” tutur Presiden Berdimuhamedow, dikutip Deutsche Welle, Sabtu (8/1/2022).

Baca juga: Amuk Semeru di Masa Lalu

Presiden Turkmenistan Gurbanguly Mälikgulyýewiç Berdimuhamedow bakal memadamkan Kawah Darvaza (tdh.gov.tm)

Mula “Gerbang Neraka”

Hingga kini, kapan dan bagaimana Kawah Darvaza mulai eksis masih jadi misteri. Ada pihak yang meyakini Kawah Darvaza muncul sejak 1950-an, 1960-an, atau awal 1970-an. Satu hal yang bisa dipastikan, kawah itu tercipta akibat kesalahan pengeboran yang dilakukan para pekerja Uni Soviet saat hendak mengebor sumur minyak bumi. Tidak ada laporan mengenai korban pekerjanya pada saat itu.

“Tidak ada yang tahu kapan atau apa yang menyebabkan terjadinya Kawah Darvaza karena pemerintah setempat tidak akan mengungkapkannya. Dari banyak cerita yang dipercaya: para ilmuwan Rusia melakukan pengeboran di Turkmenistan pada 1950-an atau 1970-an. Alat bor mereka dipasang di atas kantong gas yang besar tapi karena bobotnya yang berat, tanahnya longsor hingga membentuk kawah setinggi gedung tujuh lantai,” ungkap Sarah Machajewski dalam Ravaged Landscapes.

Debbie Nevins dalam salah satu ensiklopedianya, Turkmenistan, juga mengungkapkan Kawah Darvaza tercipta akibat kelalaian para pekerja sumur minyak Soviet pada 1950-an. Alat bor mereka di atas kantong gas alam itu kolaps. Tak ayal gas yang mengandung metana menyembur hingga berdampak buruk pada kesehatan para warga desa sekitar dan hewan-hewan ternak mereka.

“Pada 1971 para insinyur Soviet memutuskan untuk membakar gas metana itu untuk bisa mengakses situs pengeboran –sebuah proses yang mereka pikir hanya akan memakan waktu beberapa pekan. Akan tetapi gasnya tak kunjung habis dan apinya menyala hingga saat ini,” tulis Nevins.

Baca juga: Sepuluh Gempa Dahsyat di Indonesia Sepanjang Abad 20

Penampakan Kawah Darvaza dengan suhu ratusan derajat celcius yang bikin bergidik (Wikipedia/Tormod Sandtorv)

Menurut geolog Turkmenistan Anatoly Bushmakin pada 2014, yang kemudian dijadikan versi pemerintah, tempo kejadian dan pembakaran situsnya terjadi di tahun yang sama: 1971. Namun hingga saat ini, pemerintah Turkmenistan belum menguak atau tidak punya dokumen tentang kejadiannya saat itu.

“Dalam geologi perminyakan, kawah itu bagian dari ladang gas Zeagli-Darvaza, ditemukan pada 1959. Kawasannya dipetakan selama 1960-1962. Tetapi sulit mencari dokumen yang meyakinkan tentang apa yang terjadi. Seperti yang disebutkan banyak sumber, kawah itu terjadi ketika dilakukan operasi pengeboran pada 1971,” ujar geolog Yudi Satria Purnama dalam You Say Geotourism, I Say Tourism Geology!

Baca juga: Hikayat Minyak Bumi di Pangkalan Brandan

Kemungkinan besar, lanjut Yudi, hal itu terjadi karena para insinyur dan ilmuwan Uni Soviet keliru saat melakukan pendataan geofisik. Alhasil situs pengeborannya kolaps dan timbul banyak semburan gas dari dalam tanah.

Demi mencegah potensi bahaya gas metana terhadap warga desa sekitar, para insinyur Soviet menyulut api untuk membakarnya.

“Terdapat tiga susunan lingkaran kawah. Dua kawahnya berisi air dan lumpur yang mendidih. Satu kawah lainnya itulah yang disebut gerbang menuju neraka. Kawahnya dipenuhi api yang menyala lebih dari empat dekade,” imbuhnya.

Kawasan di sekitar Kawah Darvaza yang acap dijadikan atraksi wisata (Wikipedia/Bjørn Christian Tørrissen)

Selebihnya, situs itu dijadikan atraksi pariwisata. Eksesnya sekitar 350 warga desa di sekitar situs diusir dengan alasan agar tak merusak pemandangan bagi para turis.

“Pada 2004, desa kecil Derweze ditelantarkan. Presiden Turkmenistan saat itu, Saparmurat Niyazov yang telah meninjau situs kawah dan menemukan desa dengan populasi 350 orang yang ia katakan sebagai: ‘desa yang tak mengenakkan bagi pemandangan para turis’ dan kemudian ia perintahkan untuk dihancurkan,” sambung Nevins.

Baca juga: Pencarian Minyak di Kutai Kartanegara

Kendati dijadikan destinasi wisata, penelitian tentang kawah itu tak pernah dilakukan. Baru pada November 2013 kawah itu dijadikan tujuan penelitian seorang ilmuwan dan penjelajah asal Kanada, George Kourounis.

“Pada 2013 Kourounis memasuki kawah selama 15 menit. Ia dikelilingi gas berbahaya dan ribuan nyala api yang membara seperti mesin jet. Bibir kawahnya saja 185 fahrenheit (85 celcius). Lidah api selalu menyembur dari tanah setiap kali ia menggali untuk mengambil sampel tanah. Ia pingsan seiring para krunya menariknya ke atas,” tambah Machajewski.

George Kourounis, penjelajah Kanada berdarah Yunani yang jadi manusia pertama masuk ke "Gerbang Neraka" (Twitter @georgekourounis)

Kenekatan Kourounis sebagai manusia pertama yang masuk ke “Gerbang Neraka” tak sia-sia. Dari sampel tanah yang diambilnya, diketahui setidaknya masih ada makhluk hidup yang bisa hidup di lingkungan ekstrem tersebut, yakni berupa sejumlah mikroorganisme ekstremofil atau bakteri ektrem penghasil hidrogen. Teorinya, bakteri semacam itu jika bisa direplikasi dapat menghasilkan bahan bakar nabati.

Di sisi lain, upaya pemerintah Turkmenistan untuk memadamkannya patut ditunggu. Sebuah komisi sudah mulai dibentuk untuk mencari solusi pemadaman kebakaran gas alam itu tanpa memberi pengaruh negatif pada lingkungan sekitar. Selama itu belum memberikan hasil akhir, “Gerbang Neraka” masih akan terus memancarkan apinya.

“Kawah itu sungguh menakjubkan. Dengan melihatnya saja, Anda akan langsung memikirkan dosa-dosa Anda dan Anda akan merasa selalu ingin berdoa,” kenang Gozel Yazkulieva (34), turis lokal asal Ashgabat, dikutip CTV News, 22 Juni 2014.

Baca juga: Kisah Penipuan Tambang Emas di Kalimantan

TAG

mondial geologi sains

ARTIKEL TERKAIT

Hamas Senjata Makan Tuan Israel Kisah Matematikawan yang Dipandang Sebelah Mata Menggali Pengetahuan Lokal dari Tanaman Arus Sejarah Baterai Penopang Mobil Listrik Di Balik Kelanggengan Pemerintahan Shinzo Abe Serba-serbi Senjata Biologis Sekelumit Kisah Mahathir Mohamad Membangun Ulang Pengetahuan Pasca-Merdeka Petualangan Evertsen, dari Arktik hingga Arafura Lima Kebakaran Hutan Terbesar di Australia